
Pagi ini
sengaja Rendi berangkat lebih pagi, ia ingin ke tempat yang sama saat ia
menemukan Davina kemarin.
“Apa kau
sudah menyelidikinya?” Tanya Rendi pada anak buahnya.
“Sudah
pak, nona Davina tinggal seorang diri tak jauh dari tempat kita bertemu
dengannya!”
“Lalu
suaminya?”
“Kata
orang-orang di sekitarnya, suami Nona Davina sedang dinas di luar kota!”
“Apa ada
yang pernah melihat suaminya?”
“Mereka
katanya hanya kata nona Davina!”
Akhirnya
mereka sampai juga di depan gang sempit di daerah yang cukup jauh dari
perkotaan.
“Apa
benar ini tempatnya?” Tanya Rendi pada Ajun.
“Benar
pak! Kita harus jalan kaki untuk menuju ke kontrakan nona Davina!”
“Jalan
kaki?” Tanya Rendi tak percaya!”
“Iya …,
jalan itu hanya bisa di lalui motor dan pejalan kaki, pak!”
“Baiklah
kita turun!”
Akhirnya
mau tak mau Rendi pun turun, mereka meninggalkan mobilnya di bahu jalan dan
harus menyeberang untuk sampai di gang masuk kontrakan Davina. Jalan itu
terlihat terjal dengan aspal yang sudah bolong-bolong sana sini, karena semalam
turun hujan membuah cekungan-cekungan itu terisi oleh air, membuat mereka harus
beberapa kali menghindari genangan air.
Setelah
berjalan seratus meter, mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan cat kuning
yang berada di tengah rumah yang lainnya, rumah itu terlihat begitu sederhana
dengan pintu coklat terbuat dari tripleks yang sudah usam dan beberapa pot
bunga menjadi penghias halaman yang cukup gersang tanpa pohon besar di
sekitarnya, walaupun masih pagi, tapi sinar matahari sudah bisa membakar tubuh,
tidak ada yang menghalangi. Mungkin mendung sudah menjatuhkan semua airnya dari
langit hingga tak tersisa lagi, hingga pagi hari matahari dapat dengan bebas
bersinar.
“Apa kau
yakin ini tempatnya?” Tanya Rendi sambil membuka kaca mata hitamnya. Mengamati
sekitar, mungkin orang yang sedang menyapu di halaman sebelah sedang
memperhatikan mereka. Tampak sekali dia menghentikan kegiatan menyapunya dan
memilih memperhatikan Rendi dan Ajun.
“Cari
siapa mas?” tanyanya, tapi kemudian ia melihat ke Ajun. “Loh …, ini masnya yang
semalem ya!”
“Iya bu,
apa bu Davina nya ada?” Tanya Ajun balik.
“Kayaknya
mbak Davina nya masih di rumah, belum berangkat kerja. Akhir-akhir ini mbak
Davina jarang masuk kantor, kayaknya mbak Davina sakit deh!” tetangga itu
bercerita tanpa di minta, tetangga itu termasuk tipe-tipe tetangga yang suka
kepo dan sok tahu.
“Makasih
bu, kami permisi!”
Tampak
wajah tetangga itu tidak senang karena perkataannya harus di potong oleh Ajun.
Tok tok
tok
Ajun
,mengetuk pintu kusam itu, banyak lubang di pintu itu walaupun tidak sampai
tembus ke dalam tapi sangat mengganggu penglihatan, beberapa bagian juga
terlihat sedikit mengelupas. Dindingnya juga tidak terlihat mulus, banyak
coretan dan beberapa yang rusak.
Tak
berapa lama terdengar sahutan dari dalam.
“Iya
sebentar!”
Pintu
pun perlahan terbuka, di sana menampakkan wanita dengan dasternya dan rambut yang
di ikat sembarang, serta perut yang terlihat buncit. Berbeda sekali
penampilannya dengan Davina yang Rendi kenal dulu, wanita licik yang begitu
arogan. Tapi sekarang terlihat pucat tanpa make up dan daster, sungguh buka
style Davina sekali.
“Rendi!”
Dengan
cepat Davina hendak menutup kembali pintunya tapi berhasil di tahan oleh tangan
kekar Rendi.
“Pergi
kalian dari sini!” Davina terus berusaha menutup pintu itu, tapi kekuatan
“Kita harus
bicara!”
Akhirnya
davina menyerah, ia membuka pintunya. Sudah kepalang tanggung jika harus
meminta mereka untuk pergi, itu tidak akan berhasil.
“Masuklah
…!” perintah Davina.
Mereka
pun masuk, Davina meminta Rendi dan anak buahnya untuk duduk di kursi plastik
yang warnanya sudah memudar, sedangkan dirinya masih berdiri di depan pintu,
menatap Rendi dengan tajam, menatap Rendi dengan penuh kebencian.
“Apa
yang kau inginkan?” Tanya Davina. Rendi tetap fokus pada perut Davina yang
buncit itu, ada banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya. Siapa ayah dari
anak yang di kandung wanita di depannya? Bahkan untuk menebaknya ia tidak
mampu, ia tidak punya gambaran.
“Jika
tidak ada yang ingin di bicarakan pintuku masih terbuka untuk kalian keluar!”
Davina benar-benar terlihat marah, ia seperti menyimpan luka yang besar dalam
hidupnya tapi dia tetap berusaha untuk tegar.
“Siapa
pemilik anak itu?” Tanya Rendi setelah terdiam cukup lama.
“Itu
bukan urusanmu, dan satu lagi jangan pernah mengatakan keadaanku pada siapa
pun! Kau tidak akan mendapatkan apa- apa di sini, jadi aku mohon pergilah dari
sini!” Davina membuka lebar pintunya.
“Aku
tidak akan pergi dari sini sebelum aku mendapatkan jawab yang aku inginkan!”
“Dan aku
juga tidak akan pernah mengatakannya padamu!”
“Kenapa?”
“Karena
mungkin setelah ini, kau tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak!” ucapan
Davina begitu dalam dan penuh ancaman.
“Katakan!”
Rendi pun tetap kekeh dengan pendiriannya. Bukan dirinya jika sampai lari dari
masalah, sebesar apapun masalah itu, dia akan mencoba untuk menghadapi, yang ia
yakin dirinya tidak ada hubungannya dengan bayi dalam kandungan Davina.
“Pergilah
…, jangan membuatku kesal dengan terus memaksaku!” Davina semakin kesal.
“Aku
tidak peduli!”
“Anak
ini tidak punya ayah!”
Ucapan
Davina seketika membuat Rendi terkejut, jadi yang di katakana tetangga tidak
benar, jadi selama ini Davina belum menikah, lalu siapa yang menghamilinya?
“Siapa
pemiliknya?” Tanya Rendi lagi.
“Jika
aku memberitahu apakah kau akan bersedia menggantikan ayahnya, apa kau akan
menjagaku, atau menjaga anakku jika aku tiada?”
Mendengar
pertanyaan Davina membuat Rendi marah, sungguh bukan itu yang dia inginkan. Mau
bagaimanapun Davina dia tetap saudara istrinya. Walaupun sampai kapan ia tidak
akan pernah menggantikan tempat Nadin oleh siapapun.
“Jangan
harap!” ucap Rendi sambil berdiri.
“Ya
sudah, pergilah …!”
Saat
Rendi hendak melangkahkan kakinya, Ajun segera menahan atasannya itu.
“Tunggu
sebentar, pak! Kita sudah sejauh ini.” Ajun memperingatkan atasannya itu untuk
tidak gegabah.
Rendi
pun berusaha mengendalikan perasaan kesalnya.
“Ya udah
sekarang katakan dan aku akan mempertimbangkannya!” rendi kembali duduk dengan
sikap tenangnya.
“Kau
yang sudah membuat anak yang ada dalam kandunganku ini terpisah dari ayahnya!”
“Aku?”
Tanya Rendi, ia malah bertambah bingung, bagaimana ada hubungannya dengannya.
Sepertinya
wanita ini berusaha memerah emosi pak Rendi, aku harus segera mencegahnya …
“Pak …,
sebaiknya kita pergi saja dari sini?” ajak Ajun, tapi Rendi tetap diam ia
memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangannya pada Ajun untuk tetap diam
dan tidak ikut campur.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘