
“Oh …, itu tadi. Dia suaminya!”
Mendengar hal itu, dini segera menggenggam tangan Nadin yang sudah mulai bergetar, meminta nadin agar tetap tenang dan
mendengarkan kelanjutan keterangan dari dokter.
“Suami?”
“Iya …, namanya pak Rendi, dia selalu menemani ibu Davina untuk periksa kandungan, dia juga telaten dan memperhatikan sekali
kesehatan ibu dan bayinya!”
“Ya sudah dok, terimakasih atas informasinya, kami permisi!”
Nadin dan Dini segera keluar dari ruangan itu. Nadin segera menjatuhkan tubuhnya di lantai saat keluar dari ruang pemeriksaan, rasa
pusing itu kembali hadir, matanya mulai berkunang-kunang.
“Nad …, Nad …, kamu nggak pa pa kan?” Dini
memanggil-manggil Nadin, dia begitu khawatir.
“Aku harus kuat…, aku harus kuat …,!” Nadin mengatur nafasnya memejamkan matanya sejenak. “Kita harus nyusulin mereka!”
“Tapi Nad, wajah kamu pucet banget …!” Dini semakin khawatir saja dengan keadaan sahabatnya itu, tubuhnya terlihat begitu lemas dan tangannya bergetar, wajahnya memucat.
“Nggak, aku harus tahu semuanya sekarang, bantu aku berdiri!” Nadin mengangkat tangannya meminta bantuan Dini untuk membuatnya bangun kembali.
“Baiklah …!”
Dini membantu Nadin berdiri, mereka pun mengejar Rendi dan Davina., sepanjang perjalanan Dini tak hentinya memaki Davina, ia benar-benar kesal dengan wanita itu, Dini tahu apapun yang terjadi pada Nadin
dan Davina.
"Pengen aku bejek-bejek pokoknya wanita ular itu, beraninya dia menyakiti kamu lagi!’
“Nad …, kamu jangan diam saja, kita harus lakuin sesuatu!” dini terus saja bicara, rasanya kalau di hitung jumlah kata dalan
satu menit bisa ratusan yang keluar dari mulutnya.
“Aku akan menyelesaikannya!” Nadin bicara begitu singkat, dia terlihat tenang tapi matanya sama sekali tidak keluar lagi, ia mencoba menguatkan perasaannya sendiri bahwa yang di lihat tidaklah benar, ia yakin suaminya memiliki penjelasan yang bisa meyakinkannya.
“Nad …, kita ini menuju ke apartemen kamu lagi loh!”
‘Iya …, kak Davina berarti benar-benar tinggal di gedung yang sama denganku!’
‘jadi kamu tahu, trus kamu diam saja, sampai saat ini? Kau ini ya benar-benar bikin aku tambah bingung ya!”
“Aku baru tahu jika wanita itu kak Davina!”
“kau masih memanggilnya kak, sampai saat ini, wanita ular itu tidak pantas mendapat panggilan kakak darimu!” Dini benar-benar gemas dengan sahabatnya itu.
Rendi dan Davina lebih dulu turun dari mobilnya, Dini dan Nadin segera menyusulnya.
Mereka menunggu hingga Rendi dan Davina
sampai di apartemen tempat tinggalnya. Dan benar lantai dua tujuannya, Nadin
kembali mengingat saat itu, saat ia menemukan suaminya berada di lantai dua,
sejak kapan suaminya itu suka bertemu dengan orang asing?
Saat mereka sudah masuk, Nadin segera mengetuk pintu itu, terdengar sahutan dari dalam, itu suara suaminya. Membuat hatinya kembali teriris, mungkin Rendi mengira itu Ajun, karena Ajun hanya ijin sebentar untuk menebus resep obat.
“Iya sebentar!”
Ceklek
Pintu terbuka, Rendi berada di balik pintu itu,
Nadin masih berusaha untuk meyakinkan kalau itu benar-benar suaminya. Mereka saling terpaku di tempatnya.
“Mas Rendi …!”
“Tokki …!” sepertinya Rendi tak kalah terkejutnya dari Nadin, bahkan ia tidak berpindah dari tempatnya saat dengan sengaja Nadin menerobos masuk dan menabrak tubuhnya, walaupun tubuhnya sedikit terpental.
Setelah terpaku cukup lama, akhirnya Rendi menyusul Nadin masuk begitu juga dengan Dini, ia benar-benar tidak membiarkan sahabatnya itu sendiri di antara suami dan selingkuhannya.
Davina sudah berdiri menyambut Nadin, mereka saling berhadapan dalam jarak satu meter.
Tak ada yang bicara, mereka hanya saling
bertatap, ada penyesalan di mata wanita hamil itu, Davina hanya menangis, tapi
Nadin tetap dengan gaya tegar nya walaupun hatinya kini sedang hancur. Ia
sekarang hanya butuh kepastian dari suaminya dan kakaknya bahwa itu semua,
pemikirannya tidak benar.
“Mas …, siapa pemiliknya? Siapa pemilik bayi yang ada di kandungan kak Davina!" Tanya Nadin tanpa menoleh ke belakang, ia hanya menatap Davina, bahkan matanya sudah memerah karena
terlalu lama menahan tangis, ada getaran dalam kata-katanya.
“Kenapa kau tidak menjawabnya mas, aku Tanya sekali
lagi, siapa ayah dari bayi dalam kandungan wanita ini!” bahkan hatinya terlalu
“Jangan menyalahkan Rendi, ini semua salahku!” ucap Davina. Hatinya bertambah sakit saat pria yang dia sebut suaminya itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Diam …!” ucap Nadin pada Davina. “Saya tidak bicara pada anda!”
“Nad …, semau akan aku jelaskan, tapi bukan saat ini!” ucap Davina lagi seakan tak peduli dengan gertakan Nadin.
Rendi mendekati istrinya, ia meraih tangan Nadin tapi segera di tepis dengan keras oleh Nadin.
“Jelaskan semuanya padaku mas, katakan sejujurnya? Apa kalian menikah?” Tanya Nadin.
“Nad …, jangan berpikir yang tidak-tidak!”
peringatan Rendi. "Percayalah padaku!"
Nadin mendekat ke arah Davina membuat Davina sedikit mundur untuk memberi jarak.
“Kenapa? Kenapa kau tega sama aku, apa salahku …, apa salahku!” Nadin menarik bahu Davina dan menggoyangnya dengan keras membuat Davina memekik kesakitan.
Dengan reflek Rendi menarik tangan Nadin hingga memnuat tubuh Nadin terhuyung ke belakan.
Nadin sakit, tapi bukan tubuhnya saat suaminya lebih memilih melindungi wanita lain dari pada dirinya.
Melihat istrinya hampir terjatuh, Rendi begitu
menyesal. Ia segera menghampiri istrinya dan membatunya untuk bangun.tapi
lagi-lagi tangannya kembali di tepis oleh Nadin dengan keras.
“aku tunggu di rumah mas …, jelaskan semuanya padaku!”
Nadin bangun dan di bantu Dini keluar dari
apartem,en Davina dengan sedikit sempoyongan, ia begitu kekurangan tenaga.
“Nad …, kamu benar-benar nggak pa pa?” Tanya Dini khawatir.
“Nggak, aku harus menyelesaikan semuanya. Tinggalkan aku sebentar!”
“tapi nanti kalau kamu butuh sesuatu, hubungi aku!”
nadin mengangguk. Dini mengatar Nadin sampai di depan apartemennya.
‘benaran, segera hubungi aku jika ada masalah!”
“Iya!” Nadin segera masuk dan menutup kembali
pintunya. Ia menuju ke dapur mengambil air minum dalam sekali teguk minuman itu
habis, ia menyandarkan tubuhnya di meja dapur, menangis meluapkan semua air
matanya yang sedari tadk tekah ia tahan.
Hiks hiks hiks
Setelah puas menumpahkan air matanya, ia segera
menghapus air matanya dan mencuci wajahnya di tempat cuci piring.
“Aku harus kuat, aku harus kuat!” Nadin terus
meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja,
Rasanya tenaganya hilang begitu saja, setelah
beberapa hari ini ia tidakl bisa makan dengan tenang. Nadin kembali mengambil
air minum dan meminumnya.
Nadin menunggu suaminya di ruang tamu, ia hingga
cukup lama pintu itu baru terbuka kembali. Rendi muncul dari balik pintu, Nadin
tak juga mengeluarkan suaranya. Rendi segera duduk di hadapan istrinya itu.
“Sekarang jelaskan padaku mas!”
“Nad …, semuanya tidak seperti yang kau pikirkan,
percayalah padaku!” Rendi berjongkok di hadapan Nadin, menggenggam tangan
istrinya, mencoba meyakinkannya bahwa tidak semua yang di lihat adalah
kebenaran.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘