MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 37 (Dini)



"Ajun!?"


Dini segera beranjak saat mengingat pria itu, pikirannya sudah buruk jika mengingat dua pria tadi.


"Lama banget sih .....!" ucap Dini sambil memencet tombol agar pintu segera terbuka.


"Ayo lah cepetan terbuka .....!" ucap Dini kesal sambil memukul pintu lift yang tidak juga terbuka. dan ....


Dan ternyata di luar Ajun juga datang dengan wajah cemasnya dengan sedikit berlari, ia segera menghampiri pintu lift berharap dua pria yang mengejarnya tidak bertemu dengan Dini.


Ia harus menemukan Dini lebih dulu sebelum dia orang itu, kalau tidak bisa jadi Dini yang akan jadi sasaran mereka.


Ting


"Akhirnya kebuka juga .....!" ucap Dini yang sudah hampir melangkah, tapi matanya sudah langsung bisa melihat Ajun di depannya dengan wajah khawatir.


Keringatnya membasahi sebagian kemejanya dengan begitu berantakan. Sebagian ujung bawah kemejanya tidak masuk ke dalam celana dan dengan lengan yang terjuntai tanpa di kancingkan.


"Ajun!" ucap Dini, ia segera melangkah keluar menghampiri pria yang juga terpaku di tempatnya dengan jarak satu meter di depan pintu lift sepertinya dia juga hendak masuk ke dalam lift.


Sreekkkkkk


Tiba-tiba saja pria itu mengungkung tubuh mungil Dini ke dalam pelukannya.


Ada apa ini ....? Kenapa dia memelukku ..., jantungku, kenapa dengan jantungku? Jangan lepas dulu, aku masih mau idup ...., Batin Dini yang merasakan hal yang aneh di dalam tubuhnya, seperti naik roller coaster dengan kecepatan tinggi. Karena terlalu kerasnya ia berdetak sampai rasanya mau lepas dari tempatnya.


Dia baik-baik saja ...., syukurlah ...., Batin Ajun saat melihat Dini tidak kurang satu apapun.


"Ajun?" gumam Dini yang suaranya sedikit tertahan karena ia tidak mau jika Ajun menyadari betapa deg degannya dia saat ini, "Kamu tidak pa pa ?"


"Kau bertemu mereka?" tanya Ajun yang masih belum melepaskan pelukannya.


"Iya ..., di bawah! Apa mereka menyakitimu? Apa kau habis berlari? Apa kalian berkelahi?" tanya Dini.


Srreeeeekkkkkk


Mendengar pertanyaan Dini yang panjang lebar itu, Ajun segera melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong tubuh Dini agar menjauh.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Ajun.


Dini mendongakkan kepalanya pada pria bertubuh tinggi itu, "Tubuhmu berkeringat sekali!"


Apa aku bau? Ajun jadi memikirkan hal itu, ia tidak mengerti kenapa ia bisa reflek memeluk gadis itu saat melihat dia baik-baik saja.


"Aku abis olah raga, ayo cepetan kamu sudah terlambat lagi hari ini, aku lapar, buatkan makan malam untukku!" ucap Ajun sambil berjalan meninggalkan Dini, ia tidak mau sampai Dini melihat jika wajahnya merona merah.


"Kenapa jadi aku di tinggal? Emang dia aja yang lapar, aku juga lapar, issstttt .....!" Dini mengejar langkah Ajun yang lebar itu.


***


Mereka sudah duduk di ruang makan, menyantap makanan seadanya yang baru saja di masak oleh Dini, oseng jamur dan tauge.


"Mereka siapa sih?" tanya Dini penasaran.


Ajun segera menghentikan kunyahannya dan menatap Dini.


"Kenapa?" tanya Ajun.


"Ya aku kan jadi penasaran, kenapa mereka mengejarmu? Kalau mereka berurusan dengan pak Rendi, seharusnya yang di kejar kan pak Rendi, tapi kenapa kamu?"


"Nggak usah pengen banyak tahu! Bukan urusan kamu!"


"Itu sekarang jadi urusanku ya!" ucap Dini sambil tiba-tiba berdiri dan mengacungkan sendoknya pada Ajun dengan tangan kiri yang ia letakkan di pinggang.


"Augh ...., augh .....!" pekik Dini. Dengan cepat tangan kiri Ajun sudah mengunci tubuh Dini dan memutar tangan Dini di belakang punggungnya.


"Sakit tahu ...., apa-apaan sih ....!" gerutu Rini sambil melepaskan diri dari kuncian Ajun. Dini kembali duduk begitupun dengan Ajun.


"Itulah kenapa aku melarangmu untuk ikut campur, cukup diam saja jangan mencari tahu sesuatu!" ucap Ajun sambil mendekatkan wajahnya pada Dini.


Tapi Dini tidak mau kalah, ia segera berdiri dan balik menekan Ajun, ia mencondongkan tubuhnya pada Ajun dengan berpegangan pada kursi ajun dan meja yang berada di sampingnya.


"Aku tidak selemah itu ya ....! Aku akan cari tahu, dan kau tidak akan bisa mencegahku!"


"Dasar keras kepala!"


"Karena tanpa sadar, kamu dan mereka sudah membuat aku masuk ke dalam masalah ini, jadi mau atau tidak aku harus melanjutkannya!"


"Terserah lah ...., aku mau tidur ngantuk! Minggir .....!" ucap Ajun yang berdiri dan menyingkirkan tangan Dini yang berada di tempat duduknya.


***


Pria itu terus menatap langit-langit kamarnya, ia tidak bisa tidur. Ia terus saja mengingat ucapan Dini, dan memang benar dialah yang sudah memaksa gadis itu masuk dalam masalahnya. Mungkin akan sulit untuknya kembali keluar dan jalan satu-satunya adalah melindunginya.


"Aku harus memikirkan cara, agar mereka tidak bisa menyakitinya!"


Tidak jauh berbeda dengan kamar sebelahnya, gadis kuncir kuda itu masih satia berdiri menatap langit di balkon kamarnya, ia bukan menunggu bayangan yang selalu ia amati dan diam-diam ia foto di balik tirai itu, tapi ia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku pasti bisa melalui semua ini ....., aku sudah pernah ada di posisi ini sebelumnya dan itu tidak ada apa-apa nya!" ucap Dini untuk menguatkan dirinya sendiri.


Bayangan dua pria dengan senjatanya itu membuatnya tidak bisa tidur. Jika saja tangan Ajun tidak cidera, ia pasti bisa lebih tenang.


***


Pagi ini seperti biasa, ia harus mengurus Ajun terlebih dulu sebelum berangkat ke kafe. Ia sudah membuat daftar kegiatan hari ini sebenarnya, ia juga mengingat janji makan malam yang sudah di rancang oleh orang tuanya.


"Malam ini aku nggak bisa pulang cepet!" ucap Dini sebelum menurunkan Ajun di rumah Rendi.


Ajun yang sedang memeriksa pekerjaannya segera menoleh pada Dini, "Ada apa?"


"Aku mau makan malam di luar sama orang yang mau di jodohin sama aku!" ucap Dini, ia sebenarnya ingin melihat bagaimana reaksi pria di sampingnya itu, iseng aja siapa tahu ada hal yang tidak ia tahu.


Ajun kembali menatap Dini, "Nggak penting!" ucap Ajun dingin lalu turun begitu saja meninggalkan Dini.


tuk tuk tuk


Tiba-tiba ia mengetuk kaca mobil dari luar saat Dini sudah hampir melajukan mobilnya, Dini pun segera menurunkan kaca mobil.


"Ada apa?" tanya Dini ketus.


"Jangan terlalu malam pulangnya!" ucap Ajun dan berbalik begitu saja meninggalkan Dini. Dini masih bisa melihat punggung pria itu,


"Cuma kayak gitu?!" Sedikit kecewa dengan tanggapan pria itu. Ia pun segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nadin.


Dini tidak mau memaksakan apa yang tidak mungkin terjadi, ia memilih menyerahkan semuanya pada takdir.


Ia segera ke kafe melakukan pekerjaan seperti biasanya, tidak ada yang istimewa hari ini, kecuali acara makan malam yang di rencanakan oleh orang tuanya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 🥰🥰🥰