
Alex pun berdiri dan berjalan menuju meja kasir, Alex ikut antri bersama pelanggan lainnya, tapi langkahnya terhenti ketika
seseorang yang ia kenal sedang berjalan mendekatinya.
“Rend …!” Alex terpaku di tempatnya.
“Hai Lex, kamu di sini?” rendi mendekat , sepertinya ia juga sedang antri untuk memesan makanan.
“Iya aku sedang makan!”
“Sama siapa?” Tanya Rendi lagi.
“Sama istri dan anakku!”
Rendi seperti sedang mencari-cari seseorang yang di
maksud istri dan anak oleh Alex, ia begitu penasaran dengan istri Alex.
"Bersapa porsi pak?" tanya pelayan restoran. Karena terlalu terkejut dengan kedatangan Rendi membuat Alex tidak fokus dengan pertanyaan pelayan.
"Satu!" jawab Alex asal. Matanya terus memastikan jangan sampai Nadin atau Rendi saling melihat.
Pria dingin itu turus melihat ke arah Nadin. Tapi untungnya Nadin sedang duduk membelakangi
arah kasir, wanita itu sedang asik bermain dengan putranya.
“Dia!”
Rendi menunjuk kearah wanita itu, membuat
Alex terkejut. Sepertinya Rendi tahu dari mana arah datangnya Alex tadi jadi
dengan cepat Rendi dapat mengetahuinya, atau mungkin di restauran itu yang
membawa anak bayi hanya wanita yang duduk di dekat kaca itu.
Alex segera menoleh ke arah telunjuk Rendi, kini ia bisa bernafas lega karena nadin tidak melihat ke arahnya.
“Iya …!”
“Kalian seperti keluarga yang bahagia ya!”
“Iya. Ya sudah aku duluan ya!” alex tak mau berlama-lama
dengan Rendi di sana. Sebelum pria dingin itu menyadari siapa wanita yang di
kira istrinya itu.
“Iya …!”
Alex segera menghampiri Nadin dan berusaha membuat
Nadin tetap fokus pada Elan dan tidak menoleh ke manapun, wajah Alex lega saat
mengetahui pria dingin itu meninggalkan restauran itu sambil menerima telpon,
sepertinya itu telpon yang sangat penting sehingga membuat pria dingin itu
melupakan pesanannya, ia memilih untuk membayar tanpa jadi memakan makanannya.
Alex bisa melihat pria itu masuk ke mobilnya dan meninggalkan restaurant.
“Lex …., apa sih yang kamu lihat?” Tanya Nadin
karena penasaran karena sedari tadi setelah kembali dari kasir sepertinya Alex
bertindak sangat aneh, ia meninta Nadin utnuk tetap menunduk dan terus mengajak
baby El bicara.
“Tidak ada, apa baby El sudah sangat senang?”
“Perttanyaanmu aneh …., baby El sedari tadi senang!”
“Aku kan cuma ingin memastikan saja kalau baby El senang saat di ajak ke tempat ramai seperti ini!”
“terserah kamu saja, jadi sekarang mana makananku?”
“Ini!” Alex menunjuk ke meja.
“Itu cuma satu porsi, buat aku apa kamu?”
“Astaga aku lupa! Baiklah biar aku pesankan lagi!”
"Aneh sekali .....!" gumam Nadin.
Karena tadi terlalu takuit jika sampai Rendi melihat Nadin membuat Alex lupa dengan pesanannya. Tapi belum sampai Alex bangun dari
tempatnya, seorang pelayan restaurant sudah menghampiri mereka terlebih dulu.
‘Permisi bapak, ibu!”
“Iya?” Nadin dan Alex menoleh secara bersamaan.
“Saya mau mengantarkan ini!”pelayan itu meletakkan
beberapa makanan ke meja mereka.
“Maaf mbak, tapi kami tidak pesan semua ini!” protes
Alex.
“Ini pesanan teman anda tadi pak, dia meminta kami
untuk memberikan makanan ini pada anda dan istri anda, katanya sebagai ucapan
selamat atas kelahiran babby nya!”
“Teman?” Tanya Nadin pada Alex.
“Terimakasih ya mbak!” ucap Alex. Ia harus
mempersiapkan jawaban utnuk pertanyaan-pertanyaan yang akan di ajukan oleh
Nadin. Setelah pelayan itu meninggalkan meja mereka barulah Alex menjawabnya.
“Teman kamu yang mana?” tanyaNadin menyelidik, semua
makanan itu mengingatkannya pada seseorang, makanan yang selalu di pesan oleh
seseorang ketika mereka makan di rumah makan manapun.
“Temanku, dia satu tim denganku. Baru datang dari
luar kota!”
“Dan baby?”
“maaf tapi aku mengatakan pada temanku itu kalau
kalian keluargaku, istri dan anakku!”
idemu itu tidak akan baik untukmu!”
“kenapa memangnya?”
“Karena jika itu sampai tersebar, tidak akan ada
gadis yang mau dekat denganmu, mereka akan mengira jika kamu benar-benar sudah
menikah dan mempunyai seorang anak!”
“Apa salahnya jika seperti itu? Aku senang jika
mereka mengira seperti itu, aku sudah cukup bahagia bisa bersamamu dan juga
baby El, hanya kita bertiga!”
Nadin menghela nafas kesal, mengusap wajahnya tak
percaya dengan ucapan pria arogan di depannya itu, begitu mengejutkan dan juga
memberatkan hatinya, walaupun Alex tak pernah mengatakan apapun kepadanya
selama ini, tapi dengan perhatian yang Alex berikan padanya, itu membuktikan
sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan dis esalinya suatu saat nanti.
“Alex …, aku mohon jangan seperti itu, kamu punya
kehidupan lain! Dan Aku …!”
“Kau masih mengharapkan kedatangan pria itu! Dia tidak
akan pernah datang!”
“Alex …, aku sudah cukup bahagia dengan kehidupan
kami berdua, jangan berusaha masuk di dalamnya, aku tidak suka!”
“baiklah …., jangan bicarakan ini lagi. Anggap saja
aku tidak pernah mengatakan apapun padamu!”
Walaupun masih begitu kesal tapi nadin dapat
menrimanya, ia b erhutang budi pada pria di depannya, saat orang yang di harapkan
menemaninya dan datang menjemputnya, tapi dia sama sekali tidak ada kabar,
sedangkan yang selalu mendampinginya selama ini adalah pria di depannya. Sulit baginya
untuk lepas dari semua ini, melepaskan hubungan yang sudah terlanjur terjalin
seperti melaskan ikatan pada tali yang melilit, butuh proses, sepertinya saat
ini yang sudah mulai bisa menjalani hidup tanpa pria yang begitu ia cintai.
Hari ini Alex sengaja mengajak jalan-jalan Nadin dan
baby El hingga malam hari, sebenarnya Nadin sangat keberatan tapi Alex terus
memaksa, Alex mengajak Nadin dan baby El untuk menginap di rumahnya.
“kenapa aku dan baby El harus menginap di sini?” Tanya
nadin protes, ini tidak sesuai dengan rencana.
“Karena ….!”
“Karena?”
“Karena aku punya surprise untuk kalian besok pagi,
karena surprise nya nggak bisa di lakukan di rumah kalian!”
“Terserah kau saja lah …, aku dan baby El mau
istirahat, jadi aku ahrus ke mana?” Nadin emnegdarkan pandangannya ke rumah
yang cukup besar itu, rumah itu besar tapi hanya di huni oleh seorang alex,
sungguh sepi sekali.
“Merry akan mengatarkan kalian ke kamar kalian!”
Alex memanggil merry. Merry begitu senang karena
bisa melihat nadin kembali. Selama ini Alex tidak pernah membawa nadin ke
rumahnya, ini intuk pertama kalinya.
“Nona …, bagaimana kabar nona?”
“Saya baik, Merry!”
“Putra anda begitu tampan!”
“Terimakasih!”
Setelah Marry dan Nadin meninggalkan Alex, alex
segera keluar dari rumah, seseorang sudah menunggunya di luar.
“Bagaimana?”
“Maaf tuan, tapi pria itu tidak meninggalkan rumah
itu!”
“tetaplah pantau rumah itu, jika sudah aman beri
tahukan padaku!”
“baik tuan, kami permisi!”
Orang itu segera meninggalkan Alex, wajah Alex
terlihat begitu cemas. Matanya menerawang, seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Kenapa secepat ini? Aku sudah berusaha sejauh ini, bagaimana aku bisa melepaskannya begitu saja, mereka milikku!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘