
Mereka sudah siap untuk acara makan malam di rumah nyonya Ratih.
"Ayah aku berangkat dulu ya, nanti kami akan langsung pulang, tidak pa pa kan?" ucap Nadin berpamitan pada ayahnya.
"Tidak pa pa, semoga kandunganmu baik-baik saja ya, ayah akan sering datang ke rumah kalian!"
"Ayah selalu mengatakan itu, tapi ayah tidak pernah melakukannya!"
"Maafkan ayah, ayah terlalu sibuk akhir-akhir ini!"
"Elan pasti akan sangat merindukan ayah!"
"Ayah juga!"
Kali ini Divta memilih berpamitan di belakang, ia tidak mau membuat keributan lagi. Tangan Divta tidak pernah melepaskan tangan mungil putri kecilnya.
"Daddy ...., apa kita akan belpisah dengan ayah Lendi?" tanya Divia pada Divta.
"Tidak sayang, kita akan bertemu dengan mereka nanti di rumah oma!"
"Kenapa kita tidak satu mobil dengan meleka, aunty Nadin begitu baik, Elan juga!"
"Apa kau suka dengan unty Nadin?"
"Iya ...., aunty Nadin cangat baik, Divia cuka!"
"Daddy juga menyukainya!" gumam Divta sambil melihat kepergian Nadin dan juga Rendi, "Tapi daddy selalu kalah!"
Divta pun ikut berpamitan dengan ayah Roy.
"Kami juga harus pergi ayah, terimakasih karena sudah mengijinkan Divia tinggal di sini beberapa hari ini!"
"Jangan bicara seperti itu pada ayah jika masih mau ayah anggap sebagai putra ayah!"
"Maafkan aku ayah!"
"Semoga nanti kau mendapatkan jodoh yang terbaik untukmu dan ibu yang baik untuk Divia!"
"Terimakasih ayah!"
"Pergilah!"
Divta pun segera mengajak Divia untuk naik ke mobil.
"Daddy ....!"
"Iya?"
"Kapan Divia punya mommy sepelti Elan dan Nay?"
"Apa kau ingin punya mommy?"
"Iya ...., Divia janji akan jadi anak baik kalau nanti punya mommy!"
Maafkan pappy sayang, karena kesalah pappy kamu harus kehilangan mommy mu ....
***
Di mobil lain, Rendi sendang asik berbicara dengan putranya yang memang mulai aktif berbicara.
"Ayah merindukanmu, tapi sepertinya kau sama sekali tidak merindukan ayah!" keluh Rendi pada putranya itu.
"Memang Elan harus apa mas, apa harus mengatakan ayah aku merindukanmu, atau ia berlari memelukmu? Kau ini!" protes Nadin, ia kadang-kadang tidak mengerti jalan pikiran suaminya itu. Mana bisa anak usia satu tahun mengatakan rindu.
"Tapi dia selalu menempel padamu semenjak kita datang, tapi sama sekali tidak menoleh padaku!"
"Pasang senyum yang banyak, biar Elan suka sama mas, lihat Elan murah senyum! Dia benar-benar tidak mirip denganmu!"
"Kau membuatku semakin terlihat buruk saja!"
Nadin hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Ia memang tidak bisa menuntut suaminya untuk murah senyum tapi setidaknya putranya berwajah lembut tidak sedingin ayahnya.
Mobil mereka akhirnya sampai juga di rumah besar, mereka datang lebih awal karena akan sulit membujuk Elan untuk pulang nantinya jika ia belum puas bermain dengan kakak-kakaknya.
"Aunty ....., Elan ....!" sapa Sanaya dan Sagara yang sudah berlari menghampiri mereka.
"Hai Nay, Gara ...., Kalian cepat sekali besarnya, Nay tambah cantik saja!"
"Terimakasih aunty!" ucap Nay dengan begitu centilnya ia begitu menyukai pujian.
"Apa Gara tidak sekeren kelihatannya?" protes Gara karena Nadin tidak memujinya juga.
"Hemmm!"
"Kenapa paman masih saja seperti robot, memang harus seperti itu ya? Mungkin nanti Abimanyu akan bersikap sama seperti paman, Sungguh pria yang membosankan!"
"Hehhhh ...., jangan terlalu keras dengan Abimanyu!" akhirnya Rendi mengeluarkan suaranya juga.
Sanaya sudah membawa pergi Elan, mereka meninggalkan Sagara begitu saja. Melihat kedatangan Nadin, Ara yang baru saja turun dari kamarnya segera menghampiri adik perempuannya itu.
"Nadin ....!"
Ara segera memeluk Nadin dengan begitu erat, "Aku sangat merindukanmu!"
"Aku juga kak!"
"Paman!" melihat mommy nya asik berpelukan dengan uanty nya. Sagara segera menarik jas Rendi hingga membuat Rendi sedikit memiringkan tubuhnya.
"Hemmm?"
"Apa paman akan tetap di sini dan mendengarkan obrolan wanita? Itu tidak keren!"
"Apa kita perlu mengobrol sendiri?"
"Itu lebih keren!"
Rendi pun tersenyum dan merangkul Sagara yang sudah lebih tinggi hingga di atas pinggangnya itu dan mengajaknya meninggalkan dua wanita yang saling melepaskan rindu itu.
"Apa daddy mu sedang sibuk?"
"Daddy sedang di ruang kerjanya!"
"Apa yang dia lakukan di hari libur!" gumam Rendi. "Baiklah ...., aku akan menemui deddy mu dulu, nanti kita bicara lagi!"
Sagara hanya terdiam dengan mulut terbuka saat Rendi meninggalkannya begitu saja.
"Iiissst ...., paman Rendi benar-benar menyebalkan!" Sagara benar-benar kesepian karena Abimanyu tidak datang hari ini. Karena hari libur makan Abimanyu pun libur.
Sagara terpaksa bergabung dengan Sanaya dan Elan, ia tidak mungkin bermain sendiri.
Tok tok tok
Rendi mengetuk pintu ruang kerja Agra, walaupun belum mendapat sahutan ia yakin Agra ada di dalam.
Ceklek
Rendi membuka pintu itu dan benar saja di dalam Agra sedang duduk di balik meja kerjanya.
"Rend!" ucap Agra saat melihat kedatangan Rendi, Rendi pun segera duduk di depan meja kerja, berhadapan dengan Agra di sana.
"Apa ada masalah?"
"Ada sedikit masalah dengan proyek di Surabaya! Sebenarnya berat untuk pergi tapi akan sulit jika tidak di tangani langsung!"
"Aku akan membantumu!"
"Akan ada acara pembukaan taman bermain dan juga acara empat bulanan kandungan Nadin, aku khawatir ini akan berlangsung lama!"
"Kalau begitu kita bisa selesaikan bersama-sama!"
"Apa tidak pa pa meninggalkan Nadin sendiri saat hamil?"
"Hanya dua hari, itu tidak akan masalah!"
"Lalu bagaimana dengan acaranya, siapa yang akan mengurusnya?"
"Ibu lebih tahu dari kita, ibu yang akan memutuskan!"
"Kau ini memang jauh memahami ibuku dari aku putra kandungnya!"
"Itulah kenapa nyonya memilihku sebagai orang yang selalu berdiri di belakangmu!"
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘😘