
Setelah dua minggu di rumah sakit
akhirnya Agra dan Ara di perbolehkan pulang, Nadin sudah menunggu kedatangan
mereka di rumah.
Bukan cuma kakaknya yang di nanti saat ini, tapi pria dingin itu.
Pria yang beberapa hari ini sudah membuatnya begitu cemas, pria itu pergi
sendiri menyelamatkan kakaknya.
“kakak ....” teriak Nadin saat Ara sudah menginjakkan kakinya di
rumah besar itu.
“Dek ..., tubuh kakak masih sakit ...” Ara memperingatkan adiknya
supaya tidak memeluknya terlalu keras.
“Iya kak maaf ...” ucap Nadin, tapi pandangan nadin mengarah ke
belakang kakaknya, ia berharap seseorang muncul dari balik pintu itu, tapi
nyatanya tidak. “kak ..., dimana ..?”
Dimana balok es? kok tidak ada, bagaimana keadaannya? Aku sangat merindukannya .....
“Kak Agra ...?” tanya Ara, Nadin pun mengangguk, ia tak mau membuat
kakaknya curiga. “kak Agra mampir ke kantor polisi bersama Rendi, ada yang
harus di urus...” Ara menjelaskan.
“Ohhh ...” Nadin begitu kecewa, yang sedari tadi di tunggunya tak
datang.
Dia tidak datang kesini ....!
***
Setelah kepulangan Rendi dari Bogor. Nadin begitu kesulitan untuk
menemui Rendi. ia ingin sekali melihat keadaan Rendi.
Tiga bulan sudah mereka
tak bertemu. Rendi tak lagi berkunjung ke kafe dan Nadin juga jarang datang ke
rumah besar itu jika tidak kakaknya yang memintanya datang.
Apa lagi kini kakaknya tinggal menunggu hari untuk melahirkan, ia tidak bisa menemui kakaknya dengan mudah, selain datang ke rumah besar.
Kakak ipar dan mertuanya sudah sangat protektif dengan kakaknya itu.
Untuk sekian lama, Nadin menjalani hari-harinya dengan sangat
berat, untuk tiba-tiba datang ke tempat Rendi sangat tidak mungkin. Ia hanya
bisa menghibur dirinya dengan menyelesaikan banyak tugas di kampus dan
berlanjut datang ke kafe.
Bak gayung bersambut, saat Nadin akan pulang dari kuliah, motor
Nadin di hentikan oleh seseorang yang begitu ia kenal.
“Nadin ...” Nadin bisa melihat siapa yang memanggilnya.
“Paman ...” sahut nadin dengan senyum yang lebar. “kenapa paman di
sini?”
“Tadi paman ada urusan sedikit di sini, apa Nadin sudah mau
pulang?” tanya Salman.
“Iya ...” jawab Nadin dengan semangat, tampak jika ia berharap
banyak.
“Mau ikut paman?”
“Ke mana?”
“Ke rumah paman, ada yang ingin paman tunjukkan.”
“Tapi motor Nadin?” tanya Nadin sambil menunjuk motornya.
“Biar anak buah paman yang mengurusnya, sekalian pamit sama ayah
kamu.”
“Baiklah ..., Nadin ikut paman.”
“masuklah ...” perintah Salman sambil membukakan pintu mobil untuk
Nadin. Akhirnya mereka berada dalam satu mobil yang sama.
***
Mereka menuju ke rumah pribadi milik Salman. Nadin di sambut dengan
hormat di sama, para pelayan memberi salam. Nadin di perlakukan seperti tuan
putri di rumah itu.
“Paman ..., Nadin jadi sungkan, ini berlebihan paman.”
“Paman senang kamu mau main ke rumah paman, jadi jangan sungkan.
Anggap saja rumah sendiri.”
“Apa paman tidak ada pekerjaan?” tanya Nadin.
“Hari ini pekerjaan paman selesai lebih cepat.”
Mereka pun bercengkerama hangat, Salman begitu hangat . Nadin
merasa nyaman mengobrol dengannya. Nadin menghabiskan sore ini dengan bermain
catur. Menemani Salman minum kopi sambil menikmati matahari sore di taman
belakang.
“Paman ..., ini sudah sore, aku harus pulang.” Ucap Nadin saat di
rasa sudah sangat lama.
“Paman sudah meminta ijin pada ayahmu, jadi aku akan mengantarmu
setelah makan malam, kita akan makan malam bersama seseorang.”
“Seseorang?”
“ya ..., nanti kamu akan tahu sendiri kalau dia sudah datang.”
Waktu bergulir dengan cepat, waktu makan malam telah tiba. Kini
sudah jam tujuh malam, Nadin dan Salman sudah siap di meja makan.
Tak berapa lama mereka menunggu, suara mobil pun datang.
“Itu yang kita tunggu datang.” Ucap Salman saat mendengar suara
mobil berhenti di halaman rumahnya.
Dan tak butuh waktu lama, seseorang datang menghampiri mereka. Dia
kepala pelayan rumah itu.
“Tuan, tuan muda telah datang ...” ucap pelayan itu memberi tahu
Salman.
“Iya ...”
sedari tadi melihat ke arah pintu masuk, segera terperanjak dari duduknya, ia
berdiri dari duduknya saat tahu siapa yang datang.
Jantungnya berdetak dengan
sangat cepat. Orang yang benar-benar ia harapkan bisa ia temui, kini ia berada
di hadapanya. Ingin rasanya ia meluapkan segalanya, emosinya, rindunya, bahagianya,
tapi tak bisa. Siapa dia? Hingga berani melakukan hal itu. Kekasih bukan, apa
yang salah?
Rendi memperlambat langkahnya saat matanya tampa sengaja menagkap
sesosok orang yang akhir-akhir ini mengganggunya. Orang yang selalu membuatnya
bingung harus bertingkah bagaimana.
“Nadin ...”
“Pak Rendi ...”
Nadin dan Rendi hanya bisa saling pandang. Mereka membeku dalam
pandangannya. Seolah saling bicara dalam diam.
“Duduklah ..., kami sudah menunggumu dari tadi.’ Ucap Salman,
segera menyudahi dan menyadarkan mereka bahwa masih ada orang lain di sana.
“Iya, ayah ...” ucap rendi lalu berjalan kembali menghampiri meja
makan, ia duduk di sebelah kiri ayahnya. Berhadapan dengan Nadin. Nadin berada
di sebelah kanan Salman. Rendi menatap tajam pada Nadin, dan Nadin, entah gadis
itu mempunyai nyali yang seperti apa. Di setiap kesempatan, senyum tak pernah
lepas dari bibirnya, bahkan tatapan Rendi tak mempengaruhinya.
“Kenapa gadis ini ada di sini?’ tanya Rendi saat sudah duduk.
Matanya tak beralih menatap Nadin.
Sebenarnya apa yang gadis ini rencanakan, kenapa dia di sini
bersama ayah?
“Ayah yang mengundangnya.” Ucap Salman. “ayo kita mulai makan.
Makanannya keburu dingin.”
“Baik.” Nadin dan Rendi menyahut bersamaan. Entah kenapa suasana
makan malam itu menjadi dingin. Tak ada suara yang keluar, kecuali suara
dentingan sendok yang saling beradu dengan piring.
Dia pasti sudah menghasut ayah dengan senyum palsunya itu...,Batin Rendi.
Senangnya ..., bisa makan malam dengan pak Rendi, dia menggemaskan
sekali ....! Batin Nadin.
Ini baru awalnya saja ....,Batin Salman dengan senyum
tersungging di bibirnya saat menatap Rendi dan Nadin.
Setelah keheningan yang cukup lama itu, akhirnya Salman angkat
bicara.
“Sebenarnya ayah mengundang Nadin ke sini, ada yang ayah ingin
bicarakan dengan kalian berdua.”
“Apa?” tanya Rendi. Nadin pun hanya menunjukkan wajah bingungnya,
bagaimana ia terlibat dalam pembicaraan keluarga ini? “Kenapa dengan dia juga?”
tanya Rendi sambil menunjuk Nadin.
“Bulan depan ada acara pernikahan putri sepupu ayah, keluarga besar kita akan hadir.”
“lalu apa hubungannya dengan gadis ini, Yah?”
“Ayah bingung setiap kali mereka bertanya tentang menantu, atau
calon menantu, sehingga ayah terpaksa mengatakan pada mereka jika kamu akan
datang dengan calonmu. Jadi ayah punya ide untuk mengajak Nadin di acara itu.”
“Maksud ayah ..., ayah ingin mengenalkan gadis ini sebagai pasangan
Rendi?” tanya Rendi tak percaya.
Nadin yang sedari tadi hanya menjadi pendengar. Sebenarnya dalam
hatinya senang, tapi melihat ekspresi Rendi, ia tidak yakin jika Rendi setuju
dengan rencana ayahnya.
Astaga ..., dia benar-benar sudah meracuni pikiran ayah ....., Batin Rendi.
“Iya ....” ucap Salman singkat, wajah dingin dan kakunya seakan
memberi ketegasan bahwa keputusannya tak boleh di bantah.
“Ayah ..., kita tidak mengenal gadis ini, dia itu masih kecil,
tidak pantas jika di sandingkan dengan ku.” Tolak Rendi.untuk pertama kalinya
Nadin melihat Rendi bicara banya, tapi itu sebuah penolakan.
“Dia anak yang baik, dan kau juga tidak mungkin membawa gadis ke
acara itu, maka ayah merencanakan ini. Bagaimana Nadin? Kau setuju kan?” Salman
meminta persetujuan pada Nadin.
“Na-Nadin akan senang jika bisa membantu paman ...., tapi jika pak
Rendi tidak setuju, saya bisa apa paman.” Ucap Nadin sambil terus menatap
Rendi, ia mendapat tatapan tajam dari Rendi.
Astaga ..., pintar sekali dia bersandiwara ..., sejak kapan dia merencanakan
semua ini? Batin Rendi.
“Aku anggap pembicaraan ini selesai. Dan kau Rendi. kau harus
setuju jika tidak ingin melihat ayah di permalukan.”
Mereka menyelesaikan makan malam itu. Karena hari sudah semakin
larut, Salman pun meminta Rendi untuk mengantar Nadin pulang. Walaupun dengan
berat hati, Rendi pun tak mampu menolak permintaan ayahnya.
**BERSAMBUNG
Jangan lupa kasih dukungan ke Author dengan memberikan LIKE dan KOMENTARnya ya
Kasih Vote juga ya yang banyak
Terimakasih
Happy reading 😘😘😘😘**