
Mau tak mau akhirnya terpaksa Rendi mengantar Nadin pulang.
Sepanjang perjalan suasana di dalam mobil sangat hening. Rendi fokus dengan
jalanan, sedangkan Nadin, ia sesekali menatap keluar dan tak jarang ia mengintip pria di sampingnya itu.
Aku harus memberi pelajaran pada gadis ini ....!
Saat sampai di tempat yang sepi, tiba-tiba Rendi meminggirkan
mobilnya dan menginjak pedal remnya.
Nadin begitu terkejut, ia mentap Rendi bingung. Rendi tetap
memegang stirnya dengan sedikit memberi remasan, tampak dari otot-ototnya yang
menonjol di buku-buku telapak tangannya yang putih bersih.
Astaga apa yang akan di lakukan pak Rendi? apa dia akan membunuhku
di sini? Batin Nadin yang melihat sekelilingnya, begitu sepi, kiri dan kanan
jalan hanya ada hamparan rumput. Pikiran Nadin sudah berkelana kemana-mana.
Sejak kapan rumput-rumput itu ada di sini ...? apa dia akan memperkosaku
dann membunuhku, kemudian membuang mayatku ke padang rumput itu ..., oh Tuhan
..., siapapun kirim seseorang untuk menolongku .....
Sungguh Nadin sudah menjadi korban berita kriminal, pikirannya
sangat buruk sekali. Belum selesai dengan pemikiran-pemikiran buruknya,
tiba-tiba ia sudah di kejutkan dengan wajah Rendi yang sudah sempurna mendekat
pada wajahnya hingga ia bisa merasakan hembusan nafas pria itu.
“Pak – pak ..., apa yang bapak akan lakukan?” tanya Nadin gugup, yang
bisa Nadin lakukan hanyalah memundurkan wajahnya agar bisa terhindar dari wajah
Rendi, tapi sayang beribu sayang, Rendi pun mengikuti gerakannya, ia terus
mengejar Nadin, seakan tak mau menjauh dari wajah gadis itu walau seinci,
hingga kini posisi Rendi berada di atas tubuh Nadin. Nadin pun sudah mentok, ia
tidak dapat bergerak lagi hingga kepala belakangnya membentur pintu mobil yang
berada di belakangnya.
Rendi semakin mendekat pada Nadin, hingga tubuhnya menghimpit tubuh
Nadin. Nafas Rendi hingga mampu menembus dan bercampur dengan nafas Nadin yang
memburu. Nadin memejamkan matanya. Ia sudah pasrah, tak ada jalan lain.
*Oh Tuhan ..., bantu aku terbebas dari pria dingin ini .....
“Apa yang kau inginka*n dariku?” tanya Rendi. Rendi menatap dengan
tajam wajah gadis di depannya, mengamati setiap lekuk wajah gadis itu,tatapannya
terpaku pada bibir tipis merah jambu milik Nadin, entah kenapa ingin sekali menyentuhnya, ia
tangannya menarik dagu Nadin, hingga bibir tipis Nadin begitu dekat dengan
bibirnya.
Apa pak Rendi akan menciumku ....? ini ciuman pertamaku ....,
aku kehabisan nafas ..., bagaimana ini ..., Batin Nadin
Kenapa dia begitu manis? Batin Rendi. tapi dengan cepat ia mengalihkan pikirannya. Ia tidak suka
pemikiran yang tidak sesuai dengan logikanya.
Tak mendapat jawaban dari gadis itu. Rendi pun segera menjauhkan
tubuhnya dari gadis itu, ia melepas tangannya dari Nadin. Nadin perlahan
membuka matanya, saat ia tak mampu merasakan nafas pria di sampingnya itu.
“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Rendi lagi, tapi kini
tatapannya mengarah ke depan, kejalanan yang sepi itu. Ia mencoba biasa saja
dan menghindari tatapan Nadin. Entah kenapa gadis itu begitu mempengaruhinya.
“A-aku Cuma ingin dekat dengan pak Rendi.” ucap Nadin. Ucapan gadis
itu, bohong jika Rendi tidak menyukainya. Hatinya menghangat dengan ucapan
Nadin. Tapi Rendi tetaplah Rendi, hatinya sekeras balok es.
“Dengan memanfaatkan ayahku?” tuduh Rendi, ia tidak suka, ia marah
karena ayahnya telah ikut campur.
“Tidak ..., aku benar-benar tidak tahu jika paman merencanakan hal
itu.” Bantah Nadin. Dengan wajah polosnya ia menolak tuduhan Rendi.
Bagaimana bisa ia berpikir seperti itu ...?picik *sekali pikirannya
....
“Dasar ..., penjilat* ...” ucap Rendi.
“Anda jangan sembarangan bicara ya, aku memang suka sama bapak,
tapi aku tidak pernah melakukan hal-hal buruk untuk itu, jadi jangan asal
bicara ya ....!” ucap Nadin menjadi kesal dengan ucapan Rendi. ia tidak suka
Rendi mengeatainya seperti itu.
“Terserah kau saja ...” ucap Rendi lalu menyalakan kembali mesin
dan segera melajukan mobilnya.
Alhamdulillah ...., setidaknya dia tidak membunuhku .... batin Nadin
lega. Nadin mengelus dadanya.
pada pria di sampingnya itu. Ia begitu malas untuk sekedar mengajaknya
berbicara. Cukup sudah usahanya, tak mau terlalu memaksa ...
Belum selesai Nadin dengan segala umpatannya, tiba-tiba mobil
kembali berhenti, membuat Nadin terkejut.
“Turun ...!”
Ucapan Rendi yang tiba-tiba tentu membuat Nadin terkejut. Entah
pergi kemana kesadarannya. Ternyata ia sudah sampai di depan rumah.
“Sudah sampai ya?”
“Menurutmu ...!!!” jawab Rendi ketus.
“Bisa nggak sih pak, biasa aja..., sebenci itukah bapak sama saya
..., apa salah saya?” ucap Nadin yang masih memendam kesalnya pada Rendi. “Jika
pak Rendi tidak menginginkan saya datang dalam acara itu,saya tidak akan
mengganggu pak Rendi lagi, dan saya juga tidak akan datang, bye ....”
**Menepi
Kau yang pernah singgah di sini
Dan cerita yang dulu kau ingatkan kembali
Tak mampu aku 'tuk mengenang lagi
Biarlah kenangan kita pupus di hati
Tak ada waktu kembali untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu di awal dulu
'Ku tahu dirimu dulu hanya meluangkan waktu
Sekedar melepas kisah sedihmu
Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi?
Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya
Yang mampu membuatku tersadar dan sedikit menepi
Tak ada waktu kembali untuk mengulang lagi
Mengenang dirimu di awal dulu
'Ku tahu dirimu dulu hanya meluangkan waktu
Sekedar melepas kisah sedihmu
Mencintai dalam sepi dan rasa sabar mana lagi?
Yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu
Melihatmu genggam tangannya**,…
Nadin pun turun dari mobil tanpa menungghu jawabamn dari Rendi.
tapi entah kenapa hati Rendi mencelus mendengar penuturan Nadin. Ada rasa tak
terima di dalam sana.
SetelahNadin turun dari mobiinya, dengan cepat ia melajukan
mobilnya. Rasa kesal pada keputusan ayahnya, membuatnya melampiaskan pada
Nadin.
Sesampai di apartemen, ia pun segera merebahkan badannya yang di rasa sangat penat. Ia terus terngiang pada ucapan Nadin.
“Jika pak Rendi tidak menginginkan saya datang dalam acara itu,saya
tidak akan mengganggu pak Rendi lagi, dan saya juga tidak akan datang, bye ....”
Kenapa ucapan Nadin itu begitu mengganggu pikirannya, ia tidak
rela, tidak rela kenapa? Bukankah seharusnya ia senang? Tidak akan ada yang
mengganggunya lagi ...
Entah kenapa ingatan wajah polos Nadin tak mau hilang dari
pikirannya. Rendi pun kemudian bagun dari tidurnya.
“Kenapa dia selalu menggangguku ..., menyebalkan sekali wajah polosnya
itu ...” gerutu Rendi sambil meninju bantal yang tadi di jadikan senderan
kepalanya.
“Aku harus berendam ....” Rendi pun akhirnya memutuskan bangun dan menuju ke kamar mandi,
ia segera melepas semua pakaiannya dan mengisi bathup dengan air hangat, ia
menenggelamkan tubuhnya di dalam sana.
Ia memejamkan matanya, memikirkan semua yang terjadi membuat
kepalanya pusing.
“Ini hidupku, sudah cukup ayah menentukan semuanya ...” gumam
Rendi.
Ya sedari kecil, ayahnya yang menentukan arah hidupnya. Bahkan
sampai dewasa pun haruskah dia menjadi bayang-bayang ayahnya.
Masih ada waktu satu bulan untuk merencanakan semuanya, ia harus
memikirkan cara untuk menolak rencana ayahnya. Mungkin dengan mencari pasangan
sebelum acara itu tiba.
***