
Setelah menyelesaikan panggilan dengan Nadin, Rendi segera meletakkan ponselnya di atas nakas dan mengambil handuk yang sudah terlipat rapi di dalam lemari.
"Enak saja, siapa yang berani mendekati istriku!" gumam Tendi sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
Setelah menanggalkan semua pakaiannya Rendi segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Sesekali ia bersiul sambil menuangkan sampoo ke rambutnya.
Setelah menyelesaikan mandinya, Rendi segera membalut tubuhnya dengan handuk dan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
Ia kembali keluar dari kamar mandi dan kembali mengecek ponsel nya, ternyata ada pesan masuk di ponselnya. Itu dari sekertaris group H.
Rendi tersenyum, ia kembali melakukan panggilan.
"Iya pak!"
"Lakukan penyelidikan pada perusahaan group H!"
"Baik pak!"
"Beri datanya secepatnya, kalau bisa sebelum makan malam!"
"Baik pak!"
Rendi pun segera melemparkan handuknya begitu saja. Kembali menuju lemari dan mengambil bajunya. Ia tampak sangat formal walaupun saatnya makan malam.
Rendi segera keluar dari kamar dan menuju ke kamar Agra,
Tok tok tok
Ia mengetuk pintu kamar sahabatnya itu,
Ceklek
"Apa?" tanya Agra saat tubuhnya keluar dari dalam kamar.
"Sudah ada jawaban dari sekertaris group H, mereka mengajak kita makan malam sambil membicarakan semuanya!"
"Bagus!" Agra begitu bersemangat, bayangan keluarga kecilnya yang tersenyum dan menyambut kepulangan nya sudah menari-nari di sana.
Agra kembali masuk dan bersiap-siap. Rendi sudah menunggu di ruang tamu sambil mengecek semua data yang di kirimkan oleh anak buahnya.
Rendi mengerutkan keningnya saat tahu siapa sebenarnya lawannya kali ini.
"Revita putri? Apakah ini Revita yang sama?" Rendi berkali-kali melihat biodata yang di kirimkan oleh anak buahnya itu, yang terlihat jelas di layar tab nya.
Plek
Seseorang menepuk bahunya, "Ada apa Rend?"
Rendi segera menoleh ke sumber suara. Agra sudah berdiri di belakangnya.
"Apa kau mengenali wanita ini?" tanya Rendi sambil menunjukkan gambar tabnya. Agra pun segera mengambilnya dari tangan Rendi.
"Siapa dia?" tanya Agra sambil mengamati foto itu.
"Namanya Revita putri!"
"Revita ...., Revita ....., kenapa nama itu tidak asing ya?"
"Mungkin saja memang tidak asing!"
***
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah restoran mewah yang di pesan langsung oleh klien nya itu. Mereka hanya bisa menduga-duga bagaimana lawannya ini.
Agra dan Rendi turun dari mobil dan langsung di sambut oleh bellboy yang membukakan pintu mobil.
Agra membetulkan jasnya yang sebenarnya tidak berantakan itu di ikuti juga oleh Rendi. Mereka langsung di pandu menuju ke mejanya.
"Silahkan pak!" ucap pelayan itu mempersilahkan mereka untuk duduk, "Meja ini sudah di pesan khusus oleh bu Revita putri untuk pak Rendi dan pak Agra!"
Agra dan Rendi mengamati sekitar, restoran itu begitu mewah.
"Siapa sebenarnya Revita ini?" tanya Agra lagi sambil mengamati sekitar.
"Nanti kita akan tahu sendiri!"
"Ya kau benar, aku sungguh tidak sabar!"
Mereka kembali diam memikirkan kembali seperti apa orang yang akan menjadi lawannya itu.
"Selamat malam!" sapa seseorang membuat Rendi dan Agra bersamaan menoleh ke sumber suara.
Seorang wanita cantik dengan pakaian modis sedang berdiri di hadapan mereka, Rendi dan Agra segera berdiri dari duduknya.
"Silahkan duduk!" ucap wanita itu setelah melihat Rendi dan Agra berdiri.
"Kenalkan nama saya Revita putri!" ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya untuk Agra. Agra pun segera menyambut tangan wanita itu.
"Agra!"
"Saya sudah kenal siapa kalian!"
"Benarkan?" tanya Rendi yang kemang benar ia merasa tidak asing dengan wanita di depannya itu.
"Kita satu sekolah dulu!"
"Benarkah ....? Berarti kamu Revita yang itu, yang pakek kaca mata tebel banget! Seneng bisa ketemu kamu lagi!" ucap Agra.
"Ya benar banget, dan karena ulah kalian aku harus keluar dari sekolah!" ucap wanita cantik itu.
"Bukan seperti itu, kamu salah paham soal itu!" Agra berusaha menjelaskan kesalah pahaman antara mereka. Walaupun Rendi tidak begitu tahu ceritanya tapi ia sedikit tahu jika wanita di depannya itu pernah patah hati gara-gara sahabatnya itu.
Dulu Revita adalah gadis yang cukup dengan kaca mata tebalnya dan juga rambut kepang duanya. Gadis cupu itu terobsesi terhadap Agra walaupun ia tahu jika saat itu Agra sedang menjalin hubungan dengan Viona.
Karena penolakan Agra di depan semua siswa membuat gadis itu jadi minder dan memutuskan untuk pindah sekolah.
Rendi masih tetap diam mencoba membaca situasinya, ini sebenarnya ada ikut campur urusan pribadi bukan cuma urusan pekerjaan sehingga membuat Rendi memilih diam dan mengamati saja.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang untuk menebus kesalahanku di masa lalu?" tanya Agra.
"Kamu tidak akan bisa menebusnya karena ulah mu saat itu sudah membuat masa remajaku hancur, aku di kucilkan, aku di buang dan di sisihkan, dan apa yang kamu lakukan saat itu, kamu hanya menertawakan penderitaan ku!"
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan sekarang?"
"Rasanya tidak akan cukup dengan hanya memaafkan mu saja, mungkin menghancurkan perusahaan mu sehancur hancurnya akan impas untuk kita!"
"Kita bisa bicarakan semuanya kan! Jangan seperti itu!"
"Maaf ...., saya rasa pembicaraan kita sudah cukup, saya banyak urusan! Permisi!"
Revita berdiri dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua. Agra menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Akan sulit nih kayaknya!"
"Iya ...., aku rasa begitu, dia sangat dendam denganmu!"
"Kau semakin membuatku bingung saja!" keluh Agra karena Rendi malah membuatnya pusing saja.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘