
Nadin pun akhirnya masuk seorang diri dan membiarkan
dua orang itu menunggunya di luar. Elex dan Aisyah duduk di luar ruangan dengan
saling diam, mereka duduk dengan jarak yang sangat aman, untung saja tidak
banyak yang mengantri jadi banyak bangku yang kosong.
Alex melipat tangannya di depan dada, rasanya malas
berduaan dengan gadis yang menurutnya begitu menutup diri seperti Aisyah.
Sedangkan Aisyah memilih untuk memilin bajunya yang menjulang panjang hingga
atas lutut, dengan rok yang lebar hingga menutup seluruh kakinya.
"Selamat siang dok!" sapa Nadin pada dokter yang biasa menangani kehamilannya.
"Bu Nadin, silahkan langsung saja!" dokter menunjuk pada tempat yang biasa di gunakan untuk pemeriksaan , seperti biasa, dokter akan mengoleskan jel pada perut Nadin, terdengar detak jantung yang begitu keras di monitor.
"Detak jantungnya normal Bu, bayinya juga sehat!"
Dokter menerangkan banyak hal pada Nadin, karena sudah memasuki trimester ke tiga, jadi dokter juga memberikan wejangan wejangan kalau kalau ada sesuatu yang ganjil, atau biasanya juga ada kontraksi semu, atau jika ada pendarahan dini.
"Apa Bu Nadin ingin tahu jenis kelaminnya?"
"Tidak usah dok, biarlah menjadi surprise saja, cewek ataupun cowok sama saja, cinta dan kasih sayang yang akan aku berikan akan tetap sama!"
"Beruntung sekali anak ini, mendapatkan ibu sebaik Bu Nadin!"
"Semua ibu pasti akan melakukan hal itu dok, ya sudah kalau begitu saya permisi dok!"
"Iya jangan lupa datang ke sini dua Minggu lagi ya Bu!"
"Iya dok!"
Setelah setengah jam menunggu akhirnya Nadin keluar
juga dari ruang pemeriksaan, secara bersamaan Alex dan Aisyah bersamaan berdiri
dan menghampiri Nadin.
“Bagaimana hasilnya?” Tanya Alex dan Aisyah
bersamaan. Nadin hanya menatap mereka secara bergantian.
Mereka cocok sekali …
Nadin tersenyum membuat dua orang dengan sifat yang
kontras itu menjadi bingung.
“Kenapa tersenyum seperti itu?” Tanya Alex.
“Tidak pa pa …, hanya lucu saja!”
“lalu hasilnya bagaimana Kak?” Tanya Aisyah.
“Baik, tidak ada masalah …, semuanya baik!”
“baguslah …, kalau begitu biar aku antar kalian
pulang lagi!”
🌺🌺🌺🌺
Hari berlalu begitu cepat, kandungan Nadin ini
sudah memasuki usia delapan bulan. Nadin memutuskan untuk berhenti bekerja dari
perusahaan Alex, tapi meskipun berhenti dari pekerjaannya, Alex tetap saja
setiap hari mengunjungi rumah Nadin, memastikan bahwa nadin dan kandungannya
baik-baik saja.
“Mas …, sebentar lagi dia akan lahir ke dunia, apa kau masih berusaha mencari kami? Bagaimana kabarmu mas? Apa kau sudah menikah dengan kak Davina?”
Nadin duduk di atas tempat tidur, dia menselonjorkan
kakinya, langkahnya sudah sangat terbatas. Nadin mengelus perutnya yang besar.
“auhg ….!” Pekik Nadin saat ia merasakan bayi dalam
kandungannya menendang.
“kau juga tidak sabar untuk melihat dunia ya sayang …? Walaupun tanpa ayahmu, bunda janji kau tidak akan pernah merasakan
kekurangan kasih sayang!”
Tanpa terasa air mata Nadin meleleh begitu saja, saat malam hari seperti ini adalah saat yang sangat berat bagi hidupnya, dia
sudah membayangkan jika sedang hamil seperti ini maka, suaminya akan dengan
sabarnya mengelus punggungnya yang pegal, memijat kakinya sebelum tidur, tapi
semua bayangan itu musnah dalam sekejap.
Memikirkan jika suaminya akan menikah dengan Davina
sudah cukup membuat hatinya hancur.
“Anak itu pasti sudah besar! Apa kau juga akan
merawatku seperti kau merawat kak Davina jika aku berada di dekatmu?”
pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali ia mempertanyakan cinta
suaminya, apakah masih pantas dia menyebut suami, tapi rasanya belum rela untuk
benar-benar melepaskan. Harapan itu masih sangat besar, harapan bahwa suaminya
akan datang dan menjelaskan semuanya dan itu bukan sebuah kebenaran, dugaannya
adalah salah.
Setiap malam hal yang sama selalu ia pertanyakan,
setiap mengingat suaminya sanggahan dari hatinya selalu mematahkan
keyakinannya, walaupun hatinya terus menyanggah bahwa suaminya tidak
mencintainya tapi nyatanya dia tidak datang, apa sebegitu sulitnya mencari
keberadaannya.
Pagi hari nadin lalui dengan jalan pagi, kata dokter jalan adalah terapi terbaik bagi orang yang hamil tua agar bisa melahirkan
normal. Nadin berjalan keliling gang, sesekali ia akan berhenti ketika
merasakan lelah.
Pagi ini Nadin juga melakukan hal yang sama, jalan pagi sambil membeli sayur pada penjual sayur keliling, tak jarang ibu-ibu
komplek saling membicarakan Nadin, membicarakan tentang kehamilannya tanpa
suami, tapi hal itu tidak membuat Nadin merasa kesal, mereka tidak tahu
kenyataannya, biarkan orang bicara.
“pagi mbak Nadin!” sapa salah satu ibu yang juga
melintas, sepertinya ibu itu juga akan berjalan ke ujung gang untuk mencari
“Pagi bu!” Nadin tetap santai dengan langkahnya,
sambil menikmati lagi dari ponselnya yang ia hubungkan dengan headset.
“Pasti sulit ya mbak Nadin, hamil tanpa di temani
sama suami?” Tanya ibu itu dengan nada yang mengintimidasi.
“Biasa aja bu!” jawab Nadin dengan santainya, itulah
Nadin, walaupun hatinya rapuh tapi tetaplah dia berusaha tegar dan tersenyum
di depan orang lain. Tak ada yang lebih baik dari pada menerima kenyataan
dengan lapang dada.
Apa gunanya
menangis di depan orang lain, orang itu jika kita menangis hanya ada dua hal
yang kita dapat, satu dia akan menertawakan tangis kita di belakang dan yang ke
dua dia akan menerima tangis kita dengan tulus, tapi itu tidak banyak.
“Mbak Nadin jangan seperti itu, memang suami mbak
Nadin kemana sih?”
“Ada!”
“Kalau ada suaminya suruh pulang mbak, kasihan kalau mbak Nadin melahirkan tanpa di damping sama suami!”
“Banyak di luar sana walaupun di temani suami tapi
tetap saja mereka kesusahan, setidaknya saya tetap bahagia dan menikmati
kehamilan saya bu, terimakasih ats sarannya bu, saya permisi!”
Nadin memilih jalan lain, terus bersama dan
menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka membuat hati bertambah sesak.
Tin tin tin
Tiba-tiba sebuah mobil berjalan mensejajari
langkahnya, kaca mobil terbuka dan Alex muncul dari dalam mobil itu saat Nadin
menghentikan langkahnya.
“Ngapain pagi-pagi sudah di sini? Kurang kerjaan
banget!” Nadin sudah kesal, sekarang di tambah kedatangan Alex membuat mood
paginya bertambah hancur saja.
“Sewot sekali …, mau ikut aku?”
“Kemana?” Nadin menatap Alex malas.
“Aku mau belanja keperluan baby!” ucap Alex, seketika berhasil membuat Nadin terkejut, sejak kapan pria itu punya bayi?
“Baby siapa?”
“Baby aku!”
“Sejak kapan kau punya baby?”
“Sejak ...., nanti saat kau sudah melahirkan!”
“Enak saja ngaku ngaku baby kamu!’
“Jangan lupa ya, aku yang kesusahan saat kau
ngidam!”
“Perhitungan sekali!”
“Ayo masuk, jangan banyak protes!”
Akhirnya Nadin menyerah, setidaknya jalan-jalan
dengan Alex akan sedikit merefresh pikirannya sejenak dari pada di todong
pertanyaan ibu-ibu kompleks sekalian belanja bulanan.
🌺🌺🌺
Pagi ini saat Nadin hendak bangun dari tidurnya, ia
merasakan pinggangnya begitu sakit, sejak semalam ia merasakan kontraksi
berkali-kali. Dokter mengatakan hal itu adalah hal wajar yang di alami ibu
hamil saat usia kandungannya sudah mendekati masa melahirkan.
“Augh …!” pekik Nadin saat merasakan perutnya
kembali merasakan kontraksi.
“Sabar ya sayang …, kamu nggak sabar ya ingin segera
ketemu sama bunda!”
Nadin beberapa kali mengelus perutnya, ini masih
begitu pagi. Bahkan matahari pun belum menampakkan sinarnya, Nadin memilih
untuk melaksanakan sholat subuh,setelah menyelesaikan sholatnya, Nadin memilih
menuju ke dapur, perutnya begitu lapar.
Kontraksinya semakin ke sini semakin sering,
biasanya dua jam sekali kini bertambah menjadi setengah jam sekali. Nadin
mengambil makanan yanga ad di lemari es dan memanaskannya.
“Ah …, lapar sekali!”
Nadin menyantap makanan itu, walaupun sesekali ia
harus memegangi perutnya yang terasa sakit, ia tetap menyantap makanan itu.
Saat hendak mencuci piring, tiba-tiba ia merasakan
kontraksi yang lebih besar, hingga tanpa sengaja ia menjatuhkan piringnya.
“Augh …., sakit sekali …!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘