
Banyak yang berubah dalam hidup wanita yang sekarang
sudah di sebut seorang ibu itu, gadis yang dulu begitu manja kini telah di
tempa menjadi wanita yang kuat. Wanita yang berusaha membesarkan putrinya
seorang diri, wanita yang sebisa mungkin tidak bergantung pada orang lain.
Karena belum ada rencana untuk bekerja, nadin
memilih menghabiskan waktunya dengan terus bersama putranya, Elan.
Sore ini udara tidak terlalu panas, juga tidak
begitu mendung. Nadin mendorong kereta bayi untuk mengajak putranya
jalan-jalan. Mengajak putranya ke taman, sudah menjadi kebiasaan Nadin untuk
mengajak putranya jalan-jalan.
“El …, kamu suka?” Tanya Nadin seakan putranya itu
sudah bisa di ajak bicara saja. Tapi sepertinya Elan mengerti ucapan bundanya,
ia terus tersenyum dan berceloteh.
Nadin duduk di salah satu bangku, menatap ke depan,
anak kecil berlarian ada yang bermain bola dan juga yang hanya duduk sambil
menikmati es krim, begitu indah.
“Apa nanti kalau kau sudah besar juga akan seperti itu El? Bunda tidak ingin kau cepat besar, bunda ingin kau hanya milikku!”
“Bunda egois ya El, apa bunda benar-benar egois?”
Nadin menghela nafas setelah berdialog panjang, tapi
matanya tak mampu berkedip saat seseorang yang begitu ia kenal berdiri di
samping kereta bayinya.
“Ayah ….!”
“Boleh ayah duduk?” pria dingin dengan kaca mata hitamnya yang masih bertengger di atas hidungnya itu, pria yang selalu memakai
jasnya di setiap kesempatan.
‘Du-duk!” Nadin menatap ayah mertuanya dengan sangat terkejut, Salman duduk di samping cucunya, di samping Nadin. Membenahi jasnya
dan kembali menatap menantunya.
“Kenapa begitu terkejut nak?”
“Kenapa ayah di sini?”
“Ayah sudah terlalu banyak melewati semua masa, usia ayah adalah buktinya. Ayah tidak marah padamu dan ayah tahu dengan dukamu nak! Ayah diam bukan berarti ayah tidak tahu ...!”
Nadin mengeluarkan air matanya, ia segera memeluk ayah mertuanya itu. Menangis di pelukan ayah mertuanya.
“Ayah menemukanku?”
“Walaupun terlambat ayah akhirnya bisa menemukan kalian!”
Nadin melepaskan pelukannya dari ayah mertuanya. Menatap dengan penuh keraguan.
“Ada apa nak?, katakan!”
“Apa mas Rendi tahu?”
Salman bukan menjawab, ia menoleh pada cucunya, mengelus pipi cucunya dengan lembut. Elan menggenggam tangan kakeknya begitu erat, sepertinya ia tahu jika itu kakeknya.
“Dia begitu mirip seperti Rendi kecil, saat itu
Rendi juga suka sekali menggenggam tanganku seperti ini!”
“Ibunya Rendi selalu berfikir jika Rendi begitu
menyayangiku dan mengabaikannya setiap kali bersamaku, tapi walaupun begitu,
dia tidak pernah memintaku untuk menjauhi Rendi karena kelak ayahnya lah yang
akan melindunginya!”
Nadin mengerti maksud dari ucapan mertuanya itu,
tindakannya tidak benar dengan pergi dari rumah, tapi Rendi juga tidak benar
dengan menyembunyikan sesuatu darinya.
“Sampai kapan seperti ini?” Tanya Salman.
“Mungkin itu bisa ayah tanyakan pada mas Rendi, dia yang lebih tahu sampai kapan!”
“Hukuman ini sudah terlalu lama, nak! Rendi sudah menyadari kesalahannya!”
“belum…, belum yah!”
“Baiklah …, ayah tidak akan mengatakan kebenarannya
padamu. Biar itu menjadi tanggung jawab Rendi nanti!”
“Apa ayah akan mengatakan keberadaanku pada mas Rendi?”
“Apa itu boleh?”
Nadin menggelengkan kepalanya, belum cukup untuk Nadin bisa memaafkan Rendi. Nadin masih perlu waktu untuk itu, hatinya masih
begitu sakit, inilah definisi sakit yang tidak berdarah. Sakitnya lama dan
tidak tahu kapan akan sembuhnya, sedangkan sakit yang berdarah, asal lukanya
sembuh dan kering rasa sakitnya juga akan hilang.
“Baiklah …, ayah tidak akan mengatakan pada anak bodoh itu biar dia berusaha sendiri ...., biarlah Tuhan yang akan mempertemukan kalian, jika kalian sudah
siap, mungkin takdirlah yang akan mempertemukan kalian kembali. Tapi ingat satu hal, rumah ayah akan terus dan selalu terbuka untukmu kembali!”
“terimakasih yah!”
Nadin kembali memeluk ayah mertuanya itu, ia begitu
rindu dengan pria itu. Mereka cukup lama berada di taman, hingga Salman
“Kalian tinggal di sini?” Tanya Salman saat melihat
rumah yang di tinggali Nadin.
“Iya yah, walaupun kecil tapi ini sungguh nyaman!”
ucap Nadin dengan senyum yang selalu merekah, jika orang melihat sekilas saja
maka akan terlihat jika wanita itu sedang bahagia dan baik-baik saja.
Ayah salman mengusap kepala menantunya itu.
“Biar Nadin buatkan minum ya, ayah pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh!”
“Tidak perlu nak, ayah tidak bisa lama di sini. Ayah harus segera kembali ke Jakarta. Maafkan ayah ya!”
“Secepat ini?”
“Ayah pasti akan sering mengunjungi kalian, jaga cucu ayah ya …!”
Salman mengecup pipi cucunya terlebih dulu sebelum
meninggalkan cucu dan menantunya, Nadin mengantar ayah mertuanya hingga ke
depan. Saat Salman hendak memasuki mobilnya, nadin kembali menghentikan langkah
ayah mertuanya.
“Ayah!”
“Iya?”
“Berjanjilah, ayah tidak akan memberitahu
keberadaanku pada siapapun!”
“Tentu nak, jaga diri kalian!”
Salman memasuk mobilnya dan perlahan mobil itu meninggalkan halaman rumah Nadin. Nadin segera kembali masuk dan melihat
putranya, Elan sudah tidur.
Jakarta
Rendi dan Alex mempersiapkan proyeknya, mereka jadi sering bertemu karena tinggal beberapa hari lagi mereka harus memulai
pekerjaaannya di lapangan.
Tapi untuk itu Rendi masih punya beban berat, ia tidak mungkin meninggalkan Divia selama itu di tempat jauh.
“Apa ada masalah dengan ini?” Tanya Alex yang
melihat wajah Rendi murung, memang biasanya juga murung, tapi kali ini paket
lengkap.
“Aku harus menyelesaikan sesuatu sebelum menjalankan
proyek ini, bisakah kita tunda satu bulan lagi?”
“Sayang ya ….! Sebenarnya aku tidak suka
menunda-nunda pekerjaan, tapi sepertinya memaksakan diri juga tidak baik
hasilnya untuk pekerjaan kita!”
“terimakasih!”
Rendi menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, ada yang harus dia lakukan untuk saat ini. Ia harus pergi ke suatu tempat, jika
hanya menunggu akan sangat membutuhkan waktu yang lama, ia tidak suka menunggu
lama.
Rendi memesan tiket penerbangan ke luar Negri, ia tidak membawa barang banyak hanya sebuah tas, sepertinya tidak akan lama.
“Sayang …, ayah akan membawakanmu seseorang nanti, ayah janji!” ucap Rendi pada Divia. Gadis kecil itu sekarang sudah mulai
berjalan. Langkahnya libcah mengikuti kemanapun arah rendi pergi, dia juga
selalu mengacak- acak kamar Rendi.
“kau akan pergi?” seseorang berdiri di puntu kamar
Rendi.
“Ayah! Sejak kanapa ayah di sini?”
“Baru lima menit yang lalu, kau mau ke mana?”
“Aku akan menyusul Divta!”
“Kenapa baru sekarang? Entah instingmu sudah melemah atau apa, tapi ayah kali ini begitu kecewa padamu!”
“Maafkan aku ayah, tapi Rendi akan segera
menyelesaikan semuanya!”
“Ya itu yang ayah harapkan, cepat dan jangan
membuang waktu, sebelum waktu itu habis dan mereka akan pergi jauh, sangat jauh
hingga kau tidak punya harapan lagi!”
“Maksud ayah?”
“Segeralah pergi, ayah menunggu waktu itu tiba sudah
sangat lama!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘