MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kekecewaan Salman



Kehidupan ini dipenuhi dengan seribu macam hal manis, tapi untuk mencapainya perlu seribu macam pengorbanan."


***


    Rendi mendapat berita terjadi penculikan atas Ara, Rendi tak menunggu lama, ia


pun segera mengerahkan anak buahnya untuk menuju ke titik lokasi. Mereka harus


menempuh perjalanan yang cukup jauh. Butuh waktu dua jam untuk sampai di lokasi


itu.


Pasukan  Rendi datang di waktu


yang tepat. Mereka membantu divta melawan para penjahat itu. Tapi sayang dua


dari mereka berhasil lolos sebelum kedatangan Rendi. mereka  mengejar Agra dan Ara yang sudah berhasil lari.


“Rend ..., kejar Agra dan Ara, mereka dalam bahaya.” Ucap Divta sambil menahan sakit dan menahan serangan dari para penjahat itu, ia sudah mulai kehabisan tenaga.


“Baik.”


Rendi pun membawa sebagian anak buahnya untuk mengejar Agra dan


Ara. Ia meninggalkan separoh anak buahnya untuk membantu Divta.


Rendi menyusuri hutan di tengah gelapnya malam, ia takut jika


sampai terlambat. Dengan gerak cepat dan berpencar mereka menyusuri hutan.


Langkahnya terhenti saat berada di tepi tebing, ia mendengar keributan di sana.


Saat ia mendekat, ia melihat Agra dan ara. Seorang dari mereka


sudah mengayunkan belatinya pada Agra hendak menusuk Agra yang tak berdaya.


Tapi dengan cepat Rendi meloloskan timah panasnya tepat mengenai punggung penjahat itu. Hingga penjahat itu tumbang.


Entah datang dari mana, tapi penjahat-penjahat itu bermunculan, Rendi menyerang penjahat itu dengan membabi-buta seorang diri.


Hingga mereka berhasil dilumpuhkan.


 “Agra ...” Rendi segera


menghampiri Ara dan Agra dengan tergesa-gesa setelah berhasil meringkus semua


penjahat dan di serahkan pada anak buahnya.


“bersabarlah Gra ..., pertolongan akan segera datang ...” ucapnya


tak kalah panik dari Ara. Apalagi saat melihat darah yang terus merembes dari


balik baju Agra.


Cukup lama, mereka harus menunggu satu jam hingga bantuan itu


datang lengkap dengan polisi dan ambulans. Karena medan yang cukup sulit dan


jauh dari pemukiman. Agra , ara dan Divta pun segera di larikan kerumah sakit


oleh ambulans. Sedangkan Rendi mengurus semuanya.


Mereka di bawa ke rumah sakit terdekat dari tempat itu. Setelah


menempuh perjalanan satu jam barulah mereka sampai juga di rumah sakit.


Beberapa perawat yang melihat kedatangan merekapun segera menghampiri. Agra dan


Ara di tempatkan di kamar yang sama karena Ara ngotot ingin tetap bersama Agra


. sedangkan Divta di rawat di ruang yang berbeda.


Rendi tidak ikut dalam mobil mereka, ada yang harus ia bereskan.


Rendi mencari keberadaan Aruni yang ternyata tak jauh dari lokasi kejadian.


Rendi di bantu polisi berhasil menemukan persembunyian Aruni. Aruni langsung di


bawa ke kantor polisi terdekat.


***


Rendi tak bisa menutupi rasa bersalahnya, ia menyalahkan


keteledorannya. Bukan ini yang seharusnya terjadi. Ia sudah membiarkan Ara dan


Agra terluka, bahkan hampir kehilangan nyawanya.


Saat melihat kedatangan ayahnya. Rendi hanya bisa menunduk dengan tatapan ayahnya yang begitu tajam, seperti hendak mengulitinya.


“Apa yang kamu lakukan, Rendi!” hardik pria paruh baya itu. Ia


tampak menajamkan matanyanya, tampak ia begitu kecewa pada putranya itu. Untuk


pertama kalinya ia merasa kecewa pada putranya.


“Maafkan aku, ayah ....” Hanya itu yang mampu di ucapkan oleh


“Ayah kecewa padamu, apa instingmu sudah mulai tidak berfungsi.”


Salman begitu kecewa dengan putranya itu, ini kesalahan yang sangat fatal bagi


Salman.


“Saya menyesal, yah.” Ucap Rendi yang hanya bisa menunduk.


“Ini benar-benar fatal. Nyawa tuan Agra dan istrinya dalam bahaya.


Seharusnya kau sudah memperhitungkan semuanya.” Salman melayangkan beberapa pukulan


pada pada wajah putranya itu, tampak Rendi sama sekali tak memberi balasan, walaupun sudut


bibirnya tampak mengeluarkan darah. Rendi tetap dalam posisinya, walau tampak


berkali-kali ia menahan rasa sakit.


“maaf.”


“Ayah harus menemui nyonya Ratih, ku harap kau bisa mengambil


pelajaran dari kejadian ini, renungkan kesalahanmu .....”


“baik.” Rendi menunduk hormat saat ayahnya akan pergi dari


hadapannya. Salman pun meninggalkan putranya itu. Rendi begitu terpuruk, ini


untuk pertama kalinya ia merasa gagal. Rendi menjatuhkan tubuhnya di kursi tak


jauh dari dirinya berdiri, ia malu pada dirinya sendiri, Ia telah mengecewakan


ayahnya.


Setelah bisa menguasai kembali perasaannya. Rendi pun menuju ke


ruangan yang sudah seharusnya ia datangi dari kemarin.


Ia mendatangi ruangan Divta.


Tok tok tok


Rendi mengetuk pintu, dan dari dalam menyahut mengijinkannya untuk


masuk.


“Rend...”


“bagaimana keadaanmu?” tanya Rendi sambil berjalan mendekat pada


Divta.


“Seperti yang kau lihat, bagaimana Agra?”


“Dia sudah mulai sadar.”


“Ara?”


“pasti juga akan sadar.” Ucap Rendi. sejenak mereka diam. “ Aku


Cuma mau ngucapin terimakasih, karena kamu sudah menolong Agra dan Ara.”


“Aku tidak pantas mendapatkannya.”


Percakapan mereka terhenti saat tiba-tiba dari pintu yang sama, masuklah


seorang wanita paruh baya. Dia adalah Ratih.


“Divta ...”


“nyonya ...” ucap Rendi terkejut. Divta yang namanya di panggil


juga ikut melihat ke sumber suara.


“ada apa nyonya ke sini ...?” tanya Rendi.


“biarkan saya berdua dengannya ...”


“baik nyonya ..., kalau begitu saya permisi.” Rendi pun


meninggalkan mereka berdua.


***


**Untuk membahagiakan orang tua, pasti ada sebuah pengorbanan. Layaknya mereka membahagiakan kita dengan caranya yang luar biasa."


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya


Terimakasih


Happy reading 😘😘😘😘😘**