MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Bonschap 48 (Ajun)



Sore hari, Rendi menjemput Nadin di rumah mertuanya.


"Terimakasih Ajun, kamu boleh pergi sekarang!" ucap Rendi saat ia melewati Ajun.


"Baik pak!"


Ajun sudah hampir meninggalkan Rendi tapi Rendi kembali memanggilnya.


"Oh iya Ajun!"


Ucapan Rendi berhasil membuatnya kembali menoleh.


"Iya pak?"


"Ada yang aneh dengan pria yang tinggal di depan rumahku, lain waktu kamu bisa menyelidikinya!"


"Maksud pak Rendi, pak Tama?"


"Iya ....! Beberapa kali aku lihat dia memperhatikanmu, dan putranya itu, ada data yang janggal!"


"Baik pak, saya akan menyelidikinya!"


"Baiklah, aku masuk ...!"


Ajun menundukkan kepalanya memberi hormat.


Ajun meninggalkan rumah itu, kali ini ia tidak langsung pulang. Ia memilih mengunjungi kedai kopi langganannya terlebih dulu.


Banyak sekali yang harus ia pikirkan.


"Ajun ....!" sapa seorang pria tua, sepertinya dia pemilik kedai kopi.


"Paman ...., bagaimana kabar paman?" tanya Ajun saat ia menghampiri meja untuk meracik kopi.


"Duduklah ..., aku akan membuatkan kopi untukmu!"


Ajun pun duduk di bangku kayu berwarna coklat berbentuk lingkaran yang cukup tinggi itu.


"Sudah lama sekali kamu tidak kesini? Apa semua baik-baik saja?"


"Baik paman!"


"Bos mi tetap baik?"


"Dia orang baik paman!"


"Aku tahu, tapi pekerjaanmu sangat berbahaya! Paman jadi khawatir!"


Pria itu terus bicara sambil meracik kopinya dan tak berapa lama kopi itu telah siap.


"Minumlah selagi panas!"


Ajun pun segera mengirup aroma kopi yang cukup membuatnya tenang itu. Ia menajamkan matanya, mencari ketenangan di aroma kopi itu.


"Tanganmu kenapa?" tanya pria itu itu.


"Tidak pa pa, cuma cidera sedikit!"


"Oh iya ...., beberapa hari ini ada pria yang kira-kira usianya tiga tahun di atas usiamu, ia sering sekali ke sini menanyakan tentangmu!"


"Aku?"


"Iya ...., tapi sepertinya dia orang baik! Jadi paman tidak mengusirnya!"


"Paman berhati-hatilah ...., jangan mempercayai orang asing!"


"Jangan khawatirkan paman! Bagaimana pekerjaanmu?"


"Cukup baik, jangan buka terlalu malam, aku mungkin akan jarang mengunjungimu!"


"Aku tahu ....!"


Ajun mulai menyeruput kopinya menikmati setiap seruputan nya. Kopi itu yang selalu ia rindukan. Paman kedai kopi ini adalah keluarga satu-satunya yang ia punya selama ini.


Mereka tidak memiliki hubungan darah tapi Ajun di besar kan olehnya.


"Aku pulang, jaga dirimu paman! Ini untuk paman!" ucap Ajun sambil menyerahkan sebuah amplop kepada pria kedai kopi itu.


"Ini tidak perlu Ajun, hasil dari kedai kopi ini sudah cukup untuk memenuhi hidupku!"


"Tutup saja kedainya, paman! Aku akan memberimu uang setiap bulan yang cukup untuk biaya sehari-hari!"


"Kau ini ...., aku menolak ini!"


"Tapi aku tidak mengijinkan paman menolaknya, aku pergi ...., istirahatlah, segera tutup kedainya!"


Ajun tidak mau lagi mendengarkan penolakan dari pria tua itu. Ia berjalan menuju ke mobilnya, ia tidak lagi meminta bantuan sopir untuk mengantarnya.


Ajun segera memasuki mobil milik perusahaan karena mobilnya masih di bawa Dini.


Setelah Ajun meninggalkan tempat itu, seseorang yang sedari tadi berdiri di bahu jalan segera menuju ke kedai yang baru di tinggalkan oleh Ajun.


"Selamat malam ...!"


"Kamu lagi ...., ada apa lagi?"


"Aku hanya ingin minum kopi, paman! Tadi aku melihat Ajun baru saja keluar dari sini!"


"Kamu siapa sebenarnya?"


"Paman ..., buatkan dulu kopi untukku!"


Pria tua itu pun membuatkan kopi yang sama seperti yang di buatkan untuk Ajun.


"Terimakasih paman!" ucao pria itu sambil menghirup aroma kopi persis seperti yang di lakukan oleh Ajun.


"Siapa kamu?"


"Saya bukan orang jahat paman, tenanglah ...., saya ke sini hanya untuk menikmati kopi saja!"


"Ini masih terlalu sore paman, aku akan membayar lebih untuk kopi ku ini!"


Pria tua itu akhirnya memutuskan untuk ikut duduk.


"Sudah berapa lama paman mengenal Ajun?"


"Beritahu mana kamu dan aku akan menjawab satu pertanyaan mu!"


"Namaku Juna, Arjuna ...!"


"Saya mengenal Ajun semenjak ia berusia sepuluh tahun!"


"Bagaimana anda menemukannya?"


"Saya sudah bilang, akan menjawab satu pertanyaan saja!"


"Tapi saya akan memberi satu informasi lagi tentang saya, apa paman akan menjawab pertanyaan saya!"


"Tergantung, informasi itu bermutu atau tidak!"


"Paman ...., paman ...., anda benar-benar pintar! Baiklah ..., saya adalah seorang tentara! Apa itu cukup berharga!"


"Kalau benar tentara, berarti tunjukkan tanda pengenalnya biar saya percaya!"


Ajun pun merogoh sesuatu di sakunya.


"Ini tanda pengenal saya!"


Pria tua itu pun melihat dengan seksama dan memastikan jika itu benar-benar asli.


"Ini asli ....!"


Juna pun mengangguk dan mengambil kembali tanda pengenalnya.


"Apa tujuanmu mencari tahu tentang Ajun!"


"Itu informasi berikutnya, tapi paman belum menjawab pertanyaan ku yang ke dua!"


"Apa pertanyaan mu?"


"Bagaimana paman menemukan Ajun?"


"Saya menemukan dia di sebuah penyerangan yang di lakukan oleh beberapa mafia, ia terpisah dari ayah dan saudara laki-laki nya!"


"Saat itu kenapa paman tidak mengantarnya pada keluarganya kembali?"


"Saat saya akan mengantarkan pada orang tuannya ternyata orang tuanya sudah tewas dalam penyerangan itu! Sekarang katakan padaku apa hubunganmu dengan Ajun, kenapa kamu begitu ingin tahu tentang Ajun?"


"Nanti paman juga akan tahu, saya pergi dulu paman ada yang harus aku kerjakan, lain waktu kita sambung lagi!"


Juna pun melakukan hal yang sama, ia meninggalkan selembar uang seratus ribuan di bawah cangkirnya dan berlalu begitu saja.


Pria itu terus menatap kepergian Ajun. Ia tidak tahu kenapa pria yang baru saja duduk dengannya begitu penasaran dengan Ajun. Walaupun ia tidak punya hubungan darah dengan Ajun tapi ia punya hubungan balas budi terhadap orang tua Ajun.


***


Ajun sudah sampai di apartemennya. Saat ia membuka pintu langsung di sambut oleh Dini.


"Hai .....!" kemunculan Dini secara tiba-tiba membuat Ajun terlonjak kaget sambil memegangi dadanya.


Tuk


"Kuncir ...., kau benar-benar ingin membuatku jantungan ya!" ucap Ajun sambil menyentil kening Dini.


"Dari mana saja ...., aku sudah menunggumu!"


Ajun berlalu begitu saja, langkahnya terhenti saat sampai di depan meja makan. Ia melihat banyak makanan di meja makannya.


"Ini apaan?"


"Taraa ....., Aku sengaja masak buat makan malam kita!"


"Repot-repot sekali ....!"


"Istttt ....., gitu banget ekspresinya! Ayo duduk duduk ...., anggap saja rumah sendiri!"


Dini menggiring Ajun ke meja makan dan memintanya duduk.


"Perasaan ini memang rumahku!" gumam Ajun lirih, tapi Dini tetap dengan gaya centilnya.


Ia mengambilkan makanan untuk Ajun, "Makanlah ...!" ucap Dini sambil menyodorkan piring yang sudah berisi makanan itu.


"Apa kau meracuni makanan ini?" tanya Ajun sambil menatap menyelidik pada wanita itu.


"Iya ...., sengaja biar aku nggak usah bayar hutang!"


"Baiklah ...., aku akan memakannya, jika aku mati berarti kamu tersangkanya!"


"Issstttt ...., di situ ada racun cintanya!"


Dini pun segera mengambil makanan untuk dirinya sendiri dan melahapnya.


"Kenapa seharian tidak menghubungiku?" tanya Dini di sela makannya.


...Aku bukan cuma jatuh cinta, tapi aku telah jatuh dan terjebak dalam cintamu dan tidak punya kesempatan untuk keluar lagi, karena kau juga telah menguasai hatiku~MBOI...


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰🥰🥰


Bersambung