
Hari ini Nadin memutuskan untuk menghubungi Dini, ia ingin meminta bantuan dini. setelah tadi pagi ia menemukan sebuah nota pembayaran atas perawatan rumah sakit atas nama Rendi di saku jas milik Rendi. Rasa penasarannya sungguh tak terbendung lagi.
Ia tidak bisa menyetir mobil sendiri, walaupun Rendi memberinya fasilitas mobil pribadi, ia tidak bisa menggunakannya. Rendi juga
menyiapkan sopir pribadi untuknya, tapi jika ia meminta sopir itu untuk
mengantarnya tidak mungkin, dia adalah anak buah suaminya, bukan tidak mungkin dia akan melaporkan apa yang di
lakukannya.
“Mas hari ini aku minta ijin lagi ya!” ucap Nadin sebelum Rendi berangkat ke kantor.
“Ke mana?” tanya Rendi santai, ia sedang sibuk mengancingkan lengan bajunya.
“Dini mengajakku ke rumahnya, ada acara kecil-kecilan di sana!”
“Baiklah …, tapi hubungi aku jika ada sesuatu!” ucap Rendi lagi sambil menyahut jas yang ada di tangan Nadin.
Nadin pun mengangguk, ia mencium bibir suaminya sebelum suaminya itu keluar dari
apartemen, ia melambaikan tangannya pada suaminya. Ajun juga menundukkan
kepalanya memberi hormat pada Nadin.
Setelah Rendi berangkat, ia segera mengganti bajunya dan menunggu Dini di depan apartemen. Tak lama menunggu akhirnya sahabatnya itu datang juga.
“Maaf karena membuatmu menunggu!” ucap Dini sambil membukakan pintu mobil untuk Nadin. Nadin pun dengan cepat masuk ke dalam mobil.
“Apa kau yakin akan melakukan hal ini?”
“Iya …, aku yakin. Aku harus tahu kebenarannya Din! Ini sudah lebih dari banyak bukti yang aku dapat!”
“Tapi ini berarti kau meragukan perasaan suamimu, apa kau benar-benar yakin?” sekali lagi Dini meyakinkan sahabatnya itu, sebagai
seorang sahabat ia hanya ingin yang terbaik untuk sahabatnya itu.
“Aku yakin Din, selama aku belum bisa membuktikan sesuatu, perasaan bersalah ini akan tetap ada, aku bersalah karena aku
mencurigai suamiku!”
“Baiklah …, kita kemana dulu?” Tanya Dini.
“Aku tidak tahu …!”
“Baiklah …, bagaimana kalau kita ke kanor suamimu saja?”
“Baiklah kita tunggu di depan kantor saja!”
Dini segera menjalankan mobilnya, walaupun masih
pagi jalan itu tetap saja ramai. Tapi tak seramai saat jam-jam berangkat kerja,
setidaknya mobilnya bisa tetap jalan dan tidak sebentar-sebentar berhenti.
Setelah setengah jam akhirnya mereka sampai di depan
kantor Rendi. Dini sengaja memarkir mobilnya tak jauh dari pintu keluar agar
sewaktu-waktu Rendi keluar mereka bisa melihatnya.
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
Mereka benar-benar mengintai di depan kantor tanpa
berpindah sedikitpun. Tiba-tiba Nadin merasakan tubuhnya tidak fit, keringat
dingin keluar dari tubuhnya, bahkan wajahnya penuh dengan keringat, wajahnya
menjadi pucat.
“Nad …, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali!”
Nadin memejamkan matanya, menyenderkan kepalanya di sandaran kursi mobil dan meminta Dini untuk tidak bertanya dulu.
“Nad …, kau benar-benar membuatku khawatir, kita pergi saja dari sini!”
Saat Dini hendak menyalakan mesin mobilnya, Nadin segera mencegahnya.
“Jangan …!” ucap Nadin dengan segenap kekuatannya.
“Beri aku minum!”
“Iya.” Dini segera mengambilkan botol air mineral
untuk Nadin, ia membukakan segelnya dan menyerahkannya pada Nadin.
“Minumlah …!”
Setelah minum, Nadin merasakan tubuhnya lebih baik.
Kepalanya yang pusing sedikit berkurang.
“Sekarang sudah waktunya makan siang, mungkin sebentar lagi mereka akan keluar!”
Dan benar saja, tak lama setelah itu tampak Rendi dan Ajun keluar dari kantor dan menggunakan mobil, kelihatannya mereka akan ke tempat yang sedikit jauh.
“mereka benaran keluar …!” ucap Dini.
“Ikuti mereka din!”
“Baik!”
Dini pun segera menyalakan mesin mobilnya,mengikuti
mobil yang di tumpangi Rendi dan Ajun.
“Ini mau kemana ya? Bukankah ini jalan menuju kearah apartemen mu?”
“Iya kau benar, apa mas Rendi mau pulang ya?”
Dan benar saja, mereka sampai di depan apartemen Nadin dan Rendi. Tapi sepertinya Rendi bukan untuk pulang, ada seorang
perempuan dengan memakai masker dan perut buncitnya masuk ke dalam mobil
rendi.
“Itu bukankah wanita yang beberapa hari yang lalu?’
“Iya …, kau benar Nad, tapi kenapa dia juga tinggal di apartemen kamu?”
“Aku juga tidak tahu, kita ikuti lagi saja mereka!”
“Baiklah …!”
Dini kembali melajukan mobilnya mengikuti mobil
Rendi, ternyata mereka masuk ke rumah sakit yang sama seperti yang tempo hari,
“Kita ikuti mereka masuk Nad, biar kamu benar-benar yakin!”
Nadin hanya mengangguk, tapi dia sebenarnya belum yakin dapat menerima semuanya atau tidak.
Dini mengajak Nadin turun dari mobil,
mengikuti Rendi dan wanita itu dari jarang yang cukup tidak membuat Rendi
curiga, nadin mengenakan kaca mata hitam dan masker agar tidak di kenali oleh
Rendi. Ia juga mengenakan jaket besar supaya terlihat seperti orang yang sedang
sakit.
Rendi dan wanita yang bersama Rendi masuk ke sebuah ruangan. Nadin membaca plang nama ruangan itu. Pelayanan Pemeriksaan Kehamilan
(ANC) k1.
Nampak Rendi sedang mengambil kartu antrian dan mendaftarkan ke
loket. Terlihat petugas membawa masuk catatan medis wanita itu ke ruang KIA.
Rendi begitu telaten menjaga wanita itu, seperti seorang suami yang menjaga istrinya yang sedang hamil, Rendi mengambilkan
minum, menaruh jasnya di punggung wanita itu supaya lebih nyaman.
Perlakuan-perlakuan itu berhasil membuat air mata nadin menetes.
“Mas …, apa benar yang aku lihat …, Nadin duduk di ujung kursi tunggu, Nadin dapat leluasa melihat Rendi tapi Rendi tidak bisa
melihatnya karena ia berada di barisan belakang. Dan sepertinya Rendi terlalu
fokus pada wanita itu.
Dini menggenggam tangan Nadin, menyalurkan kekuatan
supaya sahabatnya itu bisa lebih tenang.
Setelah cukup lama, akhirnya nama yang di
tunggu-tunggu Nadin di panggil juga.
“Nyonya Davina!” panggil petugas ruang KIA. Seketika
membuat Nadin dan Dini terbangun dari duduknya. Rendi dan Davina memasuki
ruangan.
“Kak Davina? Ini tidak mungkin, tidak mungkin!”
Nadin begitu syok.
“Tenangkan dirimu Nad, belum tentu semuanya seperti
yang kamu pikirkan!”
“Bagaimana aku bisa nggak mikir macem-macem coba, mas
Rendi nggak pernah cerita apapun sama aku, dan sekarang aku baru tahu jika
wanita itu kak Davina, kenapa mereka tega sekali sama aku Din…! Nadin kembali
duduk ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, punggungnya bergetar, ia
sedang menangis.
Dini juga ikut kembali duduk, ia mengusap punggung
Nadin, menenangkan sahabatnya itu. Sekitar lima belas menit, akhirnya Davina
dan Rendi keluar dari ruang KIA. Dini sedang cepat menuju ke ruang pemeriksaan.
“Maaf mbak, harus antri dulu. Silahkan mengambil
nomor antrian terlebih dulu!”
“Maaf mbak, tapi kami bukannya mau periksa, tapi kami mau menanyakan tentang pasien yang tadi, sebentar saja, plisss. Janji
nggak sampai dua menit!”
“Baiklah …, silahkan!”
Akhirnya Nadin dan Dini di perbolehkan masuk oleh petugas KIA.
“Maaf, siapa yang mau periksa kehamilan?” Tanya
seorang wanita keibuan, sepertinya dia dokter kandungan, di mejanya terdapat
tag nama bertuliskan dr. Rani.
“Bukan dok, kami bukan mau periksa!”
“Lalu?’
“Kami cuma mau Tanya, ibu Davina tadi datangnya sama siapa ya dok?”
“Oh …, itu tadi. Dia suaminya!”
Mendengar hal itu, dini segera menggenggam tangan Nadin yang sudah mulai bergetar, meminta Nadin agar tetap tenang dan
mendengarkan kelanjutan keterangan dari dokter.
“Suami?”
“Iya …, namanya pak Rendi, dia selalu menemani ibu
Davina untuk periksa kandungan, dia juga telaten dan memperhatikan sekali
kesehatan ibu dan bayinya!”
“Ya sudah dok, terimakasih atas informasinya, kami
permisi!”
Nadin dan Dini segera keluar dari ruangan itu.
Bersambung
yuuuuk mulai nangis berjamaah .....😭😭😭😭
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘