MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
karena cinta



“Omong kosong apa lagi ini?” dr. Frans begitu terkejut


dengan ucapan Rendi, ia tidak pernah menyangka jika sahabatnya itu akan berada


di titik ini, ia tahu seberapa besar kesetiaannya pada keluarga Agra dan


perusahaan yang telah membesarkan namanya, bahkan jika di suruh memilih antara


ayah dan nyonya Ratih, maka mungkin ia akan memilih berdiri di belakang nyonya Ratih,


lalu apa yang berhasil membuat pendirian dan keyakinannya goyah hingga


memutuskan hal sebesar ini.


“ini bukan omong kosong, tapi_”


“Gue tahu siapa lo, jangan membuat keputusan yang akan


membuat lo menyesal di kemudian hari! Gue tahu sebesar apa cinta lo pada


finityGroup!”


“Tapi gue harus lakuin ini!”


“Atas dasar apa?”


“Cinta!” ucap Rendi.


“Cinta? Cinta macam apa yang lo maksud?” dr. Frans


benar-benar gagal mencerna ucapan Rendi, cinta apa, apa hubungannya dengan


mengundurkan diri? Bukankah itu cinta yang menghancurkan?


“Gue berada dalam dua pilihan yang berat!”


“Ayolah …, katakan yang jelas, jangan muter-muter, lo


benar-benar membuat otak jenius gue berantakan!” keluh dr. Frans karena marasa


di ajak berteka teki oleh Rendi.


“Nadin di culik!”


Jeder


Ucapan Rendi bagai petir di siang bolong tanpa mendung, ia


tidak tahu harus apa sekarang. Dr. Frans menatap Rendi penuh dengan rasa


penasaran.


“Maksudnya?” dr. Frans benar-benar di buat terkejut oleh


ucapan rendi.


“Alex telah menculiknya, dan sebagai gantinya gue harus


mengundurkan diri dari finityGroup!”


“Dan lo tidak mengatakan semua itu pada Agra ataupun nyonya


Ratih?”


“Mana mungkin gue memberi tahu mereka!”


“Dan lo memilih gue buat memikirkan hal seberat ini, lo


benar-benar tega sama gue!” keluh dr. Frans.


“Cepat atau lambat gue pasti melakukan hal ini juga, jadi


gue mohon nanti jika gue benar-benar melepaskan Agra, lo yang harus


merangkulnya lebih erat!”


“Tanpa lo suruh, gue pasti melakukan hal itu, tapi sekarang


rencana lo apa? Gue akan membantu sebisa gue!”


“Sebisa mungkin gue harus mengulur waktu sampai gue bisa


menemukan tempat Nadin di sembunyikan!”


“Baiklah, gue akan membantu lo sebisanya, dan ceritakan


semuanya pada Agra!”


“Iya pasti!”


POV RENDI


Aku harus mencari cara lain untuk menemukan Nadin, rasanya


sangat sulit berada jauh dari Nadin. Setelah menemui Frans aku menuju ke rumah


besar, menemui nyonya Ratih, aku tidak mau menunggu lagi, aku tidak tahu sampai


kapan pria gila itu tidak akan menyakiti Nadin.


Sebelum itu aku harus merapikan penampilanku yang


berantakan, nyonya Ratih pasti akan menanyaiku macam-macam jika melihatku


seperti ini. Sudah satu minggu semenjak hari itu aku berpisah dengan Nadin,


“Selamat datang pak Rendi, nyonya sudah menunggu anda!”


sapaan yang sama ketika aku dating ke rumah besar itu, rumah yang sudah seperti


rumah kedua untukku, aku besar di sana dan sekarang aku harus memilih untuk


melepaskannya. Aku hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan pria itu, aku


menyusuri rumah itu yang mungkin akan sangat jarang aku dating setelah hari


ini.


Langkahku terhenti tepat di depan pintu besar yang sebagian


orang akan sangat enggan untuk masuk ke dalamnya, pintu yang paling di hindari


oleh para pekerja di rumah besar itu, ada dua kemungkinan jika sampai masuk ke


dalam ruangan itu, terjebak masalah atau ada urusan yang sangat penting dengan


nyonya rumah itu, karena untuk membersihkan ruangan itupun hanya di peruntukkan


bagi pegawai khusus.


Tok tok tok


Aku mengetuk pintu itu, seseorang langsung membuka pintu


itu, dia adalah ayahku, ayah Salman orang yang paling setia mendampingi


keluarga ini, bahkan seluruh hidupnya dihabiskan untuk melayani keluarga ini.


ayahku, walaupun pelan tapi penuh dengan penegasan.


Aku pun segera masuk, menunduk memberi hormat pada pemilik


ruangan itu, wanita paruh baya yang selalu membuatku kagum dengan kegigihan dan


ketegasannya tapi tak pernah menghilangkan kelembutan sebagai seorang ibu.


“Ada hal penting yang harus saya bicarakan, nyonya!” nyonya


Ratih mendongakkan kepalanya, ia menutup berkas yang ada di hadapannya, ayahku


pun ikut mendekat. Beliau berdiri tepat di belakangku.


“Katakan!” perintah  nyonya Ratih. Mungkin permintaanku ini akan sangat kurang ajar, tapi aku


harus melakukan ini untuk membebaskan Nadin.


“Ijinkan saya mengundurkan diri sekarang nyonya!” aku tak


berani menatap nyonya Ratih, aku merasa pengabdian ku selama ini belum sebanding


dengan kebaikan yang Nyonya Ratih berikan kepada keluargaku.


“Ada masalah apa?”


Sebenarnya aku masih bingung harus menjawab apa, ini bukan


kemauanku. “Ada hal yang mengharuskan saya melakukan itu, ijinkan saya menjauh


sebentar sampai keadaannya benar-benar aman. Dan tolong umumkan hal ini pada


rapat besok nyonya!”


“Saya kenal siapa kamu, pasti ada hal serius  yang sedang kamu hadapi, lakukan jika


menurutmu ini baik, tapi segeralah kembali saat semua sudah kembali baik!”


“Terimakasih atas pengertian nyonya, jika seperti itu saya


permisi!” nyonya Ratih mengangguk, aku segera berbalik dan langsung mendapat


tatapan penuh Tanya dari ayahku, aku bahkan sampai lupa untuk menceritakan hal


ini pada ayah.


Aku menatap ayahku, ia menepuk pundak ku seolah mengatakan


jika semua akan baik-baik saja. Walaupun aku tidak mengatakannya, tapi aku


yakin batin seorang ayah akan bisa merasakan jika kini putranya sedang dalam


masalah besar.


Kembali ku langkahkan kakiku keluar dari ruangan itu,


setelah ini ada hari yang lebih berat yang akan menantiku. Langkahku kembali


terhenti di ujung tangga saat orang yang paling aku harapkan bantuannya


mengahadangku.


“Rend!”


“Pak!”


“Apa yang terjadi?” sebenarnya itu hanya pertanyaan untuk


memperjelas, aku yakin dia sudah tahu walaupun hanya sebagian.


“Nadin di culik!” itu adalah kata yang paling tepat untuk


menggambarkan semuanya, kata kunci untuk merangkum semua kejadian.


“Sudah ku duga, sekarang rencanamu apa?”


“Aku harus mengundurkan diri dari finityGroup untuk


sementara waktu!”


“Kenapa?”


“Karena ini permintaannya?”


“Siapa?”


“Kevin  Alexander”


“Kevin Alexander? Bukankah perusahaannya juga memiliki


saham hampir sebanding dengan finityGroup?”


“Iya, sepertinya dia menginginkan saham kita melemah untuk


tahun ini dengan mengirim saya menjauh dari anda!”


“Kita ikuti saja permainannya, lakukan seperti yang ia


minta!”


“Baik pak!”


Setidaknya aku sekarang bisa bernafas sedikit lega karena


Agra juga mendukung rencanaku, sekarang aku harus memikirkan rencana


selanjutnya sambil ,menunggu kabar keberadaan Nadin.


VOP NADIN


Sebuah rumah besar di pedesaan ini benar-benar berhasil


mengungkungku, aku mulai bosan dengan rutinitasku setiap hari, hanya ada


penjagaan-dan penjagaan. Ini daerah mana bahkan aku tidak tahu.


“Malam ini tuan Alex akan dating noba, nona di minta untuk


siap-siap!” ucap wanita paruh baya dengan penampilan bak prajurit wanita itu.


“Memang harus ya?” Tanya ku malas, apa urusannya denganku


hingga aku harus siap-siap.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘