MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
shopping dengan baby twins (1)



Akhirnya Agra menyerah juga, dari pada malam ini tidur sendiri, lebih baik mengalah untuk satu hari yang pasti akan sangat melelahkan. Menemani wanita berbelanja.


"Hubungi Rendi ...!" perintah Ara.


"Hah ...., untuk apa?" tanya Agra dengan penuh tanya, pria itu masih saja cemburu pada makluk yang namanya Rendi. Mana mungkin istrinya malah memintanya menghubungi pria yang menjadi rivalnya.


"Aku akan mengajak Nadin juga ......, kamu nanti bisa mengobrol dengannya...!"


Jadi kau tidak akan menggangguku mengobrol dan berbelanja dengan Nadin .....


"Baiklah ......!"


Baiklah ...., tapi awas saja kalau sampai kau dekat-dekat dengan Rendi.,...


*Kenapa melihat ku seperti itu?" tanya Ara ketus.


"Nggak ...., siapa yang lihatin ...., PeDe ....!"


Agra pun beranjak dari tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang sedari tadi sudah di letakkan di atas nakas. Ia berjalan menuju ke arah pintu.


"Mau ke mana?" tanya Ara yang masih duduk di tempatnya. Agra pun segera berbalik menghadap istrinya.


"Mau menghubungi Rendi, katanya suruh ajak Rendi ...!" ucap Agra yang masih sedikit kesal karena istrinya harus memintanya menghuhungi Rendi. Saat Ara tak bicara lagi, Agra pun segera keluar dari kamar. ia menuju ke taman belakang.


****


Rendi yang sudah kembalinke apartemennya setelah mengantarkan Nadin pulang. Ia segera membuat makanan, perutnya terasa begitu lapar. Ia tidak makan apapun tadi sore di kafe, ia hanya makan tadi siang itupun bekal yang di bawakan Nadin.


"Mungkin lain kali aku bisa membawakannya bekal juga, dia kan nggak bisa masak." gumam Rendi sambil memasak spaghetti.


"Ah ..., akhirnya matang juga ...!" ucapnya sambil memindahkan makanan yang masih panas itu di atas piring. Ia segera duduk di kursi bundar di meja dapur itu, di sana hanya ada dua kursi kecil.


Rendi menyantap makanannya dengan begitu lahap. Tapi saat makanan itu belum benar-benar habis, aktifitasnya harus terhenti karena ponselnya berdering. Ada panggilan telpon di sana, ia melirik siapa yang sedang melakukan panggilan, dan ternyata Agra, dahinya mengkerut. Sudah lama sekali atasan sekaligus sahabatnya itu tidak menghubunginya di luar jam kerja seperti ini, ada apa lagi? Pikirnya.


Rendi pun segera menaruh sendok garpunya di atas piring, dan mengambil benda pipih itu dan menggeser tanda telpon ke warna hijau.


"Hallo ...!"


"Besok siang datang ke rumah!" ucap Agra, dari nada bicaranya terdengar sekali kalau Agra enggan untuk mengatakannya.


"Baik ...!" jawab Rendi singkat.


"Kamu nggak tanya buat apa?" tanya Agra.


Kenapa juga tanya, apa yang kamu katakan kan memang harus di patuhi ....


Rendi memutar bola matanya malas.


"Untuk apa?" tanya Rendi. Dari pada membuat si pria bucin itu marah, akhir-akhir ini bapak dua anak itu kembali seperti anak kasmaran, apa-apa selalu saja istrinya tercinta.


"Ara mengajakku pergi ke mall." ucap Agra dan langsung mendapat dengusan dari Rendi.


Aah .., sudah ku duga ...


"Kenapa diam? Pokoknya besok datang ke rumah, tapi ingat jangan dekat dengan istriku ...!"


Dasar suami posesif, bucin akut !,


Sambungan telpon pun terputus sepihak, bukan Rendi tapi Agra yang melakukannya.


***


Saat suaminya sedang menghubungi Rendi, kini gantian Ara yang menghubungi Nadin.


Nadin sedang bersiap hendak bobok cantik saat tiba-tiba ponselnya berdering.


"Nadiiiin ...., berisik tau ...., angkat tuh telponmu ...., aku ngantuk ...!" teriak Davina yang matanya sudah mulai terpejam tapi harus terganggu oleh suara ponsel Nadin.


"Iya kak, nih Nadin mau angkat ....!"


"Jangan di sini, di luar ...., aku mau tidur ...!" ucap Davina lagi sambil kembali menutup tubuhnya dengan selimut.


"Iya kakakku yang cantik .....!" ucap Nadin, sambil mengendap-endap keluar dari kamar. Ia menuju ke teras rumah yang sudah terlihat sepi, di seberang jalan depan rumahnya ada penjual nasi goreng yang memang setiap malam selalu mangkal di depan rumah Nadin.


"Kak Ara ....!" tapi sayang panggilan itu sudah terputus.


"Yah ...., terputus ...!" ucap Nadin lagi, saat hendak menelpon balik, ponselnya lebih dulu berdering. Dengan cepat Nadin menggeser tombol hijau.


"Iya kak ..... ,apa kabar kakak, baby twins bagaimana? Apa mereka sudah mulai nakal, aku benar-benar merindukan kalian semua." ucap Nadin memberondongi kakaknya dengan berbagai pertanyaan, pasti di seberang sana sudah geleng kepala karena ulahnya.


"Kak ..., kenapa kakak malah diam? Kakak nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Nadin lagi, kini menjadi khawatir.


"Bagaimana kakak mau ngomong, kalau kamunya cerewet gitu ....!" gerutu Ara.


"Maaf kak, kelepasan..., soalnya Nadin seneng banget kakak telpon Nadin."


"Kakak juga kangen sama kamu dek, bagaimana kabar ayah sama nenek, apa mereka juga baik?"


"Ibu dan Davina?" tanya Ara.


"Ibu Dewi sangat baik kak sama Nadin, dia benar-benar ibu yang luar biasa."


"Syukurlah kalau begitu, Bagaimana dengan Davina?" tanya Ara lagi. Nadin terdiam ia bingung harus berkata apa pada kakaknya.


"Apa Davina baik?" tanya Ara, mengulang kembali pertanyaannya.


"Ba-baik ..., kok kak, semuanya baik. Kakak nghak usah khawatir."


"Aku harap kamu nggak nyembunyiin sesuatu ya sama kakak."


"Nggak ada kak ...., beneran ....!" ucap Nadin mencoba meyakinkan kakaknya.


Maafkan aku kak, Nadin bukannya mau nyembunyiin semuanya dari kakak, tapi Nadin bisa mengatasinya sendiri. Aku tahu sebenarnya kak Davina orangnya baik, hanya keadaan saja yang merubahnya jadi sedikit buruk.


"Dek ..., besok rencananya kakak mau ajak kamu jalan-jalan sama baby twins, kamu besok nggak ada acarakan?" tanya Ara.


"Nad ...., Nadin ...., kamu masih di situ kan?" tanya Ara yang tak mendengarkan sesuatu dari seberang.


"I-iya kak ...., Nadin masih di sini kok ....!" ucap Nadin saat tersadar dari lamunannya.


" Gimana bisa kan?" tanya Ara lagi.


"Bisa kak, bisa baget ....!"


"Besok siang datang ke rumah kakak ya ....!" ucap Ara lagi.


"Iya kak, Nadin pasti datang, apa perlu Nadin ngajak kak Davina?" tanya Nadin.


"Jangan ...!!!" teriak Ara.


"Biasa aja kali kak ....!" ucap Nadin yang terkejut karena teriakan kakaknya.


"Ya pokoknya jangan ngajak Davina ya ...., ngajaknya lain kali aja ...!"


Sepertinya Davina juga suka sama Rendi, aku nggak mau sampai rencana aku gagal buat deketin Nadin dengan Rendi ....


"Emang ada apa sih kak?" tanya Nadin penasaran.


"Pokoknya untuk besok jangan ...., ngajaknya lain kali aja, lain kali kita jalan-jalan nya rame-rame ....!"


"Baiklah kak ...., terserah kakak saja lah ....!"


"Ya udah kakak tunggu besok ya ...., selamat malam ...., selamat tidur ....!"


"Selamat tidur juga kakak ....!"


Panggilan telpon pun terputus. Nadin tersenyum senang karena besok bisa bertemu dengan kakak perempuannya.


"Nadin ....!"


Ayah Roy yang sedang mengambil minum ke dapur, mendengar ada suara di teras rumah dan pintu yang terbuka, membuatnya Roy terpancing untuk melihatnya.


"Ayah .....!" ucap Nadin sambil menoleh ke sumber suara. "Ayah belum tidur?"


Ayah Roy pun ikut duduk di samping Nadin.


"Ayah haus tadi mau mengambil minum, kamu kenapa belum tidur?"


"Kak Ara baru saja menelpon Nadin."


"Ara ...?" tanya Ayah Roy. "Bagaimana kabarnya, mereka baik?"


"Kak Ara baik yah, kak Ara juga titip salam buat ayah, oh iya yah ...., Nadin besok ijin pergi sama kak Ara ya ....!"


"Iya ....!" ucap Ayah Roy sambil mengelus rambut putrinya itu.


"Tapi jangan kasih tahu kak Davina ya yah."


"Kenapa?" tanya ayah Roy heran.


"Kak Ara nggak ngajak kak Davina soalnya, kasihan kak Davina kalau tahu, Nadin kan jadi nggak enak yah ...!"


"Baiklah ....., sudah sana pergi tidur. Sudah malam ....!"


"Baik ayah ....., selamat malam ....!" ucap Nadin sambil beranjak dari duduknya, sebelum meningglkan ayahnya, tak lupa ia meninggalkan ciuman di kedua pipi ayahnya.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya


Kasih Vote juga ya yang banyak


Happy Reading 😘😘😘😘😘😘**