
Di kantor
Hari ini Davina kembali lagi ke kantor tempatnya magang untuk menyelesaikan masalah atministrasi dan penyelesaian laporan. Davina begitu bersemangat hendak memasuki sebuah ruangan.
"Davina!?" Sapa Divta yang tak sengaja melihat Davina kembali ke kantor.
Davina yang hendak masuk ke sebuah ruangan mengurungkan niatnya. Ia menoleh ke belakang, mengcari tahu siapa yang memanggilnya.
"Pak Divta!"
Divta pun menghampiri Davina. "Kenapa ke sini? Bukankah sudah selesai magangnya?"
"Iya ...., Inih mau minta tanda tangan!" Ucap Davina sambil menunjukkan sebuah map tipis.
"Ya udah biar aku kasih deh tanda tangannya!" Ucap Divta dengan entengnya.
"Tapi harus minta tanda tangannya Bu Tami dulu pak!"
"Biar aku bantu, tapi temenin saya makan siang ya!" Tawar Divta, akhirnya Davina pun setuju. Tak ada ruginya juga ikut makan siang sama Divta, bisa sedikit mengorek informasi.
Mereka pun menuju ke sebuah restauran yang tak terlalu jauh dari kantor, sebenarnya ada yang Divta ingin tanyakan juga. Pas banget ia bertemu dengan Davina, akhir-akhir ini mereka lumayan dekat, sekedar menghabiskan makan siang bersama atau nongkrong di kafe.
"Boleh aku tanya?" Divta segera membuka suaranya saat mereka mulai menikmati makan siang.
"Apa?" tanya Davina dengan santainya.
"Apa Nadin baik-baik saja?" Tanya Divta, seketika Davina menghentikan makannya, ia menghentikan kunyahannya hanya untuk bisa mendengar pertanyaan Divta.
"Maksudku ...., Nadin sudah banget aku hubungi setelah keluar dari rumah sakit, kemarin aku datang ke rumah kalian, dia juga tidak ada!"
"Jelas aja dia nggak ada pak!" Ucap Davina santai.
"Maksudnya?!" Divta gagal mencerna ucapan Davina. Divta segera menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Davina.
"Jelas aja Nadin nggak di rumah, dia itu pulang di rumah suaminya!" Seketika ucapan Davina bagai petir di siang bolong, ia benar-benar tidak mempercayainya.
He he he
Divta tertawa garing, berusaha mengatakan jika semua itu tidak mungkin.
"Mana mungkin saya bohong pak, kemarin pas di rumah sakit Nadin menikah, saya nggak liat sendiri sih pak, tapi kata ayah sama ibu Nadin sudah menikah di rumah sakit!"
"Nggak mungkin!" Divta mengepalkan tangannya hingga sebagian ujung taplak meja itu tertarik oleh tangannya. Otot di pelipisnya saling bermunculan untuk keluar , wajahnya sudah memerah. Sedangkan Davina hanya bisa menggigit bibir bawahnya, ia tidak pernah menyangka jika Divta akan bereaksi berlebihan seperti itu.
"Dengan siapa dia menikah?" Tanya Divta setelah berhasil menguasai dirinya. Ia membetulkan duduknya.
"Aku tidak tahu!" Ucap davinaa ragu.
"Kenapa bisa kebetulan sekali?!" Gumam Divta tapi masih bisa di dengar oleh Davina.
"Maksudnya?" Tanya Davina yang tak mengerti.
"Kemarin Agra juga mengatakan kalau Rendi menikah!"
"Pak Rendi!" Sekarang gantian Davina yang terkejut, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia dengar, rasanya baru kemarin ia merasa lega karena Nadin sudah menikah, tapi kenapa sekarang gantian ia mendapat berita kalau Rendi juga menikah.
Divta penggangguk lemas, tapi searah kemudian mereka seperti menyadari sesuatu.
"Jangan jangan ....!" Mereka berucap bersama-sama dan saling pandang seperti mendapatkan titik terang.
"Apa kau memikirkan seperti yang aku pikirkan?" Tanya Divta.
"Jangan-jangan mereka menikah!" Jawab Davina.
Divta dengan reflek meninju meja yang ada di depannya sehingga membuat Davina begitu terkejut.
**Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘**