MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 17 (best Couple)



"Depan itu rumah yang pernah di tinggali Nadin?" tanya Agra lagi, walaupun tidak pernah datang ke tempat itu sebelumnya tapi Agra sudah bisa menduganya.


"Iya ...!" jawab Rendi dingin, mau bagaimanapun ia memiliki kenangan yang kurang baik di tempat ini.


"Nadin pernah menolak mu?" tanya Agra sambil mengangkat kedua alisnya, tapi Rendi memilih untuk tetap diam. Diamnya Rendi berarti menandakan jika itu benar.


"Begini nih kalau balok es, makanya kalau cinta bilang cinta jangan kebanyakan gengsi!" gengsi di gedein!" ledek Agra sambil bersiap-siap dengan berkas-berkas nya.


"Tau gitu nggak aku bantuin!" timpal Rendi kesal karena sahabatnya itu terus saja meledeknya.


"Jadi nggak ikhlas nih ceritanya!?"


"Sudah terlambat, kita berangkat sekarang!"


Rendi memilih mengalihkan pembicaraan, memang jarum pendek jam di dinding itu sudah menunjuk ke angka sepuluh.


***


Mereka pun pergi ke tempat meeting, semua karyawan sudah menunggu di sana.


Kedatangan big bos itu sudah di tunggu-tunggu. Saat mereka memasuki gedung itu, semua menyambutnya. Seseorang dengan perut tambunnya segera menyambut kedatangan Agra dan Rendi, sepertinya dia adalah pemimpin cabang.


"Selamat datang pak Agra, pak Rendi!"


"Terimakasih!" jawab Agra tanpa menoleh, ia tetap berjalan lurus. Bahkan pantulan dari sepatunya sudah membuat siapapun uang berpapasan akan berpikir ribuan kali untuk tetap melanjutkan langkahnya.


"Dimana tempatnya?" tanya Rendi yang mewakili Agra, mereka benar-benar kembali menjadi duo couple yang saling melengkapi, bos dan sekertaris.


"Mari pak, ikut saya! Semua sudah menunggu anda!"


Pria bertubuh tambun itu menggiring Agra dan Rendi ke sebuah ruangan yang cukup besar, itu adalah ruang meeting. Di sana sudah ada lebih dari empat puluh orang yang akan mengikuti rapat.


Melihat kedatangan Rendi dan Agra, semua peserta meeting pun berdiri menyambut mereka, setelah Agra duduk mereka baru ikut duduk.


"Apa masalahnya?" tanya Agra.


"Ada pengalihan beberapa dana ke pembangunan yang lainnya pak!" jawab salah satu peserta meeting.


"Apa pembangunan itu berhubungan dengan pembangunan yang kita kerjakan?"


"Itu sebenarnya bukan pengalihan pak, tapi memang di sana harus di bangun fasilitas yang mendukung terlaksananya pembangunan!"


"Apakah masih ranah kita untuk ikut dalam pembangunan itu?"


"Ini di lakukan oleh group H, mungkin mereka sengaja menjatuhkan perusahan kita pak, apalagi di sini Group F belum terlalu diperhitungkan!"


"Bagaimana menurutmu Rend?" Agra mencoba mencari pemecahannya dengan meminta pendapat Rendi yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Menurut saya, ada baiknya anda menghubungi group H langsung, karena group F di sini masih baru, kita belum terlalu faham dengan jalannya pembangunan di sini! Setelah itu kita baru bisa menyurvei lapangan!"


"Bagaimana apa ada yang setuju dengan pendapat pak Rendi?" tanya Agra pada semua peserta meeting, sepertinya semua sedang berdiskusi satu sama lain.


"Kami setuju, kita bisa melanjutkan pembangunan setelah masalah dengan group H beres!"


Akhirnya meeting pun berakhir setelah melakukan perdebatan yang cukup pelik.


"Rend, minta anak buah mu untuk mencari tahu siapa sebenarnya pemilik group H ini!"


"Baik pak!"


Plekkkk


Pukulan keras segera mendarat di punggung Rendi tapi tidak berhasil membuat Rendi beralih dari posisinya.


"Aku bukan atasanmu lagi, kita partner saat ini!"


Rendi terlalu terbiasa menganggap Agra sebagai atasannya, membuatnya tidak bisa sembarangan bersikap di depan sahabatnya itu.


Akhirnya mereka sampai juga di mobilnya, meninggalkan gedung itu.


"Kita makan siang dulu!" ucap Agra, sudah jam dua, sudah sangat terlambat untuk makan siang.


Rendi sudah sibuk dengan ponselnya, ia harus mencari tahu sendiri siapa sebenarnya pemilik group H ini.


Mereka pun sampai di sebuah restoran, seperti biasa mereka berdua masih selalu menarik perhatian siapapun yang melihatnya walaupun mereka sudah menjadi ayah dati dua anak tidak pernah mengurangi pesona mereka.


Mereka memilih salah satu kursi yang memang sudah di pesan khusus untuk mereka, siapa lagi pemesannya kalau bukan anak buah Rendi. Anak buah Rendi benar-benar sudah seperti jamur yang menempel di manapun mereka berada.


Agra segera menghentikan makannya, "Siapa?"


"Walaupun ini perusahan yang sudah lama tapi yang sedang bermasalah dengan kita adalah anaknya yang barus saja pulang dari luar negri, sepertinya tanpa sepengetahuan ayahnya!"


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"


"Karena sebenarnya pemilik group H memiliki hubungan yang baik dengan group F bahkan saat masih di bawah pimpinan tuan Wijaya!"


"Benarkah? Berarti akan lebih mudah dong pekerjaan kita?"


"Belum tahu, karena kita belum mengenal siapa yang menjadi lawan kita!"


"Ya kau benar, kalau melihat bagaimana dia melakukan semua ini, seperti nya orang ini cukup berpengalaman!"


"Hehhhh ......!" Rendi menghela nafas, rasanya akan lama di surabaya. meninggalkan istri dan anaknya adalah hal yang berat.


"Aku juga berpikir hal yang sama, pasti akan berat. Tahu begini aku akan mengajak Ara juga bersamaku!" keluh Agra seakan mengerti maksud dari helaan nafas Rendi.


Agra mengambil minumannya dan menyeruputnya. ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"Sudah tahu belum nomor sekertaris nya?, kita harus bergerak lebih cepat!"


"Sudah, aku juga sudah mengirim pesan, tinggal menunggu jawabannya saja!"


"Mungkin kita harus menyiapkan semuanya dulu, pulang aja lah dulu!"


Agra segera berdiri dan meninggalkan meja makan. Rendi pun segera menyusul sahabatnya itu. Kadang memang Agra sedikit kurang jeli dalam menghadapi masalah, tapi tetap saja Agra lebih matang dalam hal bisnis di banding Rendi.


Mereka pun kembali ke rumah Rendi, segera membersihkan diri dan mengistirahatkan sebentar tubuhnya.


Mereka berada di kamar yang berbeda, setelah membersihkan diri Rendi memilih melihat laporan dari Ajun.


"Tetangga baru? Siapa?"


Rendi kembali bangun dari tidurnya saat melihat laporan dari Ajun jika Nadin bertemu dengan tetangga baru.


Dengan cepat Rendi memencet tombol panggil untuk melakukan panggilan kepada istrinya.


Hanya di deringan pertama, panggilannya sudah tersambung.


"Mas ....!" suara di seberang sana. Suara itu seperti angin segar di tengah panasnya kota Surabaya. Ingin rasanya segera memeluk wanita itu, "Lama sekali mas telponnya, aku sudah menunggu mas Rendi telpon dari tadi!"


Belum juga bicara, tapi Rendi selalu saja kalah berargumen dengan istrinya itu.


"Stop dan dengarkan aku!" ucap Rendi saat Nadin sudah menghentikan ucapannya.


"Iya! Maaf ....., habis mas Rendi tidak cepetan hubungi aku!"


"Siapa pria itu?"


Hehhhh ....., Ajun benar-benar melaporkannya ....


"Siapa?" Nadin pura-pura tidak mengerti apa yang di maksud Rendi. Cari amannya dulu dari pada tiba-tiba suaminya itu pulang.


"Mau mengatakannya sendiri atau aku yang cari tahu!?"


"Iya ...., iya ...., aku jujur! Tadi pagi aku ketemu sama tetangga baru, ternyata dia putranya om Tama! Dia tentara mas ....!"


"Jangan ke rumah pak Tama lagi, kalau mau ke sana nunggu aku pulang!"


"Tapi mas.....!"


"Atau tidak usah keluar rumah?"


"Iya ...., iya ....!" Nadin memilih mengalah dati pada tidak di ijinkan keluar rumah.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘❤️