
Acara wisuda pun selesai, tinggal bagaimana para wisudawan
itu menentukan jalan hidupnya, mereka ada yang berencana untuk melanjutkan S2
di dalam negri, ada yang keluar negri, yang berprestasi dengan segala
beasiswanya. Dan tak jarang dari mereka memilih untuk mencari kerja. Banyak
rancangan masa depan yang mereka susun setelah ini.
Begitupun dengan Nadin, sebenarnya ada rencana besar Rendi
untuk Nadin, yaitu menaburkan benih ke Rahim istrinya, usianya sudah sungguh
sangat matang untuk memiliki seorang penerus. Davina, dia memilih menyibukkan
diri untuk mencari pekerjaan, ia juga tidak bisa berharap banyak pada pria yang
sudah meninggalkannya.
“Apa ada sesuatu yang ingin kau kerjakan sebelum pulang?”
Tanya Rendi di dalam mobil, mereka setelah berpamitan pada keluarganya segera
kembali ke dalam mobil.
“Apa yang bisa aku lakukan dengan penampilan seperti ini?”
“baiklah …, kita langsung ke butik!”
“Ngapain?”
“Cari sayur!”
“Emang ada sayur di butik?”
“Bisa nggak nggak usah cerewet!” jawab Rendi dengan nada
dinginnya, terlihat di depan sedang tersenyum, ingin tertawa takut. “Jangan
menertawakan kami!” hardik Rendi.
“Tidak pak!” anak buahnya kembali fokus ke jalanan, ia
sungguh tidak berani lagi melihat ke belakang.
Akhirnya mereka pun sampai di butik langganan Rendi, ia
biasa mencarikan gaun untuk nyonya Ratih atau Ara di tempat itu, nama Rendi
sudah sangat terkenal di tempat itu. Semua karyawan butik segera menyambut
dengan hormat kedatangan Rendi, nadin hanya bisa mengikuti suaminya itu.
“Selamat datang, pak Rendi! Ada yang bisa kami bantu?” salah
satu dari mereka langsung menyambut Rendi, sepertinya itu pemilik butik.
“Carikan baju yang nyaman buat istri saya!”
“Dengan senang hati pak Rendi!”
“Mari
nona!” wanita itu segera mengajak Nadin masuk ke dalam ruangan dengan baju yang
berjejer sangat banyak dan semuanya terlihat mahal. Nadin sibuk memilah-milah
baju itu, semuanya bagus hingga membuat Nadin kebingungan.
“Aku
bingung mbak …, mau milih yang mana!”
“Mungkin
ini cocok untuk nona, atau yang ini, atau yang ini juga bagus!” wanita itu
menunjukkan dress dengan warna yang berbeda-beda dengan model yang berbeda juga.
“Bungkus kan
semuanya saja, dan pilihkan satu untuk dia pakai!” ucap Rendi yang ternyata
sedari tadi sedang memperhatikan Nadin dari pintu masuk, ia menyenderkan
sebelah tubuhnya ke pintu dengan tangan yang ia sakukan di saku celana, begitu
tampan dan dingin. Banyak dari karyawan butik yang sering curi pandang pada
pria dingin itu, tapi mereka kini harus gigit jari saat pria dingin itu datang
bersama istrinya.
“Nggak
…, nggak …, buat apa semuanya, aku cuma butuh satu saja!” ucap Nadin menolak
keras.
Dasar
pria dingin …, jangan gunakan kekuasaanmu untuk yang aneh-aneh ya …, bukannya
nabung malah mau menghambur-hamburkan uang ….
“Gimana
kalau yang ini saja, karena dress ini ada flat shoes yang senada dengan gaunnya
juga di sini!”
“Iya deh
mbak, aku pakek ini aja!” nadin pun segera menuju ke ruang ganti, ia sudah
benar-benar tak nyaman dengan kebayanya.
Ternyata
rendi tak goyah dengan penolakan Nadin, ia meminta karyawan butik untuk
membungkus semua yang di pegang oleh Nadin. Setelah Nadin keluar dari ruang
ganti, ia benar-benar terkejut dengan bag paper yang begitu banyak yang sedang
di bawa oleh anak buah Rendi.
“Mas ….,
kan tadi sudah ku bilang nggak usah …, baju aku masih banyak di rumah. Mending
uangnya di tabung aja!” protes Nadin, tapi bukannya menjawab Rendi malah
menarik tangan Nadin hingga keluar dari dalam butik, semua yang di lintasi oleh
Rendi menunduk memberi hormat.
“Mas …!”
Nadin menarik tangannya dengan keras, ia kesal karena pendapatnya tidak di
dengar oleh suaminya.
“Ada apa
lagi?”
“Bisa
nggak, nggak usah terus membuatku kesal …, aku nggak suka ya kalau ucapan dan
pendapatku tidak di dengar!”
Rendi
menghela nafas, ia menatap Nadin, menyilangkan tangannya di depan dada, bersiap
untuk mendengarkan pendapat Nadin.
“Sekarang
katakan, apa yang kau mau?”
“Kita
belanja, tapi di pasar!”
“Kita
sudah dekat dengan mall, kenapa harus di pasar?”
iya …!”
“Baiklah
…, terserah kamu saja!” rendi akhirnya menyerah, dari pada melihat Nadin terus
saja marah padanya.
“Kita ke
pasar sekarang!” perintah Rendi pada anak buahnya.
“Baik
pak!”
Mereka
pun meninggalkan gedung mewah dengan segalanya ada di sana, Nadin sengaja membawa
Rendi ke pasar, agar pria dingin itu tahu bagaimana isi pasar. Mereka pun
sampai di parkiran pasar.
“mas …,
lepas jas dan kemejanya?”
“Kenapa?”
“Nggak
cocok mas kalau ke pasar pakai jas dan kemeja!”
Dengan
terpaksa Rendi menuruti permintaan Nadin, ia membuka jas dan kemejanya. Kini
tinggal kaos tipis yang membungkus, lagian ia sudah terbiasa menyamar seperti
ini, bukan hal yang sulit. Rendi juga tak lupa melepas sepatunya.
“Kenapa
sepatunya di lepas mas?”
“memang
ada orang yang belanja di pasar memakai sepatu semahal ini!” ucap Rendi dengan
masih sibuk melepas sepatu dan kaos kakinya.
“Belikan
aku sandal jepit!” perintah Rendi pada anak buahnya.
“Baik
pak!” anak buah Rendi segera turun dari mobil, ia juga sudah melepas jas hitam
yang melekat di badannya itu, ia sudah menyingsing lengan kemejanya hingga
sampai siku. Menuju ke penjual sandal jepit dan memebli sua pasang sandal
jepit.
“Silahkan
Pak!” anak buah Rendi kembali dan menyerahkan sandal jepit itu.
“Ya satu
pakailah …, dan ikuti kami dari belakang!”
“Baik
pak!”
Nadin
dan Rendi keluar dari mobil, Rendi terus saja menggandeng tangan Nadin, pasar
begitu ramai hingga untuk berjalan pun sangat sulit.
“Jangan
jauh-jauh …!” beberapa kali Rendi memperingatkan pada Nadin.
“Iya …!”
“Kita
mau belanja apa?”
“Sayuran!”
Dengan
sigap Rendi menarik tangan Nadin ke penjual sayur, awalnya Nadin ingin
mengerjai suaminya tapi ternyata salah,
Rendi lebih lihai dalam hal tawar menawar. Hal itu membuat Nadin terecengang di
buatnya, suaminya benar-benar pria dingin yang serba bisa.
“Sekarang
apa lagi?”
“Ayam!”
jawab Nadin yang masih fokus pada pria itu, Rendi segera menarik tangan Nadin
ke penjual ayam, Rendi lagi-lagi dengan telaten memilih ayam yang bagus.
“Apa
lagi?” Tanya Rendi lagi. Nadin menatap kantong belanjaan yang sudah penuh itu.
“Sudah
…!”
“Baiklah
…, kita kembali!” rendi kembali menatrik tangan nadin, Nadin hanya bisa
memperhatikan pemilik punggung bidang itu, punggung yang begitu nyaman untuknya
bersandar.
“Masuklah
…!” ucapan Rendi seketika menyadarkan Nadin dari lamunannya, ia masih
benar-benar syok dengan kemampuan Rendi yang ini. “Lain kali jika ingin
berbelanja ke pasar jangan sendiri, di pasar bahaya, banyak kejahatan!”
“Mas
Rendi sudah pernah ke pasar?” Tanya Nadin masih tak percaya dengan apa yang ia
lihat barusan.
“Agra
pernah berada di tempat ini beberapa kali, beberapa waktu. Aku juga harus
melakukan hal yang sama untuk itu! Masuklah …!”
Ucapan
Rendi yang itu, sedikit banyak sudah menggambarkan bagaimana setianya pria itu
pada atasannya, pada keluarga Wijaya. Kekaguman Nadin pada pria dingin itu
bertambahlah sekarang.
Bersambung
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘