
Karena perintah Ajun, Dini pun tidak datang ke apartemen Ajun malam ini, dia menggunakan waktu itu untuk menyiapkan semua keperluannya untuk besok pergi ke puncak.
"Ahhhh akhirnya selesai juga!" ucap Dini sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ada satu koper kecil dan tas besar di sana juga sebuah tas kecil yang bisa ia bawa kemana-mana.
Brrrrtttttt brrrrtttttt brrrrtttttt
Ponselnya bergetar, Dini pun segera menyambarnya ia berharap itu dari Ajun tapi ternyata bukan, itu dari mamanya.
"Hallo ma!"
"Gimana kamu jadi kan ke puncaknya?"
"Jadi dong ma!"
"Hati-hati ya, jangan aneh-aneh di sana dan ingat sepulang dari sana kamu harus sudah mengambil keputusan mau menikah sana si pria bodyguard itu atau Juna!"
Ahhhhh ...., kenapa mama mengingatkanku tentang hal itu, aku kan jadi galau ....
"Gimana, apa kamu sudah punya jawabannya?" tanya Mamanya lagi setelah Dini hanya diam.
"Ah iya ma, itu kita bahas nanti aja ya ma setelah Dini pulang!"
"Iya ..., papa titip salam buat kamu! Selamat malam sayang!"
"Selamat malam ma ...!"
Di ni meletakkan kembali ponselnya, hehhhhh ......, ia kembali menghela nafas. Ia bahkan belum mendapatkan jawabannya. Ia kembali melihat jari manisnya sudah ada cincin.
Lalu gimana dengan mas Juna ...., aku jadi nggak tega .....
sepanjang malam ini hanya terus menatap cincinnya yang diberikan oleh Ajun.
"Dia serius nggak ya, dasar kardus ...., kenapa membuatku galau ....!"
"Kenapa dia tidak romantis sekali andai dia lebih romantis ....!"
" Bagaimana kalau papa sama Mama tahu kira-kira mereka setuju apa enggak ya Ajun?"
"Terus Mas Juna gimana?"
"Kenapa aku malah jadi bingung sih ....!"
"Terserah mereka lah ...., tidur saja!"
Dini segera menyusupkan tubuhnya di bawah selimut tebalnya.
...***...
Pagi ini Dini sudah menyiapkan semuanya termasuk menyewa sebuah bus mini dan datang ke cafe bersama bus mini yang akan ditumpanginya langsung dari rumah.
Dini sengaja menyewa bus mini agar lebih nyaman.
"Busnya datang ...., ayo masuk .., masuk ...!" teriak Dini di ambang pintu persis seperti seorang kernet metromini.
Setelah semua masuk ke dalam bus dan memastikan semua barang-barang sudah masuk juga, bus pun mulai melaju menuju ke puncak.
Dini dan keluarganya memang memiliki sebuah vila di sana jadi mereka tidak perlu repot-repot untuk mencari penginapan, semua karyawan yang terdiri dari sekitar lima belas karyawan itu di ajaknya semua termaksud satpam dan tukang sapu.
Mereka pun langsung menuju ke tempat tujuannya , Dini begitu galau karena terus menunggu Ajun menghubunginya, tapi hingga Dini sampai di vila pun Ajun juga tidak menghubunginya.
Mungkin memang karena dia sibuk ..., Dini berusaha menghibur dirinya sendiri.
Kedatangan Dini dan teman-temannya langsung disambut oleh mang penjaga vila, mereka disambut begitu hangat, tapi saat ini ada yang berbeda penjaga villa yang menjaga yang menyambutnya berbeda dengan penjaga villa yang biasanya.
"Mang nya baru ya di sini?" tanya Dini.
"Iya neng, saya masih dua bulan di sini!" ucap mang itu.
"Ohhhh ....!"
Tapi mama kok nggak pernah cerita ya ...., tapi ya sudah lah nggak penting juga .....
Hal itu tidak membuat Dini curiga.
"Silakan kalian memilih kamarnya masing-masing satu kamar untuk dua orang karena disini ada sepuluh kamar jadi yang lima kamar untuk cewek dan lima kamar lagi untuk cowok!"
"Siap mbak ....!"
Mereka pun segera memilih kamarnya masing-masing berdasarkan petunjuk mang penjaga villa.
Dini pun juga memilih satu kamar utama untuk dirinya sendiri.
"Hahhhhh.......!"
Dini segera merebahkan tubuhnya yang terasa lelah.
Sebenarnya masih belum terlalu siang, ia ingin segera jalan-jalan tapi ada yang harus ia kerjakan dulu sebelum itu, ia harus memasukkan beberapa barangnya ke dalam lemari.
Tapi saat ia hendak membongkar barang bawaannya tiba-tiba ponselnya berdering.
ia mencari ponsel yang ada di dalam tasnya cukup sulit karena barang bawaannya cukup banyak.
"ah ....! Akhirnya ketemu juga!" ucap Dini sambil membaca siapa yang melakukan panggilan.
"Kardus!" dalam hitungan detik saja telpon itu sudah tersambung.
"Hallo Kardus, apa kau merindukanku?" tanyanya segera.
"Hehhhh!" terdengar Ajun menghela nafas.
"Ayolah kardus, katakan kalau kau sangat merindukanku!"
" Apa sudah sampai?"
"Sudah ...., baru saja! Apa kau merindukanmu?" tanya Dini lagi.
"Jangan pergi sendiri jika tidak ada yang menemani!" ucap Ajun.
"Aku serius Kuda!"
"Aku juga serius, jelas kalau yang namanya pergi sendiri itu tidak ada yang menemani!"
"Aku serius!"
" Aku juga dua rius malah, kalau kau mengkhawatirkan aku seharusnya kau menyusulku!"
"Terserah ....! Ingat jangan pergi kemanapun tanpa ada temannya!"
"Siap komandan!"
"Hubungi aku jiga terjadi sesuatu!"
"Iya ....!"
Ceklik
"Ah ..., kebiasaan, selalu mematikan telpon tanpa aba-aba!" ucap Dini kesal saat tiba-tiba Ajun mematikan sambungan telponnya.
Dini pun segera melanjutkan beres-beres nya dan bergabung bersama teman-temannya untuk makan siang.
...***...
Sore ini setelah piket jaga Juna kembali menghampiri Pak pemilik kedai kopi yang biasa Ajun datangi.
Ada banyak pertanyaan yang masih ingin dia tanyakan, Juna melihat pria pemilik kedai kopi itu sedang sibuk mengelap mejanya yang baru ditinggalkan oleh pelanggan.
Juna segera masuk dan menghampirinya.
"Selamat sore Pak!" sapa Juna.
" kamu ?" tanya Pria pemilik kedai kopi dengan wajah terkejutnya.
"Kenapa kamu datang lagi?" tanyanya lagi.
"karena saya masih ada banyak pertanyaan yang harus saya tanyakan kepada bapak!" ucap Juna.
"Duduklah!" perintah Pria pemilik kedai kopi itu.
Juna pun segera duduk di depan meja yang biasa digunakan oleh pria pemilik kedai kopi itu meracik kopinya.
"Buatkan satu gelas kopi juga untukku!" ucap Juna.
Akhirnya pemilik kedai kopi itu pun segera meracik kopi yang dipesan oleh Juna.
"Silakan!" ucap pria pemilik kedai kopi setelah menyelesaikan meracik kopinya.
Juna segera menyeruput kopinya, kopi di tempat itu menurutnya kopi terenak.
"Katakan apa yang ingin kamu tanyakan!" ucap pria itu.
Juna pun meletakkan kembali gelasnya.
" Siapa nama orang tua Ajun?" tanya Juna kemudian.
"Saya akan menjawabnya tapi beri saya satu saja informasi tentang anda!"
"informasi yang seperti apa yang bapak inginkan?"
"Misalnya nya dari mana anda berasal, kenapa begitu penasaran dengan Ajun?"
"Maksud pertanyaan anda lebih mirip seperti saling bertanya dalam keadaan yang sama saya juga menanyakan asal dari Ajun dan anda juga menanyakan hal yang sama kepada saya!" ucap Juna dan kembali menyeruput kopinya.
"Saya hanya butuh satu alasan saja!" ucap pemilik kedai kopi itu.
"Mungkin jawaban saya akan sama dengan jawaban bapak!"
"Maksudnya?"
"Jika saya mengatakan tentang Letnan jenderal Wira Dirgantara apakah bapak akan mengatakan hal yang sama?" tanya Juna hal itu berhasil membuat pria pemilik kedai kopi itu terkejut.
"Dari mana kamu mengenal nama beliau?" pria itu balik bertanya.
"Kenapa anda menanyakan dua hal dalam satu waktu? Bukankah itu namanya menang di anda!"
"karena itu cukup penting bagi saya!"
"Saya adalah putra beliau!" ucap Juna.
"Putra?"
" Saya adalah putra pertama Letnan jenderal Wira Dirgantara!"
Pria pemilik kedai itu masih terdiam, ia seperti sedang mengingat sesuatu.
"Saya sudah mengatakan banyak hal tentang kehidupan saya jadi sekarang ceritakan tentang Ajun, Apa benar Ajun adalah adik saya?"
"Saya belum percaya, tunjukkan buktinya!"
Juna pun mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah kusut, Ia menyerahkan foto pada pria itu.
Pria pemilik kedai kopi itu segera melihat foto itu, di sana ada ada foto Letnan Jenderal Wira Dirgantara bersama keluarganya seorang anak laki-laki berusia lima tahun dan anak laki-laki anak laki-laki yang berusia dua tahun yang masih digendong oleh ibunya.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentar nya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰🥰🥰