MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Siapa Pemiliknya?



Pagi ini


sengaja Rendi berangkat lebih pagi, ia ingin ke tempat yang sama saat ia


menemukan Davina kemarin.


“Apa kau


sudah menyelidikinya?” Tanya Rendi pada anak buahnya.


“Sudah


pak, nona Davina tinggal seorang diri tak jauh dari tempat kita bertemu


dengannya!”


“Lalu


suaminya?”


“Kata


orang-orang di sekitarnya, suami Nona Davina sedang dinas di luar kota!”


“Apa ada


yang pernah melihat suaminya?”


“Mereka


katanya hanya kata nona Davina!”


Akhirnya


mereka sampai juga di depan gang sempit di daerah yang cukup jauh dari


perkotaan.


“Apa


benar ini tempatnya?” Tanya Rendi pada Ajun.


“Benar


pak! Kita harus jalan kaki untuk menuju ke kontrakan nona Davina!”


“Jalan


kaki?” Tanya Rendi tak percaya!”


“Iya …,


jalan itu hanya bisa di lalui motor dan pejalan kaki, pak!”


“Baiklah


kita turun!”


Akhirnya


mau tak mau Rendi pun turun, mereka meninggalkan mobilnya di bahu jalan dan


harus menyeberang untuk sampai di gang masuk kontrakan Davina. Jalan itu


terlihat terjal dengan aspal yang sudah bolong-bolong sana sini, karena semalam


turun hujan membuah cekungan-cekungan itu terisi oleh air, membuat mereka harus


beberapa kali menghindari genangan air.


Setelah


berjalan seratus meter, mereka berhenti di depan sebuah rumah dengan cat kuning


yang berada di tengah rumah yang lainnya, rumah itu terlihat begitu sederhana


dengan pintu coklat terbuat dari tripleks yang sudah usam dan beberapa pot


bunga menjadi penghias halaman yang cukup gersang tanpa pohon besar di


sekitarnya, walaupun masih pagi, tapi sinar matahari sudah bisa membakar tubuh,


tidak ada yang menghalangi. Mungkin mendung sudah menjatuhkan semua airnya dari


langit hingga tak tersisa lagi, hingga pagi hari matahari dapat dengan bebas


bersinar.


“Apa kau


yakin ini tempatnya?” Tanya Rendi sambil membuka kaca mata hitamnya. Mengamati


sekitar, mungkin orang yang sedang menyapu di halaman sebelah sedang


memperhatikan mereka. Tampak sekali dia menghentikan kegiatan menyapunya dan


memilih memperhatikan Rendi dan Ajun.


“Cari


siapa mas?” tanyanya, tapi kemudian ia melihat ke Ajun. “Loh …, ini masnya yang


semalem ya!”


“Iya bu,


apa bu Davina nya ada?” Tanya Ajun balik.


“Kayaknya


mbak Davina nya masih di rumah, belum berangkat kerja. Akhir-akhir ini mbak


Davina jarang masuk kantor, kayaknya mbak Davina sakit deh!” tetangga itu


bercerita tanpa di minta, tetangga itu termasuk tipe-tipe tetangga yang suka


kepo dan sok tahu.


“Makasih


bu, kami permisi!”


Tampak


wajah tetangga itu tidak senang karena perkataannya harus di potong oleh Ajun.


Tok tok


tok


Ajun


,mengetuk pintu kusam itu, banyak lubang di pintu itu walaupun tidak sampai


tembus ke dalam tapi sangat mengganggu penglihatan, beberapa bagian juga


terlihat sedikit mengelupas. Dindingnya juga tidak terlihat mulus, banyak


coretan dan beberapa yang rusak.


Tak


berapa lama terdengar sahutan dari dalam.


“Iya


sebentar!”


Pintu


pun perlahan terbuka, di sana menampakkan wanita dengan dasternya dan rambut yang


di ikat sembarang, serta perut yang terlihat buncit. Berbeda sekali


penampilannya dengan Davina yang Rendi kenal dulu, wanita licik yang begitu


arogan. Tapi sekarang terlihat pucat tanpa make up dan daster, sungguh buka


style Davina sekali.


“Rendi!”


Dengan


cepat Davina hendak menutup kembali pintunya tapi berhasil di tahan oleh tangan


kekar Rendi.


“Pergi


kalian dari sini!” Davina terus berusaha menutup pintu itu, tapi kekuatan


“Kita harus


bicara!”


Akhirnya


davina menyerah, ia membuka pintunya. Sudah kepalang tanggung jika harus


meminta mereka untuk pergi, itu tidak akan berhasil.


“Masuklah


…!” perintah Davina.


Mereka


pun masuk, Davina meminta Rendi dan anak buahnya untuk duduk di kursi plastik


yang warnanya sudah memudar, sedangkan dirinya masih berdiri di depan pintu,


menatap Rendi dengan tajam, menatap Rendi dengan penuh kebencian.


“Apa


yang kau inginkan?” Tanya Davina. Rendi tetap fokus pada perut Davina yang


buncit itu, ada banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya. Siapa ayah dari


anak yang di kandung wanita di depannya? Bahkan untuk menebaknya ia tidak


mampu, ia tidak punya gambaran.


“Jika


tidak ada yang ingin di bicarakan pintuku masih terbuka untuk kalian keluar!”


Davina benar-benar terlihat marah, ia seperti menyimpan luka yang besar dalam


hidupnya tapi dia tetap berusaha untuk tegar.


“Siapa


pemilik anak itu?” Tanya Rendi setelah terdiam cukup lama.


“Itu


bukan urusanmu, dan satu lagi jangan pernah mengatakan keadaanku pada siapa


pun! Kau tidak akan mendapatkan apa- apa di sini, jadi aku mohon pergilah dari


sini!” Davina membuka lebar pintunya.


“Aku


tidak akan pergi dari sini sebelum aku mendapatkan jawab yang aku inginkan!”


“Dan aku


juga tidak akan pernah mengatakannya padamu!”


“Kenapa?”


“Karena


mungkin setelah ini, kau tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak!” ucapan


Davina begitu dalam dan penuh ancaman.


“Katakan!”


Rendi pun tetap kekeh dengan pendiriannya. Bukan dirinya jika sampai lari dari


masalah, sebesar apapun masalah itu, dia akan mencoba untuk menghadapi, yang ia


yakin dirinya tidak ada hubungannya dengan bayi dalam kandungan Davina.


“Pergilah


…, jangan membuatku kesal dengan terus memaksaku!” Davina semakin kesal.


“Aku


tidak peduli!”


“Anak


ini tidak punya ayah!”


Ucapan


Davina seketika membuat Rendi terkejut, jadi yang di katakana tetangga tidak


benar, jadi selama ini Davina belum menikah, lalu siapa yang menghamilinya?


“Siapa


pemiliknya?” Tanya Rendi lagi.


“Jika


aku memberitahu apakah kau akan bersedia menggantikan ayahnya, apa kau akan


menjagaku, atau menjaga anakku jika aku tiada?”


Mendengar


pertanyaan Davina membuat Rendi marah, sungguh bukan itu yang dia inginkan. Mau


bagaimanapun Davina dia tetap saudara istrinya. Walaupun sampai kapan ia tidak


akan pernah menggantikan tempat Nadin oleh siapapun.


“Jangan


harap!” ucap Rendi sambil berdiri.


“Ya


sudah, pergilah …!”


Saat


Rendi hendak melangkahkan kakinya, Ajun segera menahan atasannya itu.


“Tunggu


sebentar, pak! Kita sudah sejauh ini.” Ajun memperingatkan atasannya itu untuk


tidak gegabah.


Rendi


pun berusaha mengendalikan perasaan kesalnya.


“Ya udah


sekarang katakan dan aku akan mempertimbangkannya!” rendi kembali duduk dengan


sikap tenangnya.


“Kau


yang sudah membuat anak yang ada dalam kandunganku ini terpisah dari ayahnya!”


“Aku?”


Tanya Rendi, ia malah bertambah bingung, bagaimana ada hubungannya dengannya.


Sepertinya


wanita ini berusaha memerah emosi pak Rendi, aku harus segera mencegahnya …


“Pak …,


sebaiknya kita pergi saja dari sini?” ajak Ajun, tapi Rendi tetap diam ia


memberi isyarat dengan mengangkat telapak tangannya pada Ajun untuk tetap diam


dan tidak ikut campur.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘