MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bukan mimpi



     Nadin terbangun dari tidurnya, ia


menggerakkan tubuhnya yang kaku, ia mulai membuka matanya, memperhatikan


sekeliling. Ia merasa asing, bukan seperti di kamarnya.


“Aku di mana?” gumam Nadin.


“kamu di kamar nenek ...” ucap nenek Nani yang baru saja masuk.


“Nenek? Jadi semuanya bukan mimpi ...? aku punya nenek, punya ibu


dan kakak baru?”


Nadin mengingat-ingat semuanya, ia merasa baru saja bermimpi. Tapi di


depannya sekarang ada nenek? Apa semuanya nyata?


“bangunlah ....! ayah dan ibumu menunggu makan malam.” Ucap nenek


Nani kembali sambil menghapiri Nadin.


“Apa aku tidak bermimpi nek, tapi ini nyata ...” ucap Nadin sambil


memegangi tangan keriput nenek Nani. Nenek Nani hanya bisa geleng-geleng kepala


melihat tingkah cucunya itu.


“Makanya nduk ..., kalau tidur itu jangan melewati Magrib ..., jadi


gitu kan ...”


“nenek juga bersuara ..., bisakah nenek mencubitku ... atau


pukullah aku nek ...”


“kamu itu ada-ada aja nduk ...” ucap nenek Nani. Nenek Nani pun


mencubit gemas pipi Nadin.


“Aughh ..., sakit nek ...” Nadin memegangi pipinya yang terasa sakit karena cubitan neneknya, tapi hal itu tidak membuatnya kesal, tapi ia malah tersenyum kegirangan.


“bukan mimpi kan?” tanya Nadin lagi memastikan ucapan nenek Nani.


“Bukan Nduk ..., buktinya kamu sakit”


"Iya ...., bukan mimpi ..."


“kalau bukan sekarang bangunlah ..., mandi ..., sholat lalu kita


makan ...” perintah nenek Nani yang berentet.


“Ok nek ..., siap ...”


Nadin pun segera beranjak dari tempat tidur, ia berlari ke kamar


mandi. Setelah selesai dengan urusannya, ia segera menyususl ke meja makan. Di sana


sudah berkumpul semua keluarga, tinggal menunggu Nadin.


Dewi yang melihat Nadin menghampiri mereka segera bangun dari duduknya.


“Itu yang kita tunggu sudah datang ....” ucap Dewi. Nadin pun hanya


terus tersenyum menatap satu per satu orang yang ada di sana.


“Ada apa nak..., kok senyum terus?” tanya Dewi heran.


“Ini nyata ya ..., Nadin masih tidak percaya ...” ucap Nadin masih


dengan senyumnya.


“Iya sayang ..., ayo cepetan makan ..., ini ibu sudah ambilkan


untukmu ...” ucap Dewi sambil menyodorkan sepiring nasi yang sudah lengkap


dengan lauk pauknya.


“Terimakasih ibu ....., senangnya bisa memanggil ibu ...” ucap


Nadin sambil menyantap makanannya. Semua orang di sana tertawa melihat


kekonyolan Nadin.


Roy tersenyum senang melihat putri sulungnya itu, setidaknya


keputusannya untuk menikahi Dewi bukanlah keputusan yang salah. Ia melihat


putrinya begitu bahagia mendapat ibu baru, hatinya menghangat bersama hangatnya


keluarga barunya. Ia hanya bisa berdoa semoga kebahagiaan itu akan terus


berlanjut.


semoga kebahagiaan akan tetap bersama keluarga kita .....


Setelah makan malam, Roy segera menghubungi pihak kampus Nadin. Ia mendaftarkan


Davina, untung salah satu teman Roy  ada


yang menjadi staf di kampus Nadin. Jadi urusan mendaftarkan Davina di permudah.


Ia hanya tinggal mengirimkan file-file Davina melalui e-mail. Walaupun Roy


hanya seorang pemilik toko bangunan, tapi Roy berpendidikan tinggi, ia salah


satu alumni di universitas ternama di jakarta. Jadi menjadi hal yang lumrah


jika kenalannya banyak orang-orang penting.


Hari semakin larut, Roy sudah masuk ke kamarnya bersama Dewi.


Sedangkan Nadin dan Davina juga sudah masuk ke dalam kamar yang selama dua


puluh tahun ini sudah menjadi kamar Nadin.


 “Kak Vina, bajumu bisa kakak


masukan di lemari ini saja ya, untuk sementara kita bisa berbagi lemari. Nanti


ayah pasti akan membelikan lemari sendiri untuk kakak.” Ucap Nadin sambil


memindahkan baju-bajunya ke bagian sebelah dari lemari itu dan menyisakan ruang


“iya ..., Nadin kamu baik sekali ...” ucap Davina sambil


mengeluarkan barang-barangnya dari dalam koper. “Aku malu menunjukkan


baju-bajuku padamu, rasanya nggak akan pantas bersanding dengan baju-bajumu, bajuku


nggak ada yang bagus ...” ucap Davina denganwajah sedihnya .


“Nggak pa pa kak, kita bisa berbagi pakaian, nanti kalau kak Vina


mau pakek baju Nadin, pakek saja kak, Nadin nggak pa pa kok, cari saja yang


muat buat kakak.”


Nadin pun tersenyum menatap kakak barunya itu, ia merasa iba dengan


Davina. Selama ini, walaupun hidup mereka sederhana, tapi ayahnya selalu


menuruti kemauannya jika itu untuk kebaikannya. Dan masalah baju, walaupun


bukan baju mahal, setidaknya ayahnya selalu memberi uang lebih untuk


keperluannya, ia bisa membeli baju kapan saja asal tidak menggagu keperluan


lainnya.


“Makasih ya ..., senang deh punya adek kayak kamu.”


“Jangan sungkan kak..., sini aku bantu beresin.”


Nadin pun segera mengambil alih koper milik Davina, ia membantu


memasukkan baju-baju Davina. Ia melihat baju-baju Davina memang terlihat lusuh


dan lama.


Aku lebih beruntung ....., aku punya ayah yang baik walaupun selama


ini aku kekurangan kasih sayang ibu, setidaknya ayah mencurahkan semuanya,


seakan-akan aku tidak pernah kehilangan ibu ..., semoga kak Davina bisa bahagia


bersama kami ....


“Makasih ...”


Nadin dan Davina pun memasukkan barang-barang Davina ke dalam


lemari. Setelah selesai Nadin berpamitan untuk ganti baju. Ia mengganti bajunya


dengan baju tidur gambar pororo.


Davina sudah duduk di atas tempat tidur saat Nadin keluar dari


kamar mandi. Nadin menyusul naik ke atas tempat tidur. Saat akan mengambil


selimutnya, lagi-lagi tangan Davina menahannya.


“Nadin ...” ucap Davina.


“Iya kak, ada apa?” tanya Nadin.


“Sebenarnya aku tidak terbiasa tidur dengan orang lain dalam satu


tempat tidur, aku suka mengigau. Jadi pasti itu sangat menggannggumu.” Ucap


Davina sambil menatap Nadin sendu.


“Baiklah, jika begitu biarkan aku tidur di bawah saja, aku akan


menggelar kasur lipat. Biar aku ambil kasur lipatnya dulu kak.” Ucap Nadin


sambil beranjak dari tempat tidur. Tapi lagi-lagi langkahnya terhenti karena


Davina menahannya lagi.


“Terimakasih Nadin, aku benar-benar merasa tidak enak.”


“Jangan sungkan kak, aku senang ada kakak di sini ....” ucap Nadin


sambil memengang tangan Davina, meyakinkannya bahwa dia baik-baik saja. “Baiklah


aku akan ambil kasurnya dulu.”


Hidupmu sangat menyenangkan Nadin, ini tak adil buatku. Kita punya


ayah dengan wajah yang sama, tapi ayahmu lebih baik.Batin Davina


dengan senyum masamnya.


Nadin pun keluar dari kamar dan memngambil kasur lipat yang berada


di dalam gudang. Dan tak berapa lama ia kembali ke dalam kamar dan mengelar


kasur lipat itu di bawah tempat tidur yang kini di kuasai Davina. Nadin


mengambil selimt dan bantal yang ada di dalam lemari.


“Nadin ..., aku benar-benar merasa bersalah ...” ucap Davina.


“Tidak pa pa kak, Nadin biasa kayak gini, jadi jangan khawatir,


selamat malam kak Vina.”


“Selamat malam Nadin.”


Hari ini aku sudah bisa mengambil tempat tidurmu, besok kamarmu,


ayahmu dan semua kehidupanmu ..., aku akan mendapatkan semuanya ...batin Davina.


***


BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Terimakasih


Happy Reading 😘😘😘😘😘