MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 15 (anak pak Tama)



Pagi ini Nadin sudah sibuk menyiapkan keberangkatan suaminya ke Surabaya. Rumah yang tidak terlalu besar itu hanya di huni lima orang saja, dua asisten rumah tangga dan satu satpam.


Rendi memang sedikit berbeda dengan kedua sahabatnya, ia menyukai privasi. Kalaupun ada anak buahnya hanya akan datang jika diperlukan saja, mereka di tempatkan di kelas khusus keamanan yang di awasi langsung oleh Rendi.


Termasuk yang menjaga keamanan keluarga Agra adalah didikan dari Rendi. Para bodyguard atau pasukan keamanan di komando langsung oleh Rendi, memang tidak resmi tapi sangat di segani di dunia bisnis.


Banyak pengusaha atau lawan bisnis yang berpikir ribuan kali untuk menembus keamanan yang di buat oleh Rendi.


Rendi sudah siap dengan kaos dan jaketnya, ia mengambil penerbangan pagi agar bisa cepat sampai di Surabaya.


Elan sedang asik memainkan mainannya, sedangkan Nadin yang keadaannya tidak begitu buruk seperti biasanya sedang memasukkan baju yang akan di bawa Rendi ke dalam tas besar.


"Kamu nggak pa pa kayak gitu?" tanya Rendi khawatir, ia sudah duduk di dekat Elan dan memakai sepatunya.


"Nggak pa pa mas, mungkin kemarin-kemarin nggak pernah di tengok sama ayahnya, maka nya nyiksa bundanya!" ucap Nadin sambil tersenyum menatap suaminya, memang benar setalah konsultasi dengan dokter Frans dan Rendi sudah mulai aktif lagi Nadin tidak lagi mengalami morning sickness yang parah.


"Benarkah seperti itu? Ah .... jadi semakin berat saja pergi ninggalin kalian!"


Nadin lagi-lagi tersenyum,


"Mas ...., beneran cuma dua hari kan di Surabaya?"


Rendi menggendong Elan membawanya mendekati bundanya, ia mencium pipi Nadin dan memeluknya bersama Elan.


"Mudah-mudahan iya!"


Nadin mendongakkan kepalanya mencoba menjangkau wajah suaminya itu, "Berarti ada kemungkinan lama dong?"


"Aku belum tahu situasinya di sana, mudah-mudahan tidak begitu serius!"


"Kasihan dokter Frans mas kalau di tinggal lama-lama!"


"Nggak pa pa , dia bisa di andalkan!"


"Lalu untuk ketering nya bagaimana?"


"Kamu bisa minta bantuan Ara, mintalah mbak Dini untuk membuatkan kue dan semua makanan yang di butuhkan untuk acara, kita ngambil di cafe mereka saja!"


"Ide bagus itu mas, ya udah ntar aku hubungi kak Ara aja ya!"


"Iya ....., tapi ingat nggak boleh kemana-mana, kalau butuh sesuatu minta bantuan Ajun!"


"Ajun nggak ikut mas?"


"Aku akan meninggalkan Ajun di sini! Biar dia menjaga kalian!"


"Lalu mas Rendi bagaimana?"


"Bukan aku yang harus di khawatirkan tapi Agra!"


"Mas juga harus hati-hati!"


Setelah berpamitan pada istri dan putranya, Rendi segera berangkat, ia tidak mau membuat Agra menunggu. Itu bukan kebiasannya.


Nadin m ngantar Rendi hingga di depan rumah, Karena Elan harus mandi, ia meminta bantuan pada bibi untuk memandikan Elan selagi ia mengantarkan Rendi di luar.


"Aku berangkat dulu ya!"


"Iya ..., hati-hati ya mas, jangan lupa oleh-oleh nya!"


"Mau oleh-oleh apa?"


"Sesuatu yang hanya ada di Surabaya!"


"Baiklah aku akan mencarikannya untukmu!"


Rendi segera masuk ke dalam mobil, ia di antar oleh sopir, Nadin melambaikan tangannya hingga mobil Rendi menghilang di balik gang.


"Hehhhhh ....., aku pasti akan sangat merindukanmu mas!" gumam Nadin, ia terkejut saat seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya dari belakang.


"Mbak!"


"Iya?"


Nadin melihat di depannya seorang pria yang masih muda mungkin seumuran dengan kakaknya. pria itu cukup tampan dengan perawakan tegak dan juga potongan rambut khas tentara. Sepertinya dia memang seorang tentara.


"Orang baru ya mas di sini?" bukannya menjawab pertanyaan pria itu Nadin malah balik bertanya.


"Iya mbak, kenalkan ....!" pria itu mengulurkan tangannya untuk Nadin.


Nadin pun menyambut tangan pria itu,


"Saya Juna, Arjuna!"


Namanya kayak tokoh wayang aja ya .....


Nadin malah tertegun memikirkan nama pria itu.


"Mbak siapa?" Tanya Arjuna lagi saat Nadin tak juga menyebutkan namanya.


"Ohh ...., saya Nadin, Nadinda Aulya Putri!"


"Panjang ya ...., bagus juga namanya!"


"Memang sengaja di panjangin!" jawab Nadin ketus, pria di depannya sepertinya sok kenal saja.


"Lucu juga mbak Nadin, tapi mbak Nadin jangan ngambek dulu, kasih tahu saya di mana alamatnya pak RT!"


Nadin sampai lupa jika awal mereka mengobrol karena pria di depannya sedang menanyakan alamat pak RT padanya, mungkin karena dia orang baru harus menyerahkan data diri.


"Mas Juna lurus aja hingga gang nomor dua, belok kiri, ada rumah dengan pohon besar di depannya, ya itu rumahnya!" Nadin memberi arahan pada orang itu.


"Terimakasih mbak cantik!" ucap pria itu sambil tersenyum lalu berlalu meninggalkan Nadin, tapi baru dua langkah ia berjalan, ia kembali berbalik.


"Oh iya mbak, kalau mau tahu rumah saya di depan rumah mbak Nadin tepat!" ucap pria itu sambil menunjuk rumah besar yang berada di depan rumahnya , itu adalah rumah pak Tama.


Arjuna kembali berjalan, pria itu berjalan begitu tegap dengan tubuh tinggi, langkahnya yang lebar dan mantap.


"Hehhhh ....., ngapain juga aku liatin dia ....., mata-mata ...., memang ya nggak bisa banget ngeliat cowok ganteng!"


Nadin pun mengakhiri tatapannya pada pria bernama Ajun itu. Ia memilih untuk segera masuk rumah. Tapi saat langkahnya mencapai pagar, ia mengurungkan niatnya untuk terus berjalan. Ia kembali menoleh pada rumah yang berada tepat di depan rumahnya.


"Itu kan rumah pak Tama, lalu ...., kalau pria itu tinggal di rumah pak Tama, lalu pak Tama nya di mana dong, apa mungkin pak Tama sudah pindah, tapi kok nggak ngomong-ngomong!"


Nadin pun memilih untuk berbalik arah dan berjalan menuju rumah pak Tama. Langkahnya begitu ragu, ia takut jika memang benar pak Tama sudah pindah.


"Kenapa sepi sekali rumahnya?!" gumam Nadin saat ia tidak menemukan siapapun di depan rumah. Hingga akhirnya langkah Nadin mencapai pintu.


"Aku ketuk nggak ya?" Nadin begitu ragu, "Ah ketuk aja deh ....!"


Tok tok tok


Nadin mengetuk pintu itu beberapa kali, hingga seseorang membukakan pintu besar itu.


"Eh neng Nadin! Ada apa neng?" ibu adalah asisten rumah tangga pak Tama,


Jika asistennya saja masih sama, mungkin saja majikannya juga masih sama, batin Nadin.


"Eh anu bi ....., pak Tama nya ada bi?"


"Tuan di dalam, neng! bentar aku panggilkan neng!"


Akhirnya Nadin memilih untuk menunggu di ruang tamu, asisten rumah tangga pak Tama kembali masuk, Nadin duduk di sofa besar itu.


Bersambung


Maaf ya masih bisa up satu dulu, di sambung lagi besok ya


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘❤️