
Setelah mendapatkan enggel yang pas Davina pun segera mengirimkan foto hasil jepretannya itu pada kontak Rendi.
"Aku hanya ingin membantumu memasangkannya ....!" ucap Divta santai. Divta suka melihat wajah panik Nadin.
"Nggak perlu ..,., aku bisa sendiri ....!" ucap Nadin sambil mendorong tubuh Divta hingga menciptakan jarak di antara mereka.
"Baguslah ...., pakai yang benar .....!" ucap Divta lalu segera menyalakan mesin mobilnya. Ia hanya terus tersenyum karena telah berhasil mengerjai Nadin.
Dia lucu sekali kalau sedang panik ....
Nadin pun dengan cepat memakai seathbelt nya, ia tak mau Divta sampai menyadari kesulitannya lagi.
"Dasar ceroboh ...!" ucap Divta.
"Nggak ...., siapa yang ceroboh ...? Aku memang suka kayak gitu ...!"
"Suka ceroboh?" tanya Divta sambil melengkungkan senyumnya. ia pin segera melajukan mobilnya. Pandangannya sesekali mengarah pada Nadin. Tapi Nadin lebih suka menatap ke luar jendela.
Davina sudah membayangkan bagaimana reaksi Rendi melihat foto kirimannya. Ia tersenyum puas.
Kak Rendi pasti ilfeel sama Nadin setelah ini ...., dia pasti ngganggap Nadin cewek gampangan.
Tanpa terasa mobil pun sudah memasuki blok perumahan mewah itu, Davina tampak terus mengamati kiri kanan, ia mengagumi jejeran rumah-rumah mewah itu.
Waah ...., luar biasa ...., ini peruhahan elit ....
Mobil mereka pun sampai di depan rumah yang paling megah dan paling besar di antara rumah-rumah mewah itu.
"Waw ...., ini rumahnya besar sekali ....!" gumam Davina.
Penjaga langsung membukakan gerbang yang menjulang tinggi itu, tapi masih belum bisa menutupi rumah besar di dalamnya, mobil mulai melewati halaman dengan taman yang begitu luas, untuk sampai di rumah utama mereka harus melalui halaman dengan jalan yang panjangnya lebih dari seratus meter dengan air mancur besar di tengah halaman.
"Wah wah wah ...., luar biasa ...., orang seperti apa sih yang di nikahi oleh kak Ara?" Davina tak hentinya mengagumi semua yang ia lihat.
"Orajg yajg luar biasa tentunya nak ....!" ucap Dewi menimpali.
"Iya ...., dia bukan hanya pria yang terbiasa di atas saja ...., ia seorang pengusaha yang gigih ...!" ucap Roy ikut menjelaskan.
"Nggak sabar ingin ketemu mereka ....!" ucap Davina dengan senyum yang tak luput dari bibirnya.
Asal jangan ngerecokin kehidupan kak Ara aja ....., kak Davina boleh menggangguku tapi jangan harap bisa ngeganggu kehidupan kak Ara ....., ingat di sini ada Nadin yang siap berperang .....
Nadin cukup khawatir dengan tingkah Davina, bukan bukan tidak mungkin Davina akan mengganggu kehidupan arah juga.
"Girl ....., kamu baik-baik saja?" tanya Divta saat mobil sudah berhenti.
"Iya aku baik .....!"
"Baguslah ...., asal jangan kebanyakan bengong saja, ntar kesambet ....!" ucap Divta.
Seluruh keluarga sudah turun dari mobil, mereka langsung di sambut oleh Ara dan Agra. Tapi saat Nadin hendak turun tangan Nadin segera di tahan oleh Divta.
"Apaan sih pak?!" Nadin kesal dengan tingkah Divta.
"Heeee ....., temani aku di sini ...!" ucap Divta enteng, ia pun segera mengunci kembali mobilnya dengan kunci otomatis.
"Awas ya ....., aku bisa teriak kalau pak Divta macam-macam sama aku ...., di sana ada semua keluargaku, mereka pasti akan memukuli dan memenjarakan pak Divta ....!" ancam Nadin, wajahnya tampak begitu panik.
"Memang aku bisa apa ....., di sini juga keluargaku ....!" ucap Divta sambil menyandarkan punggungnya di sandara kursi.
Kenapa sih aku selalu di pertemukan dengan pria-pria tak waras seperti dia ....., oh Tuhan tolong aku .....
Nadin pun mau tak mau ikut menyenderkan punggungnya, ia menghembuskan nafas kasarnya, ia mengutuki perbuatan pria di sampingnya.
"Aku tahu aku cantik ....., aku menarik ....., aku energic ....., tapi bukan berarti pak Divta bisa berbuat semaunya ya .....!"
"Girl ....., aku suka gaya kamu ....., bisakah kita berkencan ....?"
"What ....., bapak sudah gila ya ....? aku nggak kenal lo ya sama bapak....., dengan entengnya bapak mengajak saya pergi kencan, emang saya cewek apaan ....!"
Dia benar-benar gila ....., seandainya yang seperti itu pak Rendi ...., aku pasti nggak akan mikir dua kali ya ....
Bukannya marah, Divta malah tertawa. Divta memiringkan tubuhnya hingga menghadap Nadin.
"Ya kau benar ....., aku kayaknya memang sudah gila ...., tapi aku serius, wajahmu , gayamu ...., membuatku selalu teringat pada seorang gadis yang jelas tidak akan pernah bisa aku miliki ..."
"Pak ....!"
"Jangan mengasihaniku seperti itu ....!" ucap Divta. Divta memang sangat mencintai kakak Nadin, tapi ia terus berusaha menepis perasaannya pada Ara, ia tak ingin membuat hubungannya dengan Agra merenggang kembali.
Nadin hanya bisa melihat wajah prustasi dari pria di sampingnya, ia bingung harus berbuat apa.
Astaga ...., kenapa aku malah jadi tempat curhat ya ...., aku harus berbuat apa ini ....?
"Pak .....!"
"hemmm......" jawab Divta dengan masih memejamkan matanya tapi tak mengubah posisinya, ia masih memiringkan tubuhnya menghadap Nadin.
"Bapak tidur ya?" tanya Nadin lagi. Mendapat pertanyaan seperti itu, Divta pun segera membuka matanya, tepat saat membuka mata ia langsung bisa melihat mata bening Nadin.
"Ada apa?" tanya Divta.
"Apa bapak tidak ingin turun ....? Aku ingin sekali ...., kita sudah satu jam di sini .....!"
"Apa kau ingin sekali turun?" tanya Divta.
"Iya ....., boleh ya ...?" tanya Nadin dengan wajah memelasnya.
"Mana ponselmu ....!" ucap Divta sambil mengacungkan tangannya.
"Hah ...., untuk apa?" tanya Nadin.
"Kau masih punya hutang kencan denganku ...!"
"Siapa bilang?" tanya Nadin terkejut, ia benar-benar tidak percaya sengan jalan pikiran pria di sampingnya itu, begitu mengejutkan.
"Aku barusan ....!" ucapnya santai. "Mana ....., kalau tidak mau memberikan aku akan meminta pada kakak iparmu ....!"
Aaah ....., kenapa semua pria suka mengancam sih .....
"Baiklah ...., sabar ....!"
Akhirnya mau tak mau Nadin pun menyetahka. ponselnya, tampak Divta mengetikkan beberapa nomor di ponselnya fan melakukan panggilan.
"Ok ...., good girl ...., kita akan bertemu lagi lain waktu ....,hanya berdua ....!" ucap Divta sambil mengembalikan ponsel Nadin.
"Kenapa sih suka sekali menyusahkanku ....!" gerutu Nadin.
"Mau turun atau tetap di sini ...?" tanya Divta yang sudah membuka pintu mobilnya.
Dia gerakannya cepat sekali ...., kapan turunnya ....
"Ya turun lah .....!" ucap Nafin dan langsung turun dari dalam mobil.
Divta pun langsung meraih tangan Nadin, membuat Nadin kembali menghentikan langkahnya.
"Kenapa harus gandengan tangan sih ....?" tanya Nadin kesal.
"Mau masuk apa tetap di sini?"
"Ya masuklah ....!"
"Ya udah girl...., jangan suka protes ...!"
*Astaga aku bisa benar-benar gila memghadapi orang ini ......!
Sabar Nadun taruk nafas lepaskan ...., anggap saja dia orang gila* ....
Nadin pun mau tak mau menuruti permintaan Divta, ia merelakan tangannya di gandeng oleh Divta. Saat mereka berjalan kira-kira lima langkah, langkahnya kembali terhenti karena kedatangan sebuah mobil. Pwmilik mobil itu segera keliar dari dalam mobil, membuat Nadin terhenyak di tempatnya.
"Pak Rendi ...."
BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak .....
Happy Reading 😘😘😘😘