
Hari ini Roy dan Salman akan pulang ke Jakarta. Mereka sudah cukup lama meninggalkan Jakarta.
Nadin sudah menyiapkan semua untuk menyambut ayahnya. Ayahnya sudah bilang jika
ia tidak pulang sendiri.Tentu , ayahnya pasti akan pulang dengan neneknya, bagaimana rupa neneknya. Memikirkannya saja sudah berhasil membuatnya geli, ia tersenyum sendiri membayangkan mendapatkan kasih sayang seorang nenek, pasti sangat menyenangkan. Dengan tingkah lucu nenek-nenek.
Ya ampun ....., aku sudah tidak sabar .....
Ya mungkin ayahnya pulang dengan sang nenek. Nadin pun segera mengambil ponselnya, ia ingin mencaritahu ayahnya apa sudah bersiap-siap untuk berangkat.
“Hallo ayah ..., ayah akan pulang beneran kan?” tanya Nadin
memastikan.
“beneran sayang ....!”
"Ayah pulang sama nenek kan?"
"Iya ... sayang ..."
"Mau dong ngobrol sama nenek ...!"
"Nggak boleh ...., nanyi biar jadi kejutan sayang ...."
"Iiiih ...., ayah curang ...!" Nadin mengerucutkan bibirnya.
"Anak gadis ayah, kesayangan ayah ...., jangan ngambek dong ...!" rayu Roy saat melihat putrinya merajut.
“Ayah sadar tidak, ayah sudah meninggalkan putri ayah ini berapa lama ...? Ayah sudah pergi satu minggu, padahal pamit ayah Cuma dua hari.”
Keluh Nadin.
“Iya ..., maafkan ayah ..., sudah dong ngambeknya ..., jangan lupa nanti jemput ayah di bandara ya,
kata pak Salman, nak Rendi akan menjemputmu ke rumah, segeralah siap-siap.”
“benarkah ...? Ayah nggak bercanda kan?” tanya Nadin tak percaya. Ia begitu senang mendengar
ucapan ayahnya. Ini kesempatan yang luar biasa menurutnya. Mendengar na Rendi di sebut saja sudah seperti hembusan angin surga, apa lagi pria itu akan datang menjemputnya.
Ahhh ..... senangnya ....
“iya..., sudah cepetan bersiap-siap. Kata pak Salman, nak Rendi
sudah on the way jemput kamu. Ini pesawat ayah juga sudah mau berangkat.”
“ya udah ..., sampai jumpa nanti ayah ...”
Nadin pun segera menutup sambungan telponnya. Ia melompat-lompat kegiarangan di atas tempat tidur, gayanya persis ABG yang baru saja di tembak pacarnya, atau orang yang baru saja dapat lotre.
Ia pun segera bersiap-siap, tak mau membuat Rendi menunggu lama, entah membayangkan wajah dingin Rendi saja sudah membuatnya membeku.
Ia
mengenakan kaos warna navy dan celana dengan pita di pinggangnya, penampilannya
semakin cantik di lengkapi dengan tas tangannya berwarna mustrat. Dengan rambut
yang di gerai menambah kecantikan alami wajah Nadin.
Senyum tak pernah pudar dari bibirnya. Ia sudah menunggu Rendi di
teras rumahnya. Ia benar-benar tak bisa sabar lagi ....
Tak berapa lama Rendi pun datang dengan penampilan yang
berbeda. Dia tidak memakai jasnya, tapi ia memakai kemeja warna navy dengan di
dalamnya kaos warna hitam juga. Ia mengenakan kaca mata, rambutnya juga tidak
serapi biasanya.
Entah kenapa penampilannya saat ini, Rendi terlihat lebih muda dari
usianya. Ia benar-benar tak terlihat jika sudah berusia tiga puluh tahun.
“kamu mau terus bengong di situ atau mau berangkat?” tanya Rendi
saat sudah turun dari mobilnya. Nadin pun segera berlari menghampiri Rendi.
“Pak Rendi luar biasa ...” ucap Nadin sambil mengacungkan kedua
jempolnya.
“Sudah jangan buang waktu ...” ucap Rendi sambil masuk ke dalam
mobil tanpa menunggu Nadin.
“dasar balok es, senyum dikit napa , dingin amet..... dikiiiit aja ....” gerutu
Nadin sambil masuk ke dam mobil. Nadin pun memasang seathbelt nya. Dan mobil pun
segera melaju memecah panasnya jalanan jakarta.
Dalam waktu satu jam mereka sampai di bandara internasional. Rendi
memarkirkan mobilnya terlebih dulu. Nadin terus mengikuti langkah Rendi, ia tak
mau di tinggal. Ia terus saja menggoda Rendi agar pria es itu bisa tertawa.
Sesekali Nadin melontarkan candaan.
“Sepertinya pesawatnya akan segera take of.” Ucap Rendi. rendi pun segera
bangun dari duduknya dan berdiri di memastikan kedatangan mereka.
Nadin pun mengikuti langkah Rendi. ia berdiri di samping Rendi.
tapi yang di tunggu tak kunjung datang. Kemudian matanya menangkap sosok yang
begitu ia kenal, dr. Frans ternyata ikut datang menjemput. Ia datang dengan
tampilan yang luar biasa, kaca mata
hitam selalu menghiasi wajahnya, jaket
hitam yang ia kenakan begitu pas, menambah ketampanannya.
“Dr. Frans ...”
“Hai Nad ...” sapa dr. Frans. "Jangan terpaku seperti itu ..., ya memang aku tampan ..., tapi cukup si kulkas saja ya yang kamu buat bolak balik jantungnya." cetocos dr. Frans sambil menoel hidung Nadin.
"Ahhh ...., dr ini bisa aja, kenapa yang kebolak balik jantungnya dok?" tanya Nadin sambil berbisik pada telinga dr. Frans walau haris berjinjit untuk dapat meraih telinga dr. Frans, agar pria yanh sedang di bicarakan tidak bisa mendengar obrolan mereka.
“Kok ..., dr. Frans bisa di sini?’ tanya Nadin.
“Nggak tau, tanya aja sama si kulkas samping kamu itu, katanya takut
nggak muat mobilnya.”
“Ada-ada aja Dr ini ..., memang siapa saja yang datang, paling Cuma
tiga orang.”
“Ya siapa tahu, bapak kamu bawa orang sekampung.” Ucap dr. Frans
sambil menatap kesal pada sahabatnya itu. Yang di tatap tetap saja merasa
tak bersalah.
Kedatangan dr. Frans membuat suasana menjadi ramai, tidak garing
lagi. Nadin begitu nyambung mengobrol dengan dr. Frans mereka sama-sama suka
bercanda. Tawa tak pernah lepas dari mereka, sedangkan Rendi asik dengan
dunianya sendiri, ia memilih memantengi layar i-padnya.
Tak berapa lama , pesawat pun landing, mereka bertiga sudah
menunggu di ruang tunggu cukup lama, dari dalam nampak dua orang yang di
tunggunya sudah berjalan mendekati mereka.
“Ayah ...” teriak Nadin tak sabar, ia pun segera berlari memeluk
ayahnya. Rasa rindunya sudah tak terbendung lagi. Ini untuk pertama kalinya ia
berpisah dengan ayahnya dalam waktu yang lama.
“Sayang ..., ayah merindukanmu ...!” ucap Roy, membalas pelukan
putrinya.
Setelah ia melepaskan pelukan ayahnya, mata Nadin tertuju pada
orang-orang yang berada di belakang ayahnya.
“Yah ..., mereka siapa?” tanya Nadin.
“kenalkan nak, mereka adalah keluarga baru kita, ini nenek kamu,
nenek Nani.” Ucap Roy sambil menunjuk pada wanita renta tak jauh dari Roy.
“Nenek ...” nadin pun langsung meraih tangan Nani, dan pencium
punggung tangan neneknya itu. “Nadin senang bisa bertemu dengan nenek.”
“ayah ..., lalu mereka siapa?” tanya nadin kemudian saat melihat
dua wanita yang ada di samping ayahnya juga. Satu wanita sudah paruh baya dan
satunya gadis dengan usia tak jauh beda dengan Ara, kakaknya.
“Kenalkan saya Dewi, kamu boleh memanggilku mama dan dia saudaramu
Davina” ucap wanita paruh baya itu.
“Maksudnya?” Nadin gagal mencerna ucapan wanita itu.
“Ayah sudah menikah dengan tante Dewi nak, dan Davina akan menjadi
kakak kamu.” Roy berusaha menjelaskan.
“Maksud ayah? Maksudku, bagaimana bisa?” Nadin benar-benar gagal mencerna ucapan Dewi, wanita yang mengaku menjadi istri ayahnya.
“Ya ini salah satu wasiat saudara ayah, kamu tidak keberatan kan
nak?” tanya Roy. Ya walau pun awalnya Nadin begitu kecewa mendengar penuturan ayahnya. tapi mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi dan mau tak mau dia harus menerimanya.
“Tidak yah ..., Nadin malah senang, Nadin senang sekarang memiliki
keluarga yang utuh." ucap Nadin, ada air mata dan sana, air mata kecewa bercampur bahagia. Setidaknya ayahnya sekarang tidak hanya tinggal seorang diri.
" Kak Vina, boleh aku memelukmu?” Nadin pun bertanya pada
Davina dan merentangkan tangannya, Davina membalas pelukan Nadin. Stelah penjelasan yang kurang efektif itu, karena brrtempat di bandara. Akhirnya Salman ikit bicara, ia mengenalkan dua pria yang ada di sampingnya pada keluarga baru Roy.
“Oh iya nyonya Dewi, Davina, ibu Nani, kenalkan mereka adalah Rendi
dan Frans. Putraku dan sahabatnya.” Ucap Salman memperkenalkan dua pria yang
sedari tadi hanya diam menyaksikan pertemuan keluarga itu.
“Salam kenal tante, nenek, dan Davina ....” dr. Frans menyambut mereka
dengan sangat hangat, berbeda dengan Rendi, ia memilh hanya tersenyum dan
menyebutkan namanya saja.
“Dasar balok es ..., berkenalan itu yang bagus ...!” ucap Nadin tak
terkontrol. Rendi hanya menatapnya dingin dan melihatnya dengan pandangan
meremehkan.
“Nadin ...!” ucap Roy memperingatkan putrinya agar tidak bicara
sembarangan.
“Tidak pa pa pak Roy, saya suka sikap putri pak Roy ...” ucap
Salman.
“Ya sudah om, tante..., kita pulang sekarang ...!!!” ucap dr. Frans.
“Ayo ....” ucap Salman dan Roy bersamaan.
*****
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Terimakasih
Happy reading 😘😘😘😘😘**