MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Shopping dengan baby twins (2)



Pagi ini Ara sudah sibuk dengan kegiatannya di dapur, bukan untuk masak hanya ngerecokin orang masak.


"Nadin, jangan di aduk terus nanti sayur terongnya jadi bubur." ucap ibu Dewi yang sedang menggoreng ikan.


"Yah ...., Nadin harus apa dong ....?"


"Sana siapkan peralatan makannya saja ya ...!" ucap ibu Dewi lembut.


"Siap ibu ...!" ucap Nadin sambil memberi hormat.


Nadin pun beranjak dari tempatnya menujun ke ruang makan, ia mulai menata semua peralatan makan.


"Cu ...., tolong belikan nenek nasi pecel di depan ya!" ucap nenek Nani yang tiba-tiba menghampiri Nadin. Nadin pun segera menoleh ke sumber suara.


"Nenek pengen makan pecel?" tanya Nadin.


"Iya ...., nenek jadi ingat waktu muda dulu, kakek kamu sering banget belikan nenek nasi pecel pas hamil ayah kamu."


"Kakek romantis ya nek ternyata ..., ya udah Nadin beli dulu ya nek."


"Iya cu ....!"


Nadin pun langsung melenggang meninggalkan meja makan, ia sudah begitu hafal semua pedagang di sekitar rumahnya, ia tidak hobi masak tapi sangat hobby makan.


Nadin memakai sepedah mininya untuk bisa sampai di penjual pecel, jaraknya memang lumayan jauh. Nadin memgayuh sepedahnya, sinar matahari masih tidak terlalu panas, sangat bersahabat untuk berolah raga.


Nadin melewati beberapa gang, ia juga melewati kompleks apartemen milik Rendi, ingin rasanya berhenti sejenak untuk bisa menatap wajahnya, tapi neneknya pasti sudah sangat menunggu.


Nadin kembali mengayuh sepedahnya, dan akhirnya ia sampai juga di lapak penjual pecel.


"Buk ...., pecelnya dua bungkus ya, lauknya rempeyek saja."


"Iya ...., neng tunggu dulu ya, biar ibu buatkan."


"Aku tunghunya di bawah pohon itu ya ...!" ucap Nadin sambil menunjuk sebuah pohon beringin besar. Ibu penjual pecel pun mengangguk, Nadin segera berlalu dan duduk di sana.


Lalu mata Nadin terfokus pada pria yang berada di tengah lapangan sedang berolah raga itu. Nadin pun segera menghampiri pria itu.



"Pak Rendi." ucap Nadin, membuat pria yang namanya di panghil itu pun menoleh padanya.


"Nadin ...!" ucap Rendi, ia pun segera berdiri mensejajarkan dirinya dengan Nadin. "Ada apa kau ke sini?"


Kenapa dengan jantungku ini ....


Rendi hanya bisa terdiam di tempatnya saat melihat senyum yang merekah di bibir Nadin.



"A-aku ...., membelikan nasi pecel buat nenek, seneng bisa ketemu pak Rendi di sini." ucap Nadin yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"B-baiklah ...., sepertinya aku harus segera pergi ..., ada yang harus aku kerjakan!" ucap Rendi, ia mencoba mengalihkan tatapannya. Ia tidak mau sampai Nadin menyadari kegugupannya.


"Baik ...., sampai jumpa besok ..., di kantor ...!" ucap Nadin sambil melambaikan tangannya, saat Rendi sudah berlari menjauh dari hadapannya.


Terimakasih karena hari ini Kau berbaik hati mempertemukanku dengan pangeranku .....


Nadin terus tersenyum memandangi punggung Rendi yang semakin menghilang di balik tikungan.


"Neng ...., ini pecelnya!" ucap ibu penjual pecel itu sambil menyerahkan kanting plastik warna putih.


"Berapa buk, semuanya?"


"dua puluh ribu, neng ....!" ucap ibu penjual pecel, Nadin pun segera merogoh sakunya dan membetikan selembar uang dua puluh ribuan. Setelah mengucapkan terimakasih Nadin pun segera menuju ke sepedahnya dan kembali mengayun sepedahnya kebali ke rumah, sekarang sudah tidak sesejuk tadi pagi, udara sudah semakin panas membuat Nadin mempercepat kayuhannya.


***


Siang telah tiba, Nadin sudah bersiap untuk berangkat ke rumah Ara, kakaknya. Davina yang melihat Nadin rapi di hari sabtu sungguh bertanya-tanya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Davina yang pura-pura cuek.


"Kenapa? kakak mau ikut, aku mau ke mall, jalan-jalan ....!" ucap Nadin.


Jangan sampek kak Davina ikut ....


"Maleh baangettt ikut kamu, mending aku ngafe bareng temen-temen ku ....!" ucap Davina.


"Baguslah ....!" ucap Nadin, sambil berlalu darin dalam kamar. Nadin berpamitan pada ibu Dewi, ia memilih naik ojol dari pada bawa cerry.


Ojol pesanannya sudah bersiap di depan rumah.


"Atas nama mbak Nadin ya?" tanya ojol itu.


"Iya ....!"


"Mari mbak ...!"


Tak menunggu waktu lama, Nadin pun segera berangkat. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya ojol yang di tumpangi Nadin telah sampai juga di depan gerbang tinggi itu.


"Sampai sini saja mas, kayaknya mas nggak bakalan bisa masuk." ucap Nadin menghentikan ojol itu tepat di depan gerbang besar itu.


"Iya mbak ...., tuh ada penjaganya ...!" ucap ojol itu saat Nadin telah turun. Nadin pun segera menyerahkan uang untuk membayar.


Setelah ojol itu meninggalkannya, Nadin segera mendekati penjaga.


"Permisi paman ...., aku ada janji sama kak Ara." ucap Nadin.


"Dengan siapa ya?" tanya penjaga itu.


"Nadin ...!" ucap Nadin lagi. Dan penjaga itu seperti sedang melakukan panggilana ke dalam rumah besar.


Nadin hanya bisa menunggu di luar gerbang, karena penjaga tidak memperbolehkannya masuk sebelum mendapat persetujuan dari orang dalam. Ia sedikut memanikan kakinya dengan platshoesnya, dan tangannnya sibuk memilin slempang tas sampingnya.


Tak berapa lama gerbang pun terbuka, penjaga itu keluar, sambil menunduk hormat.


"Maafkan atas kelancangan saya nona, silagkan masuk ...!" ucap penjaga itu.


"Jangan ...!" ucap Nadin samvil mengibaskan keeua telapak tangannya. "Jangan sungkan begitu paman ...., saya tidak pa pa!" Nadin merasa tidak enak dengan perlakuan penjaga itu, ia tahu ini pasti ulah kakak iparnya, tapi ia benar-benar tak terbiasa di perlakukan seperti itu.


"Baiklah ..., saya masuk dulu paman ...!" ucap Nadin kembali menunduk, dan berjalan dengan cepat menuju ke rumah besar itu, sepanjang jalan, orang-orang menunduk hormat padanya, sedangkan dia hanya bisa membalas menunduk dengan senyum canggungnya.


"Nadin .....!" teriak Ara yang sudah menunggungya di depan pintu, ya antar rumah utama dengan pintu gerbang berjarak cukup jauh.


"Kakak ....!" Nadin segera berlari menghampiri kakaknya.


"Kenapa jalan dek? Mana cerry?" tanya Ara saat Nadin sudah berada di depannya.


"Aku naik ojol kak ...., aku jarang bawa cerry sekarang ....!" ucap Nadin, lalu matanya tertuju pada baby Sagara yang sedang di gendong Ara.


"Sagara ...., unty kanget tahu ...!" ucap Nadin sambil meraih Sagar dari tangan Ara.


"Sanaya dimana kak?" tanya Nadin saat baby boy sudah beralih di gendongannya.


"Sama papanya ...., Sanaya kayaknya lebih seneng sama papanya dari pada mamanya." ucap Ara sambil mendengus.


"Nggak usah cemburu kali kak ....!" ucap Nadin sambil tertawa.


"Masuk dulu aja dek ...!"


Ara pun segera mengajak Nadin masuk ke dalam rumah, Ara meminta Nadin untuk menunggu di ruang keluarga, sedangkan Ara kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.


Setelah sepuluh menit, akhirnya Ara kembali turun bersama Agra dan Sanaya yang tak lepas dari gendongan papanya.


"Nadin sudah pantas ya gendong bayi, kayaknya aku bakalan jodohin Nadin sama bang Divta aja, cocok deh kayaknya ...!" ucap Agra sambil mendekati Nadin.


"Kok kak Divta sih ...!"


Dua wanita di sampingya itu dengan cepat melotot padanya, membuat Agra mengerutkan keningnya tak mengerti, karena mendapat protes yang begitu keras.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘**