MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Penculikan Nadin



Rendi memasuki sebuah gedung kosong yang sudah tidak


terawatt, sepertinya gedung itu hanya di fungsikan sebagai gudang. Sesampai di


depan gedung iasudah di sambut oleh dua pria berotot besar dengan badan


kekarnya.


Mereka langsung membukakan pintu untuk Rendi, tanpa tegur


sapa Rendi segera masuk ke dalam gedung itu. Ia melewati lorong yang bagian


kiri dan kanannya di kelilingi oleh tumpukan kardus-kardus bekas dan beberapa


tangki kosong.


Akhirnya langkah Rendi terhenti pada ujung lorong dengan


ruangan yang luas. Di sana ia bias melihat seseorang yang sedang duduk


membelakanginya dengan di kelilingi pria-pria kekar yang siap mengamankanya.


“kau sudah datang!” ucap pria itu tampa membalik kursinya.


Rendi masih tetap terdiam menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.


“Aku sudah menunggu sangat lama sampai hari ini tiba,


bagaimana kabarmu?” pria di balik kursi itu, memutar kusinya hingga kini Rendi


dengan leluasa bias menatap pria itu.


Rendi di buat terkejut, tapi ia segera mengubah alur


wajahnya hingga terlihat kembali tenang, ia seharusnya sudah menduga hal itu


sebelumnya. Pria di depannya itu adalah salah satu saingan bjsnis di Indonesia


yang sudah mengincar finityGroup sejak lama.


“Seharusnya aku sudah menduganya sejak awal.” Ucap Rendi


dingin.


“Dan kau dan temanmu itu tidak menyadarinya, akulah yang


memancing kalian untuk datang ke sini!” ucap pria itu dengan arogannya.


“Kami tidak sebodoh itu!” rendi mengepalkan tangannya di


balik saku celananya.


“O iya …., tapi kalian dating ke sini!”


Ucapan orang itu benar, rendi sama sekali tidak memikirkan


hal itu sebelumnya. Ia terlalu lengah untuk hal ini. Harapannya saat ini adalah


ayahnya. Ia harus bias memberitahu ayahnya agar mematlkan kontrak kerja dengan


perusahaan yang boneka yang di rancang saingan bisnisnya di Indonesia hingga ia


menyelesaikan urusannya dengan pengembang di korea.


“Tapi aku punya solusi untukmu, sebenarnya ini bukan sebuah


pilihan tapi ini adalah perintah!” pria itu berdiri dan mendekati Rendi.


“Tak semudah itu bermain-main dengan saya!” Rendi dengan


masih gaya tenangnya.


“Ternyata saya tak salah ya berususan dengan anda, Narendra


Rendiansyah. Menantang ….! Sebenarnya saya ada tawaran menarik untuk anda pak


Rendi. Kita bias bekerja sama, aku akan menjafdikan anda CEO di perusahaan saya


dan tinggalkan finityGroup! Bagaimana, apa kau setuju?”


“Anda salah berbicara seperti itu pada saya!” ucap Rendi


dengan tenangnya.


“Sombong sekali anda pak Rendi, anda sekarang sendiri, nyawa


anda berada di tangan saya.” Ucap pria itu sambil mendekat pada Rendi, ia berusaha


memegang pundak Rendi tapi langsung di tepis olehnya, Rendi dengan sigapnya


memutar lengan pria itu hingga Rendi bias mengunci tubuh pria itu membuat anak


buahnya segera mendekat pada mereka hendak menyerang Rendi, tapi segera di stop


oleh pria itu.


“Aku suka yang seperti ini!” ucap pria itu sambil merapikan


jasnya yang berantakan saat Rendi sudah melepaskan kunciannya.


“Aku tidak suka bermain-main seperti ini!” ucap rendi dengan


tegas, mungkin jika hanya berdua sudah berhasil membuat pria itu lari terbiri-birit,


tapi karena sekarang sedang di kelilingi oleh anak buahnya yang memiliki tubuh


kekar-kekas seperti pegulat membuat nyalinya besar,


“Ayolah …, jangan menyusahkan diri sendiri, apa kau tahu


jika sekarang istrimu itu juga ada di sini!”


“Istri?” Tanya Rendi terkejut.


“Iya …, istri cantikmu itu!”


Prok prok prok


Pria itu menepuk tangannya, dan benar saja dari balik pintu


yang berbeda dari pintu masuk Rendi seseorang telah membawa Nadin dengan tangan


di ikta di belakang dan mulut di bungkam oleh kain.


“Ehmmm …, ehmmm …, ehmmm …!” Nadin berusaha untuk melepaskan


Ternyata setelah Rendi meninggalkan Nadin, seseorang


menghampiri Nadin dan membekapnya dengan obat bius membuat Nadin tak sadarkan


diri, mereka memang sengaja memancing Rendi untuk menjauh dari Nadin. Hingga


mereka berhasil membawa Nadi8n, Nadin tersadar sudah berada di tempat itu


dengan tangan terikat dan mulut di bekap.


“Nadin!” Rendi segera mendekati Nadin tapi langkahnya


terhenti oleh orang-orang kekar itu.


“Lepaskan istri saya!”


“Tentu …, aku pasti akan melepaskannya, tapi terima tawaran


saya …, jangan khawatir aku akan tetap memperlalukan istrimu ini dengan baik!”


ucap pria itu sambil memegang dagu Nadin. Nadin dengan cepat mengalihkan


wajahnya, hal itu membuat Rendi semakin geram.


“Apa maumu?” teriak Rendi dengan penuh amarah.


“Seperti yang saya katakana tadi, pulanglah lebih dulu


kalian ke Indonesia, buat alas an apapun kepada sahabatmu itu, dan setelah itu


saya akan memberi intruksi untuk langkah selanjutnya, untuk sementara istri


cantikmu ini akan aku jadikan tawananku yang terhormat.”


“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya Rendi, mungkin


jika ini hanya urusannya dengan dirinya, ia akan memi8lih untuk menyerang, tapi


sekarang menyangkut nyawa Nadin, ia tidak boleh gegabah, ia harus memikirkan


rencana selanjutnya untuk melepaskan Nadin.


“Ha ha ha ….., seorang Rendi ternyata memiliki kelemahan


juga, gadis kecil ini benar-benar hebat ya!” ucap pria itu dengan mengusap pipi


Nadin.


“Aku tidak suka basa-basi, cepat katakana apa maumu!”


perintah Rendi, ia ingin sekali mematahkaqn tangan pria itu karena telah berani


memegang wanitanya, tapi ada pisau yang siap menusuk tubuh Nadin, dan dua pria


kekar sudah memegangi tangannya, membuatnya sulit bergerak.


“Lepaskan dia!” perintah pria itu pada dua pria kekar itu.


Rendi pun di lepaskan.


“Sekarang hubungi Agra, dan katakana padanya jika kalian


pulang duluan karena ada urusan yang harus di kerjakan di Indonesia!”


Rendi pun melakukan seperti apa yang di minta pria itu,


Rendi mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada Agra,


“Hallo …” ucap Rendi setelah tersembung.


“Iya Rend, ada apa?”


“Maaf pak, hari ini saya pulang duluan.”


“Pulang? Maksudnya?”


“Saya dan Nadin kembali ke Indonesia karena ada urusan


penting.”


“Penting apa, hingga kau berani meninggalkanku!”


“Maaf aku nggak bisa mengatakannya!”


Rendi pun memutuskan sambungan telponnya secara sepihak, ia


tidak mau Agra semakin curiga.


“Bagus! Bawa kembali gadis itu!” perintah pria itu pada anak


buahnya, nadin pun kembali di bawa masuk entah kemana di pisahkan kembali


dengan Rendi. Walaupun berusaha melepaskan diri, tapi Nadin tetap tidak bisa,


entah kapan lagi ia bias melihat suaminya.


“Sekarang kembalilah ke Indonesia, kita akan bertemu Lagi di


sana!” ucap pria itu lalu pergi menyusul ke tempat dimana Nadin di bawa, kini


hanya tinggal Rendi saja.


Seperti yang di minta orang itu, rendi pun meninggalkan


tempat itu, ia segera mengurus kepulangannya ke Indonesia, walaupun begitu


gerak geriknya teus di awasi oleh orang-orang suruhan pria itu. Itu sangat


menyulitkannya untuk menghubungi ulang Agra, ia hanya bias memberi kode


sekenanya pada Agra, ia juga tidak mau sampai Agra bertindak gegabah. Agra


memiliki banyak ide, tapi Agra bukan tipe orang yang bias tenang.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


Tri.ani5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘