MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
bonschap 7 (manjat pohon mangga)



Nadin begitu bersemangat keluar rumah, ia sudah membayangkan mangga muda itu menari-nari di atas lidahnya.


"Pak, kenapa malam-malam anda kembali keluar rumah?" tanya Ajun yang masih berada di depan, ia baru saja akan pulang hingga atasannya kembali keluar rumah.


"Ayo ikut aku!" ajak Rendi yang terus menggandeng Nadin dan tidak membiarkan Nadin sampai kesusahan.


Ajun pun akhirnya tidak bisa menolak, ia mengikuti bosnya itu tanpa bertanya lagi.


"Kamu yakin, malam-malam bangunin pak Tama?" tanya Rendi lagi saat mereka sudah berada di depan rumah pak Tama.


Nadin nganggukkan kepalanya dengan sangat yakin membuat Rendi kembali berdecak.


Aku harus jadi suami siaga .....


Rendi pun memberanikan diri mengetuk pagar rumah itu dengan gembok yang menggantung di sana. Ajun berencana untuk maju, tapi Nadin segera mencegahnya.


"Nggak usah, kamu di sini saja, cuma boleh memastikan kalau kami baik-baik saja!" ucap Nadin pada Ajun.


"Baik bu!" Ajun mengurungkan niatnya untuk membantu Rendi membuat Rendi tak bisa berbuat apa-apa lagi.


Tek tek tek


"Permisi pak!" teriak Rendi, untuk pertama kalinya ia harus melakukan hal ini, biasanya ia hanya bisa cuek. Pria dingin itu sekarang harus meminta bantuan tetangganya gara-gara istrinya ngidam.


Tidak berapa lama, seorang wanita paruh baya keluar sepertinya dia asisten rumah itu.


"Iya pak, cari siapa?"


"Apa kak Tama nya ada?" tanya Rendi tetap dengan gaya cool-nya.


"Loh ....., mbak Nadin!" bibi itu terkejut saat melihat Nadin, ia sudah sangat kenal dengan Nadin, tapi pria dingin itu, ia tidak begitu mengenalnya.


"Iya bi, ini suami saya mas Rendi, sebenernya mas Rendi mau ngomong sama pak Tama!"


"Ya sudah masuk!" bibi itu membukakan pagar yang tidak tinggi itu. Rendi, Nadin dan Ajun ikut masuk bersama bibi itu.


"Sebenarnya sudah sangat malam, saya tidak yakin kalau pak Tama masih belum tidur!"


"Tapi ini sangat penting bi, kalau bisa bangunin ya!" Nadin benar-benar memaksa membuat Rendi berdecak kesal.


"Ya sudah tunggu sebentar ya!" bibi itu pun kembali meninggalkan mereka, ia masuk ke dalam rumah.


Cukup lama mereka menunggu di luar.


"Kamu duduk dulu, kakimu nanti bisa bengkak!" ucap Rendi pada Nadin, ia meminta Nadin untuk duduk di sebuah kursi yang ada di teras rumah.


Nadin pun menurut, memang benar kakinya sudah sangat lelah berdiri, sepertinya pak Tama memang sudah tidur. Mata Nadin tidak beralih menatap pohon mangga dengan buah yang menggantung di setiap dahannya itu.


"Sepertinya pak Tama sudah tidur, kita mintanya besok aja ya!" bujuk Rendi pada istrinya itu, ia juga sudah sangat lelah, matanya sudah mengantuk tapi ada tugas lain yang sangat penting yang harus ia kerjakan, yaitu buka puasa.


"Nggak mau, pokoknya harus sekarang! Ayolah mas naik aja, panjat pohonnya! Nadin jamin deh pak Tama nggak akan marah, pak Tama orangnya sangat baik!"


"Ajun, panjat pohonnya!" Rendi balik memerintah Ajun.


"Baik pak!" Ajun pun tanpa pikir panjang, ia segera berjalan mendekati pohon mangga itu.


"Stop Ajun!" teriak Nadin lagi membuat Ajun menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi sih?"


"Aku maunya mas Rendi yang manjat, bukan Ajun!" Nadin sudah hampir berdiri lagi tapi segera di cegah oleh Rendi.


Rendi tidak bisa mengelak lagi, ia harus memanjat sendiri, ini sebenarnya pengalaman pertamanya memanjat pohon.


Rendi perlahan mendekati pohon mangga itu dengan Ajun sudah siap di sampingnya sedangkan Nadin mengawasi mereka dari jauh.


"Pak ...., pak Rendi nggak pa pa?" tanya Ajun yang mengkhawatirkan atasannya itu.


"Kenapa harus manjat pohon sih, lebih baik menghadapi puluhan preman dari pada manjat pohon kayak gini!" gerutu Rendi sebelum memulai memanjat membuat Ajun berusaha menyembunyikan tertawanya takut dosa.


"Jangan menertawakan aku!" ucap Rendi yang sudah mulai memeluk pohon yang sebenarnya tidak terlalu besar itu.


Nadin sudah menyemangatinya dari kejauhan dengan sedikit teriakan dan senyum untuk suaminya.


"Ayo mas kyu ...., aku padamu .....!"


Rendi menjadi bersemangat untuk memanjatnya, hanya dalam waktu lima menit saja akhirnya Rendi sudah sampai di dahan pohon bersiap untuk memetik mangga.


"Aku mau yang itu mas!" teriak Nadin lagi sambil menunjuk mangga muda yang di inginkan.


"Yang itu ya?" tanya Rendi memastikan.


"Iya mas, yang itu!"


Akhirnya Rendi memetik beberapa buah mangga muda dan Ajun sudah siap menangkap buah mangga muda yang di jatuhkan.


"Ada apa ini ribut-ribut?" ternyata suara keributan yang di timbulkan oleh Rendi dan Nadin membuat pak Tama terbangun juga.


Pak Tama adalah tetangga mereka yang tinggal seorang diri, anaknya sedang dinas di luar kota sedangkan istrinya sudah meninggal. Nadin sebenarnya sering mengobrol dengan pak Tama setiap kali jalan-jalan di depan rumah atau membeli sayur di tukang sayur, mereka sering bertemu, pak Tama juga sangat menyukai Elan.


"Ada apa ini?" tanya pak Tama lagi, ia menatap Rendi yang masih di atas pohon, Rendi yang merasa ketahuan jadi kehilangan keseimbangan.


Aaaaa .....


Bug


"Mas .....!"


"Pak Rendi!"


Nadin dan Ajun berteriak terkejut, Nadin segera berlari menghampiri suaminya itu. Tampak Rendi memegangi punggungnya yang sakit, Ajun sudah sigap membangunkan Rendi.


Augh ....


"Mas .... !" Nadin segera memeluk suaminya itu.


"Sakit Din!"


"Maafkan aku!"


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘😘