
Pagi ini seperti biasa Nadin akan
mampir ke rumah Ara dulu untuk mengambil kue, ia mendapat pesanan lebih banyak
hari ini.
“Maaf ya kak, hari ini kakak harus bekerja lebih keras.” Ucap Nadin
sambil menenteng kue-kuenya.
“Seharusnya kakak yang berterimakasih ...., ya sudah sana
berangkat. Hati-hati di jalan ya ...”
“Siap bos ..., assalamualaikum....”
“Waalaikum salam ...”
Nadin pun segera menaruh boks kuenya di belakang duduknya. Ia
mengendarai motornya sampai di kampus.
Tapi sungguh sial hari ini, ban motornya harus bocor sebelum sampai
di kampusnya, tinggal beberapa ratus meter saja, kira-kira lima ratus meter
saja, tapi bannya sudah bocor.
“Aaaahhh ..., sial..., hari ini ada kuliah pagi, tapi kenapa harus
bocor.” Keluh Nadin. Akhirnya mau tak mau Nadin menurunkan boks kuenya dan
membawa motornya ke bengkel terdekat.
“Apa bengkelnya belum buka?” tanya Nadin setelah sampai di depan
bengkel karena pintu bengkel masih sebagian saja yang terbuka.
“Iya mbak, kami baru buka ...”
“kalau begitu, bisakah motor saya, saya tinggal di sini dulu.
Soalnya saya buru-buru, nanti sepulang kuliah akan saya ambil.”
“Ya sudah nggak pa-pa mbak di tinggal saja ...”
“Makasih ya mas ...”
Nadin pun meninggalkan motornya di bengkel. Ia menenteng boks
kuenya sambil berjalan kaki.
“Ahhh ..., beratnya. Aku pasti terlambat lagi ...”
Butuh waktu lia melas menit untuk berjalan kaki, akhirnya Nadin
sampai juga di kampus.Nadin pun segera menitipkan kuenya ke pos satpam dan
langsung berlari ke kelasnya.
Sesampai di kelasnya, benar saja kuliah sudah hampir berakhir. Tapi
dia harus tetap masuk, pak Nathan merupakan dosen yang di takuti, satu kali
tidak ikut perkuliahannya, maka harus mengulang kembali perkuliahannya semester
depan.
Nadin..., semua akan baik-baik saja ...”
Nadin pun segera mengetuk pintu, pak Nathan yang sedang menjelaskan
menghentikan kegiatannya sebentar saat mendengar pintu di ketuk.
“Maaf pak saya terlambat ...” ucap Nadin.
“Anda siapa?”
“Nadin pak ...”
“Nama lengkap?”
“Nadinda Aulya Putri.”
“Nadinda Aulya Putri, anda tahu di mulai jam berapa perkuliahan
saya?”
“Tahu pak ...”
“Jika tahu sekarang anda terlambat berapa jam?”
“Empat puluh lima menit, pak...”
“Ya dan jam saja lima belas menit lagi berakhir, jadi saya harus
memikirkan hukuman yang pantas untuk anda.”
“Saya akan menerimanya pak.”
“Bagus, duduklah, nanti setelah perkuliahan selesai temui saya di
ruangan saya.’
“Baik pak ...”
Akhirnya Nadin bisa duduk, tapi ia harus memikirkan akan dapat
hukuman apa dari dosennya itu. Dan benar saja, lima belas menit kemudian
perkuliahan berakhir.
“lo beneran mau nemuin pak Nathan?” tanya Dini pada nadin.
“Mau gimana lagi, dari pada aku harus ngulang semester depan.”
“Tapi habis ini masih ada kuliah.” Ucap Dini menunjukkan jadwalnya.
“Tapi masih ada waktu tiga puluh menit kan, aku harus menuin pak
Nathan dulu ...”
“Ya ..., hati-hati ya ...”
“oh iya ..., bisa nggak aku minta tolong.” Ucap Nadin sambil
menghentikan langkahnya.
“Apa?”
“Tolong anter kueku yang aku titipin di pos satpam ya.”
“Di anter ke kanten?”
“Iya ..., plissss ...”
“Baiklah ..., jangan sungkan ..., semangat ...”
“Ya ..., semangat ...”
Mereka pun berpisah di persimpangan jalan, Nadin menuju ke ruang
dosen sedangkan Dini menuju ke pos satpam.
Nadin dengan langkah cepat menuju ke ruang dosen. Seperti biasa
nadin harus mengetuknya terlebih dahulu baru ada yang mempersilahkannya masuk.
“Maaf pak, memngganggu waktu bapak ...”
“masuklah ..., Nadinda Aulya Putri.”
“Terimaksih ..”
“Duduklah ...”
“Baik pak ...”
Nadin pun duduk perhadapan dengan Nathan.
“Sekarang beritahu padaku apa keahlianmu?” tanya Nathan.
“Saya hanya mahasiswa biasa pak, saya belum tahu keahlian saya .”
“Lalu hukuman apa yang pantas untuk mahasiswa yang suka datang
terlamat seperti anda?”
“Terserah bapak, saya ikut saja ...”
“Baiklah ..., agar kau bisa lebih tertib, saya akan menjadikanmu
sebagai asistenku, jadi selama masa perkuliahanku kau harus datang lebih awal
“Hahhh ...”
“Anda keberatan?”
“Tidak pak ...”
“Ya sudah anda boleh pergi.”
“Baik pak ...”
Nadin pun beranjak dari duduknya, saat langkah kakinya hendak
mencapai pintu. Langkahnya terhenti saat Nathan memanggilnya kembali.
“saudara Nadin ...”
“Iya ...?’
“Tinggalkan nomor yang bisa saya hubungi!”
“Baik pak.”
Nadin pun kembali dan menuliskan nomornya di atas kerta, barulah ia
bisa benar-benar meninggalkan ruangan.
Nadin mencari keberadaan Dini, sahabatnya. Mereka bertemu di kelas
sambil menunggu jam ke dua.
“Bagaimana? Apa hukuman yang kamu dapat?” tanya Dini tak sabar.
“Aku harus jadi asistenya selama satu semester ini ...”
“Hahhh ...!!!!”
“Aku juga terkejut ..., aku harus bagaimana?”
“Yah ..., kamu jalani aja deh, emangnya kenapa kamu bisa
terlambat?”
“Ban ku bocor ..., aku benar-benar sial hari ini, mudah-mudah ada
yang indah hari ini di balik semua kesusahanku.”
“Amiiin ...”
Dan benar saja setelah perkuliahan jam ke dua selesai, jam sudah
menunjuk ke angka tiga sore. Nadin pun kembali berjalan menyusuri jalan yang
tadi pagi di lewatinya.
Sebenarnya tadi Dini menawarinya tumpangan, tapi Nadin tidak mungkin
menerimanya, karena Dini juga di jemput oleh pacarnya. Akan sangat tidak enak
jika menjadi obat nyamuk diantara dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.
Nadin beberapa kali menghentikan langkahnya. Tapi tiba-tiba sebuah
mobil menghampirinya saat ia terduduk di trotoar. Nadin pun segera berdiri dari
duduknya.
Nadin terus menatap siapa yang keluar dari mobil mewah itu.
“Nak ...”
“Tuan Salman ...”
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Salman.
“Motor saya di bengkel, tadi pagi bannya bocor, jadi aku meninggalkannya
di bengkel.”
“Kamu jalan kaki?” tanya Salman dan Nadin hanya mengangguk.
“Ikutlah denganku!!” ajak Salman.
“Kemana?”
“Aku akan mengantarmu pulang.”
“Tapi motorku?” tanya Nadin sambil menunjuk ke arah bengkel
seakan-akan tangannya mampu menjangkau bengkel itu.
“Biar anak buah paman yang mengantarnya ke rumahmu ...”
“Benarkah ...?” tanya Nadin memastikan, dan Salman hanya mengangguk
sambil tersenyum. Jarang sekali pria paruh baya itu tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam mobil. Salman dan Nadin duduk di kursi
belakang, di depan sudah ada sopir dan seorang pengawal.
“Tuan mau kemana?” tanya Nadin memecah keheningan, sungguh bukan
sikap Nadin bisa diam dalam waktu yang cukup lama.
“Kamu bisa memanggilku paman saja.” Ucap Salman.
“Tapi itu tidak mungkin.”
“Kenapa?” tanya Salman.
“Anda orang penting, dan saya Cuma anak ingusan yang tak tahu tata
krama, tuan...”
“Aku suka dengan sikapmu itu, sikapmu yang terbuka. Kamu dengan
mudah mengungkapkan perasaan, aku suka anak yang jujur dan apa adanya?”
“Maksud tu-?”
“Paman.”
“Maksud paman?”
“Kamu tidak ingin lebih akrab dengan paman?”
“Kenapa paman malah balik bertanya?”
“Ya ..., nanti kamu akan tahu maksud paman apa.”
“Baiklah paman ..., aku suka gaya paman ..., walaupun dingin dan
kaku ..., tapi tak seperti –“
“Seperti siapa?”
“Aaah ..., ti-tidak paman, seperti orang yang bisanya Cuma diam
seperti es, tak pernah tertawa, tersenyum dan bicaranya irit.” Salman hanya
tersenyum mendengarkan ucapan Nadin. Ada hal yang membuatnya tertarik untuk
mengenal gadis itu.
“Itu rumahmu ...” tunjuk Salman saat mobil yang mereka kendara
sampai di depan rumah Nadin.
“Wah ..., cepat sekali ..., terimakasih atas tumpangannya paman.”
“Iya ..., sama-sama. Semoga kita bisa mengobrol seperti ini lagi
lain waktu.” Ucap salman dan Nadin pun hanya tersenyum sambil berusaha keluar
dari mobil. Setelah berhasil keluar ia pun melambaikan tangannya.
“Sampai jumpa paman ...”
Mobil pun melaju meninggalkan Nadin. Nadin terus menatap mobil itu
hingga menghilang di ujung jalan. Dan tak berapa lama seseorang sudah
mengantarkan motornya.
**Maaf karena kesalahan teknis, di bab ini aku mengulang nggak sengaja
,🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
untuk mengganti permintaan maafku jadi aku beri dua bab lagi ya hari ini**