
Melihat sambungan telponnya terputus, Dini segera berdiri dan menatap tajam pada Ajun.
"Karduuuuuus .....!" teriak Dini kesal.
"Kenapa denganku?" tanya Ajun dengan wajah bingungnya.
"Bisa nggak keluarnya di waktu yang tepat, dan ini apa heh, kenapa keluar tanpa pakek baju?"
Ajun bingung sendiri karena Dini marah-marah padanya.
"Hei nona kuncir kuda ....., kamu lihat tanganku bagaimana? Selama ini yang pakek in aku baju emangnya siapa?" Ajun tidak kalah ngegasnya di banding Dini.
Mendengarkan ucapan Ajun, Dini malah tambah frustasi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat sambil memukul-mukul sofa di sampingnya.
"Aaaaaaa. ......, beneran mati aku besok. ....!" ucap Dini sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal sofa yang cukup besar itu hingga yang terlihat hanya rambutnya yang di kuncir kuda.
"Auuugghhhhh .....!" teriak Dini saat tiba-tiba Ajun menarik rambutnya hingga kepalanya terangkat ke atas.
"Apaan sih kardus?" teriak Dini kesal. Kemudian Dini duduk dan menjadikan batalnya sebagai penyangga tangannya di atas pangkuannya.
Ajun pun ikut duduk di samping Dini, "Jangan deket-deket!" ucap Dini sambil mendorong tubuh Ajun agar tidak duduk terlalu dekat.
"Ribet banget sih!" Akhirnya Ajun terpaksa menggeser duduknya.
"Sekarang apa masalah nya?" tanya Ajun yang seakan tidak memilik masalah apapun.
"Mama meminta kita besok ke rumah!"
"Emang harus ya?" tanya Ajun dengan begitu tenang.
"Iya!" jawab Dini dengan tegas, "Kamu harus menjelaskan semuanya sama mama dan papa!"
"Entahlah ...., pikir aja besok, capek mau tidur!" ucap Ajun lalu berdiri meninggalkan Dini yang masih tercengang tidak percaya melihat betapa tenangnya pria itu.
Ajun segera masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya, yang berbeda di dari pria itu adalah tiba-tiba saja wajahnya berubah panik.
"Aaaaaa .....!" teriak Ajun yang sedikit tertahan agar suaranya tidak keluar kamar. Ia modar mandir di dalam kamarnya dengan begitu panik, beberapa laki tampak mengusap rambutnya kasar dan menggigit jarinya.
"Aku belum siap! Bagaimana ini? Aku harus apa? pura-pura sakit ....! Ahhhh tidak aku memang sakit, lalu apa?"
Ajun tidak bisa tidur sepanjang malam karena ucapan Dini. Ini adalah yang paling di hindari oleh Ajun selama ini.
***
Hari ini memang hari libur, jadi Dini sedikit lebih santai dari pada hari biasanya. Ia sudah menyelesaikan pekerjaannya tapi pria kardus itu belum juga keluar dari kamarnya.
Tok tok tok
Dini mengetuk pintu kamar Ajun untuk mengajaknya sarapan.
"Kardus ......, sarapan yuk!" teriak Dini tapi tetap tidak ada sahutan.
Tok tok tok
Dini kembali mengetuk pintu kamar Ajun, "Masih tidur ya? Aku sudah lapar, ayo makan!" Kalau nggak keluar dalam hitungan ke tiga aku tinggal makan ya, aku habisin sarapannya! Satu ......, dua ......, tig_!"
Belum sampai menyelesaikan ucapannya pintu kamar Ajun terbuka, dan pria itu masih telanjang dada seperti semalam.
"Ajun ...., kenapa masih nggak pakek baju?"
"Memang bagaimana aku pakek bajunya!? Aku lapar!" ucap Ajun dan langsung berlalu melewati Dini yang masih berdiri di tempatnya.
Dini tidak langsung menyusul Ajun, ia terlebih dulu ke kamar Ajun untuk mengambil baju milik Ajun.
"Pakai ini!" ucap Dini saat sudah menyusul Ajun dan memakaikan kemeja untuk Ajun.
"Ambilkan sarapanku!" perintah Ajun lagi setelah Dini selesai memakaikan baju untuk Ajun.
"Manja banget jadi orang!" keluh Dini sambil mengambil piring Ajun dan mulai menuangkan nasi goreng ke piring Ajun.
"Jangan lupa hari ini kosongkan jadwal mu, kau harus tanggung jawab!" ucap Dini sambil menyantap sarapannya.
"Oh iya, dokter tadi telpon katanya akan mengecek keadaan tanganmu!" ucap Dini lagi.
"Hemmmmm!"
***
Sore ini Dini dan Ajun sudah siap untuk ke rumah orang tua Dini. Mereka mengendarai mobil Ajun yang baisa di bawa oleh Dini.
"Jangan ngomong macam-macam nanti sama mama dan papa, Okey!" Dini memperingatkan Ajun.
"Emangnya kau berharap aku ngomong apa?" tanya Ajun.
"Ya nggak ada ....!" ucap Dini, walaupun sebenarnya bukan itu. Ia cukup berharap pria kardus itu akan mengatakan hal lebih, tapi rasanya itu hanya mimpi melihat betapa dinginnya pria yang ada di sampingnya itu.
Dini mulai melajukan mobilnya meninggalkan basement apartemen Ajun. Sepanjang jalan Ajun hanya diam dan semakin dingin saja.
Hingga sampai di rumah orang tua Dini pun Ajun masih terus diam. Dini segera memarkirkan mobilnya di halaman rumah orang tuanya itu.
Rumah yang terdiri dari dua lantai itu nampak asri dengan berbagai bunga yang tumbuh di halaman rumah itu benar-benar cocok dengan penghuninya yang seorang dosen dan juga dokter.
Ting tong ting tong
Dini sudah menekan bel rumah itu dan tidak berapa lama pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya berdiri di depan pintu itu.
"Mbak Dini ....! masuk mbak!" ucap wanita itu.
"Bi ...., mama sama papa ada?" tanya Dini, hal itu membuat Ajun bernafas lega karena itu bukan mama Dini.
"Ada mbak, bapak sama ibuk sudah menunggu dari tadi mbak!"
Dini dan Ajun segera menuju ke ruang keluarga yang ternyata di sana sudah ada mama dan papa Dini yang memang libur.
"Ma ...., pa ...!" .Sapa Dini dan langsung mencium tangan orang tuanya.
"Sore om, tante!" sapa Ajun yang masih berdiri di tempatnya.
"Duduk kalian!" perintah papa Dini dengan nada bicara datarnya, menandakan jika pembicaraannya akan serius.
Akhirnya Dini dan Ajun pun duduk , "Jangan dekat-dekat!" ucap papanya lagi sebelum Dini benar-benar duduk membuat Dini menggeser duduknya sedikit memberi jarak di antara mereka.
"Siapa nama kamu?" tanya papa Dini pada Ajun.
"Ajun, om!" ucap Ajun dengan gaya tegas dan dinginnya seakan-akan ia tidak sedang gugup padahal tangannya sekarang sudah basah karena keringat.
"Apa pekerjaanmu?" tanya papa Dini lagi.
"Saya hanya karyawan biasa, om!"
"Di perusahaan apa?"
"Di industri informatika dan pengamanan, om!"
"Sudah sejauh apa hubungan kalian?" tanya papa Dini lagi, mungkin ini adalah pertanyaan terpanas nya selagi papa Dini terus mencerca pertanyaan pada Ajun, mamanya sibuk mengamati penampilan dan etitut Ajun.
"Bukan begitu pa kejadiannya!" ucap Dini memotong pembicaraan papa nya,
"Diam, papa lagi ngomong sama Ajun!" ucap papanya tanpa menatap Dini. Dini hanya bisa mendengus kesal.
" Om ...., Tante ....., sebenarnya semua tidak sepertinya yang om dan tante pikirkan...., yang kemarin itu hanya_!" ucapannya menggantung saat bibi tadi tiba-tiba datang dan memotong ucapan Ajun.
"Pak, buk! Ada tamu!" ucap bibi.
"Bagus ...., memang sudah di tunggu, langsung suruh masuk saja!" ucap papa Dini tapi dengan ekspresi yang berbeda dengan saat menghadapi Ajun. Papa Dini tersenyum.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰