MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bunga



"Nanti pulang sama aku aja kalau dia tidak kembali!"


"Enak aja, nggak ada pulang sama Frans!" suara barito itu segera membuat kedua orang itu menoleh ke sumber suara.


Rendi sudah berdiri di sana dengan tatapan tajamnya.


"Dari mana aja Lo?" tanya dr. Frans.


Rendi hanya mendengus, ia pun berjalan mendekati dr. Frans dan Nadin. "Bukan urusan Lo!"


"Emang dari mana sih? Aku kira nggak bakalan kembali!" Gerutu Nadin.


"Iya tuh, istri Lo udah kebakaran jenggot, takut Lo nya nggak kembali! Untung capek, kalau nggak .....!"


"Kalau nggak, apa? Sudah keluar sana ....!"


"Cie ...., Ngusir nih ya ceritanya!" dr.frans pun segera berjalan hendak keluar tapi matanya menatap sesuatu yang janggal di belakang punggung rendi.


Ia pun menghentikan langkahnya kembali. "Apa tuh di tangan Lo?"


Rendi semakin menyembunyikannya dari dr. Frans."Jangan kepo, cepetan keluar kalau nggak gue tendang sampek antartika!"


Kalau sampai dia melihatnya, bisa jadi bulan-bulanan aku sama dia ....


"Pantesnya Lo yang di tendang Sampek sana, biar ketemu sama sohib Lo!"


Rendi mengerutkan keningnya. "Siapa?"


"Beruang kutub sama pinguin!" ucap dr. Frans di barengi dengan tawa renyahnya.


Seketika ucapan dr. Frans mendapat sambutan tawa dari Nadin, Nadin sudah tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon dr. Frans, tapi saat matanya menatap pria es itu seketika tawanya menguap.


Pria itu menatap tajam padanya, seolah berkata


Beraninya kau tertawa seperti itu ....


"Sudah sana keluar!"


"Iya iya ....., Dasar pengantin baru, sensi banget!" Ucap dr. Frans sambil segera keluar dari ruang itu sebelum si mausia es itu benar-benar menendangnya.


Setelah Dr. Frans meninggalkan mereka, Rendi segera menutup kembali pintunya agar tidak ada lagi yang masuk.


Nadin masih penasaran dengan benda yang ada di box besar yang di bawa suaminya itu.


"Ini untukmu!" Ucap Rendi sambil menyerahkan box besar itu pada Nadin.


"Hah ....!" Nadin hanya bisa membuka mulutnya dan mengamati box yang tertutup itu. "Ini apa?"


"Tangan kamu bisa kan buat buka!" Ucap Rendi, ia pun mencari sesuatu di meja yang berada di dekat sofa, tanpa mau memperhatikan Nadin. Sepertinya dia sengaja.


"Baiklah ...., aku akan membukanya, beneran nih nggak mau bantu?" tanya Nadin lagi.


"Nggak!"


"Ya udah .....!" Nadin kembali mengamati bok itu, ia mencari-cari selotip ujungnya agar bisa dengan mudah di buka. Lalu ia teringat sesuatu, ia mengalihkan pandangannya pada suaminya dan ternyata suaminya juga sedang menatapnya membuat tatapan mereka saling bertemu.


"Ada apa?" tanya Rendi sambil mengalihkan pandangannya.


"Tadi kata dr. Frans aku sudah boleh pulang!" Ucap Nadin sambil berusaha membuka box itu lagi.


"Baiklah ...., Aku akan mengurus administrasi dulu, sebentar lagi paman Roy akan kemari!" Ucap Rendi sambil berlalu meninggalkan Nadin, dan Nadin pun hanya bisa mengangguk.


Nadin kembali berusaha membuka box itu, dan akhirnya bisa terbuka.


Nadin benar-benar dibuat terkejut saat mengetahui isi box itu. Box itu berisi bunga mawar dengan berbagai warna.


"Hah ....., Ini banyak sekali ....!" Ada puluhan tangkai bunga mawar di sana. "Semua ini untuk apa?"


"Apa-apaan ini .....!" Ucap Nadin sambil menciumi satu persatu bunga itu.


Rendi yang ternyata masih memperhatikan Nadin dari balik pintu tanpa sadar melengkungkan senyumnya.


Setelah puas memperhatikan istri kecilnya, ia pun berlalu menuju ke resepsionis untuk mengurus administrasi perawatan Nadin.


Nadin yang masih sibuk dengan bunga-bunga itu segera mengabadikan dengan kamera ponselnya dan di jadikannya status di medsosnya.


Kemudian ia teringat pada nomor kontak seseorang, yaitu suaminya. Ia segera menggantinya dengan *My cold husband*


Walaupun kecil, saat mengingat orang yang di cintainya mampu membuat seseorang tersenyum.


Nadin pun segera melakukan panggilan padanya, ia benar-benar tak sabar ingin tahu apa alasannya.


Tut Tut Tut Tut


Nadin segera menjauhkan telinganya saat sambungan telpon telah terhubung.


"Ada apa lagi?" itulah kata yang keluar dari bibir suaminya dengan begitu tajam.


"Mas ....., aku cuma mau tanya!"


"Katakan!"


"Kenapa beli bunga sebanyak ini untukku?"


"Biar kamu nggak usah terima bunga dari orang lain lagi!"


Blussss


Ah ....., seketika Nadin bagai terbang ke awan, walaupun kata itu sederhana dan tidak romantis, ternyata cinta bisa memahaminya dengan sendirinya.


"Sudah?" tanya Rendi setelah tak ada lagi pembicaraan.


"Aku menunggumu di sini!" ucap Nadin lagi.


"Aku tahu!"


"Tapi di hatiku juga!"


Rendi yang sedang menunggu antrian tanpa terasa melengkungkan senyumnya, hingga ia tidak sadar jika namanya telah di panggil.


"Pasien atas nama nyonya Nadin!"


"Pasien atas nama nyonya Nadin!"


"Pasien atas nama nyonya Nadin!"


Hingga panggilan yang ke tiga, si balok es itu baru sadar.


"Iya saya ...!"


Rendi pun segera menutup sambungan telponnya dan berjalan menghampiri teller.


"Ya saya suaminya!"


terlihat teller sedang menyerahkan selembar kertas berupa total biaya perawatan Nadin selama di rumah sakit, Rendi pun segera mengeluarkan kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada teller.


Setelah selesai Rendi pun bergegas untuk kembali ke kamar Nadin.


BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘