
“Omong kosong apa lagi ini?” dr. Frans begitu terkejut
dengan ucapan Rendi, ia tidak pernah menyangka jika sahabatnya itu akan berada
di titik ini, ia tahu seberapa besar kesetiaannya pada keluarga Agra dan
perusahaan yang telah membesarkan namanya, bahkan jika di suruh memilih antara
ayah dan nyonya Ratih, maka mungkin ia akan memilih berdiri di belakang nyonya Ratih,
lalu apa yang berhasil membuat pendirian dan keyakinannya goyah hingga
memutuskan hal sebesar ini.
“ini bukan omong kosong, tapi_”
“Gue tahu siapa lo, jangan membuat keputusan yang akan
membuat lo menyesal di kemudian hari! Gue tahu sebesar apa cinta lo pada
finityGroup!”
“Tapi gue harus lakuin ini!”
“Atas dasar apa?”
“Cinta!” ucap Rendi.
“Cinta? Cinta macam apa yang lo maksud?” dr. Frans
benar-benar gagal mencerna ucapan Rendi, cinta apa, apa hubungannya dengan
mengundurkan diri? Bukankah itu cinta yang menghancurkan?
“Gue berada dalam dua pilihan yang berat!”
“Ayolah …, katakan yang jelas, jangan muter-muter, lo
benar-benar membuat otak jenius gue berantakan!” keluh dr. Frans karena marasa
di ajak berteka teki oleh Rendi.
“Nadin di culik!”
Jeder
Ucapan Rendi bagai petir di siang bolong tanpa mendung, ia
tidak tahu harus apa sekarang. Dr. Frans menatap Rendi penuh dengan rasa
penasaran.
“Maksudnya?” dr. Frans benar-benar di buat terkejut oleh
ucapan rendi.
“Alex telah menculiknya, dan sebagai gantinya gue harus
mengundurkan diri dari finityGroup!”
“Dan lo tidak mengatakan semua itu pada Agra ataupun nyonya
Ratih?”
“Mana mungkin gue memberi tahu mereka!”
“Dan lo memilih gue buat memikirkan hal seberat ini, lo
benar-benar tega sama gue!” keluh dr. Frans.
“Cepat atau lambat gue pasti melakukan hal ini juga, jadi
gue mohon nanti jika gue benar-benar melepaskan Agra, lo yang harus
merangkulnya lebih erat!”
“Tanpa lo suruh, gue pasti melakukan hal itu, tapi sekarang
rencana lo apa? Gue akan membantu sebisa gue!”
“Sebisa mungkin gue harus mengulur waktu sampai gue bisa
menemukan tempat Nadin di sembunyikan!”
“Baiklah, gue akan membantu lo sebisanya, dan ceritakan
semuanya pada Agra!”
“Iya pasti!”
POV RENDI
Aku harus mencari cara lain untuk menemukan Nadin, rasanya
sangat sulit berada jauh dari Nadin. Setelah menemui Frans aku menuju ke rumah
besar, menemui nyonya Ratih, aku tidak mau menunggu lagi, aku tidak tahu sampai
kapan pria gila itu tidak akan menyakiti Nadin.
Sebelum itu aku harus merapikan penampilanku yang
berantakan, nyonya Ratih pasti akan menanyaiku macam-macam jika melihatku
seperti ini. Sudah satu minggu semenjak hari itu aku berpisah dengan Nadin,
“Selamat datang pak Rendi, nyonya sudah menunggu anda!”
sapaan yang sama ketika aku dating ke rumah besar itu, rumah yang sudah seperti
rumah kedua untukku, aku besar di sana dan sekarang aku harus memilih untuk
melepaskannya. Aku hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan pria itu, aku
menyusuri rumah itu yang mungkin akan sangat jarang aku dating setelah hari
ini.
Langkahku terhenti tepat di depan pintu besar yang sebagian
orang akan sangat enggan untuk masuk ke dalamnya, pintu yang paling di hindari
oleh para pekerja di rumah besar itu, ada dua kemungkinan jika sampai masuk ke
dalam ruangan itu, terjebak masalah atau ada urusan yang sangat penting dengan
nyonya rumah itu, karena untuk membersihkan ruangan itupun hanya di peruntukkan
bagi pegawai khusus.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu itu, seseorang langsung membuka pintu
itu, dia adalah ayahku, ayah Salman orang yang paling setia mendampingi
keluarga ini, bahkan seluruh hidupnya dihabiskan untuk melayani keluarga ini.
ayahku, walaupun pelan tapi penuh dengan penegasan.
Aku pun segera masuk, menunduk memberi hormat pada pemilik
ruangan itu, wanita paruh baya yang selalu membuatku kagum dengan kegigihan dan
ketegasannya tapi tak pernah menghilangkan kelembutan sebagai seorang ibu.
“Ada hal penting yang harus saya bicarakan, nyonya!” nyonya
Ratih mendongakkan kepalanya, ia menutup berkas yang ada di hadapannya, ayahku
pun ikut mendekat. Beliau berdiri tepat di belakangku.
“Katakan!” perintah nyonya Ratih. Mungkin permintaanku ini akan sangat kurang ajar, tapi aku
harus melakukan ini untuk membebaskan Nadin.
“Ijinkan saya mengundurkan diri sekarang nyonya!” aku tak
berani menatap nyonya Ratih, aku merasa pengabdian ku selama ini belum sebanding
dengan kebaikan yang Nyonya Ratih berikan kepada keluargaku.
“Ada masalah apa?”
Sebenarnya aku masih bingung harus menjawab apa, ini bukan
kemauanku. “Ada hal yang mengharuskan saya melakukan itu, ijinkan saya menjauh
sebentar sampai keadaannya benar-benar aman. Dan tolong umumkan hal ini pada
rapat besok nyonya!”
“Saya kenal siapa kamu, pasti ada hal serius yang sedang kamu hadapi, lakukan jika
menurutmu ini baik, tapi segeralah kembali saat semua sudah kembali baik!”
“Terimakasih atas pengertian nyonya, jika seperti itu saya
permisi!” nyonya Ratih mengangguk, aku segera berbalik dan langsung mendapat
tatapan penuh Tanya dari ayahku, aku bahkan sampai lupa untuk menceritakan hal
ini pada ayah.
Aku menatap ayahku, ia menepuk pundak ku seolah mengatakan
jika semua akan baik-baik saja. Walaupun aku tidak mengatakannya, tapi aku
yakin batin seorang ayah akan bisa merasakan jika kini putranya sedang dalam
masalah besar.
Kembali ku langkahkan kakiku keluar dari ruangan itu,
setelah ini ada hari yang lebih berat yang akan menantiku. Langkahku kembali
terhenti di ujung tangga saat orang yang paling aku harapkan bantuannya
mengahadangku.
“Rend!”
“Pak!”
“Apa yang terjadi?” sebenarnya itu hanya pertanyaan untuk
memperjelas, aku yakin dia sudah tahu walaupun hanya sebagian.
“Nadin di culik!” itu adalah kata yang paling tepat untuk
menggambarkan semuanya, kata kunci untuk merangkum semua kejadian.
“Sudah ku duga, sekarang rencanamu apa?”
“Aku harus mengundurkan diri dari finityGroup untuk
sementara waktu!”
“Kenapa?”
“Karena ini permintaannya?”
“Siapa?”
“Kevin Alexander”
“Kevin Alexander? Bukankah perusahaannya juga memiliki
saham hampir sebanding dengan finityGroup?”
“Iya, sepertinya dia menginginkan saham kita melemah untuk
tahun ini dengan mengirim saya menjauh dari anda!”
“Kita ikuti saja permainannya, lakukan seperti yang ia
minta!”
“Baik pak!”
Setidaknya aku sekarang bisa bernafas sedikit lega karena
Agra juga mendukung rencanaku, sekarang aku harus memikirkan rencana
selanjutnya sambil ,menunggu kabar keberadaan Nadin.
VOP NADIN
Sebuah rumah besar di pedesaan ini benar-benar berhasil
mengungkungku, aku mulai bosan dengan rutinitasku setiap hari, hanya ada
penjagaan-dan penjagaan. Ini daerah mana bahkan aku tidak tahu.
“Malam ini tuan Alex akan dating noba, nona di minta untuk
siap-siap!” ucap wanita paruh baya dengan penampilan bak prajurit wanita itu.
“Memang harus ya?” Tanya ku malas, apa urusannya denganku
hingga aku harus siap-siap.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘