
Rendi dan Agra sudah sampai di tempat meeting, seorang pria bertubuh gemuk sudah menunggu mereka di tempatnya.
"Selamat pagi pak Herman!" sapa Rendi, membuat pria gemuk itu segera berdiri.
"Selamat pagi pak Rendi, pak Agra ...., mari silahkan duduk!" ucap pak Herman sambil berdiri.
Rendi segera menggeser kan kursi untuk Agra, dan meminta Agra untuk duduk terlebih dulu, setelah Agra duduk barulah Rendi ikut duduk.
"Anda bisa memulainya pak Herman!" pinta Rendi.
"Baik pak, ini proposal kami!" pak Herman menyerahkan dua buah map untuk Rendi dan Agra.
Setelah itu pak Herman mempresentasikan proyek nya. Agra dengan seksama memperhatikan presentasi dari pak Herman.
Berbeda dengan Rendi, pria itu kini sedang konsentrasi dengan ponselnya, tampak beberapa kali dia mengirimkan pesan dan menerima pesan, ponselnya di silent jadi Agra tidak menyadarinya.
Setelah satu jam pak Herman menyampaikan presentasinya, kini giliran Agra yang memberikan pertanyaan.
"Apa menurut pak Herman, itu tidak terlalu berlebihan?" tanya Agra.
"Yang mana pak?" tanya pak Herman.
"Jika di akumulasikan, seharusnya dana itu tidak sebesar itu, kita bisa meminimalisir pendanaan dengan mengganti di beberapa titik, bagaimana menurutmu Rend?" tanya Agra pada Rendi. Membuat pria itu terkejut.
"Em ...., e ...., saya rasa apa yang di katakan pak Agra benar!" ucap Rendi yang sedikit tergagap.
"Kamu kenapa?" ucap Agra sedikit berbisik.
"Sepertinya saya perlu ke kamar mandi!" ucap Rendi.
"Silahkan!" ucap Agra, Rendi pun segera berdiri dari duduknya. Ia memohon ijin untuk ke kamar mandi, tak lupa dia juga membawa ponselnya.
Rendi segera menuju ke kamar mandi, ia mencuci wajahnya agar lebih segar, ia melihat wajahnya sendiri di depan kaca besar yang ada di kamar mandi.
"Aku harus konsentrasi, kenapa wajahnya selalu muncul dimana pun?" gumam Rendi. Ia mengusap wajahnya kasar, ia berbalik memunggungi cermin dan kembali mengambil ponselnya yang sempai ia masukkan ke dalam saku celananya.
Ia mengetikan pesan kembali pada sekertaris nya, Vina.
//Apa yang di lakukan ya? Apa keadaannya sudah lebih baik?//
Rendi segera mengirim pesan itu pada sekertaris nya. ia menunggu hingga beberapa menit, hening, ia mengetuk-ngetuk kan jarinnya yang tidak memegang ponsel ke wastafel.
Sedangkan matanya tak pernah absen dari layar ponselnya, entah sudah berapa banyak foto Nadin di dalam ponselnya, ia ingin melihat kembali apa yang di lakukan gadis itu saat ini. Rendi menscrol layar ponselnya ke atas, ia membolak-balik foto-foto Nadin, dengan memandang wajah Nadin membuat hatinya sedikit tenang.
Entah kenapa saat ini menatap wajah Nadin menjadi hobi barunya, walau hanya melalui foto.
Ting
Getaran dan suara notifikasi pesan masuk, membuat Rendi antusias untuk menscrol layar ponselnya ke bawah, untuk melihat pesan yang baru saja masuk.
//Nona Nadin sudah lebih baik pak, tapi sekarang nona Nadin sedang di temani oleh pak Divta, beliau meminta saya meninggalkan ruangan nona Nadin//
Membaca pesan Vina, sekertaris nya, matanya hanya tertuju pada nama Divta, wajah tenangnya tadi kini berubah menjadi begitu gusar, wajahnya memerah karena giginya yang sudah mengerat hingga membuat otot-otot di pelipisnya terlihat. Tangannya juga mengepal sempurna.
"Apa yang di lakukan bang Divta di sana?!" gumam Rendi. Ia menggenggam ponselnya begitu erat. Ia kembali mengetikan pesan ke pada Vina.
//Tetap di sana, sampai saya kembali, jangan sekali-kali tinggalkan klinik.//
Dengan begitu keras ia menekan tombol kirim. Tak berapa lama pesan balasan segera datang.
//*Baik pak ....//
Ia* juga mengirimkan pesan ke Nadin. Rendi segera mengetik kan beberapa pesan.
//Jangan dekat-dekat dengan bang Divta! Ingat jangan dekat-dekat .....//
"Kenapa dia mengabaikan pesanku? Apa dia masih marah padaku?" gumam Rendi, ia pun mengetikan pesan lagi untuk Nadin.
//Kamu masih marah?//
Rendi kembali mengirim pesan itu, tapi hasilnya masih sama. Tidak di baca.
"Dia benar-benar mengabaikan pesanku!" gumam Rendi lagi.
Rendi pun memutuskan untuk melakukan panggilan, tapi sama, hingga beberapa kali melakukan panggilan, tapi Nadin tidak menjawabnya.
"Ahhhhh ....!" gesah Rendi sambil melayangkan tangannya kuat seperti hendak memukul seseorang.
"Baiklah ...., aku harus segera menyelesaikan semua ini !" ucap Rendi, ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan merapikan kembali jas dan kemejanya. Ia kembali keluar dan menghampiri Agra dan Herman.
"Maaf karena terlalu lama!" ucap Rendi saat hendak duduk.
"Kenapa lama sekali?" tanya Agra.
"Maaf pak!" ucap Rendi.
"Ya sudahlah ...., Bagaimana menurutmu dengan propoosal yang di ajukan oleh perusahaan pak Herman ini?" tanya Agra pada Rendi.
Rendi pun segera membaca sekilas, jika ia ingin segera kembali ke perusahaan, maka ia harus mempercepat pekerjaannya.
Setelah selesai memeriksa proposal itu, Rendi pun segera menaruhnya kembali dan menggesernya ke arah Herman.
"Ada apa pak Rendi?" tanya Herman cemas, wajahnya sudah berubah pias, ia tahu jika seperti itu berarti hasilnya tidak bagus.
"Maaf pak Herman, perusahaan kami belum bisa menerima proposal yang anda ajukan. Tapi sepertinya kami bisa memberikan kesempatan pada anda sekali lagi."
"Baik pak Rendi, kalau begitu kami akan segera memperbaikinya, atas kesempatannya saya ucapkan banyak terima kasih."
"Sama-sama pak Herman, kalau begitu sampai jumpa lagi, kami akan mempersiapkan jadwal untuk bisa bertemu dengan anda lagi!" ucap Rendi sambil mengulurkan tangannya, Herman pun segera menerima uluran tangan Rendi dan beranjak dari duduknya.
"La sudah kalau begitu saya permisi, pak Rendi, pak Agra!" ucap Herman sambil menunduk hormat, Agra dan Rendi membalas dengan anggukan.
Setelah Herman meninggalkan merak berdua, Agra yang sedari tadi penasaran segera bertanya pada Rendi.
"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Agra.
"Maksud bapak?" tanya Rendi.
"Apa yang sedang kau pikirkan, aku melihat sedari tadi kita berangkat, kau tidak konsentrasi, tubuhmu di sini tapi sepertinya pikiranmu di tempat lain."
"Maaf pak, saya janji tidak akan mengulanginya!" ucap Rendi menunduk.
"Baiklah ...., aku harap kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku ....!" ucap Agra sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan mejanya. Rendi pun segera mengikutinya di belakang seperti biasanya.
"Mari pak kita kembali!" ucap Rendi sambil mengayunkan tangannya mempersilahkan Agra untuk berjalan terlebih dulu.
Agra pun berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan tempat itu, akhirnya Rendi bisa bernafas lega karena Agra tidak terlalu curiga padanya.
Setelah sampai di kantor, Rendi mengantar Agra ke ruangannya dan memastikan jika atasannya itu tidak membutuhkan apa-apa, ia pun pamit meninggalkan Agra.
Dengan cepat kilat ia menuju ke klinik dimana Nadin di rawat, ia tidak mau Nadin terlalu lama dengan Divta. Ia terus menghubungi Vina, memastikan jika Vina masih mengawasi mereka.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya
Kasih Vote juga yang banyak
Happy Reading 😘😘😘😘**