
Rendi
Rendi yang terus berkeliling kota Surabaya,
mengelilingi tempat-tempat yang paling dekat dengan rumah sakit itu memikirkan
kemungkinan ia bisa menemukan istrinya di sana.
Setelah seharian berkeliling, ia baru ingat jika
belum sempat mengisi perutnya, ia melihat restaurant yang dekat dengan taman,
bermacam-macam menu yang tertulis di banner depan restaurant membuatnya lapar,
ada banyak makanan kesukaannya di sana.
Rendi memarkir mobilnya di depan Restauran, ia
berencana hanya akan singgah di situ sebentar, makan dan kembali berkeliling.
Rendi memasuki restauran itu, ia melihat antrian di
kasir tidak terlalu banyak, tapi di tempat antrian itu ia juga melihat pria
yang begitu ia kenal, akhir-akhir ini mereka sering bertemu. Tapi sebelum Rendi
sempat memanggilnya, pria itu sudah lebih dulu melihatnya.
“Rend …!”
“Hai Lex, kamu di sini?” rendi mendekat, Rendi bisa
melihat Alex juga sedang memesan makanan.
“Iya aku sedang makan!” pria itu terlihat tegang,
ada yang sengaja ingin di sembunyikan.
“Sama siapa?” Tanya Rendi lagi. Mata Rendi seperti
sengaja mencari-cari sesuatu, ia begitu penasaran dengan istri Alex, perasaan
baru kemarin pria itu menyimpan dendam karena patah hati.
“Sama istri dan anakku!”
Tapi
sayangnya wanita yang di sebut sebagai istri Alex sedang duduk membelakangi
arah kasir, wanita itu sedang asik bermain dengan putranya.
“Dia!” Rendi menunjuk ke arah wanita itu, membuat
Alex terkejut. Rendi tahu dari mana arah datangnya Alex tadi jadi dengan cepat
Rendi dapat mengetahuinya dan juga jika di lihat-lihat hanya bangku itu yang
ada kereta bayi nya, di restauran itu yang membawa anak bayi hanya wanita yang
duduk di dekat kaca itu.
Alex terlihat panik, ia segera menoleh ke arah
telunjuk Rendi.
Kenapa dengannya?
“Iya …!” jawab Alex singkat.
“Kalian seperti keluarga yang bahagia ya!”
“Iya. Ya sudah aku duluan ya!” alex seperti sengaja menghindari Rendi.
“Iya …!”
Setelah alex meninggalkannya, awalnya Rendi masih
begitu penasaran dengan istri Alex, tapi ternyata sudah sampai pada gilirannya,
Rendi harus memesan beberapa makanan.
Kring kring kring
Ponselnya berdering, Rendi segera merogoh ponselnya yang berada di saku celananya, memperhatikan siapa yang sedang melakukan
panggilan.
“Ajun!” gumam Rendi.
Rendi dengan cepat mengangkat telpon itu.
“Iya Ajun!" jawab Rendi.
“Saya sudah menemukannya pak!” ucapan Ajun itu seperti angin segar untuknya, ia dengan seksama memasang pendengarannya agar tidak ada yang terlewat.
“Apa?”
“Alamat rumah ibu Nadin!”
“Benarkah?’
“Iya pak!”
“Ya sudah kamu kirim alamat rumah itu!”
“baik pak!”
Wajah lelahnya berganti dengan senyum tipis. Ia kembali
menyakukan ponselnya.
“Mbak!” panggil Rendi pada pelayan renstauran itu.
“Iya pak?”
“Tolong pesanan saya tadi di antar ke meja yang
dekat jendela itu, mereka temanku. Jika bertanya kenapa, katakana kalau ini
untuk ucapan selamat atas kelahiran bayinya!”
“Baik pak!”
Rendi menyerahkan beberapa lembare uang kertas dan
segera meninggalkan restauran itu. Rendi
begitu tergesa-gesa, sambil berjalan kie mobilnya, ia teruis menghubungi Ajun
berharap ajun segera mengirimkan lokasi rumah nadin.
Rendi menjalankan mobilnya,setelah mendapatkan
lokasi yang di tuju dari Ajun, berbekal googlemap, ia menelusuri kota Surabaya,
memasuki sebuah gang yang sebenarnya tidak sempit karena mobil masih bisa lalu
lalang di sana. Mencari rumah yang di maksud, tanda merah di layar ponselnya
sudah begitu dekat.
Rendi dengan senyum yang sedari tadi tidak lepas dari bibirtnya.
Akhirnya mobil itu terhenti juga di depan sebuah
rumah kecil dengan warna cat putih salju. Bersih dan rapi, Rendi mematikan
mesin mobilnya dan segera keluar dari mobil, ia melepas kaca mata hitamnya dan
meletakkannya di saku jaketnya, melepas jaketnya dan melempar begitu saja ke
dalam mobilnya.
“Kenapa rumah ini tampak sepi sekali?”
Rendi memperhatikan rumah itu dari pagar rumah itu,
pagarnya tertutup, di gembok juga.
“Kayaknya kosong!”
Rendi melompati pagar yang tertutup itu, hanya
sebatas dadanya saja tinggi pagar itu. Dengan sekali panjatan Rendi sudah
berada di dalam rumah. Rendi berjalan mendekati rumah itu mengetuk pintu, tapi
tak juga ada sahutan. Sebenarnya sudah jelas jika tidak ada orang di dalam,
pagarnya di gembok, pintunya terkunci, tapi Renditetap saja mengetuk pintu itu.
“Nad …, buka dong pintunya!”
Sudah entah ebrpa kali, Rendi mengatakan kata-kata
itu, dan jelas tidak aka nada yang menjawabnya.
“Aku harus menunggunya sampai malam, mungkin dia
sedang pergi jalan-jalan!”
Rendi memilh duduk di kursi yang ada di teras, kursi
kecil itu, ia kembali menelpon Ajun dan memastikan jika itu benar rumah Nadin.
“Kamu tidak salah rumah kan Jun?”
“Tidak pak, berdasarkan data dari rumah sakit tempat
bu Nadin melahirkan rumah bu Nadin di situ!”
“Ada yang lebih menguatkan lagi, selain itu?”
“iya pak, saya juga sudah bertanya pada tetangga
sekitar rumah itu, mereka bilang rumah itu di sewa oleh seorang perempuan yang
baru dua bulan ini melahirkan!”
“baiklah …, tugasmu selesai untuk saat ini!”
“baik pak!”
Rendi kembali melketakkan ponselnya, sudah hampir dua
jam ia duduk di teras rumah Nadin tapi tetap saj tida ada siapapun. Akhirnya rendi
memilh untuk menunggu di dalam mobil, mungkin nanti jika Nadin melihatnya di
depan rumah, Nadin bsia jadi akan kabur.
Hingga hari mulai petang, rumah itu masih terlihat
gelap. Tak ada pergerakan sama sekali, Rendi menyandarkan punggungnya ke sandarac
kursi mobilnya, ia mulai putus asa, lagi-lagi seperti itu, saat semuanya tersa
dekat, dan tiba-tiba menjauh kembali, seperti sebuah dejavu.
Matanya terpejam sebentar, ia begitu lelah. Tapi telingannya
seperti emndengarkan sesuatu, ada yang membuka gembok rumah itu. Rendi dengan
cepat bangun dan menghampiri wanita itu. Rendi menarik tangannya dengan cepat.
“Nadin!”
Ucap Rendi dengan tangan yang menggenggam erat
tangan wanita itu hingga wanita itu berbalik padanya.
“Maaf anda siapa?” wanita itu menajamkan matanya.
“maaf …, maaf saya salah orang!” ucap Rendi sambil
melepaskan genggaman tangannya, ia bukan Nadin. Wanita berjilbab itu bukan
istrinya.
“Anda siapa?”
“Apa ini rumahmu?” Tanya Rendi lagi, ia tidak
tertarik untuk memeberikan informasi pada orang asing di depannya.
“Kenapa anda menanyakan rumah ini?”
“Saya hanya ingin tahu, di mana pemilik rumah ini!”
‘Ini rumah kakak saya, jadi anda jangan macam-macam
ya di sini, silahkan anda pergi dari sini, jika tidak saya akan melaporkan ada
pada aparat keamanan jika anda mengganggu kenyamanan warga di sini!”
Astaga …, apa aku mungkin salah menunggu rumah …..,
Ajun …!
“Baiklah!” rendi segera masuk ke dalam mobilnya dan
meninggalkan rumah Nadin. Gadis yang di temui Rendi adalah Aisyah, Nadin
menghubungnya karena ia tidak bisa pulang, Alex memintanya untuk menginap.
Nadin meminta Aisyah untuk menyalakan lampu rumahnya dan memeriksa keadaan
rumahnya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘