
Dokter kandungan menyambut mereka masuk ke dalam ruangan. Beliau mempersilahkan Rendi dan Davina
untuk duduk.
“Dengan ibu Davina?" tanya dokter itu.
“Iya dok!”
“Mari saya periksa!”
Dokter meminta Davina
untuk tidur di atas tempat pemeriksaan. Seperti biasa dokter akan memeriksa
denyut nadi, hb, lingkar lengan, lingkar pinggang, memeriksa tekanan darah dan
pemeriksaan lainnya.
“Apa terjadi keluhan selama kehamilan?”
“Seperti yang di tuliskan dokter kandunganku sebelumnya dok, keluhannya masih sama!”
Wajah dokter itu mendadak cemas, ada masalah dalam kandungan Davina. Wajah tegang dan cemas menyelimutinya saat melihat riwayat pemeriksaan kandungan Davina selama ini.
“Apa ada masalah dok?" Tanya Rendi.
Dokter pun setelah
menyelesaikan pemeriksaannya, segera meminta Davina untuk duduk kembali. Dokter
pun juga duduk di tempatnya, tampak ragu untuk mengatakannya.
“Apa anda suami ibu Davina?" Tanya dokter.
“Ada apa dok?” bukannya
menjawab pertanyaan dokter, Rendi malah balik bertanya.
“Saya akan membicarakan
ini pada suaminya, apa anda suaminya?”
“Apa ada yang serius?”
“Sudah ku bilang, panggilkan suaminya saja ke sini!” dokter itu meninggikan nada bicaranya, ia begitu memaksa,
Rendi masih terdiam, ia
bingung harus mengatakan apa. Suami, suami yang mana yang akan dia panggil,
tapi dia harus tahu keadaan Davina sebenarnya. Jika tidak tahu bagaimana dia
akan yakin kalau davina akan baik-baik saja.
“Aku suaminya!” jawab
Rendi dengan begitu ragu, Davina segera menoleh kearah Rendi terkejut.
“Rend!” Rendi
menggelengkan kepalanya memberi isyarat pada Davina untuk tetap diam.
“Baguslah …! Kenapa
tidak bilang dari tadi? Baik apa bapak baru mengantar istri anda sekarang
selama kehamilannya?”
“Iya!”
“Ada masalah serius
pada kandungan ibu Davina, ibu Davina mengalami preeklamsia!”
“Apa itu Preeklamsia?”
“Preeklamsia adalah
hipertensi yang umum terjadi pada ibu hamil, tapi …!”
“Tapi apa?”
“Tapi keadaan bu Davina
berbeda, preeklamsia ibu Davina serius, jika ini berlangsung terus menerus akan
mengakibatkan komplikasi lainnya!”
“Lalu apa yang bisa
saya lakukan?’
“Jangan biarkan bu
Davina mengalami tekanan apapun, jangan membuatnya bersedih atau memikirkan
hal-hal yang berat!”
“Baik dok! Apa
gejalanya?’
“Mual, muntah, sakit
kepala, sakit perut itu gejala yang biasa ibu Davina alami, kenapa bapak bisa
sampai tidak tahu, bukankah setiap hari anda tinggal bersamanya?”
“Suami saya ini banyak
tinggal di luar kota dok!’
“Oh pantes saja,
usahakan dua minggu sekali melakukan pemeriksaan, jika ada yang menghawatirkan
segera hubungi saya!”
“Baik dok,
terimakasih!”
Mereka pun keluar dari
ruang pemeriksaan, Davina hanya diam, davina memakai kembali masker dan kaca
matanya, ia benar-benar tidak mau siapapun mengenalinya.
Mereka berjalan
menyusuri lorong rumah sakit, tapi belum sampai di luar, sepertinya perutnya
kembali terasa sakit, wajahnya memucat karena menahan sakit.
“Rend, sebentar!”
Davina meminta Rendi untuk menunggunya sebentar, ia duduk di kursi rumah sakit.
Memegangi perutnya dengan peluh yang sudah bercucuran di pelipisnya.
“Davina, kau kenapa?
Aku akan memanggil dokter!”
“Jangan!” Davina
menahan tangan Rendi, ia memegang erat tangan Rendi dan semakin mengeratkan
tangannya pada perutnya, menggigit bibir bawahnya sepertinya begitu sakit.
“Tapi, ini serius!”
“Ini hanya sebentar,
sebentar lagi akan sembuh!”
Rendi pun menurut, ia
merelakan tangannya untuk di remas wanita itu, mungkin dengan begitu akan
sedikit mengurangi rasa sakitnya.
Setelah cukup lama
akhirnya Davina merenggangkan tangannya di lengan Rendi.
“Apa sudah tidak pa
pa?” Tanya Rendi dan Davina mengangguk. Rendi ikut berkeringat melihat Davina yang begitu kesakitan.
“Apa benar-benar tidak
pa pa? apa ini sering terjadi?” Davina hanya mengangguk menanggapi pertanyaan
Rendi.
“Bisa bantu aku berjalan
sampai mobil?” Tanya Davina dan Rendi pun mengangguk. Rendi memapah Davina
menuju ke mobil, tapi saat hendak masuk ke dalam mobil ia merasakan seperti ada
yang sedang memanggilnya, tapi saat ia menoleh ia tidak menemukan siapapun di
sana.
🌺🌺🌺🌺
Setelah selesai, Dini pun segera mengantar kembali sahabatnya itu untuk pulang.
Sepanjang jalan Dini sibuk untuk menasehati sahabatnya itu untuk tidak berpikir
macam-macam dan jika melakukan sesuatu Dini meminta untuk menghubunginya.
jangan bertindak gegabah, aku mohon …!”
“Jangan khawatir …, hati-hati di jalan!”
Nadin melambaikan tangannya kearah Dini, Dini pun segera memutar mobilnya keluar
dari halaman apartemen Nadin.
Nadin berjalan dengan lemah menuju ke atas, ia memilih memakai tangga darurat, ia
hanya ingin menyingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dari otaknya. Langkahnya
begitu lambat, seperti ia sengaja menghitung jumlah tangga itu.
"526…, 527 …, 528 …, 529 …., 530 ….!” Akhirnya langkah Nadin sampai di ujung tangga.
Ia menjatuhkan tubuhnya di ujung tangga, rasa pegal pada kakinya tak lebih
besar dari pada hatinya.
“Apa aku pantas mencurigai suamiku …,kenapa?”
Nadin
mencoba mengatur nafas nya, ia mencoba membuat semuanya menjadi baik-baik saja.
Cukup lama Nadin berada di ujung tangga itu, hingga langit mulai gelap, sinar
mentari berubah menjadi cahaya rembulan. Cahaya rembulan itu menerobos dinding
kaca, nadin menuntaskan air matanya agar tidak sampai di bawa pulang.
“Aku harus segera pulang, mas Rendi pasti sudah pulang!”
Nadin menghapus sisa air matanya, bangun dari duduknya dan segera menuju ke
apartemennya. Saat ia membuka pintu, ia masih mendapati rumahnya gelap.
“Mas Rendi belum pulang, pasti dia sangat sibuk!”
Nadin mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak terjadi apa-apa. Ia mulai
membersihkan diri, dan segera menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Ting tong ting tong
Suara bel berbunyi, Nadin yang sedang menonton tv bergegas menghampiri pintu dan
membukanya. Nadin tersenyum dengan manisnya saat melihat suaminya berdiri di
balik pintu.
“mas …!”
Nadin meraih tangan suaminya dan menciumnya, mengambil tas yang ada di
tangannya meletakkannya di meja kerja dan kembali menghampiri suaminya,
membantu melepaskan jas dan sepatunya.
“Capek banget ya mas?”
“Iya …., banyak sekali pekerjaan yang harus di kerjakan!”
“Ceritakan dong, apa saja yang mas kerjakan seharian ini!”
“kau ini …, tapi beri aku upah untuk ceritaku!”
“Apa?’
“Cium aku sekarang!”
“Baiklah …!”
Cup
Nadin mencium pipi kanan Rendi, Rendi pun menunjuk pipi kirinya dan Nadin melakukan
hal yang sama. Lalu Rendi menunjuk bibirnya, Nadin pun juga mencium bibir
suaminya.
“Sudah, sekarang ceritakan padaku!”
“Harus ya?” Tanya Rendi sambil menarik dasinya dan melepaskan dua kancing kemejanya yang paling atas, menyingsing lengan kemejanya agar lebih rileks.
“Mas …!” Nadin menatap tajam pada suaminya.
"Baiklah …, baiklah …!”
Nadin bersiap mendengarkan cerita suaminya. Ia berharap suaminya akan menceritakan
tentang wanita itu.
“Aku tadi meeting dengan klien, lalu makan siang!”
“Setelah makan siang?”
“Aku …., berada di kantor, menyelesaikan berkas yang kemarin tertunda!”
“Lalu?”
“lalu …, lalu apa lagi? Aku pulang!”
“Yakin tidak ada yang tertinggal, misalnya kemana dulu setelah makan siang?”
“Kau ini kenapa, tumben sekali …!” ucap Rendi gemas., ia menarik hidung Nadin.
“mas …, sakit tahu …!”
“Biarin …, suami pulang malah di wawancara. Sudah aku mau mandi dulu, atau mau mandiin aku?”
“Nggak!”
Rendi mengusap gemas rambut istrinya lalu berdiri meninggalkan Nadin, ia menuju ke
kamar mandi untuk mandi.
Kenapa mas Rendi tidak menceritakan tentang rumah sakit …., apa yang sedang ia sembunyikan …
Nadin terus memikirkan hal itu, ia mengikuti suaminya dan menyiapkan pakaian ganti
untuk suaminya itu, seperti biasa kaos putih dan celana kolor putih juga.
Tak lama Rendi keluar, ia melilit tubuh bawahnya dengan handuk putih, bintik air masih
tersisi di tubuhnya yang menetes dari rambutnya yang terlihat basah. Nadin
terpaku di tempatnya, walaupun sudah sekian lama, tetaplah tubuh suaminya yang
telah berhasil membuatnya terpaku seperti ini.
Rendi memetikan jarinya di depan mata Nadin, membuat Nadin tergagap di buatnya.
“Ada apa Tokki? Kau tidak hanya boleh melihat, tapi kau bebas memilikinya, ini semua milikmu …!”
“Apa sih mas, ini baju gantimu!” Nadin tersipu malu, ia menyerahkan bajunya dan hendak
berbalik, tapi dengan cepat Rendi menarik pinggang Nadin hingga Nadin mendekap
tubuh Rendi.
“Pegang ini sepuasmu!” Rendi meraih tangan Nadin dan meletakkannya di dada bidangnya,
mengusap-usapkan di sana. Rendi menggiring tubuh nadin hingga ke te,mpat tidur, dengan cepat Rendi menjatuhkan Nadin ke atas tempat tidur. Hanya dengan sekali
tarik Rendi sudah berhasil melepas handuknya.
Rendi merangkak naik ke atas tubuh Nadin, mengabsen setiap inci tubuh Nadin dengan
tanganya, menciumi wajah Nadin , ia begitu merindukan wanita itu, berada jauh
darinya membuatnya begitu tersiksa.
Setelah melakukan pergulatan yang cukup panas, akhirnya Rendi tertidur di pelukan Nadin. Pria itu sungguh berubah jika berada
di depak Nadin, wajah dinginnnya sektika berubah menjadi begitu lembut,
seakan-akan dia bukan pria dingin itu.
Nadin tak bisa memejamkan matanya, ia berada di bawah selimut yang sama, tanpa sehelai pakaian pun, begitu juga dengan Rendi.
Kulitnya langsung bergesekan dengan kulit Rendi, bahkan kini ia sedang berada
di dada bidang suaminya itu.
Nadin mendongakkan wajahnya, menatap wajah lelah suaminya. Jarinya mulai menyusuri wajah itu, dan pemilik wajah itu hanya
menggerakkan kepalanya sebentar.
“Dia benar-benar lelah …, matanya masih sama. Mata yang mengatakan kalau itu adalah sebuah cinta. Tapi kenapa harus berbohong?”
Nadin mengeratkan pelukannya pada suaminya, memeluk
suaminya seperti ini benar-benar membuat hatinya kembali tenang. Memang taka da
yang benar-benar indah jika tidak ada kesedihan di dalamnya, lalu bagiaman jika
kita tahu itu bahagia, jika kita tidak pernah merasakan terluka, nikmati saja prosesnya,
dan mau akan menjadi lebih kuat.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘