MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kepulangan Roy



      Hari ini Roy dan Salman akan pulang ke Jakarta. Mereka sudah cukup lama meninggalkan Jakarta.


Nadin sudah menyiapkan semua untuk menyambut ayahnya. Ayahnya sudah bilang jika


ia tidak pulang sendiri.Tentu , ayahnya pasti akan pulang dengan neneknya, bagaimana rupa neneknya. Memikirkannya saja sudah berhasil membuatnya geli, ia tersenyum sendiri membayangkan mendapatkan kasih sayang seorang nenek, pasti sangat menyenangkan. Dengan tingkah lucu nenek-nenek.


Ya ampun ....., aku sudah tidak sabar .....


Ya mungkin ayahnya pulang dengan sang nenek. Nadin pun segera mengambil ponselnya, ia ingin mencaritahu ayahnya apa sudah bersiap-siap untuk berangkat.


“Hallo ayah ..., ayah akan pulang beneran kan?” tanya Nadin


memastikan.


“beneran sayang ....!”


"Ayah pulang sama nenek kan?"


"Iya ... sayang ..."


"Mau dong ngobrol sama nenek ...!"


"Nggak boleh ...., nanyi biar jadi kejutan sayang ...."


"Iiiih ...., ayah curang ...!" Nadin mengerucutkan bibirnya.


"Anak gadis ayah, kesayangan ayah ...., jangan ngambek dong ...!" rayu Roy saat melihat putrinya merajut.


“Ayah sadar tidak, ayah sudah meninggalkan putri ayah ini berapa lama ...? Ayah sudah pergi satu minggu, padahal pamit ayah Cuma dua hari.”


Keluh Nadin.


“Iya ..., maafkan ayah ..., sudah dong ngambeknya ..., jangan lupa nanti jemput ayah di bandara ya,


kata pak Salman, nak Rendi akan menjemputmu ke rumah, segeralah siap-siap.”


“benarkah ...? Ayah nggak bercanda kan?” tanya Nadin tak percaya. Ia begitu senang mendengar


ucapan ayahnya. Ini kesempatan yang luar biasa menurutnya. Mendengar na Rendi di sebut saja sudah seperti hembusan angin surga, apa lagi pria itu akan datang menjemputnya.


Ahhh ..... senangnya ....


“iya..., sudah cepetan bersiap-siap. Kata pak Salman, nak Rendi


sudah on the way jemput kamu. Ini pesawat ayah juga sudah mau berangkat.”


“ya udah ..., sampai jumpa nanti ayah ...”


Nadin pun segera menutup sambungan telponnya. Ia melompat-lompat kegiarangan di atas tempat tidur, gayanya persis ABG yang baru saja di tembak pacarnya, atau orang yang baru saja dapat lotre.


Ia pun segera bersiap-siap, tak mau membuat Rendi menunggu lama, entah membayangkan wajah dingin Rendi saja sudah membuatnya membeku.


Ia


mengenakan kaos warna navy dan celana dengan pita di pinggangnya, penampilannya


semakin cantik di lengkapi dengan tas tangannya berwarna mustrat. Dengan rambut


yang di gerai menambah kecantikan alami wajah Nadin.



Senyum tak pernah pudar dari bibirnya. Ia sudah menunggu Rendi di


teras rumahnya. Ia benar-benar tak bisa sabar lagi ....


Tak berapa lama Rendi pun datang dengan penampilan yang


berbeda. Dia tidak memakai jasnya, tapi ia memakai kemeja warna navy dengan di


dalamnya kaos warna hitam juga. Ia mengenakan kaca mata, rambutnya juga tidak


serapi biasanya.



Entah kenapa penampilannya saat ini, Rendi terlihat lebih muda dari


usianya. Ia benar-benar tak terlihat jika sudah berusia tiga puluh tahun.


“kamu mau terus bengong di situ atau mau berangkat?” tanya Rendi


saat sudah turun dari mobilnya. Nadin pun segera berlari menghampiri Rendi.


“Pak Rendi luar biasa ...” ucap Nadin sambil mengacungkan kedua


jempolnya.


“Sudah jangan buang waktu ...” ucap Rendi sambil masuk ke dalam


mobil tanpa menunggu Nadin.


“dasar balok es, senyum dikit napa , dingin amet..... dikiiiit aja ....” gerutu


Nadin sambil masuk ke dam mobil. Nadin pun memasang seathbelt nya. Dan mobil pun


segera melaju memecah panasnya jalanan jakarta.


Dalam waktu satu jam mereka sampai di bandara internasional. Rendi


memarkirkan mobilnya terlebih dulu. Nadin terus mengikuti langkah Rendi, ia tak


mau di tinggal. Ia terus saja menggoda Rendi agar pria es itu bisa tertawa.


Sesekali Nadin melontarkan candaan.


“Sepertinya pesawatnya akan segera take of.” Ucap Rendi. rendi pun segera


bangun dari duduknya dan berdiri di memastikan kedatangan mereka.


Nadin pun mengikuti langkah Rendi. ia berdiri di samping Rendi.


tapi yang di tunggu tak kunjung datang. Kemudian matanya menangkap sosok yang


begitu ia kenal, dr. Frans ternyata ikut datang menjemput. Ia datang dengan


tampilan yang luar biasa,  kaca mata


hitam selalu menghiasi wajahnya,  jaket


hitam yang ia kenakan begitu pas, menambah ketampanannya.



“Dr. Frans ...”


“Hai Nad ...” sapa dr. Frans. "Jangan terpaku seperti itu ..., ya memang aku tampan ..., tapi cukup si kulkas saja ya yang kamu buat bolak balik jantungnya." cetocos dr. Frans sambil menoel hidung Nadin.


"Ahhh ...., dr ini bisa aja, kenapa yang kebolak balik jantungnya dok?" tanya Nadin sambil berbisik pada telinga dr. Frans walau haris berjinjit untuk dapat meraih telinga dr. Frans, agar pria yanh sedang di bicarakan tidak bisa mendengar obrolan mereka.


“Kok ..., dr. Frans bisa di sini?’ tanya Nadin.


“Nggak tau, tanya aja sama si kulkas samping kamu itu, katanya takut


nggak muat mobilnya.”


“Ada-ada aja Dr ini ..., memang siapa saja yang datang, paling Cuma


tiga orang.”


“Ya siapa tahu, bapak kamu bawa orang sekampung.” Ucap dr. Frans


sambil menatap kesal pada sahabatnya itu. Yang di tatap tetap saja merasa


tak  bersalah.


Kedatangan dr. Frans membuat suasana menjadi ramai, tidak garing


lagi. Nadin begitu nyambung mengobrol dengan dr. Frans mereka sama-sama suka


bercanda. Tawa tak pernah lepas dari mereka, sedangkan Rendi asik dengan


dunianya sendiri, ia memilih memantengi layar i-padnya.


Tak berapa lama , pesawat pun landing, mereka bertiga sudah


menunggu di ruang tunggu cukup lama, dari dalam nampak dua orang yang di


tunggunya sudah berjalan mendekati mereka.


“Ayah ...” teriak Nadin tak sabar, ia pun segera berlari memeluk


ayahnya. Rasa rindunya sudah tak terbendung lagi. Ini untuk pertama kalinya ia


berpisah dengan ayahnya dalam waktu yang lama.


“Sayang ..., ayah merindukanmu ...!” ucap Roy, membalas pelukan


putrinya.


Setelah ia melepaskan pelukan ayahnya, mata Nadin tertuju pada


orang-orang yang berada di belakang ayahnya.


“Yah ..., mereka siapa?” tanya Nadin.


“kenalkan nak, mereka adalah keluarga baru kita, ini nenek kamu,


nenek Nani.” Ucap Roy sambil menunjuk pada wanita renta tak jauh dari Roy.


“Nenek ...” nadin pun langsung meraih tangan Nani, dan pencium


punggung tangan neneknya itu. “Nadin senang bisa bertemu dengan nenek.”


“ayah ..., lalu mereka siapa?” tanya nadin kemudian saat melihat


dua wanita yang ada di samping ayahnya juga. Satu wanita sudah paruh baya dan


satunya gadis dengan usia tak jauh beda dengan Ara, kakaknya.


“Kenalkan saya Dewi, kamu boleh memanggilku mama dan dia saudaramu


Davina” ucap wanita paruh baya itu.


“Maksudnya?” Nadin gagal mencerna ucapan wanita itu.


“Ayah sudah menikah dengan tante Dewi nak, dan Davina akan menjadi


kakak kamu.” Roy berusaha menjelaskan.


“Maksud ayah? Maksudku, bagaimana bisa?” Nadin benar-benar gagal mencerna ucapan Dewi, wanita yang mengaku menjadi istri ayahnya.


“Ya ini salah satu wasiat saudara ayah, kamu tidak keberatan kan


nak?” tanya Roy. Ya walau pun awalnya Nadin begitu kecewa mendengar penuturan ayahnya. tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi dan mau tak mau dia harus menerimanya.


“Tidak yah ..., Nadin malah senang, Nadin senang sekarang memiliki


keluarga yang utuh." ucap Nadin, ada air mata dan sana, air mata kecewa bercampur bahagia. Setidaknya ayahnya sekarang tidak hanya tinggal seorang diri.


" Kak Vina, boleh aku memelukmu?” Nadin pun bertanya pada


Davina dan merentangkan tangannya, Davina membalas pelukan Nadin. Stelah penjelasan yang kurang efektif itu, karena brrtempat di bandara. Akhirnya Salman ikit bicara, ia mengenalkan dua pria yang ada di sampingnya pada keluarga baru Roy.


“Oh iya nyonya Dewi, Davina, ibu Nani, kenalkan mereka adalah Rendi


dan Frans. Putraku dan sahabatnya.” Ucap Salman memperkenalkan dua pria yang


sedari tadi hanya diam menyaksikan pertemuan keluarga itu.


“Salam kenal tante, nenek, dan Davina ....” dr. Frans menyambut mereka


dengan sangat hangat, berbeda dengan Rendi, ia memilh hanya tersenyum dan


menyebutkan namanya saja.


“Dasar balok es ..., berkenalan itu yang bagus ...!” ucap Nadin tak


terkontrol. Rendi hanya menatapnya dingin dan melihatnya dengan pandangan


meremehkan.


“Nadin ...!” ucap Roy memperingatkan putrinya agar tidak bicara


sembarangan.


“Tidak pa pa pak Roy, saya suka sikap putri pak Roy ...” ucap


Salman.


“Ya sudah om, tante..., kita pulang sekarang ...!!!” ucap dr. Frans.


“Ayo ....” ucap Salman dan Roy bersamaan.


*****


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy reading 😘😘😘😘😘**