MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 47 (Ajun)



Ajun meninggalkan Juna sendiri. Ia memilih untuk masuk ke rumah Rendi. Ia harus menjaga Nadin yang sedang hamil, apalagi kehamilannya kini sudah masuk enam bulan.


"Selamat pagi, bu Nadin!" sapa Ajun saat Nadin keluar dari rumah.


"Kenapa di sini?" tanya Nadin, ia padahal sudah berencana untuk pergi jalan-jalan.


"Iya bu, Pak Rendi meminta saya untuk menjaga bu Nadin!"


"Nurut banget sih kamu, padahal aku kan cuma mau jalan-jalan ke depan!"


"Tapi pak Rendi melarang bu Nadin keluar!"


"Ayolah Ajun ...., aku bisa tua mendadak kebanyakan di dalam rumah!"


"Tapi bu ....!"


"Gini aja deh ...., kita ke rumah ayah Roy, gimana? Aku kangen sama ayah!"


"Bu Nadin bisa tanya langsung sama pak Rendi!" ucap Ajun. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari balik jasnya dan menelpon seseorang.


"Ehhh ehhhh ...., kami beneran telpon mas Rendi ya?"


"Sudah tersambung bu, silahkan bicara!"


"Issstttt ...., kamu ini!" gerutu Nadin sambil menyambar ponsel di tangan Ajun.


Nadin pun segera menempelkan ponsel itu ke daun telinganya.


"Hallo Ajun ....!" suara di seberang sana.


"Hallo mas ...., ini aku!"


"Ada apa sayang ...? Apa ada masalah ...?"


"Nggak mas ...., aku cuma mau ke rumah ayah, boleh ya?"


"Jangan sekarang sayang ...., kasihan jika sama Ajun, lihat tangan Ajun belum sembuh kan!"


"Tapi aku kangennya sekarang mas, kan bisa pakek sopir juga, mas!"


"Baiklah ...., tapi ingat ...., nggak boleh kemana-mana selain ke rumah ayah, nanti aku akan menyusul ke sana ...!"


"Terimakasih mas ...!"


"Serahkan ponselnya sama Ajun, aku ingin bicara!"


"Iya mas ...., aku mencintaimu!"


Nadin pun segera menyerahkan ponsel itu pada Ajun, "Mas Rendi mau bicara!"


Ajun pun mengambil ponsel itu, Nadin segera berlalu meninggalkan Ajun. Ia harus bersiap-siap, menyiapkan Elan juga.


"Iya pak!"


"Perketat keamanan, baya beberapa orang untuk mengawal kalian!"


"Tapi kenapa pak?"


"Saya sudah tahu siapa yang menyerang mu!"


"Maksud pak Rendi?"


"Mereka sengaja melukai kamu untuk membuat kita lengah, saya yakin dia sedang membututi mu!"


"Berarti bu Nadin dalam bahaya jika bersama saya pak!"


"Tidak ...., mereka cuma mengincar kamu jadi usahakan bawa banyak orang jika mengantar Nadin dan Elan!"


"Baik pak!"


Sambungan telpon terputus. Sekarang Ajun begitu bimbang, ia tidak mungkin membahayakan nyawa Nadin tapi juga tidak mungkin pergi sekarang.


Mungkin benar yang di katakan oleh Rendi jika yang di incar cuma dirinya,


Tapi kenapa saat itu Dini juga ikut di culik ...?


"Ayo Ajun ...., kami sudah siap!" ucap Nadin yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


Nadin sudah menggendong Elan.


"Baik bu!"


Ajun menyiapkan dua mobil bersamanya, ia juga menghubungi orang-orang terlatih nya untuk mengawal mereka.


"Kenapa banyak orang gini sih?"


"Maaf bu, tapi ini perintah pak Rendi!"


"Sudah ku duga ...!"


Akhirnya Nadin hanya bisa menyerah dengan keputusan suaminya.


***


Kini mereka sudah berada di rumah ayah Roy. Ajun memerintahkan orang-orang nya untuk sedikit menjauh dan mengawasi mereka dari jarak yang aman.


"Kakek .....!"


"Ya Allah ...., cucu kakek sudah besar sekarang!" Ucap ayah Roy sambil mengendong Elan.


"Gimana keadaanmu sayang?"


"Nadin baik ayah, kandungan Nadin juga baik! Mas Rendi jaga Nadin dengan sangat baik!"


"Syukurlah kalau begitu ....! Ayo masuk!"


"Ibu ngantar nenek kamu ke rumah sakit sayang!"


"Nenek kenapa?"


"Keadaan nenek sudah sangat lemah, sayang! Jadi harus bolak balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin, tadi ayah antar terus ayah pulang karena ayah harus jaga toko!"


"Kasihan sekali nenek!"


"Sudah duduklah ....! Sekarang aku mau main sama cucu kakek dulu, sudah lama kan sayang kita nggak main!"


***


Juna hari ini ada tugas di koramil, ia mendapat tugas jaga. Beberapa temannya bertugas mengamankan tamu negara yang datang hari ini.


"Santai aja kayaknya?" tanya salah satu temannya.


"Iya Sen...., dapat tugas jaga!"


"Sama dong kita!" Pria yang baru datang itu adalah sahabatnya. Mereka sudah berteman sejak lama. Namanya Seno, sama-sama orang jawa.


Seno ikut duduk di samping Juna. Mereka sekarang sedang berada di pos penjagaan.


"Tumben kamu nggak kepilih jadi pengawal tamu negara?"


"Gantian juga Sen ...., kasian yang lain biar ikut ngrasain gimana rasanya ngawal tamu negara!"


"Gaya banget lo ....!"


"Minum nih kopi!" ucap Juna sambil menyodorkan segelas kopi yang masih hangat.


"Wiiiiihhhhh tumben baik banget nih bocah!"


"Ya udah aku ambil lagi deh!" ucap Juna yang akan mengambil lagi gelas itu tapi keburu di ambil oleh Seno.


"Ya jangan dong!"


Mereka menikmati kopi hangat mereka.


"Gimana udah ketemu yang kamu cari?" tanya Seno setelah menghabiskan setengah dari kopinya.


"Sudah ....!"


"Dia mengenalimu?"


"Tidak!"


"Emang kamu nggak bilang?"


"Belum waktunya, masih ada masalah lain sekarang yang lebih pelik!"


"Apa?" tanya Seno tapi Juna memilih untuk diam.


"Atau jangan-jangan ini gara-gara wanita ya? iya kan? Kemarin kata Mira kalian ketemuan kan?"


"Itu salah satunya, awalnya nggak gitu!"


"Maksudnya?"


"Awalnya aku cuma mau ngetes seseorang saja, tapi semakin ke sini aku jadi ....!"


"Jadi memiliki perasaan sama gadis itu?" tanya Seno dan Ajun mengangguk.


"Jangan main-main sama hati, ntar lo kena sendiri tau rasa lo ....!"


"Nggak usah nunggu entar, sekarang aja aku udah kena!"


Juna kembali mengingat bagaimana perjuangannya agar bisa di pindahkan ke ibu kota, bukan karena ia mengincar jabatan tingginya tapi ada hal yang lebih penting dari semua itu, menyangkut hidup dan matinya.


****


Di kafe itu, orang tua Dini sengaja meminta orang untuk mengawasi Dini karena menghilangnya Dini kemarin.


"Memang ya mama benar-benar keterlaluan!" gerutu Dini sambil meremas-remas lap yang ada di tangannya.


"Kenapa sih mbak, manyun aja?" tanya Mei yang sedari tadi memperhatikannya.


"Pasti ini gara-gara kamu kan Mei?"


"Mau bagaimana lagi mbak, mbak Dini tiba-tiba ngilang, nggak hubungi Mei, apa lagi calon suaminya mbak Dini nungguin dari pagi, Mei kan jadi khawatir mbak!"


"Tapi gara-gara kamu telpon mama, Dini jadi di awasi kayak tahanan rumahan!"


"Di nikmati aja lah mbak, itung-itung pingitan sebelum menikah!"


"Mau aku pukul ya kamu ....!" ucap Dini yang sudah hampir mengayunkan gayung ke kepala Mei, tapi mei lebih dulu berlari meninggalkannya.


"Hehhhhh ...., si kardus lagi ngapain ya ....!" gumam Dini sambil menyanggah dagunya dengan tangan nya.


"Kenapa juga aku mikirin si kardus ...., kurang kerjaan banget! Tapi dia keterlaluan nggak hubungi aku sama sekali ....!"


...Tau nggak rindu itu berat, kalau tahu kenapa kamu suka banget buat aku merindukanmu, cie .....~MBOI...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰