
🌷🌷🌷
Sudah tiga hari Nadin dan Rendi berada di Korea, pekerjaan Rendi juga sudah selesai. Hari ini Rendi menepati janjinya pada Nadin untuk mengajaknya jalan-jalan.
Hari ini mereka akan berbelanja oleh-oleh, Rendi membawa Nadin ke daerah Ewha Womans University, karena menurut rekan bisnisnya tempat itu yang paling banyak menjual berbagai variasi barang dagangan.
Daerah di sekitar Ewha Womans University menawarkan sejumlah kios yang berjejer menjual barang-barang mode, seperti pakaian, sepatu, dan aksesoris sebagai destinasi wisata belanja anak muda.
Jalan ini juga terkenal dengan salon rambutnya. Toko di sepanjang jalan ini juga sering menawarkan diskon.
"Kamu senang?" Tanya pria dingin itu yang terus menggandeng tangan istrinya. Nadin hanya tersenyum menatap suaminya.
"Kenapa senyumnya seperti itu?" Tanya Rendi lagi saat istrinya tak juga menjawab.
"Aku sangat senang, seandainya kita bisa di sini lebih lama lagi. Kita bisa melakukan lebih banyak lagi hal di sini!"
"Itu bisa kita lakukan lain waktu, saat aku sudah bukan tangan kanan kakak iparmu lagi!"
Mendengar ucapan suaminya, Nadin seketika menghentikan langkahnya, ia menatap suaminya penuh tanya.
"Mas Rendi akan berhenti?"
"Tak selamanya aku berada di bawahnya, aku punya sesuatu yang harus aku urus, dan aku rasa mungkin tak lama lagi aku harus benar-benar melepasnya!" Rendi mengatakannya dengan menyimpan beban berat di pundaknya, ia begitu berat mengatakannya, tapi itulah kenyataannya. Ia sudah berjanji pada ayahnya untuk mengurus perusahaan keluarga setelah menikah.
"Lalu bagaimana dengan kak Agra?"
"Aku akan mencari penggantimu, walaupun tidak bisa seperti aku, setidaknya aku bisa tenang melepasnya!"
"Syukurlah kalau begitu!"
"Kau senang?" Rendi mengerutkan keningnya, mengangkat sebelah alisnya, ia tidak tahu apa yang di pikirkan istrinya, tapi dari nada bicaranya terdengar jika ada kelegaan di sana.
"Bukan begitu, tapi bukankah menjadi diri sendiri itu lebih menyenangkan dari pada menjadi bayangan seseorang!"
"Jadi selama ini kau melihatnya seperti itu?"
"Ya ....!" Jawab Nadin mantap. "Bahkan identitas kalian begitu sama, saling terkait, tak bisa di pisahkan!"
Rendi menghela nafas, menatap ke depan dan segera menyakukan tangannya yang sebalh kiri ke saku celananya, sedang tangan satunya ia kaitkan dengan tangan Nadin.
"Ayo ...., Belanja!" Rendi menarik tangan Nadin, mengajaknya untuk berjalan. Menyusuri jalanan di pinggiran toko yang sudah di padati oleh pengunjung. Nadin memilih banyak sekali barang oleh-oleh.
Mereka sengaja berbelanja sendiri, ia tidak mau mengganggu acara Agra dan Ara, ia juga ingin menghabiskan waktu hanya berdua saja. Setelah puas berada di daerah di sekitar Ewha Womans University.
Rendi mengajak Nadin untuk pindah ke tempat lain sesuai petunjuk dari temannya yang ada di Korea.
Rendi memilih Myeongdong, Myeongdong tepat berada di tengah Kota Seoul. Kawasan ini sangat popular dikalangan wisatawan. Di sepanjang jalan Myeongdong terdapat ribuan outlet menjual kosmetik Korea, skincare, maupun pakaian dan elektronik.
Tak hanya itu, Myeongdong juga terkenal sebagai tempat untuk menikmati street food ala Korea di malam hari. Waktu terbaik untuk mengunjungi Myeongdong adalah pada siang atau sore hari agar tidak berdesakan dengan wisatawan lain.
Kebetulan hari sudah mulai gelap jadi sangat pas untuk datang ke tempat ini, Rendi mengajak Nadin untuk berburu kuliner.
Berbagai makanan ala Korea banyak di sediakan di sini. Nadin benar-benar senang, ia juga meminta Rendi untuk mencicipi berbagai makanan, bahkan ia membawa banyak makanan di tangannya.
"Apa kau akan menghabiskan semua makanan itu?" Tanya Rendi tak percaya dengan apa yang ada di tangannya, tangan Nadin penuh dengan makanan.
"Habis lah mas ...., Aku kan pengen rasain semuanya!"
"Badan kecil, tapi makannya banyak banget!"
"Biarin, Pumpung suamiku banyak duit!"
Mereka duduk di salah satu bangku di pinggir jalan sambil menikmati makanan. Nadin menatap sekelilingnya, tatapannya tertuju pada pria berjas hitam yang sedari tadi mengikuti mereka jalan-jalan. Kemudia Nadin menatap suaminya, memberi tatapan tak suka.
"Ada apa?" Rendi yang di tatap merasa tidak suka dengan tatapan itu,
"Itu pasti orang-orang mas Rendi kan.?" Tanya Nadin sambil menunjuk orang yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Iya!" Jawab r ndi tanpa rasa bersalah.
"Kenapa sih harus ada pengawal?" Protes Nadin.
"Jangan di pikirkan!" Ucap Rendi santai sambil melahap makanan yang ada di tangannya,
"Aku nggak nyaman, bukankan ini jalan-jalan pribadi, nggak usah pakek pengawalan segala kali mas!"
"Itu sudah resiko!"
"Kalau ngomong jangan sepotong-sepotong!" Ucap Nadin sambil berdiri dari duduknya, ia berkacak pinggang dengan tatapan yang melayangkan protes keras.
Rendi yang tidak suka dengan sikap Nadin, ia pun menarik tangan Nadin memintanya untuk duduk kembali.
"Aku tidak suka dengan sikapmu!" Ucap Rendi setelah Nadin kembali duduk.
"Baguslah, jadi sekarang jelaskan padaku!"
"Kehidupanku berbeda dengan kehidupanmu yang dulu, bukan tentang bagaimana menjalani hidup yang bahagia, sedih, menangis dan tertawa.
Kehidupanku penuh dengan ancaman, bahkan aku tidak tahu yang mana kawan dan yang mana lawan. Banyak sekali di luar sana yang ingin menjatuhkan kami, mereka mengincar dari berbagai sisi!"
"Apa sebegitu seriusnya?"
"Apa sekarang kau menyesal jadi istriku?"
"Bukan begitu, itu mana mungkin!" Ucap Nadin sambil memukul pundak Rendi, dengan reflek Rendi mengusap pundaknya, karena Nadin memukulnya terlalu keras.
"Apa kau tidak takut terlibat di dalamnya?"
"Kak Ara saja sanggup, aku pasti lebih sanggup!" ucap Nadin dengan bersemangat, ia tidak mau membuat Rendi berfikir bahwa ia merasa takut, walau dalam hati jelas ia bukan wonder woman yang tidak takut apapun.
"Baguslah!"
"Cuma seperti itu?"
"Lalu?" Rendi mengerutkan keningnya, tak mengerti apa yang di inginkan istrinya.
"Peluk aku!" Nadin tidak menunggu Rendi untuk memeluknya, ia tahu Rendi tidak akan melakukan itu di depan umum, dengan cepat Nadin memeluk tubuh kekar Rendi. ia tahu jika pria itu sedang dalam keadaan bimbang dalam persimpangan jalan. Banyak yang harus ia pikirkan untuk itu.
"Biar seperti ini lebih lama!" ucap Rendi sambil menahan tubuh Nadin agar tidak melepaskan pelukannya, Nadin hanya tersenyum dan mengeratkan pelukannya kembali.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘