
Nadin terbangun dari tidurnya, ia
menggerakkan tubuhnya yang kaku, ia mulai membuka matanya, memperhatikan
sekeliling. Ia merasa asing, bukan seperti di kamarnya.
“Aku di mana?” gumam Nadin.
“kamu di kamar nenek ...” ucap nenek Nani yang baru saja masuk.
“Nenek? Jadi semuanya bukan mimpi ...? aku punya nenek, punya ibu
dan kakak baru?”
Nadin mengingat-ingat semuanya, ia merasa baru saja bermimpi. Tapi di
depannya sekarang ada nenek? Apa semuanya nyata?
“bangunlah ....! ayah dan ibumu menunggu makan malam.” Ucap nenek
Nani kembali sambil menghapiri Nadin.
“Apa aku tidak bermimpi nek, tapi ini nyata ...” ucap Nadin sambil
memegangi tangan keriput nenek Nani. Nenek Nani hanya bisa geleng-geleng kepala
melihat tingkah cucunya itu.
“Makanya nduk ..., kalau tidur itu jangan melewati Magrib ..., jadi
gitu kan ...”
“nenek juga bersuara ..., bisakah nenek mencubitku ... atau
pukullah aku nek ...”
“kamu itu ada-ada aja nduk ...” ucap nenek Nani. Nenek Nani pun
mencubit gemas pipi Nadin.
“Aughh ..., sakit nek ...” Nadin memegangi pipinya yang terasa sakit karena cubitan neneknya, tapi hal itu tidak membuatnya kesal, tapi ia malah tersenyum kegirangan.
“bukan mimpi kan?” tanya Nadin lagi memastikan ucapan nenek Nani.
“Bukan Nduk ..., buktinya kamu sakit”
"Iya ...., bukan mimpi ..."
“kalau bukan sekarang bangunlah ..., mandi ..., sholat lalu kita
makan ...” perintah nenek Nani yang berentet.
“Ok nek ..., siap ...”
Nadin pun segera beranjak dari tempat tidur, ia berlari ke kamar
mandi. Setelah selesai dengan urusannya, ia segera menyususl ke meja makan. Di sana
sudah berkumpul semua keluarga, tinggal menunggu Nadin.
Dewi yang melihat Nadin menghampiri mereka segera bangun dari duduknya.
“Itu yang kita tunggu sudah datang ....” ucap Dewi. Nadin pun hanya
terus tersenyum menatap satu per satu orang yang ada di sana.
“Ada apa nak..., kok senyum terus?” tanya Dewi heran.
“Ini nyata ya ..., Nadin masih tidak percaya ...” ucap Nadin masih
dengan senyumnya.
“Iya sayang ..., ayo cepetan makan ..., ini ibu sudah ambilkan
untukmu ...” ucap Dewi sambil menyodorkan sepiring nasi yang sudah lengkap
dengan lauk pauknya.
“Terimakasih ibu ....., senangnya bisa memanggil ibu ...” ucap
Nadin sambil menyantap makanannya. Semua orang di sana tertawa melihat
kekonyolan Nadin.
Roy tersenyum senang melihat putri sulungnya itu, setidaknya
keputusannya untuk menikahi Dewi bukanlah keputusan yang salah. Ia melihat
putrinya begitu bahagia mendapat ibu baru, hatinya menghangat bersama hangatnya
keluarga barunya. Ia hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan itu akan terus
berlanjut.
semoga kebahagiaan akan tetap bersama keluarga kita .....
Setelah makan malam, Roy segera menghubungi pihak kampus Nadin. Ia mendaftarkan
Davina, untung salah satu teman Roy ada
yang menjadi staf di kampus Nadin. Jadi urusan mendaftarkan Davina di permudah.
Ia hanya tinggal mengirimkan file-file Davina melalui e-mail. Walaupun Roy
hanya seorang pemilik toko bangunan, tapi Roy berpendidikan tinggi, ia salah
satu alumni di universitas ternama di jakarta. Jadi menjadi hal yang lumrah
jika kenalannya banyak orang-orang penting.
Hari semakin larut, Roy sudah masuk ke kamarnya bersama Dewi.
Sedangkan Nadin dan Davina juga sudah masuk ke dalam kamar yang selama dua
puluh tahun ini sudah menjadi kamar Nadin.
“Kak Vina, bajumu bisa kakak
masukan di lemari ini saja ya, untuk sementara kita bisa berbagi lemari. Nanti
ayah pasti akan membelikan lemari sendiri untuk kakak.” Ucap Nadin sambil
memindahkan baju-bajunya ke bagian sebelah dari lemari itu dan menyisakan ruang
“iya ..., Nadin kamu baik sekali ...” ucap Davina sambil
mengeluarkan barang-barangnya dari dalam koper. “Aku malu menunjukkan
baju-bajuku padamu, rasanya nggak akan pantas bersanding dengan baju-bajumu, bajuku
nggak ada yang bagus ...” ucap Davina denganwajah sedihnya .
“Nggak pa pa kak, kita bisa berbagi pakaian, nanti kalau kak Vina
mau pakek baju Nadin, pakek saja kak, Nadin nggak pa pa kok, cari saja yang
muat buat kakak.”
Nadin pun tersenyum menatap kakak barunya itu, ia merasa iba dengan
Davina. Selama ini, walaupun hidup mereka sederhana, tapi ayahnya selalu
menuruti kemauannya jika itu untuk kebaikannya. Dan masalah baju, walaupun
bukan baju mahal, setidaknya ayahnya selalu memberi uang lebih untuk
keperluannya, ia bisa membeli baju kapan saja asal tidak menggagu keperluan
lainnya.
“Makasih ya ..., senang deh punya adek kayak kamu.”
“Jangan sungkan kak..., sini aku bantu beresin.”
Nadin pun segera mengambil alih koper milik Davina, ia membantu
memasukkan baju-baju Davina. Ia melihat baju-baju Davina memang terlihat lusuh
dan lama.
Aku lebih beruntung ....., aku punya ayah yang baik walaupun selama
ini aku kekurangan kasih sayang ibu, setidaknya ayah mencurahkan semuanya,
seakan-akan aku tidak pernah kehilangan ibu ..., semoga kak Davina bisa bahagia
bersama kami ....
“Makasih ...”
Nadin dan Davina pun memasukkan barang-barang Davina ke dalam
lemari. Setelah selesai Nadin berpamitan untuk ganti baju. Ia mengganti bajunya
dengan baju tidur gambar pororo.
Davina sudah duduk di atas tempat tidur saat Nadin keluar dari
kamar mandi. Nadin menyusul naik ke atas tempat tidur. Saat akan mengambil
selimutnya, lagi-lagi tangan Davina menahannya.
“Nadin ...” ucap Davina.
“Iya kak, ada apa?” tanya Nadin.
“Sebenarnya aku tidak terbiasa tidur dengan orang lain dalam satu
tempat tidur, aku suka mengigau. Jadi pasti itu sangat menggannggumu.” Ucap
Davina sambil menatap Nadin sendu.
“Baiklah, jika begitu biarkan aku tidur di bawah saja, aku akan
menggelar kasur lipat. Biar aku ambil kasur lipatnya dulu kak.” Ucap Nadin
sambil beranjak dari tempat tidur. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena
Davina menahannya lagi.
“Terimakasih Nadin, aku benar-benar merasa tidak enak.”
“Jangan sungkan kak, aku senang ada kakak di sini ....” ucap Nadin
sambil memengang tangan Davina, meyakinkannya bahwa dia baik-baik saja. “Baiklah
aku akan ambil kasurnya dulu.”
Hidupmu sangat menyenangkan Nadin, ini tak adil buatku. Kita punya
ayah dengan wajah yang sama, tapi ayahmu lebih baik.Batin Davina
dengan senyum masamnya.
Nadin pun keluar dari kamar dan memngambil kasur lipat yang berada
di dalam gudang. Dan tak berapa lama ia kembali ke dalam kamar dan mengelar
kasur lipat itu di bawah tempat tidur yang kini di kuasai Davina. Nadin
mengambil selimt dan bantal yang ada di dalam lemari.
“Nadin ..., aku benar-benar merasa bersalah ...” ucap Davina.
“Tidak pa pa kak, Nadin biasa kayak gini, jadi jangan khawatir,
selamat malam kak Vina.”
“Selamat malam Nadin.”
Hari ini aku sudah bisa mengambil tempat tidurmu, besok kamarmu,
ayahmu dan semua kehidupanmu ..., aku akan mendapatkan semuanya ...batin Davina.
***
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Terimakasih
Happy Reading 😘😘😘😘😘