MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Rencana Divta



🌷🌷🌷


Malam semakin larut, Rendi dan Nadin masih berada di tempatnya, di tepi pantai menatap ombak yang saling beradu. Sinar rembulan mulai muncul menggantikan sinar mentari.


"Nad ..., Sudah malam kita kembali ke resort ya!"


"Bentar lagi dong mas!" tolak Nadin, ia suka di tempat ini. rasanya sangat menyenangkan melihat pantulan rembulan di lautan, begitu menenangkan.


"Sudah malam, nanti kamu masuk angin!" Rendi terus memaksa,


"Baiklah ...!"


Akhirnya Nadin nyerah, ia berdiri, tapi setelah berdiri, Rendi segera mengangkat tubuh Nadin membuat Nadin begitu terkejut.


"Mas ...., Kenapa di gendong?" ucap Nadin sambil mengalungkan tangannya di leher Rendi, ia takut terjatuh.


"Biar cepet Sampek kamar!" ucap Rendi sambil berjalan,


"Kenapa harus cepet-cepet?" tanya Nadin dengan polosnya.


"Bisa nggak, nggak usah banyak tanya! Tubuhmu itu berat." Rendi semakin memperlebar langkahnya, ia benar-benar ingin segera sampai di kamar mereka dan menikmati malam berdua saja tanpa ada yang menggangu.


heh ....., memang siapa suruh menggendongku, aku kan bisa jalan sendiri ....


Setelah sampai di dalam kamar, Rendi langsung membawa Nadin ke dalam kamar mandi.


"Mas kenapa ke kamar mandi?"


"Masih saja banyak bertanya, memang kau mau tidur dengan tubuh kotor, banyak pasir?"


Rendi menurun kan Nadin di dalam bathtub.


"Kenapa masih di situ mas?" tanya Nadin saat Rendi masih berdiri di sampingnya.


"Kita mandi bareng!"


"Mandi bareng?" Nadin terkejut. "Nggak nggak mas, aku mau mandi sendiri aja!"


Tapi Rendi sudah mengguyur Nadin dengan air.


"Mas dingin ....!"keluh Nadin sambil menyilangkan tangannya di depan dada.


"Sebentar lagi nggak akan kedinginan!" ucap Rendi dingin dengan senyum tipisnya.


"Tapi aku bisa mandi sendiri mas, mas keluar aja deh!"


Tapi bukannya keluar, Rendi malah melepas bajunya di depan Nadin, dengan reflek Nadin mengutuk matanya dengan kedua tangan.


"Kenapa di tutup seperti itu?"


"Mas yang kenapa, kenapa buka baju di depan Nadin?"


"Bukankah kita mau mandi?" Rendi tersenyum, ia mulai melepas semua pakaiannya, ia ikut masuk ke dalam bathtub dan duduk di belakang Nadin. Membuat Nadin terpaku di tempatnya.


Tangan Rendi mulai bergerilya, menyentuh perut Nadin, memberi usapan di sana, tangannya semakin naik hingga menemukan gundukan itu, tangannya mulai meremas sedangkan bibirnya sibuk mengabsen setiap inci tengkuk Nadin, membuat Nadin benar-benar kehilangan kesadarannya,


kesadarannya mulai meremang, ia hanya bisa menggenggam erat pinggirang bathtub, menikmati setiap detik perlakuan Rendi,


Rendi melepas satu per satu pakaian yang melekat di tubuh Nadin, mengecup, menyesap setiap inci tubuh Nadin, Setelah merasa puas dan Mr. RJ sudah siap untuk bertempur, Rendi pun segera memposisikan diri, dengan gerak cepat dan penuh irama, hanya ada desahan kenikmatan yang keluar dari mulut mereka, hingga mereka mencapai pelepasan.


Setelah acara mandi yang cukup lama itu, Rendi segera memandikan Nadin, dan membalut tubuh Nadin dengan handuk dan membopongnya ke tempat tidur, Nadin benar-benar di buat kehabisan tenaga oleh Rendi.


Rendi mengecupi seluruh wajah Nadin kemudian menutup tubuh Nadin dengan selimut hingga sampai ke leher.


Rendi segera memakai pakaiannya, ia ikut tidur di samping Nadin. Mengusap anak rambut Nadin Yanga masih basah.


Nadin yang merasakan kehangatan di sampingnya segera menyusupkan wajahnya di dada bidang Rendi, Rendi pun segera mengeratkan pelukannya, mencium kening Nadin.


Aku mencintaimu ...., Jangan pernah pergi dari hidupku, bahkan berfikir pun jangan ....


Rendi kembali mengecup bibir Nadin dan ikut terlelap bersamanya.


🌺🌺🌺


Davina yang sudah selesai mandi, ia di kejutkan dengan seseorang yang sudah berada di dalam kamarnya.


"Kalian siapa?" Tanya Davina. ada dua orang perempuan yang menunggunya.


"Maaf neng, kami di minta pak Divta untuk mendandani neng!"


"Mendandaniku?" Davina tampak bingung.


"Iya neng, pak Divta juga sudah menyiapkan pakaian untuk neng! Mari neng!"


Davina pun pasrah, ia pun duduk di depan meja rias, dan dua orang itu dengan cekatan merias wajah Davina dan Menganti pakaian Davina dengan pakaian pesta.


Hanya dalam waktu setenga jam saja, Davina sudah selesai di dandani, ia sudah bersiap untuk ke pesta. Dua wanita itu pun berpamitan.


Tak berapa lama setelah dua wanita itu meninggalkan kamar, Divta masuk.


"Sudah siap?" tanya Divta. Tapi tatapannya terpaku pada penampilan Davina, Davina begitu cantik dengan balutan gaun berwarna merah itu.


"Sudah ....!"


"Thanks!" Davina tersenyum.


"Ayo ...!" Ucap Divta sambil menekuk tangannya di pinggang bersiap menggandeng Davina, dapina pun mendekat dan menyusupkan tangannya ke sela tangan Divta, mereka beranjak ke luar kamar.


"Dimana pestanya?" Tanya Davina sambil berjalan.


"Di aula depan, di sama sudah siap semuanya."


"Memang siapa saja yang pesta!"


"Banyak, teman-temanku semuanya, kamu pasti akan suka!"


Dan benar saja mereka sampai di sebuah ruangan yang sangat besar, di sana sangat ramai, bukan cuma enam orang saja, ruang pesta itu juga di lengkapi dengan lampu yang berkelap kelip, banyak yang berdansa di sana atau sekedar duduk menikmati minuman.


"Bagaiaman, kamu suka?"


"Suka!"


"Ayo!" Divta pun mengajak Davina masuk ke ruang pesta, mereka menyambut para tamu dan sesekali mengobrol tentang pekerjaan atau hal-hal yang lainnya, Davina tetap berada di samping Divta.


"Mau dansa?" Divta sudah berada di depan Davina sambil menekuk lututnya mengajak Davina untuk berdansa, Davina pun mengangguk, ia begitu senang di perlakukan begitu istimewa oleh Divta.


Divta pun membawa Davina ke lantai dansa, Divta berdansa dengan sangat lihainya, sedang Davina yang tidak terlalu bisa berdansa, Divta dengan telaten mengajari Davina berdansa, alunan musik nan rilomantis membuat dansa mereka semakin indah.


"Mau minum sesuatu?" Tanya Divta. Davina pun mengangguk, ia menepukkan tangannya dan seorang pelayan membawakannya segelas minuman.


"Minumlah ....!" Divta mengambilkannya dan menyerahkan pada Davina. "Ini tidak terlalu banyak kadar alkoholnya!"


Davina pun tanpa curiga meminum minumannya, sema biaa saja, tapi tak berapa lama, ia marasakan tubuhnya sangat panas, Davina kepanasan.


"Div ...., Panas sekali ....!" Davina merasakan sekujur tubuhnya panas, ingin sekali. Segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Kamu kepanasan ....?" Tanya Divta dan Davina pun mengangguk. "Baiklah ...., Kita kembali ke kamar saja ....!"


Divta mengantar Davina kembali menuju ke kamarnya, sepanjang menuju ke kamar, tangan Davina tak hentinya menggelayut ke tubuh Divta, ia benar-benar merasakan tubuhnya sangat panas, rasanya ingin seseorang menyentuh tubuhnya.


Davina menggelayut, dan mengecupi leher Divta, ia benar-benar kehilangan kesadarannya, ia hanya ingin saat ini seseorang memuaskannya.


Ahhh ...., Dia benar-benar merepotkan ku saja ....!


Divta membopong tubuh Davina hingga ke dalam kamar, ia tidak mau terlalu lama berjalan karena Davina terus menggelayutinya.


Sesampai di dalam kamar Divta segera menjatuhkan tubuh Davina ke atas tempat tidur, Davina menggeliat geliat kan tubuhnya di atas sana, ia mendesah dan merancau, betusaha membuka bajunya sendiri.


"Div ...., Ah ...., Div ...., Tolong aku ...., Sentuh aku ....!"


"Tunggulah sebentar, sebentar lagi aku akan menolongmu ....!"


Divta terlihat dalam dilema, Davina menarik tangannya hingga Divta menindih tubuh Davina, Davina mencium bibir Divta dengan sangat buas, sepertinya Divta sengaja memberikan obat perangsang pada minuman Davina.


Davina membalik tubuh Divta hingga kini posisi Divta berada di bawah, Davina duduk di atas tubuh Divta, ia menarik tangan Divta dan meletakkannya di kedua buah dadanya, membatu Divta meremasnya.


"Sial ...., Kenapa aku jadi yang kena?" Umpat Divta, karena ulah Davina itu membuat senjatanya di bawah sana ikut bereaksi.


Tok tok tok


untung mereka datang ....


Tiba-tiba pintu di buka, Divta segera membalik tubuh Davina hingga ia bisa melepaskan diri dari Davina. Ia pun berjalan ke arah pintu dan segera membukanya, melihat siapa yang datang.


"Apa sekarang sudah waktunya?" Tanya salah satu teman Divta, ia memelongokan kepalanya ke dalam kamar.


Divta kembali menoleh ke belakan melihat Davina yang kini sudah menanggalkan pakaiannya entah kenapa sekarang ia tidak rela jika teman-teman nya itu menyentuh davina.


Divta segera menarik tangan teman-teman nya keluar dari kamar itu.


"Ada apa ini kawan?" Tanya teman-temannya heran.


"Aku berubah pikiran ...., Silahkan bersenang-senang dengan teman wanita kalian sendiri, dia biar aku yang membereskan!"


"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?" protes salah satu temannya.


"Ini bukan urusan kalian!"


Walau pun dengan kecewa, teman-teman Divta akhirnya memaklumi, Divta kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar itu, ia mendekati Davina yang sudah meninggalkan pakaiannya yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja,


Davina menggeliatkan tubuhnya di sana, begitu menggoda, entah dapat dorongan dari mana, hingga Divta ikut menanggalkan pakaiannya, dan mereka melakukannya malam itu, davina benar-benar dalam pengaruh perangsang menjadikannya begitu kuat. Divta sampai di buat kualahan olehnya.


Setelah pergulatan yang cukup panas itu, akhirnya mereka terlelep dalam keadaan tanpa pakaian, tubuh mereka hanya tertutup oleh satu selimut.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku


Tri.ani5249


Happy reading 😘😘😘