
“Ini baju bayi kecilku …., ayah merindukanmu nak …!”
Rendi memeluk baju bayi itu seperti dia sedang memeluk putranya sendiri,
matanya mulai berkaca, ia merindukan yang belum pernah ia temui, tapi hatinya
begitu dekat.
Rendi tidak berpindah dari tempatnya saat Aisyah menuju ke rumah Nadin, Aisyah begitu terkejut saat melihat Rendi sedang berada di
depan rumah Nadin, ia segera menghampiri Rendi yang masih terduduk di lantai
sambil mendekap baju baby El.
“Assalamualaikum!” Aisyah memberi salam, Rendi hanya mendongakkan kepalanya, menatap wanita yang ada di depannya, ia bahkan malas untuk menjawab, wajah dinginnya kini berubah sendu.
Memang semua orang kaya akan seperti ini ya, tidak pria ini tidak tuan Alex jika di beri salam tidak mau menjawab salam .....
“Anda ini sebenarnya siapa? Kenapa selalu berada di depan rumah ini, dan ini …, kenapa memegang bajunya anak kakak saya?” Aisyah
memberondong Rendi dengan banyak pertanyaan, ia sudah begitu kesal melihat pria
yang ada di depannya.
“Kau siapa?” bukannya menjawab pertanyaan Aisyah, Rendi malah balik bertanya.
“Anda yang siapa? Ini rumah kakak saya, gara-gara anda, kakak saya tidak berani pulang!”
“Ini rumah istri saya!” ucap Rendi tanpa
mempedulikan ucapan Aisyah, tapi ucapan Rendi membuat Aisyah terkejut.
“Anda jangan macam-macam ya …., kalau anda memang suami kakak saya, apa buktinya?” Aisyah tidak mau percaya begitu saja, jika
tiba-tiba ada yang mengaku-ngaku sebagai suami Nadin. Ini bukan yang pertama,
bahkan banyak dari pria yang mengincar ingin menjadikan Nadin sebagai istrinya. Tapi sekarang yang lebih parahnya, pria di depannya mengaku sebagai suami Nadin.
Rendi menatap Aisyah tajam membuat Aisyah sedikit mundur dan menundukkan pandangannya. Rendi menghela nafas, kemudian ia mengambil sesuatu dari balik saku jasnya. Ia mengeluarkan ponselnya kemudian menunjukkan pada Aisyah. Sebuah foto pernikahan.
Aisyah mengambil ponsel itu, ia jadi penasaran dengan foto itu, sepertinya pria itu sungguh-sungguh, pikir Aisyah.
Aisyah juga ingin memastikan siapa yang ada dalam foto itu, dan ternyata benar, itu foto Nadin dan pria itu dan juga keluarganya.
“Jadi ….!” Aisyah mengulurkan ponselnya, dengan cepat Rendi mengambilnya dan kembali menyimpannya dalam saku jasnya. Sebelumnya
ia pikir tidak penting memberitahu orang asing, tapi saat melihat Aisyah, ia
jadi yakin kalau gadis itu cukup dekat dengan Nadin.
“Ya …, saya suaminya! Beri tahu aku di mana Nadin dan anak saya sekarang?”
“Maaf …, bukan hak saya memberi tahu anda, jika kak Nadin ingin bertemu dengan anda baru saya akan memberitahu keberadaannya!”
“Baiklah …, kalau begitu ijinkan saya tetap di sini sampai istri saya kembali!”
Akhirnya Aisyah pun mengijinkan Rendi untuk tetap menunggu di sana, tapi tidak di dalam rumah. Rendi boleh menunggu tapi tetap di
luar sampai Nadin benar-benar mengijinkan Rendi untuk masuk.
Di tempat lain, Nadin setelah kembali dari rumahnya ia benar-benar tak sabar untuk menunggu kedatangan Alex, ada yang ingin segera ia tanyakan. Tapi sepertinya Alex pulang terlambat, hingga petang mobil pria
itu baru masuk ke halaman.
“Nad ….., kamu belum tidur?” Tanya Alex, ia
tersenyum senang saat melihat Nadin sudah menyambutnya pulang kerja.
“Ada yang ingin aku tanyakan!”
“Bentar …, aku kangen banget sama baby El, di mana dia?”
“Baby El sedang tidur Lex!”
“Di kamar!”
Alex segera menghampiri baby El yang sedang tidur, ia begitu merindukan baby El. Sehari saja tak bertemu dengan baby El membuat
Alex begitu merindukannya. Alex menciumi baby El yang tertidur.
“Alex …, jangan ganggu dia, nanti bangun!”
“Tapi daddy merindukanmu …, pengen lihat senyum baby El!” ucap Alex sambil terus menghujani cium di seluruh wajah baby El, rasanya
bisa mencium dan melihat baby El sepulang kerja sudah berhasil membuat rasa
lelahnya hilang karena seharian kerja.
“Alex …, aku ingin bicara penting!” Nadin begitu tak sabar ingin menanyakan sesuatu pada Alex.
“baiklah …, sebentar ya beri aku waktu sebentar saja dengan baby El!”
“baiklah …, kalau gitu aku tinggal ke dapur dulu,
susul aku di ruang makan!”
“Baiklah ….!”
El. Nadin memang tidak pernah meragukan kasih sayang Alex pada baby El karena
selama ini, Alex lah yang selalu ada untuknya dan baby El. Alex menyayangi baby
El seperti menyayangi putranya sendiri.
Setelah puas bermain dengan baby El, Alex pun
menyusul Nadin, Nadin sudah duduk di meja makan. Ia menyiapkan makan malam
untuk Alex.
“Wah …, masak apa nih?’ Tanya Alex sambil duduk berhadapan dengan Nadin.
“Makanlah …, bukan aku yang masak, tapi pelayan
kamu!”
“Aku tahu …, kamu kan nggak bisa masak! Aku juga takut masak masakan mu, bisa-bisa aku sakit perut!” ucap Alex sambil terkekeh,
ia mengambil piringnya dan menuangkan nasi dan beberapa lauk di atas piringnya,
melahapnya. Terlihat sekali jika pria itu sedang begitu lapar.
“Enak aja …, nggak separah itu juga kali …, aku
sudah banyak belajar masak ya …!” mendengar ucapan Nadin, Alex hanya
menyebirkan bibirnya dan terus memakan makanannya, ia begitu lahap.
“Sibuk sekali ya tadi?” Tanya Nadin. Ia hanya
menatap pria itu.
“Iya …, banyak sekali pekerjaan. Ini masih baru
banget di sini, jadi butuh ketelatenan!”
Nadin terus menunggu hingga pria itu menghabiskan
makanannya, setelah piringnya kosong, nadin menyodorkan segelas air putih pada
Alex.
“terimakasih!” ucap Alex sambil menerima gelas yang
di berikan oleh Nadin. Setelah menghabiskan minumannya, barulah alex menatap
Nadin.
“Tadi mau Tanya apa?”
“Siapa yang mencariku di rumahku?” pertanyaan Nadin
seketika berhasil membuat Alex terkejut. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan
Nadin, bukan karena apa, tapi ia tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia tidak
mungkin mengatakan kalau yang mencarinya adalah suaminya.
“Kenapa tidak menjawab? Kamu tahu kan?” Nadin mencerca Alex dengan pertanyaan yang menyelidik.
“Bukan siapa-siapa! Jangan bahas ini lagi, kalian akan tetap aman jika berada di sini! Tidurlah …!” Alex bangun dari duduknya
hendak meninggalkan meja makan, ia tidak mau terus di Tanya oleh Nadin,
bisa-bisa Nadin tahu sesuatu.
“Mas Rendi?” pertanyaan Nadin berhasil membuat Alex
berhenti, tapi ia tidak juga menoleh. Ia hanya menghela nafasnya begitu dalam.
“Mas Rendi kan yang ke rumahku?”
Pertanyaan Nadin begitu tepat sasaran, Alex memejamkan
matanya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, ia begitu takut jika Nadin akan
kembali pada Rendi, ia belum siap kehilangan baby El, ia sudah terlanjur
menyayanginya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Maaf ya hari ini baru bisa up satu dulu, insyaallah akhir pekan bakalan crazy up lagi
🙏🙏🙏🙏
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘😘😘😘