MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Hari istimewa Nadin



Rendi hari ini sengaja mengajak Nadin dan baby El jalan-jalan. Ia bukan hanya hari libur, sebenarnya Rendi bisa meminta libur


kapan saja, tapi selain itu ini juga hari istimewa untuk Nadin, ini hari ulang tahunnya.


Mungkin wanita itu sudah melupakan hari kelahirannya itu tapi tidak bagi Rendi. Pria dingin itu sekarang sudah bertransformasi


menjadi pria yang hangat dan sangat perhatian, kebucinannya sudah tingkat dewa.


Menemukan Nadin kembali adalah anugrah terbesar dalam hidupnya, masalah di maafkan


adalah proses yang panjang tapi dengan tekat yang kuat dia akan terus berusaha.


Hidup tanpa Nadin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya, kepandaiannya menjadi kelemahan baginya dalam urusan cinta, setelah


ini apa yang menimpa rumah tangganya dia baru sadar jika tidak semua hal bisa


di selesaikan dengan otak, ada beberapa hal harus di selesaikan dengan hati.


“Kenapa kita ke sini?” Tanya Nadin saat mereka sudah sampai di depan sebuah butik.


“Aku harus membuatmu cantik kembali, menemukan Nadin yang ceria dan penuh cinta!” ucap Rendi sambil membukakan pintu mobil untuk Nadin.


“ini tidak perlu ….!”


Nadin masih enggan untuk keluar dari dalam mobil, membuat Rendi begitu gemas.


“Apa perlu aku gendong sayang?” Tanya Rendi dengan senyum yang menggoda, membuat Nadin lagi-lagi terpesona dengan senyum yang


akhir-akhir ini menghiasi wajah dingin itu.


“Nggak!” tolak Nadin sabil turun dari mobil dan


mendahului Rendi. “Memang bagaimana mau menggendong aku, aku aja gendong baby


El!” gerutu Nadin sepanjang jalan masuk ke dalam butik, membuat Rendi hanya


tersenyum sambil menggelengkan kepalanya gemas dengan tingkah Nadin.


“Selamat datang bu Nadin!” sapa salah satu wanita yang ada di butik itu, sepertinya pemilik butik,


Dia mengenalku? Nadin hanya bisa tersenyum dan berbalik menatap Rendi dan Rendi hanya mengangkat kedua bahunya pura-pura tidak tahu apapun.


“Perkenalkan nama saya Renna, saya pemilik butik ini!” ucap wanita yang telah menyambut Nadin tadi. Ia segera menepuk tangannya


dan seorang wanita lain menghampiri Nadin dan baby El.


“Biarkan babynya sama saya ya bu!” salah satu dari mereka segera meminta baby El.


‘Tapi…!” Nadin hendak menolak.


“Kami akan mempersiapkan babynya juga!” ucap wanita yang meminta baby El, membuat nadin menoleh kembali pada Rendi.


“Biarkan mereka membawa putra kita!” ucap Rendi membuat Nadin bersedia menyerahkan baby El pada wanita dengan wajah lembut tadi


dan sepertinya baby El juga tidak keberatan.


“Mari bu ikut saya!” ajak wanita yang bernama Renna tadi, yang pertama menyapa Nadin tadi, Nadin pun hanya bisa menyerah. Ia di


ajak ke sebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada tiga orang wanita jadi-jadian


disana yang juga siap menyambutnya dan tentunya sederet gaun yang siap di pakai


oleh nadin.


“waw …, cantiknya …! Inikah ruan putri yang akan kita otak atik hari ini?” Tanya salah satu wanita setengah pria itu.


“Iya …, buat bu nadin secantik mungkin!”


“Siap madam!”


“Saya akan meninggalkan bu Nadin bersama mereka ya!”


“Tapi…!” Nadin merasa ragu melihat penampilan ketiga


wanita jadi-jadian itu.


“Jangan khawatir, mereka adalah perias handal di butik kami, ini yang baju pink adalah moldi, biasa kami memanggilnya Melinda,


itu mereka adalah timnya  inces dan Dara!”


Akhirnya Nadin menyerah, setelah wanita itu


meninggalkan Nadin bersama tiga makluk jadi-jadian itu, nadin pun di minta


memilih gaun yang cocok untuknya.


‘Ayo cantik …, pilih mana yang paling kau suka!”


ucap wanita jadi-jadian itu yang sepertinya ketuanya yang bernama Merlinda.


Nadin pun memilih gaun-gaun yang menggantung indah


itu. Pilihannya tertuju pada sebuah gaun dengan warna putih , sederhana tapi


berkelas.


“Aku pilih yang ini saja!”


“Pilihan yang bagus, sayang …!”


“Ayo inces …, temani dia ganti baju!” perintah


“Tidak usah, aku ganti baju sendiri!” tolak nadin


dengan cepat. Ada-ada aja orang-orang


ini, mana mungkin aku mau ganti baju sama mereka ….


“baiklah …., ruang gantinya di sana!” ucap Merlinda dengan gaya kemayunya.


Nadin pun menuju ke dalam ruangan yang di runjuk


oleh Merlinda dengan membawa gaun pilihannya. Dengan cepat Nadin mengganti


bajunya dengan gaun itu, tapi sekarang ada masalah lagi, tanda kepemilikan yang


sedari pagi telah berusaha keras ia tutupi kini terbuka sudah.


“Aduh …, aku salah pilih gaun lagi …, sekarang


bagaimana?” Nadin bingung harus menutupi bagaimana lagi, gaunnya cukup rendah,


dengan dada yang sedikit terbuka. Tanpa lengan.


Nadin pun memutuskan menutupnya dengan baju yang ia


pakai tadi, ia akan mencari gaun lain yang lebih tertutup. Nadin keluar dengan


gaun pilihannya tapi bajunya ia gunakan sebagai untuk menutupi bagian dada dan


lehernya.


“Boleh aku pilih gaun lainnya, ini sepertinya tidak cocok untukku!” ucap Nadin saat benar-benar keluar, Merlinda dan kawan-kawannya


menatap padanya.


“wau …., cantik sekali …., tapi kenapa di tutup


seperti itu?” Tanya Inces yang sudah menghampiri Nadin, Inces memang terlihat


lebih ramah dari pada Dara, Dara lebih kalem dan masih ada maco nya.


“Tidak pa pa …, hanya kurang cocok saja!” ucap Nadin


mencoba beralasan.


“Coba di buka …!” Inces langsung menarik baju yang


menutupi dada Nadin hingga dada Nadin terbuka, mata ketiga wanita jadi-jadian


itu seketika terpesona. Membuat Nadin salah tingkah dan segera menutup kembali


dadanya dengan telapak tangannya.


“Sudah ku bilang, ini tidak cocok!” keluh nadin


dengan wajah yang memerah karena menahan malu.


Ha ha ha


Mereka bertiga malah menertawakan kepolosan nadin.


Membuat Nadin lebih malu lagi.


“Kenapa kalian malah menertawakanku?”


Merlinda segera mendekati nadin. “Ini tidak masalah nona cantik!” Merlinda menarik tangan nadin dan memintanya duduk di depan


cermin.


“Ini tidak masalah sayang, bisa di atur …! Ternyata


pangeran itu benar-benar perkasa ya …, pangeran dingin yang mempesona!” ucap


Merlinda tanpak membayangkan betapa mempesonanya Rendi membuat nadin menatap


tajam pada Merlinda. Mau bagaimanapun hubungannya dengan pria dingin itu, tapi


tetap saja ia tidak suka jika orang lain membayangkan aneh-aneh pada suaminya


itu.


“maaf-maaf …., baiklah …, aku akan mengatasinya! Ini


bisa di tutup dengan beberapa olesan saja cantik, jangan khawatir, ayo ladis


…., cap cus ….!”


Mereka bertiga bertindak begitu lincah memake over


nadin, memberi polesan pada wajah Nadin sehingga terlihat lebih segar.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘