MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Salah prediksi



Acara wisuda pun selesai, tinggal bagaimana para wisudawan


itu menentukan jalan hidupnya, mereka ada yang berencana untuk melanjutkan S2


di dalam negri, ada yang keluar negri, yang berprestasi dengan segala


beasiswanya. Dan tak jarang dari mereka memilih untuk mencari kerja. Banyak


rancangan masa depan yang mereka susun setelah ini.


Begitupun dengan Nadin, sebenarnya ada rencana besar Rendi


untuk Nadin, yaitu menaburkan benih ke Rahim istrinya, usianya sudah sungguh


sangat matang untuk memiliki seorang penerus. Davina, dia memilih menyibukkan


diri untuk mencari pekerjaan, ia juga tidak bisa berharap banyak pada pria yang


sudah meninggalkannya.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau kerjakan sebelum pulang?”


Tanya Rendi di dalam mobil, mereka setelah berpamitan pada keluarganya segera


kembali ke dalam mobil.


“Apa yang bisa aku lakukan dengan penampilan seperti ini?”


“baiklah …, kita langsung ke butik!”


“Ngapain?”


“Cari sayur!”


“Emang ada sayur di butik?”


“Bisa nggak nggak usah cerewet!” jawab Rendi dengan nada


dinginnya, terlihat di depan sedang tersenyum, ingin tertawa takut. “Jangan


menertawakan kami!” hardik Rendi.


“Tidak pak!” anak buahnya kembali fokus ke jalanan, ia


sungguh tidak berani lagi melihat ke belakang.


Akhirnya mereka pun sampai di butik langganan Rendi, ia


biasa mencarikan gaun untuk nyonya Ratih atau Ara di tempat itu, nama Rendi


sudah sangat terkenal di tempat itu. Semua karyawan butik segera menyambut


dengan hormat kedatangan Rendi, nadin hanya bisa mengikuti suaminya itu.


“Selamat datang, pak Rendi! Ada yang bisa kami bantu?” salah


satu dari mereka langsung menyambut Rendi, sepertinya itu pemilik butik.


“Carikan baju yang nyaman buat istri saya!”


“Dengan senang hati pak Rendi!”


“Mari


nona!” wanita itu segera mengajak Nadin masuk ke dalam ruangan dengan baju yang


berjejer sangat banyak dan semuanya terlihat mahal. Nadin sibuk memilah-milah


baju itu, semuanya bagus hingga membuat Nadin kebingungan.


“Aku


bingung mbak …, mau milih yang mana!”


“Mungkin


ini cocok untuk nona, atau yang ini, atau yang ini juga bagus!” wanita itu


menunjukkan dress dengan warna yang berbeda-beda dengan model yang berbeda juga.


“Bungkus kan


semuanya saja, dan pilihkan satu untuk dia pakai!” ucap Rendi yang ternyata


sedari tadi sedang memperhatikan Nadin dari pintu masuk, ia menyenderkan


sebelah tubuhnya ke pintu dengan tangan yang ia sakukan di saku celana, begitu


tampan dan dingin. Banyak dari karyawan butik yang sering curi pandang pada


pria dingin itu, tapi mereka kini harus gigit jari saat pria dingin itu datang


bersama istrinya.


“Nggak


…, nggak …, buat apa semuanya, aku cuma butuh satu saja!” ucap Nadin menolak


keras.


Dasar


pria dingin …, jangan gunakan kekuasaanmu untuk yang aneh-aneh ya …, bukannya


nabung malah mau menghambur-hamburkan uang ….


“Gimana


kalau yang ini saja, karena dress ini ada flat shoes yang senada dengan gaunnya


juga di sini!”


“Iya deh


mbak, aku pakek ini aja!” nadin pun segera menuju ke ruang ganti, ia sudah


benar-benar tak nyaman dengan kebayanya.


Ternyata


rendi tak goyah dengan penolakan Nadin, ia meminta karyawan butik untuk


membungkus semua yang di pegang oleh Nadin. Setelah Nadin keluar dari ruang


ganti, ia benar-benar terkejut dengan bag paper yang begitu banyak yang sedang


di bawa oleh anak buah Rendi.


“Mas ….,


kan tadi sudah ku bilang nggak usah …, baju aku masih banyak di rumah. Mending


uangnya di tabung aja!” protes Nadin, tapi bukannya menjawab Rendi malah


menarik tangan Nadin hingga keluar dari dalam butik, semua yang di lintasi oleh


Rendi menunduk memberi hormat.


“Mas …!”


Nadin menarik tangannya dengan keras, ia kesal karena pendapatnya tidak di


dengar oleh suaminya.


“Ada apa


lagi?”


“Bisa


nggak, nggak usah terus membuatku kesal …, aku nggak suka ya kalau ucapan dan


pendapatku tidak di dengar!”


Rendi


menghela nafas, ia menatap Nadin, menyilangkan tangannya di depan dada, bersiap


untuk mendengarkan pendapat Nadin.


“Sekarang


katakan, apa yang kau mau?”


“Kita


belanja, tapi di pasar!”


“Kita


sudah dekat dengan mall, kenapa harus di pasar?”


iya …!”


“Baiklah


…, terserah kamu saja!” rendi akhirnya menyerah, dari pada melihat Nadin terus


saja marah padanya.


“Kita ke


pasar sekarang!” perintah Rendi pada anak buahnya.


“Baik


pak!”


Mereka


pun meninggalkan gedung mewah dengan segalanya ada di sana, Nadin sengaja membawa


Rendi ke pasar, agar pria dingin itu tahu bagaimana isi pasar. Mereka pun


sampai di parkiran pasar.


“mas …,


lepas jas dan kemejanya?”


“Kenapa?”


“Nggak


cocok mas kalau ke pasar pakai jas dan kemeja!”


Dengan


terpaksa Rendi menuruti permintaan Nadin, ia membuka jas dan kemejanya. Kini


tinggal kaos tipis yang membungkus, lagian ia sudah terbiasa menyamar seperti


ini, bukan hal yang sulit. Rendi juga tak lupa melepas sepatunya.


“Kenapa


sepatunya di lepas mas?”


“memang


ada orang yang belanja di pasar memakai sepatu semahal ini!” ucap Rendi dengan


masih sibuk melepas sepatu dan kaos kakinya.


“Belikan


aku sandal jepit!” perintah Rendi pada anak buahnya.


“Baik


pak!” anak buah Rendi segera turun dari mobil, ia juga sudah melepas jas hitam


yang melekat di badannya itu, ia sudah menyingsing lengan kemejanya hingga


sampai siku. Menuju ke penjual sandal jepit dan memebli sua pasang sandal


jepit.


“Silahkan


Pak!” anak buah Rendi kembali dan menyerahkan sandal jepit itu.


“Ya satu


pakailah …, dan ikuti kami dari belakang!”


“Baik


pak!”


Nadin


dan Rendi keluar dari mobil, Rendi terus saja menggandeng tangan Nadin, pasar


begitu ramai hingga untuk berjalan pun sangat sulit.


“Jangan


jauh-jauh …!” beberapa kali Rendi memperingatkan pada Nadin.


“Iya …!”


“Kita


mau belanja apa?”


“Sayuran!”


Dengan


sigap Rendi menarik tangan Nadin ke penjual sayur, awalnya Nadin ingin


mengerjai suaminya  tapi ternyata salah,


Rendi lebih lihai dalam hal tawar menawar. Hal itu membuat Nadin terecengang di


buatnya, suaminya benar-benar pria dingin yang serba bisa.


“Sekarang


apa lagi?”


“Ayam!”


jawab Nadin yang masih fokus pada pria itu, Rendi segera menarik tangan Nadin


ke penjual ayam, Rendi lagi-lagi dengan telaten memilih ayam yang bagus.


“Apa


lagi?” Tanya Rendi lagi. Nadin menatap kantong belanjaan yang sudah penuh itu.


“Sudah


…!”


“Baiklah


…, kita kembali!” rendi kembali menatrik tangan nadin, Nadin hanya bisa


memperhatikan pemilik punggung bidang itu, punggung yang begitu nyaman untuknya


bersandar.


“Masuklah


…!” ucapan Rendi seketika menyadarkan Nadin dari lamunannya, ia masih


benar-benar syok dengan kemampuan Rendi yang ini. “Lain kali jika ingin


berbelanja ke pasar jangan sendiri, di pasar bahaya, banyak kejahatan!”


“Mas


Rendi sudah pernah ke pasar?” Tanya Nadin masih tak percaya dengan apa yang ia


lihat barusan.


“Agra


pernah berada di tempat ini beberapa kali, beberapa waktu. Aku juga harus


melakukan hal yang sama untuk itu! Masuklah …!”


Ucapan


Rendi yang itu, sedikit banyak sudah menggambarkan bagaimana setianya pria itu


pada atasannya, pada keluarga Wijaya. Kekaguman Nadin pada pria dingin itu


bertambahlah sekarang.


Bersambung


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘