MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Mr. RJ



🌷🌷🌷🌷🌷


Setelah acara makan malam yang penuh dengan drama itu, Rendi kembali keluar dari kamar karena ayahnya memanggilnya.


Rendi menuju ke taman belakang, Salman sudah menunggunya di sana.


Rendi ikut duduk di kursi kosong yang berada di samping Salman duduk. Salman sedang asik memandangi air kolam renang yang kadang bergelombang karena angin yang menerpanya.


"Ada apa ayah memanggilku?" Tanya Rendi.


"Ayah hanya ingin mengembalikan ini!" Ucap Salman sambil menyerahkan dua buah ponsel untuk Rendi. "Tadi ayah bertemu dengan tuan muda, dia menitipkan ini untukmu!"


"Terimakasih ayah ...!" ucap Rendi sambil menerima ponsel itu.


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Lancar yah!"


"Ingatlah ...., Sekarang tanggu jawabmu sudah bertambah, jadi aku harap kau bisa bersikap adil!"


"Maksud ayah?"


"Istrimu adalah tanggung jawabmu, jadikan dia prioritasmu. Jangan buat dia merasa di nomor duakan."


Rendi tidak menyahuti ucapan ayahnya, ia hanya sibuk memandangi air kolam yang jernih itu. Ia masih sangat sulit untuk menjadikan Nadin sebagai prioritasnya karena menurutnya prioritasnya tetaplah Agra.


Sejak kecil ayahnya sudah mengajarkan kesetiaan untuk menjaga Agra melebihi menjaga nyawanya sendiri. Lalu sekarang tiba-tiba ayahnya meminta hal yang berbeda.


Setelah lama tak mendapat sahutan dqri putranya itu, Salman pun menoleh sejenak kemudian kembali fokus ke depan.


"Jangan biarkan ia terus menunggu, jadikan dia istimewa di hidupmu. Akan banyak sekali yang kamu bagi dengannya, jangan biarkan dia merasa kamu tidak menganggapnya dengan menyembunyikan banyak hal padanya."


"Iya ayah, aku akan mencobanya!"


Salman menepuk punggung Rendi. "Ayah percaya padamu! Beristirahatlah ....!"


"Selamat malam ayah!" Rendi pun segera beranjak dan meninggalkan pria paruh baya itu.


Akan sangat sulit ayah ...., tapi aku akan mencobanya ...


Ia menuju kembali ke kamar, saat sampai di dalam kamar, ia sudah mendapati istrinya itu tertidur pulas di sofa sambil memeluk remote tv.


Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya, "Dasar tukang tidur!"


Rendi segera mengambil remote itu dan mematikan tv yang masih menyala, Rendi menyingsingkan lengan bajunya dan bersiap untuk mengangkat tubuh Nadin, tapi saat menunduk lagi-lagi gerakannya terhenti, ia lebih suka mengamati wajah Nadin.


Rendi duduk berjongkok di depan Nadin, menyisihkan anak rambut yang bersulur menutupi wajah cantik Nadin, Rendi mengelus pipi Nadin.


"Aku tidak pernah berfikir hubungan kita hingga sejauh ini, sebelumnya aku hanya menganggapmu gadis kecil, tapi entah sejak kapan aku mulai menganggapmu sebagai seorang wanita.


Hatiku menghangat saat bersamamu, kau bagai pelangi dalam hidupku yang hanya ada hitam dan putih."


Rendi mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di bibir Nadin, entah kenapa untuk mengakuinya sampai saat ini ia belum mempunyai keberanian.


Setelah puas memandangi wajah Nadin, Ia pun menyusupkan tangannya di balik punggung dan paha Nadin, dengan sekali hentakan saja tubuh Nadin sudah berada dalam gendongannya, Nadin bukannya bangun ia malah menyusupkan kepalanya ke dada bidang Rendi.


Tubuh Nadin sudah berpindah ke atas tempat tidur,rendi menutup tubuh Nadin dengan selimut hingga ke atas dada.


Rendi pun ikut naik ke atas tempat tidur, ia mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.


Rendi menengadahkan badannya, menatap langit-langit kamar, ia mengingat kembali bagaimana saat ayah Roy menyerahkan Nadin.


"Nak Rendi, saya sebagai ayah Nadin sebenarnya begitu berat menyerahkannya pada orang lain, tapi saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menyetujui kalian menikah, tapi aku mohon satu hal nak Rendi, biarkan dia menikmati masa mudanya terlebih dahulu, dia masih terlalu muda untuk mengerti arti menjadi seorang istri dan menjadi seorang ibu.


Jadi aku mohon kalau bisa tolong tunda dulu untuk mendapatkan momongan ...., Aku tahu usia nak Rendi sudah sangat cukup, tapi tolong tunggu satu atau dua tahun lagi!"


Ucapan panjang dari ayah mertua masih sangat terngiang di telinga Rendi, walaupun berat ia tidak bisa mengabaikannya, memang Nadin masih terlalu muda untuk memikirkan semuanya.


Plek


Tiba-tiba tangan Nadin mendarat di dada Rendi, membuat lamunan Rendi pecah, ia segera menoleh ke samping, ternyata Nadin sudah berpindah posisi, Nadin sudah memiringkan badannya, memeluk tubuh Rendi.


Plek


Lagi-lagi kini kaki Nadin yang beraksi, Nadin menjatuhkan kakinya tepat di atas pangkal paha Rendi.


Astaga anak ini kalau tidur .....


Rendi hanya bisa mendengus, apa lagi sekarang Nadin malah menggesek-gesekkan kalinya tepat di sana, membuat Mr. RJ bangun dengan sendirinya.


Aku akan benar-benar menciummu jika seperti ini ....


"Rendi sabar ....., Sabar ....!" Ucap Rendi sambil meredakan gejolak di bawah sana. Apalagi sekarang paha mulus itu begitu terlihat di mata Rendi, kancing baju atas Nadin juga sedikit terbuka, menampakkan gundukan itu, membuat Rendi semakin memanas.


Rendi segera memejamkan matanya, berusaha menghindar agar tidak melihatnya, tubuhnya terasa semakin panas saja.


"Ayah mertua, kau benar-benar menempatkan aku dalam dilema besar!" Rendi pun segera menggeser tubuhnya agar tidak di timpa Nadin, ia menggulung tubuh Nadin dengan selimut agar ia tidak bisa melihatnya dan segera berlari ke kamar mandi, Mr. RJ nya sedang ingin di manja.


"Aku benar-benar harus mandi tengah malam!" Keluhnya yang sudah berada di dalam kamar mandi.


Rendi mengguyur badannya di bawah shower sambil memanjakan Mr. RJ nya yang tidak mendapat jatah lagi malam ini, ia hampir satu jam berada di kamar mandi.


Setelah kembali ke tempat tidur, ia mendapati istrinya itu sudah terlepas lagi dari selimutnya, kini wajah Rendi benar-benar di buat memanas kembali, rasa dingin saat keluar dari kamar mandi seketika menguap, bagaimana tidak Nadin dalam keadaaan terlentang dengan paha yang terbuka hingga pangkal paha.


Rendi mendekati Nadin, ia ingin sekali memegangnya tapi tangan yang sudah terulur ia tarik kembali,


Kenapa kalau tidur dia banyak tingkahnya sih ....


Rendi mendekati wajah Nadin, mengecup bibirnya, dan turun ke leher jenjang Nadin, tubuh Rendi benar-benar memanas, ia menyusupkan wajahnya ke belahan buah dada itu, meninggalkan kecupan di sana. Entah alam bawah sadar Nadin sedang merasakan apa, tapi Nadin juga melengus.


"Eughh .....eh ....!" lenguhan itu berhasil keluar dari bibir Nadin, tapi dia masih tetap memejamkan matanya.


Rendi yang mendengarkan lenguhan itu, segera menarik wajahnya, mengamati apa Nadin terbangun karena ulahnya, ternyata ia masih tidur pulas.


"Sial ...!" umpat Rendi saat lagi-lagi Mr. RJ nya sudah berdiri seperti senapan siap tembak. Rendi untuk kedua kalinya harus bermain sendiri di kamar mandi.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy reading 😘😘😘😘😘**