
🌷🌷🌷🌷🌷
Nadin masih asyik di dalam kamar mandi, bukan asik main main, tapi ia terperangkap di tempat itu tanpa pakaian, karena pakaiannya telah basah sebab ulahnya sendiri. Ia hanya bisa memandangi baju basahnya yang teronggok di lantai, mengambilnya kembali dan mencucinya, tapi tetap saja basah, tidak mungkin akan kering dalam waktu satu jam.
"Aku harus bagaimana sekarang?" Nadin dalam dilema, ia lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi, membuatnya hanya bisa mondar-mandir di dalam kamar mandi karena untuk memakai pakaiannya yang tadi juga tidak mungkin, pakaiannya sudah basah, di dalam kamar mandi itu hanya ada handuk kecil yang bisa melilit tubuhnya hingga paha, sangat pendek.
Tok tok tok
Nadin terkejut saat pintunya di ketuk, ia sudah sangat lama sekali di kamar mandi, sudah hampir satu jam, ia bisa keriput jika terus di kamar mandi.
"Nad ...., Ayah sudah menunggu kita di meja makan!" Itu suara Rendi, Nadin bertambah panik. Ia terus memegang pakaiannya yang masih basah walaupun sudah beberapa kali ia kibas-kibaskan. Sekarang ia harus benar-benar keluar, Rendi bisa curiga.
"Iya sebentar ....!" Teriak Nadin dari kamar mandi. Ia membenarkan handuknya agar tidak jatuh.
"Apa sih yang kau lakukan di sana, awas saja tidak keluar. Aku akan menguncimu di kamar mandi!" teriak Rendi lagi dari luar membuat Nadin semakin panik.
Ceklek
Nadin membuka sedikit pintunya dan menampakkan kepalanya saja yang keluar. hingga rambutnya yang lebih dulu menjulur.
"Astaga ...., kau benar-benar mengagetkanku saja!" ucap Rendi sambil memegangi dadanya.
"Mas ...., Mau bantu aku?" Ucap Nadin yang hanya terlihat kepalanya yang keluar.
Kening Rendi berkerut, "Apa?"
"Tolong pinjami aku baju ya ...., ambilkan! Aku lupa tidak bawa baju!" ucap Nadin dengan wajah memelas.
Rendi kembali mengerutkan keningnya, kemudian tersenyum tipis, ada wajah jahil di sana (waw ...., sejak kapan Rendi be sikap jahil ...., sungguh perubahan yang luar biasa)
"Baiklah ...., Sinikan tanganmu!" ucap Rendi lagi.
"Hah ....?"
"Sini tanganmu, ulurkan!" Perintah Rendi lagi.
"Kenapa?" Nadin tak mengerti dengan maksud suaminya itu, bukannya memberi baju malah meminta tangannya.
"Bisa nggak sih jangan banyak tanya!" Rendi mulai kesal.
"Baiklah!" Nadin pun mengulurkan tangannya sebelah kanan, tapi ternyata Rendi bukannya memberikan pakaiannya, ia malah menarik tangan Nadin hingga Nadin keluar dari dalam kamar mandi.
"Aaaaa ....!" Teriak Nadin terkejut. Karena kini tubuh Nadin sudah sudah berputar dan mendarat dalam pelukan Rendi. Ternyata Rendi sengaja mengerjai Nadin.
"Sudah kan, sekarang kamu bisa ambil baju kamu sendiri." Ucap Rendi setelah melepaskan pelukannya. Sedangkan Nadin sudah panik , ia berusaha menutupi dadanya dengan tangan.
"Aghh ...., Iya aku kan lupa kalau aku tidak bawa baju ke sini!"
"Terus?"
"Aku boleh pinjam bajunya mas Rendi aja ya!"
"Aku nggak punya baju cewek!"
"Kemeja!"
"Pilihlah sendiri!" Rendi membuka tempat pakaiananya dan memilihkan beberapa kemeja untuk Nadin. Nadin memilih sebuah kemeja putih dan segera memakainya ke kamar mandi.
"Besar sekali sih!" Ucap Nadin saat menunjukkannya pada Rendi, Rendi hanya bisa menelan ludahnya, tenggorokannya seketika terasa kering melihat penampilan Nadin yang seperti itu, tampak seksi. Tanpa bra, hingga membuat gundukan itu terlihat jelas.
Kenapa dia seksi sekali ..., dia sengaja menggodaku ....
"Ayo kita makan malam!" Ucap Nadin yang hendak membuka pintu, tapi segera di tahan oleh Rendi.
"Kenapa?" tanya Nadin.
"Kamu mau keluar dengan pakaian seperti itu? Jangan harap!" Ucap Rendi sambil menajamkan matanya pada buah dadanya, membuat Nadin segera menutupinya dengan kedua tangannya.
"Tunggu di sini, biar aku carikan baju untukmu!"
"Tapi paman, meminta kita untuk makan malam bersama!"
"Biar aku urus!" Rendi pun segera keluar dari kamar meninggalkan Nadin sendiri.
Rendi menuruni tangga, seorang pelayan pria sudah menghadangnya di ujung tangga.
"Maaf pak Rendi, tuan sudah menunggu anda!"
"Dimana ayah?" Tanya Rendi tanpa memperhatikan pria itu, ia lebih tertarik mengedarkan pandangannya agar lebih cepat menemukan yang ia cari.
"Tuan di meja makan!"
Tanpa menyahut Rendi pun langsung menuju ke ruang makan menemui ayahnya.
"Ayah!" Sapa Rendi.
Paman Salman segera menatap Rendi, ia tidak menemukan yang sedang ia cari.
"Mana Nadin?"
"Nadin tidak punya baju ganti, biar Rendi belikan dulu!"
"Tidak perlu, biarkan saja. Nanti ayah yang akan meminta pelayan untuk membawakannya. Kalian makan di kamar saja!"
Apa-apaan ayah ini ...., Kalau tentang Nadin semunaya menjadi tidak pa pa ....
"Biar Rendi temani ayah makan malam!"
"Tidak perlu, kita bisa makan malam lain waktu. Kasian jika harus menunggu bajunya datang untuk makan malam, kamu temani saja Nadin!"
Prok prok prok
Paman Salman menepuk tangannya tiga kali dan tiga pelayan datang menghampiri mereka.
"Bawa sebagian makanan ini ke kamar menantuku!" Ucap paman Salman.
"Baik tuan!"
Pelayan-pelayan itu dengan cekatan mengambil sebagian makanan di atas sebuah nampan besar, dua porsi dan membawa ke lantai atas tempat Nadin berada.
Paman Salman yang melihat Rendi masih diam di tempatnya, segera menepuk pundaknya.
"Apa yang kau lakukan di sini, ayo temani Nadin makan malam!"
"Tapi ayah....!"
"Jangan biarkan istrimu menunggu!"
"Baik yah, Rendi ke atas dulu!" Walaupun dengan berat hati Rendi meninggalkan ayahnya. Paman Salman terus tersenyum mengiringi langkah putranya itu, ada sebuah kelegaan di dalam hatinya.
Aku senang kau sudah punya pendamping hidup, maafkan ayah nak, karena ayah yang sudah membentukku menjadi pria dingin, ayah yakin Nadin lah gadis yang paling tepat menemanimu, merubah hatimu yang beku itu menjadi penuh warna.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘