MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Kedatangan Divta 2



"Baiklah .....!" akhirnya Rendi menyerah, ia beralih ke sisi lain tempat tidur Nadin, ia duduk di kursi kecil di sana, mengamati apa yang akan di bicarakan Divta pada istri kecilnya itu.


Divta pun juga mengambil tempat duduk yang sama, ia meletakkan keranjang buah di atas nakas, dan tangannya masih memegang seikat bunga mawar.


"Nadin ....., nih aku bawakan bunga untukmu!" Ucap Divta sambil menyerahkan seikat bunga pada Nadin.


"Makasih loh pak, repot-repot banget!" Ucap Nadin sambil menerima ikatan bunga itu, Nadin mengembangkan senyumnya, ia begitu suka dengan bunga tapi ia lupa sekarang tapi entah sejak kapan ia hanya boleh tersenyum pada manusia es itu.


Beraninya dia tersenyum semanis itu ....


Nadin segera menyimpan senyumnya, ia meletakkan bunga itu di sampingnya dan tak berani lagi menatap suaminya. Rendi yang sempat berdiri kini hanya bisa mengepalkan tangannya ia kembali duduk di tempatnya. Tapi matanya enggan beralih dari wanita itu, hatinya serasa mendidih tapi ia berusaha keras untuk menyembunyikannya.


"Nggak ngrepotin kok, aku senang bisa melakukan ini!" Ucap Divta sambil meraih tangan Nadin tapi Nadin langsung menarik tangannya dengan keras. Tapi Divta tidak heran sebelumnya begitulah kebiasaan gadis di depannya itu. Mungkin jika Nadin sampai mau di pegang tangannya, pria es itu akan sedikit lebih panas. Mungkin .....


"Maaf ....., Maaf ...., ok aku nggak boleh pegang tangan ya aturannya ....!" ucap Divta sambil mengangkat kedua tangannya.


"Oh iya aku bawakan buah juga, aku kupasin buahnya ya!" ucap Divta setelah bingung mau melakukan apa.


"Nggak usah pak!" Ucap Nadin sambil mengibaskan tangannya. Dan Rendi masih tetap diam di tempatnya diam dengan tenangnya.


"Nggak usah sungkan, bentar ya!" Ucap Divta memaksa. Ia mengambil buah jeruk dan mengupasnya.


"Aaakkkk ....., ayo buka mulutmu ....!" Ucap Divta meminta Nadin membuka mulutnya.


"Biar aku makan sendiri ya!" Ucap Nadin sambil berusaha mengambil jeruk yang ada di tangan Divta. Dan dengan cepat Nadin melahapnya.


Bisa mati aku pak .....,


"Pelan-pelan girl ....., nanti tersedak!" ucap Divta saat melihat Nadin melahap satu buah jeruk penuh ke mulutnya.


"Aku biasa makan seperti ini ....!" ucap Nadin lagi-lagi hanya bisa menatap pria dingin itu dengan wajah paniknya.


Kalau ada orang mah dingin-dingin aja, awas aja nanti kalau marah-marah ....


"Baiklah ....., bagaimana keadaanmu?,apa sudah lebih baik?" tanya Divta setelah tidak berhasil menyuapi Nadin.


"Sudah ...!" Jawab Nadin dingin, matanya juga tak pernah beralih pada pria dingin yang sedang memperhatikannya.


"Kalau kamu ketus seperti itu tambah cantik tau ....!" ucap Divta, dan Nadin hanya menatap Divta malas.


Astaga kapan pria ini pergi .....


Rendi hanya bisa berkeluh dalam hati, otaknya melarangnya melakukan hal-hal yang berlebihan karena pernikahan mereka yang serba dadakan , ia tidak mau membuat Nadin merasa tidak nyaman dengan hubungan barunya.


Sedangkan Nadin juga memikirkan hal yang sama, ia tidak mau sampai Rendi tidak nyaman dengan hubungan baru mereka.


Setelah saling diam cukup lama, Divta pun mulai menemukan topik pembicaraan.


"Kapan pulangnya?"


"Mungkin besok!" ucap Nadin singkat.


" Biar aku jemput ya ....!"


"E ...., Enggak usah pak, nggak usah repot-repot pak!"


"Aku nggak ngerasa di repotin kok, kalau mau pulang hubungi aku ya!" Ucap Divta antusias, Divta pun kemudian menoleh pada Rendi.


Kenapa Rendi masih di sini? Bukannya ke kantor tadi, apa tugasnya di luar itu suruh nemenin Nadin?


"Rend, kamu masih di sini? Kamu boleh pulang hari ini, biar aku yang akan menemaninya!" Ucap Divta dengan entengnya. Dan apa yang di lakukan pria dingin itu, ia hanya bisa menatap tajam pada istrinya. Bukan berusaha mencari jawaban yang tepat untuk Divta.


"Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" tanya Divta lagi.


"Sebenarnya ....!" Nadin hendak berkata jujur tapi ucapannya segera di sambar oleh Rendi.


"Sebenarnya tadi saya ada urusan sebentar di sini, sebentar lagi saya juga akan pulang!" ucap Rendi memotong ucapannya Nadin.


"Ada urusan sedikit dengan Frans, dia memintaku menunggu di sini!"


"Frans masih di sini ....?" Nadin dan Rendi pun mengangguk.


"Kalian kompakan ya ..., Frans itu rajin ya ....!"


"Pak Divta sebaiknya pulang saja deh, aku akan di sini dengan pak Rendi!" ucap Nadin sudah tak sabar. Ia benar-benar sudah capek berpura-pura di depan Divta, rasanya ingin sekali mengatakan kalau mereka sudah menikah, tapi saat menatap pria es itu, seketika keinginannya pupus.


"Kenapa harus dengan Rendi, kan sama aku juga sama aja girl .....!"


"Soalnya ....., soalnya ..., paman Salman juga ada di sini!" akhirnya Nadin punya alasan yang tepat.


"Benarkah begitu, benarkah paman Salman di sini?" Tanya Divta dan Nadin pun hanya mengangguk pasrah.


"Benar seperti itu, jadi pak Rendi harus pulang bersama paman Salman!" ucap Nadin meyakinkan.


"Sejak kapan Rendi pulangnya barengan sama paman Salman?"


"Ya sejak hari ini, iya kan pak Rendi?" dan yang di tanya terlihat gelagapan karena tidak menyangka jika Nadin akan mengalihkan pertanyaan itu padanya.


"Iya ....., tadi ayah memintaku menunggu!" ucap Rendi singkat.


"Huahhhh .....!" Nadin bergaya menguap. "Saya ngantuk sekali pak, mau istirahat!"


"Aku akan di sini sebentar. Bisakah tinggalkan kami di sini?" tanya Rendi yang sudah mulai tak sabar.


"Bukankah sebaiknya kau juga pulang?" tanya Divta pada Rendi.


"Iya ...., aku juga akan pulang!" ucap Rendi dingin.


"Baiklah, aku akan pergi! Jaga dirimu girl, jangan lupa hubungi aku besok ya!" Ucap Divta dan lagi-lagi Nadin hanya bisa mengangguk.


Divta pun benar-benar meninggalkan mereka, setelah memastikan jika Divta sudah menjauh dari kamar Nadin, Rendi kembali lagi duduk di hadapan Nadin.


Nadin yang sedikit bernafas lega kini harus sesak kembali karena tatapan dingin dari Rendi.


"Kenapa menatapku seperti itu, kau membuatku takut?" tanya Nadin.


Bukannya menjawab, Rendi malah mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nadin hingga Nadin sedikit mundur ke belakang, ia tidak tahu apa yang akan di lakukan oleh pria es di depannya.


Wajah mereka benar-benar dekat, hingga Nadin bisa merasakan hembusan nafas Rendi yang mengenai hidungnya.


Rendi kemudian mendekatkan bibirnya pada pipi Nadin, Nadin sudah bisa menebak.


Pasti pak Rendi akan menciumku ...., aku harus menyiapkan hatiku agar tidak meloncat ....


"Jangan sekali-kali berani memberikan harapan pada pria lain, mengerti!" ucap Rendi pelan dan penuh penekanan tepat di telinga Nadin.


Setelah mengatakan hal itu, Rendi pun kembali menjauhkan tubuhnya. Nadin segera membuka matanya saat tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


"Cuma itu?" tanya Nadin setelah Rendi kembali duduk.


Padahal aku sudah berharap dia akan mencium ku .....


Mungkin wajah kecewa Nadin terlihat jelas. Membuat Rendi kembali mendekatkan dirinya ke wajah Nadin.


"Ha ha ha ...., aku tidak mengatakan apa pun!" ucap Nadin sedikit takut.


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249