MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Usaha Rendi



Rendi menjalankan mobilnya tanpa Ajun, ia


menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Nadin. Kali ini ia tidak langsung


turun, ia tersenyum bahagia saat melihat Nadin sedang mengajak anaknya


berjemur.


“Aku ayah yang seperti apa nak buat kamu?, aku bahkan tidak tahu kau seorang baby princess atau pangeran untuk ayah!”


Rendi menatap senyum itu, senyum yang begitu ia rindukan. Ia ingin sekali serakah dan menguasai semua senyum itu hanya


untuknya. Tapi senyum itu seakan memudar saat ia berusaha untuk kembali bisa


mendekatinya.


Rendi turun dari mobilnya perlahan mendekat tanpa di sadari oleh Nadin. Rendi mensedakepkan tangannya di depan dada, ingin rasanya menggendong dan memeluk bayi itu.


“Baby El …., suka nggak main sama bunda? Bunda pengen tetap seperti ini, hanya ada bunda dan baby El, apa kau akan setuju?


Kenapa tersenyum seperti itu? Jangan banyak senyum, bunda nggak suka ya kamu


tebar pesona kayak gitu!”


Nadin terus saja mengajak bicara baby El, tapi


sepertinya baby El menyadari kedatangan Rendi yang ada di belakang Nadin, rendi


tersenyum dan melambaikan tangannya pada baby El, membuat baby El tertawa


menggemaskan.


“kenapa tertawa seperti itu, senang sekali


kayaknya?” Tanya Nadin lagi pada baby El.


“Hermmmm!” Rendi berdehem, berharap nadin segera menyadari keberadaannya. Dan benar saja, Nadin menoleh ke arah Rendi. Nadin


terhenyak, hatinya bergetar, ia segera berdiri.


“Mas Rendi …, kenapa di sini?”


“Mau lihat anak sama istri aku sebelum berangkat kerja!”


Bukannya menjawab, Nadin segera mengangkat tubuh baby El dan segera berlalu meninggalkan Rendi.


“Nad …, Nad …, Nadin …, berhenti!” Rendi terus


mengejar Nadin dan baby El. Nadin tak juga menghiraukan.


“Berhenti sebentar, kita harus bicara!” ucap Rendi lagi saat Nadin sudah hampir mencapai pintu.


“Nggak ada yang perlu di bicarakan lagi, mas!”


“Ada!”


“Kesempatan itu sudah hilang!”


Nadin segera masuk dan mengunci pintunya dari dalam. Rendi masih tertegun di tempatnya, ia harus memikirkan cara agar bisa bicara


dan meluruskan semuanya pada Nadin. Tapi untuk saat ini dia harus berangkat


kerja dulu, waktunya sudah sangat mepet, mungkin jika pekerjaannya selesai


lebih cepat, ia punya banyak waktu untuk mendekati istrinya.


Rendi memilih untuk


berangkat kerja, ia kan melanjutkan bicara pada istrinya sepulang kerja.


🌺🌺🌺🌺


Usaha Rendi untuk meluluhkan hati istrinya masih terus berlanjut.


Sore ini sepulang dari kantor, ia sudah pindah ke rumah barunya yang berada di depan rumah Nadin, ia sudah membersihkan badannya


dan mengganti bajunya dengan baju santai.


ia sengaja duduk di depan rumah agar


bisa melihat kalau-Kalau Nadin keluar rumah. Dan benar saja, Nadin sore hari


akan mengajak baby El jalan-jalan, setelah Nadin dan baby El berlalu dari


hadapannya, ia pun segera menyusul di belakangnya.


"Mbak Nadin sama siapa itu?” Tanya ibu-ibu yang juga sedang jalan-jalan sore bersama baby-nya, Nadin yang tidak menyadari kehadiran Rendi di belakangnya pun tak mengerti dengan yang di maksud.


“Siapa? Aku sama baby El bu!” jawab Nadin bingung karena ia hanya merasa jalan sama baby El saja.


“Saya suaminya! Kenalkan nama saya Rendi!”  Rendi segera memperkenalkan diri, dan


mengambil alih kereta bayi milik baby El membuat Nadin terpaku di tempatnya.


“Ayo sayang …, kenapa berhenti? Kita mau jalan-jalan kan?” ucap Rendi dengan senyum yang tak biasa ia tunjukkan dulu.


“Wahhh …, suami mbak Nadin guanteng banget, kayak oppa-oppa korea!” puji ibu-ibu itu.


Nadin yang sudah tertinggal cukup jauh segera


segera di cegah oleh Rendi, Rendi malah menjadikan kesempatan itu untuk


memeluk Nadin.


“Mas …, lepasin!” Nadin berusaha melepaskan pelukan Rendi.


“Kenapa? Aku kangen sama kamu!” bisik Rendi.


“Mas …, ini di jalan ya, malu di lihatin orang!”


“Kalau di rumah kamu nggak ngasih kesempatan sama aku! Iya kan sayang, baby El, apa baby kita jagoan?” Tanya Rendi tanpa


melepaskan pelukannya sama Nadin.


“Baiklah aku akan menjawabnya, tapi lepaskan dulu aku!”


“Baik!” Rendi pun akhirnya melepaskan pelukannya, sambil terus mendorong kereta dorong baby El, ia meminta Nadin untuk bicara.


Tapi sepertinya Nadin enggan untuk menceritakan sesuatu tentang mereka.


Hingga mereka sampai kembali di rumah Nadin, Nadin tak juga membuka suara.


“Nad …, jangan mendiamkan ku seperti ini terus!” ucap Rendi saat mereka sudah di dalam rumah Nadin.


“Mas …,bisa nggak sekarang juga keluar dari rumah saya!” ucap Nadin sambil membukakan pintu untuk Rendi.


Bukannya keluar, Rendi malah memilih menggendong baby El dan membawanya ke dalam kamar.


“Mas …, apa apaan sih ini?” protes Nadin, mau tak mau ia ikut masuk ke dalam kamar bersama Rendi dan putranya. Rendi sudah


tiduran bersama baby El, ia memeluk tubuh baby El dan memejamkan matanya. Ia


seakan tak peduli dengan protes Nadin.


“Mas …, aku nggak becanda ya, sekarang juga pergi dari sini!” teriak Nadin, membuat Rendi membuka matanya, ia pun membuka mata


dan bangun dari tempat tidur, ia berdiri tepat di hadapan Nadin.


“Aku ke sini untuk mendapatkan hak ku!” ucap Rendi dengan penuh penekanan.


“Hak yang mana? Hak itu sudah hilang semenjak saat itu, saat mas Rendi sudah membohongiku!”


“Tak ada yang berbohong, kita hanya salah paham saja dan kau juga berjanji jika sudah waktunya kau siap untuk mendengarkan penjelasanku!”


“Penjelasan apa lagi mas, semuanya sudah jelas! Lalu salah paham yang bagaimana? Salah paham yang mengatakan kalau mas Rendi memilih wanita lain dari pada istri mas Rendi sendiri, Salah paham yang mengatakan kalau anak itu adalah anak mas Rendi


dengan kak Davina?”


Bukannya menjawab , Rendi malah menarik tubuh Nadin ke dalam pelukannya, ia begitu merindukan tubuh itu. Sangat rindu, aroma


tubuhnya. Dengan cepat Rendi membungkam bibir Nadin dengan bibirnya agar tidak


bicara lagi, Nadin berusaha melepaskannya tapi Rendi segera menarik tengkuk


Nadin dan ******* bibir Nadin, begitu ganas dan penuh kemarahan.


“Kak …!”


Ciuman itu terhenti saat tiba-tiba Aisyah muncul di


balik pintu, sudah menjadi kebiasaan Aisyah saat melihat rumah Nadin terbuka ia


langsung masuk. Karena terkejut, Nadin segera mendorong tubuh Rendi dengan kuat


sehingga ciuman itu terlepas, ia menoleh ke sumber suara.


“Ais!”


“Maaf kak, aku mengganggu, silahkan di lanjutkan. Aku pulang dulu, Assalamualaikum!”


“Sitthhh …!” rendi sudah mengumpat kesal karena kegiatannya


teganggu. Ia duduk di tepi tempat tidur. Menatap gadis yang bertnama Aisyah


itru dnegan penuh kekesalan.


“Waalaikum salam …!”


Setelah Aisyah keluar dan meninggalkan rumah Nadin,


Nadin kembali berbalik pada pria yang seenaknya saja mencuri ciumannya itu.


“kenapa menatapku seperti itu?” tanuya Rendi saat Nadin menatapnya dengan sangat tajam.


“Ini sudah keterlaluan Mas, kembalilah ke Jakarta dan hiduplah bahagian dengan kak Davina dan anak kalian, pliss …, jangan ganggu


aku dan baby El karena kami sudah bahagia tanpa mu mas Rend!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘