MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Syarat yang ku ajukan



“Baiklah …., aku setuju pulang tapi bukan untuk


kembali padamu tapi untuk menemukan kebenaran!”


Ucapan Nadin tentu membuat hati Rendi begitu


terluka, keras kepala Nadin akan berpengaruh banyak terhadap hatinya seperti


ini, biasanya Rendi lah yang selalu memaksakan kehendaknya tapi kini giliran


Nadin yang melakukan hal itu, Rendi terluka.


“Jangan terlalu kejam padaku!”


“Tidak, aku tidak kejam, aku hanya bersikap adil


saja, terlalu mudah memaafkan mas Rendi berarti terlalu mudah memancing mas


Rendi untuk melakukan kesalahan yang sama!”


“Aku janji, Tokki …, Aku memang pernah melakukan


kesalahan dan tidak mungkin untuk ku perbaiki, tapi aku bisa pastikan aku tidak


akan pernah melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari!”


“Aku pegang janjimu , mas …!”


POV Rendi


Setelah acara ulang tahun Nadin yang sebenarnya sedikit gagal, aku gagal mengungkap kebenarannya, aku takut jika ku ungkap saat itu juga dia akan semakin terluka.


Aku memastikan jika


Nadin dan putraku baik-baik saja sampai di rumah sebelum aku meninggalkannya. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.


Nadin sudah bersedia aku ajak kembali ke Jakarta, kalau masalah pekerjaan


aku bisa menghendelnya dari Jakarta dan beberapa kali balik ke Surabaya untuk


penyelesaiannya.


“Aku harus pergi dulu, nggak pa pa kan? Aku harus menyiapkan keberangkatan kita ke Jakarta!”


“Ya ….!” Nadin lagi-lagi hanya menjawab ucapan ku dengan singkat, aku begitu merindukan Nadin yang cerewet. Tapi semuanya adalah


salahku aku harus bisa menerima konsekwensinya. Ku kecup kening Nadin lalu


beralih ke putraku, putraku, baby boy kebanggaan ku. Anugrah terbesar bisa


memilikinya, Elan adalah pengikat cinta kami.


“Ayah pergi dulu ya sayang, jaga bunda mu!”


Aku melangkahkan kakiku meninggalkan dua hidupku, sangat berat sebenarnya meninggalkan mereka. Ingin rasanya selalu dekat dengan mereka, kalau bisa setiap saat selalu berada di dekat mereka.


“Mas!” suara lembut itu memanggilku kembali, begitu senang rasanya di panggil olehnya.


“Iya?” dengan cepat ku hentikan langkahku dan


berbalik kembali pada mereka yang masih berdiri di depan pintu, suatu saat aku


berharap mereka akan tersenyum padaku saat aku pulang dan menyambut ku dengan


bahagia.


“Mas …., ijinkan aku bertemu dengan Alex sekali saja, untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Jakarta!”


Memang permintaan Nadin bukanlah permintaan yang


berat, tapi entah kenapa hatiku begitu berat merelakan. Pria itu yang telah


menyembunyikan istriku selama ini, pria itu yang telah membuatku seperti orang


gila ke sana kemari mencari keberadaan istriku, dengan santainya dia mengecoh


dengan mengirim ku ke berbagai tempat yang jauh hingga membuatku semakin jauh


dengan istriku.


“Mas ….! Gimana?”


Sebenarnya begitu berat, tapi aku tidak boleh egois kan. Aku hanya bisa memejamkan mataku, ku coba untuk ikhlas dan berpikir


positif, semua akan baik-baik saja.


“Baiklah …., tapi biarkan Ajun yang mengantarkan mu!”


“Setuju!”


“Aku pergi!”


Ku lihat kepala Nadin mengangguk, dia membiarkanku pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Aku kembali berbalik dan melangkah pergi, semakin cepat semuanya aku selesaikan maka akan semakin baik. Kami masih butuh satu minggu lagi untuk di sini sehingga semua pekerjaanku bisa sedikit


terealisasi. Kerja sama dengan pria yang bernama Alex sebenarnya begitu berat


setelah aku tahu semuanya. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus sedikit berdamai


dengan hatiku.


 Aku menemui Ajun dan memintanya untuk menjaga Nadin dan Elan selama aku tinggal pergi. Aku harus lembur beberapa hari ini.


“Ajun!”


“Iya pak!”


Ajun hanya akan menunduk hormat seperti biasa, ia begitu patuh padaku sehingga membuatku begitu percaya padanya, pilihanku


memang tak pernah salah. Ayahku sudah banyak mengajarkanku berbagai hal tentang


mempercayai dan di percaya seseorang, tapi aku lupa untuk mempelajari bagaimana


mencintai dan di cintai seseorang, mungkin ayahku juga tidak mempunyai ilmu


itu.


“Tolong jaga Nadin dan Elan selama aku tidak di rumah!”


“Baik pak!”


“Baik pak!”


Sekarang aku sedikit bernafas lega karena Nadin dan Elan akan aman bersama Ajun dan aku tahu wanita berhijab itu juga baik. Selama


ini dia yang menjaga mereka. Aku akan sempatkan untuk berterimakasih padannya


nanti sebelum kembali ke Jakarta.


Aku berangkat ke tempat kerjaku, menyelesaikan


proyek kami yang belum selesai. Aku harus bertemu dengan pria itu. Dan benar


saja saat sampai pria arogan itu sudah langsung menyambut ku, kami tidak saling


bicara selama bekerja, mungkin dia juga masih kesal padaku.


Akhirnya hari semakin petang saja, sudah hampir selesai sebagian. Aku berencana untuk cepat pulang, rasanya sudah tak sabar


untuk bertemu Nadin dan Elan. Mereka seperti udara yang menjadi nafasku, tanpa


mereka rasanya hatiku sesak, aku seperti tak bernyawa. Bahkan untuk menghirup


udara saja begitu sesak.


“Rendi!” langkahku yang sedikit berlari segera


terhenti saat seseorang memanggilku. Aku hafal suara siapa itu.


Ku hentikan langkahku tanpa menoleh ke belakang, rasanya masih begitu kesal hanya untuk menatap wajahnya saja.


“Aku tahu kamu pasti masih kesal sama saya!”


“Hemm!” jawabku asal.


“Kita harus bicara, di sana!” alex menunjuk sebuah


kafe yang berada tepat di depan tempat kami mengerjakan proyek bersama. Aku tak


menjawab, aku juga harus membicarakan sesuatu padanya. Tapi untuk menjawab


ucapannya, begitu malas. Aku berjalan mendahuluinya menuju ke tempat yang di


tunjuk oleh Alex. Kami duduk di salah satu bangku yang langsung menghadap ke


luar.


Kami hanya saling diam, mungkin dia juga masih


bingung harus memulai semuanya dari mana, mungkin seharusnya dia memulai dengan


meminta maaf. Tapi aku rasa dia terlalu arogan untuk mengakui kesalahannya.


“Maaf!”


Hah …, apa aku tidak salah dengar? Pria arogan di depanku ini mengatakan kata sakral itu. Atau memang aku saja yang masih asing


dengan kata itu.


“Maaf …., karena saya, kau terpisah dari istrimu!


Tapi inti dari pembicaraanku saat ini bukan itu!”


Pria itu berbicara dengan penuh penekanan, aku hanya


bisa mengerutkan keningku tak mengerti, aku kira kata maaf adalah kata yang


paling sakti di antara percakapan kami, ternyata ada yang lebih penting lagi.


Apa?


“Nadin dan baby El adalah keluargaku, kami sudah sangat dekat. Aku sudah menganggap baby El seperti putraku sendiri, rasanya


tidak akan adil jika kau memisahkan kami. Aku tidak meminta lebih, hanya


ijinkan aku tetap bisa dekat dengan baby El!”


Dekat? Maksud dari dekat? Bagaimana pria di depanku


ini mengatakan kalau itu bukan hal yang besar, apa dia mau membuatku gila


dnegan membiarkan putraku membagi kasih sayangnya, aku hanya ingin Elan


menerimaku sebagai ayah satu-satunya tidak ada yang lain, dan dia dengan


entengnya mengatakan hal itu.


“bagaimana? Apa kau setuju?”


“Tidak!” jawabku dengan tegas.


Memberi celah kecil pada orang lain sama saja dengan memberikan lubang besar di kemudian hari, sudah cukup baginya ada Davina, tidak untuk yang lainnya.


“Setidaknya …, berilah aku ijin untuk menemui mereka di beberapa kesempatan!”


“baiklah …, tapi ada syaratnya!”


“Apa?”


“Menikahlah dulu, baru aku akan mengijinkan!”


“Menikah?’


“Iya …! Sudah kan tidak ada yang perlu kita


bicarakan lagi, saya permisi!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘