MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Mau hamil



Nadin segera membuka pintu itu, ia mengamati isi kamarnya.


"Pantas saja, kamarnya lebih luas ....., tapi kamarnya semisterius orangnya."


"Tempat tidurnya juga lebih luas, dia benar-benar curang!"


Nadin pun segera merebahkan badannya, tanpa terasa matanya yang lelah mulai terpejam.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Belum sampai tengah malam, Rendi sudah kembali. Ia baru saja menemui nyonya Ratih, ada pekerjaan yang di tugaskan padanya.


Ia sebelumnya sudah mendapat kabar dari ART nya bahwa Nadin belum keluar kamar semenjak siang. Rendi melihat rumahnya masih gelap, yang menandakan jika istri kecilnya itu belum bangun.


Rendi pun menyalakan lampu rumah, ia segera melanjutkan langkahnya ke dapur, ternyata art tidak meninggalkan makanan di sana, karena memang selama ini tugasnya hanya membersihkan rumah dan mengambil pakaian kotor untuk di cuci.


Rendi terbiasa makan di luar karena ia tidak memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri, jika ada waktu senggang maka ia akan memasak sebisanya.


"Aku lupa memberi tugas tambahan pada art untuk memasak!"


"Ya sudahlah ...., mungkin dia akan bangun besok pagi!"


Rendi yang merasa kegerahan segera merenggangkan dasinya dan melepas beberapa kancing kemejanya.


Ia mengambil air dingin di lemari es dan segera meneguknya, tenggorokannya begitu kering, entah kenapa ia merasa hari ini begitu panas.


"Mungkin aku harus segera mandi!" Rendi pun segera masuk ke dalam kamarnya dan mencari skakelar untuk menyalakan lampu. Tanpa memperhatikan sesuatu yang ganjal di atas tempat tidurnya, ia langsung menuju ke kamar mandi.


Ingin rasanya segera mengguyur tubuhnya yang lengket oleh keringat dengan air dingin, bukan menjadi kebiasaannya tidur tanpa mandi terlebih dahulu.


Rendi melepas seluruh pakaiannya dan melemparnya ke keranjang baju kotor begitu saja dan segera berdiri di bawah shower, air dingin mulai mengguyur seluruh tubuhnya.


Tak butuh waktu lama, ia segera mengakhiri mandinya saat tubuhnya sudah merasa lebih segar.


Rendi segera mengambil handuk yang tergantung di salah satu sisi dinding dan melilitkannya di bagian bawah tubuhnya dengan handuk warna orange nya. Ia juga mengalungkan handuk kecil di lehernya untuk mengeringkan rambutnya.


Rendi segera keluar dari kamar mandi dengan langkah ringannya, seperti biasanya ia akan mengeringkan rambut dan tubuhnya di depan cermin besar yang menggantung di salah satu sisi dinding kamarnya, ia senang menatap tubuhnya sendiri tanpa penutup seperti itu, baginya waktu seperti ini adalah waktu yang tepat untuk memanjakan tubuhnya sendiri dan menjadi dirinya sendiri, bukan seorang Rendi, si tangan kanan dari pemilik kerajaan bisnis finityGroup.


Mata Rendi baru menyadari ada hal yang ganjil di atas tempat tidurnya dari cermin yang ada di depannya, ada pergerakan di sana, membuat Rendi segera memutar tubuhnya memastikan sesuatu.


Nadin menggeliatkan tubuhnya, sepertinya ia mulai terbangun, Ia segera menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.


"Apa ini sudah malam?" Tanya Nadin, ia memegang selimut di tangannya. Ia mulai duduk, saat menoleh ke salah satu sisi kamar, ia begitu terkejut, matanya terpaku pada pandangan yang berbeda, sungguh pemandangan yang langka.


Apa aku masih bermimpi ...., kenapa mimpi ini nyata ...., aku bisa melihatnya, malaikat berhanduk .....


"hahh ....., malaikat berhanduk!" Nadin mempertegas batinnya, ia mengutarakan dalam ucapannya.


Saat bersiap-siap untuk berteriak, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya.


"Ummmm ....., ummmmm ....!" Nadin berusaha melepaskan diri dari bekapan itu.


Ahhhh ....., dia menempel padaku ....


"Aku lepaskan, tapi jangan teriak!" ucap Rendi kemudian, dan Nadin pun hanya bisa mengangguk. Dengan perlahan Rendi melepaskan bekapan tangannya dari mulut Nadin.


"Hah ...., hah ...., hah ....., kau benar-benar ingin membunuhku!" gerutu Nadin sambil mengambil udara karena hampir kehabisan udara karena ulah suaminya itu.


"Mas Rendi kenapa telanjang sih?" tanya Nadin sambil sedikit menjauhkan diri dari Rendi.


"Seharusnya aku yang tanya, kenapa bisa di kamarku?" tanya Rendi sambil mengerutkan keningnya, rasanya ingin sekali menjangkau tubuh Nadin.


"Aku ....., aku ...., aku kan istri mu ...., memang mas pernah lihat suami istri yang tidurnya terpisah?"


Pintar sekali dia membalikkan kata-kata ku ....


Rendi hanya bisa mendengus, ia tidak bisa menjawab ucapan Nadin, memang benar apa yang di katakan Nadin.


"Terserah kamu saja lah ....!" Rendi pun menyerah, ia memilih bangun dari tempat tidur dan segera menuju ke ruang ganti dan memakai kaos ketat dan kelana boksernya.


Setelah selesai memakai baju, Rendi segera menghampiri Nadin lagi, Nadin masih belum beranjak dari tempat tidur. Rendi pun ikut naik ke atas tempat tidur.


"Sekarang apa mau mu?" tanya Rendi saat sudah berada di samping Nadin.


"Aku mau tidur di sini, dengan mu!" ucap Nadin.


"Terserah ...., tapi harus tetap di batasi, aku nggak mau kamu hamil sebelum lulus kuliah!"


"Memang siapa yang mau hamil!" ucap Nadin membuat Rendi segera menajamkan matanya.


"Maksudku ...., aku juga belum kepikiran untuk hamil ...., untuk melakukannya saja aku ....!"


"Kenapa?"


"Aku belum siap!" ucap Nadin sambil memalingkan wajah malunya, sungguh membicarakan hal setabu itu membuatnya begitu malu.


"Baguslah ....!"


Hah ...., akhirnya aku bisa bernafas lega ...., aku tidak tahu harus apa


Krukuk krukuk krukuk


Perut Nadin berbunyi minta di isi, Nadin pun memegangi perutnya yang terasa lapar. Hal itu berhasil membuat Rendi melengkungkan senyumnya.


"Aku lapar sekali!" ucap Nadin sambil memegangi perutnya yang lapar.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘**