MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Menepi



Mau tak mau akhirnya terpaksa Rendi mengantar Nadin pulang.


Sepanjang perjalan suasana di dalam mobil sangat hening. Rendi fokus dengan


jalanan, sedangkan Nadin, ia sesekali menatap keluar dan tak jarang  ia mengintip pria di sampingnya itu.


Aku harus memberi pelajaran pada gadis ini ....!


Saat sampai di tempat yang sepi, tiba-tiba Rendi meminggirkan


mobilnya dan menginjak pedal remnya.



Nadin begitu terkejut, ia mentap Rendi bingung. Rendi tetap


memegang stirnya dengan sedikit memberi remasan, tampak dari otot-ototnya yang


menonjol di buku-buku telapak tangannya yang putih bersih.


Astaga apa yang akan di lakukan pak Rendi? apa dia akan membunuhku


di sini? Batin Nadin yang melihat sekelilingnya, begitu sepi, kiri dan kanan


jalan hanya ada hamparan rumput. Pikiran Nadin sudah berkelana kemana-mana.


Sejak kapan rumput-rumput itu ada di sini ...? apa dia akan memperkosaku


dann membunuhku, kemudian membuang mayatku ke padang rumput itu ..., oh Tuhan


..., siapapun kirim seseorang untuk menolongku .....


Sungguh Nadin sudah menjadi korban berita kriminal, pikirannya


sangat buruk sekali. Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran buruknya,


tiba-tiba ia sudah di kejutkan dengan wajah Rendi yang sudah sempurna mendekat


pada wajahnya hingga ia bisa merasakan hembusan nafas pria itu.


“Pak – pak ..., apa yang bapak akan lakukan?” tanya Nadin gugup, yang


bisa Nadin lakukan hanyalah memundurkan wajahnya agar bisa terhindar dari wajah


Rendi, tapi sayang beribu sayang, Rendi pun mengikuti gerakannya, ia terus


mengejar Nadin, seakan tak mau menjauh dari wajah gadis itu walau seinci,


hingga kini posisi Rendi berada di atas tubuh Nadin. Nadin pun sudah mentok, ia


tidak dapat bergerak lagi hingga kepala belakangnya membentur pintu mobil yang


berada di belakangnya.


Rendi semakin mendekat pada Nadin, hingga tubuhnya menghimpit tubuh


Nadin. Nafas Rendi hingga mampu menembus dan bercampur dengan nafas Nadin yang


memburu. Nadin memejamkan matanya. Ia sudah pasrah, tak ada jalan lain.


*Oh Tuhan ..., bantu aku terbebas dari pria dingin ini .....


“Apa yang kau inginka*n dariku?” tanya Rendi. Rendi menatap dengan


tajam wajah gadis di depannya, mengamati setiap lekuk wajah gadis itu,tatapannya


terpaku pada bibir tipis merah jambu milik Nadin,  entah kenapa ingin sekali menyentuhnya, ia


tangannya menarik dagu Nadin, hingga bibir tipis Nadin begitu dekat dengan


bibirnya.


Apa pak Rendi akan menciumku ....? ini ciuman pertamaku ....,


aku kehabisan nafas ..., bagaimana ini ..., Batin Nadin


Kenapa dia begitu manis? Batin Rendi. tapi dengan cepat ia mengalihkan pikirannya. Ia tidak suka


pemikiran yang tidak sesuai dengan logikanya.


Tak mendapat jawaban dari gadis itu. Rendi pun segera menjauhkan


tubuhnya dari gadis itu, ia melepas tangannya dari Nadin. Nadin perlahan


membuka matanya, saat ia tak mampu merasakan nafas pria di sampingnya itu.


“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Rendi lagi, tapi kini


tatapannya mengarah ke depan, kejalanan yang sepi itu. Ia mencoba biasa saja


dan menghindari tatapan Nadin. Entah kenapa gadis itu begitu mempengaruhinya.


“A-aku Cuma ingin dekat dengan pak Rendi.” ucap Nadin. Ucapan gadis


itu, bohong jika Rendi tidak menyukainya. Hatinya menghangat dengan ucapan


Nadin. Tapi Rendi tetaplah Rendi, hatinya sekeras balok es.


“Dengan memanfaatkan ayahku?” tuduh Rendi, ia tidak suka, ia marah


karena ayahnya telah ikut campur.


“Tidak ..., aku benar-benar tidak tahu jika paman merencanakan hal


itu.” Bantah Nadin. Dengan wajah polosnya ia menolak tuduhan Rendi.


Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu ...?picik *sekali pikirannya


....


“Dasar ..., penjilat* ...” ucap Rendi.


“Anda jangan sembarangan bicara ya, aku memang suka sama bapak,


tapi aku tidak pernah melakukan hal-hal buruk untuk itu, jadi jangan asal


bicara ya ....!” ucap Nadin menjadi kesal dengan ucapan Rendi. ia tidak suka


Rendi mengeatainya seperti itu.


“Terserah kau saja ...” ucap Rendi lalu menyalakan kembali mesin


dan segera melajukan mobilnya.


Alhamdulillah ...., setidaknya dia tidak membunuhku .... batin Nadin


lega. Nadin mengelus dadanya.


pada pria di sampingnya itu. Ia begitu malas untuk sekedar mengajaknya


berbicara. Cukup sudah usahanya, tak mau terlalu memaksa ...


Belum selesai Nadin dengan segala umpatannya, tiba-tiba mobil


kembali berhenti, membuat Nadin terkejut.


“Turun ...!”


Ucapan Rendi yang tiba-tiba tentu membuat Nadin terkejut. Entah


pergi kemana kesadarannya. Ternyata ia sudah sampai di depan rumah.


“Sudah sampai ya?”


“Menurutmu ...!!!” jawab Rendi ketus.


“Bisa nggak sih pak, biasa aja..., sebenci itukah bapak sama saya


..., apa salah saya?” ucap Nadin yang masih memendam kesalnya pada Rendi. “Jika


pak Rendi tidak menginginkan saya datang dalam acara itu,saya tidak akan


mengganggu pak Rendi lagi, dan saya juga tidak akan datang, bye ....”


**Menepi


Kau yang pernah singgah di sini


Dan cerita yang dulu kau ingatkan kembali


Tak mampu aku 'tuk mengenang lagi


Biarlah kenangan kita pupus di hati


Tak ada waktu kembali untuk mengulang lagi


Mengenang dirimu di awal dulu


'Ku tahu dirimu dulu hanya meluangkan waktu


Sekedar melepas kisah sedihmu


Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi?


Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya


Yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi


Tak ada waktu kembali untuk mengulang lagi


Mengenang dirimu di awal dulu


'Ku tahu dirimu dulu hanya meluangkan waktu


Sekedar melepas kisah sedihmu


Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi?


Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu


Melihatmu genggam tangannya**,…


Nadin pun turun dari mobil tanpa menungghu jawabamn dari Rendi.


tapi entah kenapa hati Rendi mencelus mendengar penuturan Nadin. Ada rasa tak


terima di dalam sana.


SetelahNadin turun dari mobiinya, dengan cepat ia melajukan


mobilnya. Rasa kesal pada keputusan ayahnya, membuatnya melampiaskan pada


Nadin.


Sesampai di apartemen, ia pun segera merebahkan badannya yang di rasa sangat penat. Ia terus terngiang pada ucapan Nadin.


“Jika pak Rendi tidak menginginkan saya datang dalam acara itu,saya


tidak akan mengganggu pak Rendi lagi, dan saya juga tidak akan datang, bye ....”


Kenapa ucapan Nadin itu begitu mengganggu pikirannya, ia tidak


rela, tidak rela kenapa? Bukankah seharusnya ia senang? Tidak akan ada yang


mengganggunya lagi ...


Entah kenapa ingatan wajah polos Nadin tak mau hilang dari


pikirannya. Rendi pun kemudian bagun dari tidurnya.


“Kenapa dia selalu menggangguku ..., menyebalkan sekali wajah polosnya


itu ...” gerutu Rendi sambil meninju bantal yang tadi di jadikan senderan


kepalanya.


“Aku harus berendam ....” Rendi pun akhirnya  memutuskan bangun dan menuju ke kamar mandi,


ia segera melepas semua pakaiannya dan mengisi bathup dengan air hangat, ia


menenggelamkan tubuhnya di dalam sana.


Ia memejamkan matanya, memikirkan semua yang terjadi membuat


kepalanya pusing.


“Ini hidupku, sudah cukup ayah menentukan semuanya ...” gumam


Rendi.


Ya sedari kecil, ayahnya yang menentukan arah hidupnya. Bahkan


sampai dewasa pun haruskah dia menjadi bayang-bayang ayahnya.


Masih ada waktu satu bulan untuk merencanakan semuanya, ia harus


memikirkan cara untuk menolak rencana ayahnya. Mungkin dengan mencari pasangan


sebelum acara itu tiba.


***