MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Sah



Mereka pun sudah duduk di sofa yang berada di ruangan itu, terkecuali Nadin, ia masih terhubung dengan slang infus jadi mempersulit dirinya untuk bergerak.


Nadin masih berada di tempat tidurnya. Wajah cemasnya menghinggapi, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Mungkin ayahnya akan menjauhkan mereka, atau memintaku untuk pergi dari rumah. Beberapa opsi ia pikirkan.


"Sekarang jelaskan semuanya pada kami!" Ucap ayah Roy saat sudah sedikit tenang. Ia duduk dengan tangan yang saling bertaut, begitu malang nasibnya harus menyaksikan kedua putrinya dalam situasi yang sama seperti ini. Tapi mungkin Nadin lebih beruntung dari Ara.


Rendi terlihat begitu bingung, tapi ia berusaha untuk menampakkan wajah tegasnya.


"Kami berpacaran!" ucap Rendi tegas. Membuat tercengang Roy dan Salman, tidak dengan dr. Frans karena ia sudah tahu semuanya.


"Jadi kalian menjalin hubungan?" tanya Salman tak percaya, ia benar-benar tidak menduga hal itu. Rendi pun hanya mengangguk.


Roy menatap putrinya, ia masih tak percaya dengan apa yang di katakan Rendi.


"Apa itu benar?" tanya ayah Roy pada Nadin.


"Benar yah....., Nadin sudah pacaran sama pak Rendi."


"Sudah berapa lama?" tanya Roy tak percaya.


"Sudah satu bulan, enam hari, tiga belas jam, dan empat puluh lima menit!" ucap Nadin dengan antusias, membuat semua yang ada di sama menatapnya dengan penuh heran. Nadin pun segera menutup mulutnya karena keceplosan.


Dia benar-benar mengingatnya secara detail .....


Rendi hanya bisa garuk kepalanya melihat tingkah Nadin.


"UPS ....., maaf kelepasan ....!" ucap Nadin dengan senyum canggungnya.


Dia ini sebenarnya apa sih, kok bisa sesantai ini dalam situasi seperti ini ...., masih juga tersenyum ....


Semua kembali menatap Rendi, mereka meminta jawaban dari Rendi.


"Saya siap menikah dengan Nadin saat ini juga!" Ucap Rendi tegas, membuat ayah Roy tersentak. Ia benar-benar tidak menyangka dengan yang di katakan oleh Rendi.


Apa aku tidak salah dengar ...., pak Rendi melamarmu? Aku harus apa, aku harus apa?


Jika dia bisa berlari keluar saat ini, mungkin ia akan lakukan, ia Kana meloncat-loncat kegirangan, menari-nari seperti orang gila karena terlalu bahagianya.


Tapi saat ini masih ada orang banyak, ia hanya bisa tersenyum dengan tertahan supaya orang tidak tahu kalau dia sangat berharap.


Entah dapat keberanian dari mana hingga Rendi bisa mengatakan itu, tapi sebuah senyum yang ia lihat baru saja di sadari atau tidak telah menjadi dorongan baginya untuk mengatakan itu.


Ia posesif tapi tak menyadarinya, sempet terlintas dalam benaknya jika dia tidak ingin melihat senyum itu di persembahkan untuk orang lain.


"Mana mungkin aku akan menikahkan putriku, dia masih kecil, masih dua puluh satu tahun. Kuliahnya juga belum lulus!" Ucap ayah Roy.


Rendi yang melihat penolakan ayah Roy begitu terpukul mundur, ia seperti pejuang yang kalah sebelum mengangkat senjata, tapi ia mencoba menutupinya.


Salman yang melihat kegundahan di wajah putranya, ia merasa perlu untuk berbuat sesuatu. ia tidak mau karena penolakan itu, putranya akan mengurungkan niatnya untuk menikahi Nadin, sudah sampai sejauh ini, ia tidak boleh mundur, ia pun akhirnya ikut angkat bicara.


"Pak Roy, usia bukan jaminan seseorang harus menikah, jika sudah ketemu jodohnya kenapa tidak, apa pak Roy tidak percaya dengan putra saya?" tanya pak Salman pada ayah Roy.


"Bukan seperti itu pak Salman, siapa yang tidak tahu sepak terjang nak Rendi selama ini."


"Tapi Nadin masih kuliah, dia tidak mungkin meninggalkan kuliahnya dan menjadi ibu rumah tangga."


"Bagaimana dengan mimpi-mimpinya nanti? Dia putri kecilku yang manja!" ucap ayah Roy panjang lebar. Nadin begitu khawatir dengan keputusan ayahnya.


"Kami janji pak Roy, Nadin akan tetap kuliah, dan yang akan menanggungnya adalah Rendi putra saya sebagai suaminya. Nadin akan tetap melanjutkan pendidikannya."


"Jika sampai Rendi tidak melakukan itu, pak Roy bisa mengambil Nadin kembali, saya janji!" ucap Salman, ia benar-benar mendambakan Nadin sebagai menantunya. ia tidak mau menantu lain selain Nadin.


"Saya janji paman, saya akan memberikan kebebasan pada Nadin dalam hal pendidikan!" Ucap Rendi ikut meyakinkan ayah Roy.


Ayah Roy masih terlihat ragu, ia benar-benar tak mengerti apa yang harus di lakukan. Ia manatap putrinya dan kembali beralih pada pria beda generasi di depannya.


"Tapi bagaimana nanti dia akan menghadapi teman-temannya di kampus, dia pasti akan malu karena sudah menikah!"


"Jika paman minta pernikahan ini tidak di publikasikan, saya akan melakukan hal itu!" Ucap Rendi dengan meyakinkan.


"Pak Roy!" Ucap pak Salman sambil mendekati ayah Roy.


"Percayalah pada kami, putrimu akan baik-baik saja bersama kami."


"Katakan pak Salman, apa yang anda minta dari saya!" ucap ayah Roy.


"Maafkan saya, bukannya saya meminta imbalan, tapi saya hanya menagih janji pak Roy." ucap paman Salman terlihat sedikit canggung tapi penuh harap.


"Katakan pak Salman, saya akan mengabulkan jika saya mampu!"


"Saya pernah bilang bahwa saya akan memintanya jika sudah tiba waktunya. Mungkin inilah waktu yang tepat pak Roy." paman Salman menghela nafasnya begitu dalam, seakan beban selama ini ikut pergi bersama hembusan nafasnya.


" Saya meminta putri pak Roy sebagai menantu saya!"


"Apa anda benar-benar yakin?" tanya ayah Roy meyakinkan dirinya sendiri dan juga Salman.


"Saya yakin seyakin-yakinnya, putri pak Roy adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingi putra saya."


Mendengar penjelasan dari pak Salman, akhirnya ayah Roy pasrah. Ia pikir memang tak ada yang lebih pantas untuk menjadi pendamping putrinya melebihi Rendi.


"Baiklah saya setuju kalian menikah sekarang!" ucap ayah Roy mantap.


"Baiklah ...., Saya akan memanggil penghulu." Ucap pak Salman tampak begitu senang.


Dan benar saja tak butuh waktu satu jam, kebaya untuk Nadin, penghulu dan dr. Frans sebagai saksi dan beberapa perawat di datangkan. Rendi sudah siap dengan jas hitamnya yang juga di siapkan oleh pak Salman.



Sedangkan Nadin dengan kebaya putihnya, wajahnya juga tidak terlalu di poles.



"Surat-surat bisa di urus belakangan, yang penting sekarang kalian sah dulu sebagai suami istri!"


Mereka sepakat tidak mendatangkan siapapun dalam acara nikah dadakan ini, nanti akan ada waktu yang tepat untuk mengumumkan pada seluruh keluarga.


Pak Roy hanya memanggil ibu Dewi untuk datang, juga Agra dan Ara. Mereka hanya di suruh datang ke rumah sakit, tanpa di beri tahu apa alasan mereka datang.


Kini Rendi sudah di dampingi pak penghulu, ia sudah siap mengucapkan ijab qabulnya.


"Bismillahirrahmanirrahim ....!" Ucap pak penghulu sebelum mengawali akad nikah. "Semoga di lancarkan sampai akhir!"


"Amiiin!" Ucap semua orang yang hadir di dalam ruangan itu.


Ayah Roy segera menggenggam tangan Rendi dengan mantap, dengan di awali bismillah, ayah Roy memulai ijab qabulnya.


"Ananda Narendra Rendiansyah bin Salman Adiputra Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Nadinda Aulya Putri dengan maskawinnya sebuah cincin mas di bayar Tunai." Ucap ayah Roy dengan mantap dengan tangan yang bertaut dengan tangan Rendi.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nadinda Aulya Putri binti Roy Wijaya dengan maskawin cincin mas di bayar tunai." Ucap Rendi dengan mantap hanya dengan satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana saksi, sah?" Tanya pak penghulu.


"Sah ....!" Jawab semua yang hadir di sana, para perawat dan dokter yang kebetulan bertugas. Pak penghulu pun segera membaca doa.


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”


Setelah membaca doa, Rendi pun segera mendekati Nadin, ia memakaikan cincin yang menjadi mas kawin, dan segera mendaratkan ciuman di kening Nadin dan membacakan sebuah doa.


Dr. Frans sedari tadi sibuk mengabadikan moment demi moment, Ara segera memberika pelukan bahagian pada adiknya itu.


"Selamat ya dek, ternyata tidak butuh proses terlalu lama untuk sampai di jenjang ini, semoga kalian bahagia, kakak akan selalu mendukungmu!" bisik Ara kemudian melepaskan pelukannya.


"Makasih kak!" ucap Nadin hanya dengan gerakan bibir tanpa bersuara.


Kini mereka pun sah menjadi suami istri. Nadin benar-benar tak percaya, pria dingin itu kini sudah benar-benar menjadi suaminya.


**Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


follow juga Ig aku ya


Tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘**