MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Hari-hari Rendi tanpa Nadin



Hari-hari Rendi hancur tanpa Nadin, ia seperti


kebakaran jenggot, ia mencari kesana-kemari seperti orang gila. Semua anak


buahnya ia kerahkan untuk mencari keberadaan Nadin. Rendi melacak Nadin dari


nomor ponselnya, tapi Nadin terlalu cerdik.


“Bu Nadin sudah menonaktifkan nomornya pak!”


“Tetap lakukan pencarian!”


Rendi melepas aerophonenya dan melemparnya begitu saja, ia terus


menyusuri jalanan hingga jalan itu menjadi gelap.


Dari jalan yang masih rama


kini menjadi begitu sepi. Rendi menghentikan mobilnya di bahu jalan, menopang


kepalanya dengan stir mobil. Sepertinya pria itu sedang menangis, sejak kapan


pria itu menjadi suka sekali menangis?


Karena terlalu lelah seharian tidak mengistirahatkan tubuhnya membuatnya memejamkan mata,


tubuhnya begitu lelah, hatinya begitu remuk, harapannya lepas begitu saja. Apa


yang dia anggap benar ternyata menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.


tok tok tok


Tiba-tiba pintu mobilnya di ketuk dari luar, membuat Rendi segera membuka matanya, cahaya begitu terang membuat matanya silau, ia menutup matanya dengan lengannya,


perlahan-lahan membukanya.


“Ini sudah siang!”


gumam Rendi, ia melihat siapa yang mengetuk pintu mobilnya, ternyata anak


buahnya. Rendi menurunkan kaca mobilnya.


“Ada apa?”


“berdasarkan data penerbangan, ada jadwal penerbangan atas nama ibu Nadin pagi tadi!”


“Kemana?”


“Dengan tujuan korea selatan! Bu Nadin juga melakukan penarikan uang beberapa waktu lalu sebesar 200


juta!”


“pesankan penerbangan ke korea selatan sekarang juga!”


“baik pak!”


Rendi segera memacu


mobilnya menuju ke apartemen, ia menyempatkan diri untuk melihat keadaan


Davina, beberapa waktu lalu keadaannya sempat memburuk, Rendi meminta Ajun


untuk mengurusnya sementara waktu.


Ia kembali ke rumah di


mana mereka menghabiskan waktu selama hampir dua tahun di rumah itu, banyak


sekali kenangan Nadin di sana, ia seperti melihat wanita itu di setiap sudut


rumah itu.


“Aaaa ……!” teriak


Rendi, ia menjatuhkan tubuhnya di lantai, menjambak rambutnya sendiri, bajunya


tak serapi biasanya, begitru berantakan, rambutnya pun di biarkan berantakan.


“kenapa? Kenapa harus


pergi? Banyak harus kita bicarakan dan kau memutuskannya sendiri!”


Rendi mengambil foto


Nadin di atas meja, mengusapnya di sana, memperhatikan wajah yang di rindukan.


“kau lihat …! Hanya sehari …, hanya sehari …., sehari tampamu membuatku gila seperti ini, kau berhasil! Lalu kapan kau akan berhenti marah, kemablilah jangan diam saja!”


Rendi teringat kenapa


ia kembali ke apartemennya, ia akan ganti baju dan berangkat ke korea.


“aku akan menyusulmu


kemanapun kau pergi, jangan harap bisa lepas dariku!”


Rendi meletakkan foto


itu di tempatnya dengan sangat hati-hati. Rendi bergegas ke kamar mandi, mandi


sebentar dan segera mengganti bajunya, ia tidak butuh baju ganti, rendi hanya


membawa sebuah tas kecil.


Rendi melakukan


penerbangan ke korea selatan bersama anak buahnya, mereka melacaik keberadaan


Nadin di sana, mengunjungi semua tempat yang mungkin di kunjungi oleh Nadin


dari penarikan uang di beberapa atm di sana, Dini sengaja melakukan penarikan


beberapa kali di beberapa tempat yang berbeda, setelah beberapa hari, Rendi


kehilangan jejak, taka da penarikan lagi atas nama Nadin.


Hingga beberapa hari


rendi tetap bertahan di sana, hasilnya nihil, Nadin mengecohnya lagi. Dini juga


sudah kembali ke Indonesia. Tapi bukan dengan penerbangan atas nama Nadin tapi


dirinya sendiri.


“Ada yang aneh pak!” ucap anak buah Rendi.


“Apa?”


“Ibu Nadin melakukan


penerbangan sendiri ke Korea selatan, tapi beberapa hari yang lalu sahabat ibu


Nadin yang bernama Dini kembali ke Jakarta tanpa ibu Nadin!”


“Apa ini berarti?”


“Iya pak, sepertinya ibu Nadin sengaja mengelabuhi kita, sebenarnya ibu Nadin tidak pernah pergi ke luar Negri!”


“Kita harus segera kembali ke Indonesia!”


“baik pak!”


Lagi-lagi Rendi


berhasil di kelabuhi oleh istri kecilnya. Rendi melakukan perjalanan kembali ke


Jakarta. Ia harus mulai menyusun rencana untuk menemukan istri kecilnya.


tidak ke apartemen dulu, ia memilih menuju ke rumah ayahnya, mungkin istrinya


di sana, atau di rumah ayah mertuanya, atau mungkin di rumah kakaknya. Rendi


mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.


Rendi memarkir mobilnya


di halaman luas rumah ayahnya. Ragu sebenarnya untuk ke sana, tapi ia harus


menurunkan egonya demi menemukan istrinya.


“Selamat siang pak Rendi!” Seorang penjaga menyapa Rendi yang baru saja turun dari mobilnya. Membuat Rendi terpaksa menghentikan langkahnya.


“Apa ayah ada?” tanya Rendi tanpa menoleh.


“Tuan di dalam!”


“Terimakasih aku akan menemuinya!”


Rendi masuk ke dalam rumah,


Salman sedang duduk membaca surat kabar di ruang keluarga.


“Rendi, kau datang sendiri, di mana istrimu?” tanya ayah Salman saat menemukan putranya hanya datang seorang diri dengan penampilan yang tidak seperti biasanya.


“Nadin tidak di sini?”


“maksudmu?”


“Nadin pergi!”


ucapan Rendi seketika berhasil membuat pria paruh baya itu terperanjat dari duduknya,


surat kabarnya terlepas begitu saja dari tangannya.


“pergi?”


“Semua karena salah paham, hanya salah paham!”


Tanpa pamit dari


ayahnya Rendi segera meninggalkan rumah itu, putramnya itu terlihat kacau,ia


sudah mengenal siapa putranya, jika ia tidak bicara berarti memang ada sesuatu


yang perlu untuk ia simpan beberapa saat.


Rendi memilih


melanjutkan perjalannya ke rumah ayah mertuanya, siapa tahu ia bisa menemukan


istrinya di sana.


Tak banyak yang di lakukan Rendi, ia langsung menuju ke rumah ayah mertuanya, berharap bisa menemukan istrinya di sana.


“Rend!” sapa ayah


mertuanya saat Rendi turun dari mobilnya.


“Ayah …!”


Ayah Roy yang melihat


menantunya terlihat begitu kacau segera mengajaknya untuk duduk di bangku yang


sama seperti malam itu, bangku yaqng ada di depan tokonya.


“Ada apa?”


Pertanyaan dari ayah


mertuanya sudah menggambarkan jika Nadin juga tidak ada di sana, lalu di mana istri


kecilnya itu. Rendi hanya bisa mengusap kasar rambutnya, menutup wajahnya


dengan tangannya dan menyandarkan kedua sikunya pada pangkuannya, ayah Roy


mengusap punggung menantunya.


“Apa ada masalah dengan keluarga kalian?”


“Maafkan aku ayah!”


“Ada apa?”


“Nadin memilih pergi meninggalkanku, dia pergi karena kesalah pahaman!” Rendi menitikkan air matanya, mengadu seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ayahnya. Untuk pertama kalinya ayah Roy melihat menantunya itu menangis, pria dingin itu menunjukkan perasaannya, ia kira selama ini pria itu tidak akan pernah bisa memiliki perasaan sedalam itu, tapi yang ia lihat saat ini adalah bukti bahwa dugaannya salah, pria di depannya begitu mencintai putrinya.


Ingin rasanya marah dan meledak-ledak, tapi saat melihat air mata menantunya itu, rasanya tidak adil jika dia memarahinya, pasti beban pria itu sudah sangat banyak, tidak mungkin ia semakin memperburuk keadaan dengan menyalahkannya juga atas kepergian putrinya.


“Mungkin dia sedang ingin sendiri, biarkan dia sendiri untuk beberapa waktu, ayah yakin dia akan baik-baik saja. Ayah tahu semua tentang putri-putri ayah, Nadin akan yang kuat,


jangan khawatir!”


“Terimakasih ayah, tapi ucapan ayah benar-benar berhasil membuatku tenang!”


“Istirahatlah …, semua akan baik-baik saja! Cepat atau lambat dia pasti akan kembali!"


Rendi benar-benar bersyukur, ayah mertuanya benar-benar bijak. Ia sungguh merasa bersalah, tapi ayah mertuanya bukannya menyalahkan tapi malah menenangkan hatinya.


“Saya permisi yah!”


Setidaknya ucapan ayah


mertuanya sedikit memberinya ketenangan.


Rendi memutuskan untuk kembali ke


apartemen.


Setelah sampai di apartemen, ia tidak berniat untuk menemui Davina, ia meminta Ajun untuk menemuinya.


“Selamat malan pak!" sapa Ajun saat sampai di depan Rendi.


“Bagaiamana keadaannya?” tanya Rendi dengan nada dinginnya, pria itu dingin dan semakin dingin.


“beberapa kali bu Davina menanyakan anda dan bu Nadin!”


“Jangan mengatakan apapun padanya, bilang saja semuanya baik-baik saja!”


“Baik pak!”


“Pergilah, aku sedang ingin sendiri!”


“baik pak!”


Kini di rumah itu


tinggal Rendi seorang, ia kembali meratapi kesendiriannya. Saat malam tiba


adalah hari yang buruk untuknya tanpa Nadin, dulu sebelum Nadin per4gi, saat


hari mulai petang adalah hari yang paling ia tunggu karena bisa melihat


istrinya menyambutnya di rumah.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘