MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
mengambil hak ku



“Mas Rendi?”  pertanyaan Nadin berhasil membuat Alex berhenti, tapi ia tidak juga


menoleh. Ia hanya menghela nafasnya yang terdengar begitu dalam.


“Mas Rendi kan yang ke rumahku?”


Pertanyaan Nadin begitu tepat sasaran, Alex


memejamkan matanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, cepat atau lambat Nadin juga akan tahu sendiri, ia begitu takut jika


Nadin akan kembali pada Rendi, ia belum siap kehilangan baby El, ia sudah


terlanjur menyayanginya.


“Aku tidak salah kan?”


Nadin kembali bertanya, tapi


Alex tak juga menjawab pertanyaannya. Tapi hal itu membuatnya yakin bahwa yang


mengintai rumahnya adalah suaminya, suaminya yang sudah hampir di lupakan keberadaannya. Tapi saat ia mulai bisa melupakan kenapa dia datang lagi.


Nadin menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi, dadanya bergetar, hatinya bergemuruh, entah rasa seperti apa yang sedang ia rasakan.


Ia tidak tahu perasaan macam apa ini, sakit bercampur dengan


sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti, bahkan ia tidak tahu harus senang atau


sedih untuk saat ini.


Hatinya sakit tapi juga berharap, tapi harapan yang seperti apa? Untuk memahami hatinya saat ini ia bahkan tidak bisa.


Alex kembali berbalik, ia menatap Nadin. Menatap wanita itu, wajahnya diliputi keraguan.


“Iya …, kau benar …, itu Rendi. Kami bekerja dalam satu tim!” ucap Alex tanpa berani menatap mata wanita itu.


Nadin mendongakkan


kepalanya, menatap Alex, mencari kebenaran dalam matanya.


“Satu tim?” tanya Nadin memastikan.


“Iya …!” jawab Alex singkat.


“Kenapa kau menyembunyikan dariku?”


“Karena aku takut, aku takut jika kau akan kembali lagi padanya dan memisahkan ku dengan baby El, aku tidak mau!”


“Tidak semudah itu Lex …, tidak semudah itu!


Kepercayaan ku padanya telah hancur saat itu! Susah bagiku untuk bisa memaafkannya kembali!”


“Tetaplah di sini bersama baby El, aku mohon!”


“Tidak!” jawaban nadin berhasil membuat Alex kecewa.


Ia ingin memiliki baby El dan Nadin untuknya saja, rasa ingin memiliki


membuatnya egois, ia sudah berusaha keras selama ini untuk tetap menyembunyikan


keberadaan nadin dan baby El dari Rendi. Ia selalu mengecoh setiap kali Rendi


atau anak buahnya mulai menemukan Nadin, tapi saat ini takdir sudah


mempertemukan mereka tanpa sengaja, ada jalannya sendiri yang bisa membuat


mereka bertemu.


“Aku tidak akan menghindar lagi! Sekeras apapun aku menghindar, cepat atau lambat, kami pasti juga akan bertemu, biar aku yang akan menyelesaikan masalahku sendiri! Aku akan pulang!”


“Baiklah …, tapi jangan sekarang.sekarang sudah malam, kasihan baby El!”


“Besok kami akan pulang!”


Perdebatan mereka terhenti saat baby El tiba-tiba bangun dan menangis. Akhirnya nadin meninggalkan Alex dan menghampiri baby El,


sepertinya baby El haus, Nadin harus menyusuinya.


Nadin mengunci kamarnya agar


Alex tidak ikut masuk, kejadian tadi pagi jangan sampai terulang lagi. Ia tidak


mau tiba-tiba Alex masuk ke kamarnya saat ia sedang menyusui baby El.


Pagi ini, sesuai janjinya pada Nadin sebelum


berangkat kerja Alex mengantar Nadin dan baby El untuk pulang ke rumahnya.


“Hubungi aku jika ada sesuatu!” ucap Alex sebelum Nadin dan baby El turun dari mobilnya.


“Kami akan baik-baik saja!”


‘jangan …, aku mohon. Jangan buat keributan, biar aku yang menyelesaikan sendiri masalahku!”


“Tapi …!”


“Aku mohon …, berjanjilah, kau akan datang saat semuanya sudah baik-baik saja!" ucap Nadin dengan penuh permohonan, ia meminta Alex berjanji, janji yang sangat berat untuk Alex, tidak bertemu dengan baby El adalah sebuah derita baginya.


“Aku akan sangat merindukan baby El!” ucap Alex sambil mencium baby El.


“Bersabarlah …., kami turun dulu!”


Akhirnya Nadin dan baby El turun juga dari mobil Alex, sebenarnya Alex begitu berat meninggalkan Nadin dan baby El.


Ini akan berat, hari-harinya tanpa baby El, akan sangat hampa. Ia sudah terbiasa dengan baby


El, tapi Nadin malah memintanya berjanji untuk tidak menemuinya beberapa saat


sampai urusannya selesai.


Alex kembali melajukan mobilnya, ia ingin segera bertemu dengan pria dingin itu, rasanya ingin sekali memukulnya dan memintanya


untuk tidak kembali mencari Nadin. Tapi pendiriannya selalu terpatahkan oleh


janjinya pada Nadin. Janji itu telah berhasil membuatnya untuk tetap diam.


“Kau tidak pa pa?” Tanya Rendi saat melihat rekan satu timnya itu tidak fokus dengan pekerjaannya.


Pertanyaan Rendi berhasil


membuat Alex menoleh padanya, menatapnya begitu dalam. Saat dua pria dewasa


berada dalam satu tempat dan menginginkan satu hal yang sama, ada dua jalan


yang harus mereka pilih, bersatu atau bersaing.


‘Tidak …!” jawab Alex ragu.


“Jawabanmu akan tepat untuk anak SD, tapi bukan untukku!” jawaban Alex memang tidak sesuai dengan matanya. matanya mengatakan hal lainnya.


Alex menghentikan pekerjaannya, mengoperasikan


sebuah jaringan mungkin rumit, tapi hidupnya sekarang lebih rumit dari sebuah


jaringan. Alex meregangkan otot-ototnya, memutar kursinya hingga berhadapan


dengan rekannya itu.


“Sebenarnya seseorang sudah membuatku berjanji, hingga saat ini aku tidak bisa berbuat apa-apa! Seandainya saja aku punya hak


itu, apa boleh aku memintanya untuk tetap bersamaku atau setidaknya biarkan


mereka tetap menjadikanku bagian dari hidupnya!”


Rendi diam, ia tidak tahu apa yang rekannya itu


maksud. Tapi mengatakan mengenai hak, membuatnya begitu tertarik untuk


mengetahuinya apa maksud perkataan rekan yang baru-baru ini menjadi begitu


dekat.


“Hak seperti apa yang kamu maksud?”


“Hak untuk melindunginya, hak untuk menjadi bagian dari hidupnya!”


“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau maksud, tapi aku merasa hak yang kau maksud mungkin sama dengan hak yang ingin aku miliki saat ini, hak yang belum bisa aku dapatkan saat ini dan mungkin akan segera aku


dapatkan!”


Perkataan Rendi semakin membuat perasaan Alex tidak tenang ,


rasanya ia sudah di ambang batas kesempatan untuk bisa terus berada di sisi


orang-orang yang akhir-akhir ini sudah menjadi bagian dari hidupnya. Ia sadar,


keinginannya tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan hak memiliki, dan


Nadin selama ini tidak pernah memberi kesempatan itu padanya dan putranya.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


insyaallah bab 201 ketemu deh sama Nadin nya, sabar ya, semua butuh proses, nikmati saja prosesnya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘