
Pagi ini Rendi memutuskan pergi ke
rumah besar, ia begitu terpikirkan oleh rencana Viona dan ibunya.
Walaupun ini hari minggu. Seharusnya hari ini dia gunakan untuk bersantai menikmati harinya. Tapi tanggung jawabnya memintanya untuk tetap datang ke rumah besar itu..
Rendi bergegas
menyusuri tangga apartemennya. Walaupaun ada lift. Dia lebih memilih lewat
tangga darurat. Sekalian ia bisa berolah raga. Itu memang kebiasaan Rendi. Ia terbiasa memanfaatkan apapun untuk bisa berolah raga, karena waktu luangnya tidak banyak.
Mobil sudah siap di depan pintu
lobi apartemen. Anak buahnya sudah menantinya di sana.
“Kita ke rumah
Nyonya besar ...” ucap Rendi saat sudah duduk di dalam mobil
“Baik tuan ...”
Tak berapa
lama, mobil pun berhenti di depan rumah besar itu. ya karena Rendi sengaja memilih apartemen yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah besar, hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah besar, sedangkan jika dia tinggal bersama ayahnya di rumah ayahnya, ia membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumah besar.
Saat turun dari mobilnya, Rendi melihat rumah itu
terlihat begitu ramai dengan mobil yang berjejer di depannya. Tak biasanya nyonya besar menerima tamu di rumahnya, apa lagi ini hari minggu.
“Ini mobil
siapa?” Rendi merasa asing dengan mobil itu. Tapi belum sampai tangannya
menyentuh gagang pintu. Ponselnya berdering.
“Hallo nyonya
...”
“Datang ke
ruangan kerjaku.”
“Baik nyonya
...”
Rendi pun
segera bergegas saat Ratih memanggilnya. Tapi saat hendak masuk. Lagi-lagi
langkahnya terhenti.
“Dokter Louis
...”
“Pagi, pak
Rendi ...” sapa dokter yang di sapa dr. Louis itu.
“Sedang apa
dokter di sini?”
“Saya harus
memeriksa kandungan menantu nyonya Ratih ...” ucap dr. Louis. Apa yang Rendi
khawatirkan terjadi. Kehamilan palsu Ara terbongkar. Ia benar-benar takut jika
setelah ini akan ada kesalah pahaman lagi. Setelah hubungannya dengan Agra
sudah mulai membaik.
“Terimakasih
dokter, sampai jumpa. Hati-hati di jalan ...” setelah dr. Louis meninggalkan
Rendi. Rendi pun segera masuk ke dalam rumah. Tapi lagi-lagi langkahnya
terhenti saat sampai di ruang tamu.
“Viona ...”
gumam Rendi. tapi Rendi segera menetralkan kembali wajahnya. Ia berusaha
terlihat biasa-biasa saja. Ia menutupi keterkejutannya dengan memasang wajah
dinginya.
“Pagi nona
Viona.”
“eh ...lo,
Rend. Pagi juga.” Ucap wanita itu dengan sangat angkuh.
“Apa yang anda
lalukan di sini?”
“Oh ..., aku
..., aku di undang oleh tante Ratih.”
Lancang sekali
wanita licik ini memanggil nyonya Ratih, dengan sebutan tante ..., batin Rendi
kesal.
“ya sudah nona.
Sepertinya anda tak terlalu di butuhkan lagi di sini. Sebaiknya anda pergi ...”
ucap Rendi sambil meninggalkan Viona yang sudah di buat kesal olehnya.
“Dasar kau...,
lihat saja nanti jika aku sudah menjadi nyonya rumah ini ..., aku akan menendangmu
dari sini ...” umpat Viona.
Rendi menaiki
tangga menuju ke sebuah ruangan yang letaknya di paling ujung. Dengan pintu
yang besar dan terlihat berbeda dari yang lainnya.
Ia pun segera
mengetuk pintu itu.
Tok tok tok
“masuklah ....”
suara tegas itu begitu Rendi kenal. Itu suara yang Rendi yakini sebagai suara
nyonya besar rumah itu. Rendi pun segera masuk ke dalam ruangan itu. Ia tak mau
pemilik ruangan itu menunggu terlalu lama.
Rendi melihat
dua orang di sana dengan wajah yang sangat tegang. Ya ibu dan anak itu seperti
sedang membahas hal yang begitu serius.
“Selamat pagi
nyonya ..., selamat pagi pak ...” sapa Rendi pada dua orang di dalam ruangan
itu. Lalu dimana Ara?
“Duduklah ...!”
perintah Ratih pada Rendi. Rendi pun tak mau menunggu perintah dua kali. Ia
segera duduk di kursi yang masih kosong.
“Ibu punya dua
pilihan padamu.” Ucap Ratih tiba-tiba pada putranya. Rendi yang baru saja
datang hanya bisa menjadi pendengar. Ia belum bisa membaca situasi yang
sebenarnya.
“Yang pertama
ceraikan istrimu dan kamu akan tetap menjadi CEO di FinityGroup. Atau yang
kedua, kau akan tetap bersamanya, buktikan padaku bahwa dia tidak hanya
mengincar harta dan kekuasaan.”
Deg
Rendi terkejut
mendengar perkataan Ratih. Agra pun juga tak kalah terkejut. Bagaimana bisa?
Drama apa lagi yang Ratih buat.
“Aku memilih
yang ke dua.” Ucap Agra pasti.
“Pak ...,
tolong pikirkan lagi keputusan anda.” Rendi mencoba menengahi. Ia tidak mungkin
membuat sahabatnya itu menyerah. Tapi juga bingung harus berbuat apa. Ia merasa
serba salah.
“Keputusanku
sudah bulat.”
“nyonya ...,
pikirkan kembali keputusan anda.” Rendi berpindah pada Ratih. Bagaimana bisa
seorang ibu berpikir untuk memisahkan anak dengan menantunya. Ini salah. Ini
harus segera di luruskan.
sekarang hingga enam bulan kedepan. Kamu harus bisa membuktikan pada ibu jika
keputusan ibu salah.”
“Baik..., saya
permisi ...” Agra meninggalkan ruangan tanpa memperdulikan ucapan Rendi. sedang
Rendi yang masih berada di dalam ruangan. Seakan dirinya terjebak lagi dalam
masalah ini. Apa yang Ratih rencanakan sebenarnya?
“Nyonya ...”
“Aku sudah tahu
apa yang kamu pikirkan. Tapi ini resiko yang harus aku pilih, aku belum bisa
melepasnya di tengah kejamnya dunia ini. Biar ia belajar dan mengumpulkan orang-orang
yang tulus mendukungnya.” Jelas Ratih pada Rendi.
“Maafkan aku
nyonya. Aku sudah salah paham pada anda.” Ucap Rendi yang merasa bersalah
karena telah berburuk sangka pada Ratih.
“Tugas adalah
terus awasi Agra, kesalamatannya sangat penting. Dan lagi tolong pegang posisi
CEO untuk sementara waktu. Selama Agra meninggalkan perusahaan.”
“Baik nyonya
...”
“Dan lagi ...,
tolong awasi terus gerak-gerik Viona. Aku curiga padanya.”
“Baik nyonya.
Jika sudah tidak ada yang di bicarakan lagi. Saya permisi.”
“Pergilah.”
Setelah
mendapat ijin dari Ratih. Rendi pun meninggalkan ruangan itu. Rendi melihat
Agra dan Ara menuruni tangga dengan membawa tas besarnya. Rasanya ingin sekali
mencegah mereka. Tapi Rendi tak mampu mekalukannya. Jika nyonya besar rumah ini
sudah berkata, tak akan ada yang menolaknya.
Rendi terus
menatap mereka dari kejauhan. Saat mereka sudah mencapai ruang tamu. Mereka
harus bertemu dengan Viona. Wanita licik itu belum meninggalkan rumah besar
itu. Apa yang dia tunggu?
“Agra ...”
Viona segera menghampiri Agra dan menarik tangannya tapi sayang Agra lebih dulu
menepisnya.
“Kau mau kemana
sayang ?” tanya Viona, lalu matanya tertuju pada tas besar dan Ara. “Kau pasti
akan mengusir wanita ****** ini, iya kan?”
“Tutup mulutmu
yang hina itu.” Agra mengeratkan tangan seperti hendak menampar Viona. Tapi Ara
segera mencegahnya. Rendi yang berdiri di belakang mereka juga merasa kesal
dengan ucapan Viona.
Ingin rasanya
ku sobek mulutnya yang hina itu ..., batin Rendi
“kau sudah
puas. Ya kau menang ..., kami kalah ..., dan kami akan pergi ...” ucap Agra
menatap tajam pada Viona.
“Kami ....?
maksudnya kau dan dia?” tanya Viona tak percaya.
“ iya ...,
KAMI..., aku dan Ara. Asal kamu tahu, aku sekarang sudah bukan Agra yang
kemarin. Aku sekarang Agra yang tak punya apa-apa. Bukan lagi CEO perusahaan
besar.”
“Gra ...,
jangan becanda..., ini tidak lucu.”
“apa yang di
katakan Agra benar ....” Rendi tak mau lagi berdiam diri menyaksikan percakapan
mereka. Ia memilih memotong perdebatan mereka. “sekarang ..., semua perusahaan
di limpakan kekuasaannya pada saya. Agra hanya memiliki 5% dari saham
perusahaan. Dan saya yang menggantikannya.”ucapan Rendi berhasil membuat Viona
syok.
“Ini tidak
mungkin ...” Viona menjatuhkan tubuhnya di lantai. Ia seperti kehilangan
kekuatannya. Perjuangan untuk mendapatkan Agra, rasanya sia-sia belaka.
“dan jika sudah
selesai ...., silahkan anda keluar nona Viona. Bukankah tadi sudah saya
katakan, bahwa anda tidak di butuhkan lagi di sini. Anda tahu jalan keluarnya
kan? Apa perlu panggilkan scurity?” ucap Rendi.
“Tidak perlu
..., aku bisa sendiri.” Viona segera berdiri dan meninggalkan mereka dengan
penuh kekecewaan.
Kini tersisa
mereka bertiga di ruangan itu. Rendi menatap Agra, begitupun sebaliknya.
“Aku akan pergi
...” ucap Agra.
“Tunggu ...”
tapi Rendi segera mencegahnya. Agra yang sudah berbalik segera menghentikan
langkahnya.
“Kamu punya 5%
dari saham perusahaan. Jadi setiap bulan aku akan menstranfernya ke
rekeningmu.”
“Ciiihhhh ...,
jadi yang ingin kau bicarakan hanya soal uang..., menyedihkan..., kau tak ada
bedanya dengan penjilat.” Ya ucapa Agra begitu menyakitkan bagi Rendi. ingin
rasanya Rendi mengatakan sebenarnya. Tapi itu tidak mungkin. Ia hanya bisa
membiarkan kebencian tumbuh kembali di hati Agra. Tapi nanti mungkin dia akan
mengatakan kebenarannya. Nanti, saat segalanya sudah kembali menjadi baik.
“Aku pergi ...”
Agra segera menarik tangan Ara. Langkahnya yang lebvar membuatnya dengan cepat
mencapai teras rumah. Tapi lagi-lagi Rendi menghentikan langkah mereka.
“Jaga Ara ...,
aku akan menjaga ibumu ...” ucap Rendi. ya ,.., dia begitu mencemaskan Ara. Tak
bisa di pungkiri jika hatinya masih sama.
“Dia istriku,
jika kau lupa..., aku ingatkan kau. Aku akan tetap menjaganya walaupun tanpa
kau perintah.”
Ya ucapan Agra
seketika menyadarkannya. Rendi hanya bisa menatap kepergian mereka. Ia bingung
harus melakukan apa. Ia hanya bisa menyuruh para ajudannya untuk mengawasi
mereka dari jauh.
"Ya kau benar, dia istrimu ...., apa hakku ...."
***
BERSAMBUNG