
Benar seperti dugaan Nadin, Rendi melacak Nadin dari
nomor ponselnya, Nadin sudah melepas kartu nomornya dan menggantinya dengan
tang baru, ia hanya memberitahukan nomor barunya pada Dini.
Nadin memilih kota Surabaya sebagai tempat pelariannya, ia menggunakan kereta supaya
anak buah Rendi tidak mampu melacaknya, sungguh pelajaran dari pria dingin itu berguna untuk saat saat seperti ini.
Ia meminta Dini untuk melakukan
penerbangan ke korea guna mengelabuhi Rendi.
Memalui black card yang di gunakan
Dini untuk melakukan pencairan Rendi melacak keberadaan Nadin, untung Nadin
sudah menyuruh Dini untuk mencairkan uangnya di atm yang cukup jauh dari
tempatnya.
Dini membuatkan buku tabungan baru atas nama Dini dan menyerahkannya pada Nadin sebelum Nadin berangkat ke Surabaya.
“Hati-hati ya Nad, hubungi aku jika sudah sampai di sana, budhe ku sudah menunggumu di sana, jangan pikirkan apapun, buat dirimu
tenang, jika sudah yakin, segeralah kembali ke suamimu dan selesaikan urusanmu
dengan kepala dingin, apapun keputusanmu aku akan selalu mendukungmu sebagai
sahabat.”
Pesan Dini sebelum dia melakukan pemberangkatan ke korea dengan
identitas sebagai Nadin.
Memang sangat sulit bersembunyi dari suaminya, tapi ia butuh waktu untuk sendiri, untuk merenungi semuanya.
Hatinya begitu sakit mengetahui suaminya menutupi hal sebesar itu, entah kebohongan atau kenyataan besar apa lagi yang ia tidak tahu.
Selama ini kepercayaannya pada suaminya
begitu tinggi bahkan mungkin angina besar pun tak mampu merobohkannya, tapi
entah kenapa untuk saat ini ia sedang tidak ingin percaya.
Nadin menatap sawah yang terbentang panjang sepanjang jalur kereta apa yang sedang membawanya, matanya tak mampu membendung air mata yang sedari kemarin telah tumpah, bahkan mungkin sudah beberapa liter.
Angin yang beberapa kali menghempas dan menyapu air matanya tak membuatnya kering.
Gerimis mulai turun membuat embun di kaca garbong keretanya. Sesekali tangannya
ia ulurkan untuk membuat pola di sana, bahkan tangannya tak bisa menggambarkan
apapun, hanya garis yang melengkung ke sana kemari tanpa bisa di artikan
sebenarnya ia sedang menggambar apa.
Sesekali kereta berhenti di stasiun, menurunkan beberapa penumpangnya, bahkan Nadin tidak menyadari sudah berapa kali berganti orang yang duduk di depannya, untung saja tidak terlalu ramai, jadi ia tidak
terlalu malu untuk menangis.
Mungkin jika tidak di dalam kereta, dia akan
menangis seperti anak kecil. Ia merasakan sakit tapi tidak tahu sakit yang mana
yang sebenarnya ia rasakan, dulu ia pernah sakit tapi tak ada yang sesakit ini.
Akhirnya Nadin sampai di tempat tujuan, ia
merenggankan badannya yang begitu kaku karena hampir sehari semalam ia berada di
dalam kereta tampa melakukan aktifitas selain menangis.
Matahari masih enggan mengeluarkan sinarnya, masih tampak cahaya jingga di sudut timur, masih begitu
malas untuk muncul. Surabaya masih belum bangun, sepi dan gelap.
Nadin duduk kembali di bangku besi, ia belum tau daerah itu, tapi untuk meminta seseorang menjemputnya akan sangat merepotkan.
Ia harus mencari sendiri tempat itu.
“Anggap saja ini sebuah jalan-jalan panjang Nadin, awal perjalananmu sedang di mulai
dan tunggu sampai mas Rendi menjemputmu nanti, dan saat itu tiba aku ingin
semuanya sudah membaik dan luka ini sembuh!”
Nadin menghela nafasnya begitu
dalam. Menangis bukanlah tujuannya pergi sampai sejauh ini, ia yakin nanti
suatu saat Rendi akan datang mencarinya dan mengatakan semuanya.
Nadin menyusuri jalan yang masih sepi itu, ia
menunggu hingga ada taksi yang melintas di sana. Tapi ternyata perutnya lebih
dulu protes, sepertinya hari yang panjang kemarin telah membuatnya begitu
tersiksa hingga masih sepagi ini perutnya minta untuk di isi.
“Baiklah …, jika kalian ingin makan, aku akan
mencarikan makanan yang belum pernah kalian dapatkan di Jakarta!”
Nadin bicara pada perutnya seolah-olah sedang bicara pada cacing-cacing yang sedang protes di dalam sana.
Setelah matahari sedikit berbaik hati menampakkan sinarnya, Nadin bisa melihat pedagang kaki lima yang mulai membuka lapaknya, di pinggir-pinggir jalan mulai bermunculan pedagang dengan berbagai barang dagangan terutama makanan sebagai menu pagi, kaki Nadin terhenti di salah satu kedai,
milik seorang gadis, sepertinya jika di lihat dari gesture tubuhnya masih
gadis, usianya masih belasan tahun, tapi kenapa sudah berdagang di tepi jalan,
apa dia sudah tidak sekolah? Jiwa kepo Nadin mulai muncul, sejenak melupakan
“Dek …., apa sudah ada yang bisa di makan?” Tanya Nadin, ia belum mau duduk sebelum memastikan jika ada yang bisa dia makan.
“Sudah kak, kakak mau makan apa?”
Nadin memperhatikan tulisan yang ada di spanduk yang menjadi penutup saat orang-orang sedang makan, ada empat atau lima menu makanan
yang gadis itu jual, nadin benar-benar memilih makanan yang tidak ia jumpai di
Jakarta.
“Aku mau rujak cingur saja!”
“Baik kak, silahkan duduk!”
Akhirnya Nadin pun duduk, ia memilih duduk di depan gadis itu, ingin melihat kelihaian gadis itu meracik makanan yang namanya rujak cingur.
Gadis itu dengan cekatannya mencampur potongan buah-buahan seperti
timun, bengkuang, manga muda, nanas, dan kedondong, serta sayuran seperti
kecambah, kangkung dan kacang panjang. Selain itu juga ada irisan lontong,
tempe goreng, tahu goreng dan cingur. Lalu gadis itu menyiramnya dengan bumbu
saus yang terbuat dari petis udang, gula, cabai, kacang goreng, bawang goreng,
garam dan irisan pisang klutuk persis seperti bumbu rujak pada umumnya.
“Silahkan kak!” gadis itu menyerahkan sepiring penuh yang berisi rujak cingur itu kepada Nadin.
“Terimakasih, minumnya teh hangat ya kalau ada!”
“Baik kak!”
Nadin mulai mencicipi
makanan yang menurutnya begitu asing untuknya, tapi begitu memasukkannya ke
dalam mulut rasanya menyegarkan, ada rasa asam, manis, pedas, asin berkumpul
menjadi satu di mulutnya.
“Dek, kok jualan?
Memang nggak sekolah?”
“Sekolah kak, sebentar
lagi ibuku akan datang menggantikan ku, barulah aku akan pulang dan berangkat
sekolah!”
“bagus …, sekolah yang pinter!”
Benar saja, makanan
Nadin saja belum habis, seorang wanita paruh baya sudah datang menghampiri
kedai itu.
“Aisyah, kamu bersiap
sana, biar ibu yang gantiin!”
“Iya bu!”
Gadis itu mencium
tangan ibunya lalu pergi entah menghilang di mana. Ibu itu tersenyum pada Nadin
dan menatap nadin sekilas, tapi tatapan itu kemudian kembali ia fokuskan pada
tas besar di samping nadin.
“Dari mana mbak, kok
bawa tas, bukan orang sini ya?” Tanya ibu itu pada nadin, mungkin di lihat dari
penampilannya jelas Nadin kurang tidur.
“Iya bu, saya dari
Jakarta!”
“Oh …, dari Jakarta!”
Nadin sudah
menghabiskan makanannya, ia meneguk the hangatnya yang masih tersisa setengahnya.
Ia berdiri lalu melakukan pembayaran.
“Terimakasih bu, saya
permisi!”
Sebenarnya nasih betah
duduk di situ, tapi pembeli mulai berdatangan rasanya tidak enak jika menggangu
orang yang sedang berjualan. Nadin memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Ia menunggu taksi di pinggir jalan.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘