
Rendi hari ini sengaja mengajak Nadin dan baby El jalan-jalan. Ia bukan hanya hari libur, sebenarnya Rendi bisa meminta libur
kapan saja, tapi selain itu ini juga hari istimewa untuk Nadin, ini hari ulang tahunnya.
Mungkin wanita itu sudah melupakan hari kelahirannya itu tapi tidak bagi Rendi. Pria dingin itu sekarang sudah bertransformasi
menjadi pria yang hangat dan sangat perhatian, kebucinannya sudah tingkat dewa.
Menemukan Nadin kembali adalah anugrah terbesar dalam hidupnya, masalah di maafkan
adalah proses yang panjang tapi dengan tekat yang kuat dia akan terus berusaha.
Hidup tanpa Nadin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, kepandaiannya menjadi kelemahan baginya dalam urusan cinta, setelah
ini apa yang menimpa rumah tangganya dia baru sadar jika tidak semua hal bisa
di selesaikan dengan otak, ada beberapa hal harus di selesaikan dengan hati.
“Kenapa kita ke sini?” Tanya Nadin saat mereka sudah sampai di depan sebuah butik.
“Aku harus membuatmu cantik kembali, menemukan Nadin yang ceria dan penuh cinta!” ucap Rendi sambil membukakan pintu mobil untuk Nadin.
“ini tidak perlu ….!”
Nadin masih enggan untuk keluar dari dalam mobil, membuat Rendi begitu gemas.
“Apa perlu aku gendong sayang?” Tanya Rendi dengan senyum yang menggoda, membuat Nadin lagi-lagi terpesona dengan senyum yang
akhir-akhir ini menghiasi wajah dingin itu.
“Nggak!” tolak Nadin sabil turun dari mobil dan
mendahului Rendi. “Memang bagaimana mau menggendong aku, aku aja gendong baby
El!” gerutu Nadin sepanjang jalan masuk ke dalam butik, membuat Rendi hanya
tersenyum sambil menggelengkan kepalanya gemas dengan tingkah Nadin.
“Selamat datang bu Nadin!” sapa salah satu wanita yang ada di butik itu, sepertinya pemilik butik,
Dia mengenalku? Nadin hanya bisa tersenyum dan berbalik menatap Rendi dan Rendi hanya mengangkat kedua bahunya pura-pura tidak tahu apapun.
“Perkenalkan nama saya Renna, saya pemilik butik ini!” ucap wanita yang telah menyambut Nadin tadi. Ia segera menepuk tangannya
dan seorang wanita lain menghampiri Nadin dan baby El.
“Biarkan babynya sama saya ya bu!” salah satu dari mereka segera meminta baby El.
‘Tapi…!” Nadin hendak menolak.
“Kami akan mempersiapkan babynya juga!” ucap wanita yang meminta baby El, membuat nadin menoleh kembali pada Rendi.
“Biarkan mereka membawa putra kita!” ucap Rendi membuat Nadin bersedia menyerahkan baby El pada wanita dengan wajah lembut tadi
dan sepertinya baby El juga tidak keberatan.
“Mari bu ikut saya!” ajak wanita yang bernama Renna tadi, yang pertama menyapa Nadin tadi, Nadin pun hanya bisa menyerah. Ia di
ajak ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada tiga orang wanita jadi-jadian
disana yang juga siap menyambutnya dan tentunya sederet gaun yang siap di pakai
oleh nadin.
“waw …, cantiknya …! Inikah ruan putri yang akan kita otak atik hari ini?” Tanya salah satu wanita setengah pria itu.
“Iya …, buat bu nadin secantik mungkin!”
“Siap madam!”
“Saya akan meninggalkan bu Nadin bersama mereka ya!”
“Tapi…!” Nadin merasa ragu melihat penampilan ketiga
wanita jadi-jadian itu.
“Jangan khawatir, mereka adalah perias handal di butik kami, ini yang baju pink adalah moldi, biasa kami memanggilnya Melinda,
itu mereka adalah timnya inces dan Dara!”
Akhirnya Nadin menyerah, setelah wanita itu
meninggalkan Nadin bersama tiga makluk jadi-jadian itu, nadin pun di minta
memilih gaun yang cocok untuknya.
‘Ayo cantik …, pilih mana yang paling kau suka!”
ucap wanita jadi-jadian itu yang sepertinya ketuanya yang bernama Merlinda.
Nadin pun memilih gaun-gaun yang menggantung indah
itu. Pilihannya tertuju pada sebuah gaun dengan warna putih , sederhana tapi
berkelas.
“Aku pilih yang ini saja!”
“Pilihan yang bagus, sayang …!”
“Ayo inces …, temani dia ganti baju!” perintah
“Tidak usah, aku ganti baju sendiri!” tolak nadin
dengan cepat. Ada-ada aja orang-orang
ini, mana mungkin aku mau ganti baju sama mereka ….
“baiklah …., ruang gantinya di sana!” ucap Merlinda dengan gaya kemayunya.
Nadin pun menuju ke dalam ruangan yang di runjuk
oleh Merlinda dengan membawa gaun pilihannya. Dengan cepat Nadin mengganti
bajunya dengan gaun itu, tapi sekarang ada masalah lagi, tanda kepemilikan yang
sedari pagi telah berusaha keras ia tutupi kini terbuka sudah.
“Aduh …, aku salah pilih gaun lagi …, sekarang
bagaimana?” Nadin bingung harus menutupi bagaimana lagi, gaunnya cukup rendah,
dengan dada yang sedikit terbuka. Tanpa lengan.
Nadin pun memutuskan menutupnya dengan baju yang ia
pakai tadi, ia akan mencari gaun lain yang lebih tertutup. Nadin keluar dengan
gaun pilihannya tapi bajunya ia gunakan sebagai untuk menutupi bagian dada dan
lehernya.
“Boleh aku pilih gaun lainnya, ini sepertinya tidak cocok untukku!” ucap Nadin saat benar-benar keluar, Merlinda dan kawan-kawannya
menatap padanya.
“wau …., cantik sekali …., tapi kenapa di tutup
seperti itu?” Tanya Inces yang sudah menghampiri Nadin, Inces memang terlihat
lebih ramah dari pada Dara, Dara lebih kalem dan masih ada maco nya.
“Tidak pa pa …, hanya kurang cocok saja!” ucap Nadin
mencoba beralasan.
“Coba di buka …!” Inces langsung menarik baju yang
menutupi dada Nadin hingga dada Nadin terbuka, mata ketiga wanita jadi-jadian
itu seketika terpesona. Membuat Nadin salah tingkah dan segera menutup kembali
dadanya dengan telapak tangannya.
“Sudah ku bilang, ini tidak cocok!” keluh nadin
dengan wajah yang memerah karena menahan malu.
Ha ha ha
Mereka bertiga malah menertawakan kepolosan nadin.
Membuat Nadin lebih malu lagi.
“Kenapa kalian malah menertawakanku?”
Merlinda segera mendekati nadin. “Ini tidak masalah nona cantik!” Merlinda menarik tangan nadin dan memintanya duduk di depan
cermin.
“Ini tidak masalah sayang, bisa di atur …! Ternyata
pangeran itu benar-benar perkasa ya …, pangeran dingin yang mempesona!” ucap
Merlinda tanpak membayangkan betapa mempesonanya Rendi membuat nadin menatap
tajam pada Merlinda. Mau bagaimanapun hubungannya dengan pria dingin itu, tapi
tetap saja ia tidak suka jika orang lain membayangkan aneh-aneh pada suaminya
itu.
“maaf-maaf …., baiklah …, aku akan mengatasinya! Ini
bisa di tutup dengan beberapa olesan saja cantik, jangan khawatir, ayo ladis
…., cap cus ….!”
Mereka bertiga bertindak begitu lincah memake over
nadin, memberi polesan pada wajah Nadin sehingga terlihat lebih segar.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘