
Rendi memasuki sebuah gedung kosong yang sudah tidak
terawatt, sepertinya gedung itu hanya di fungsikan sebagai gudang. Sesampai di
depan gedung iasudah di sambut oleh dua pria berotot besar dengan badan
kekarnya.
Mereka langsung membukakan pintu untuk Rendi, tanpa tegur
sapa Rendi segera masuk ke dalam gedung itu. Ia melewati lorong yang bagian
kiri dan kanannya di kelilingi oleh tumpukan kardus-kardus bekas dan beberapa
tangki kosong.
Akhirnya langkah Rendi terhenti pada ujung lorong dengan
ruangan yang luas. Di sana ia bias melihat seseorang yang sedang duduk
membelakanginya dengan di kelilingi pria-pria kekar yang siap mengamankanya.
“kau sudah datang!” ucap pria itu tampa membalik kursinya.
Rendi masih tetap terdiam menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.
“Aku sudah menunggu sangat lama sampai hari ini tiba,
bagaimana kabarmu?” pria di balik kursi itu, memutar kusinya hingga kini Rendi
dengan leluasa bias menatap pria itu.
Rendi di buat terkejut, tapi ia segera mengubah alur
wajahnya hingga terlihat kembali tenang, ia seharusnya sudah menduga hal itu
sebelumnya. Pria di depannya itu adalah salah satu saingan bjsnis di Indonesia
yang sudah mengincar finityGroup sejak lama.
“Seharusnya aku sudah menduganya sejak awal.” Ucap Rendi
dingin.
“Dan kau dan temanmu itu tidak menyadarinya, akulah yang
memancing kalian untuk datang ke sini!” ucap pria itu dengan arogannya.
“Kami tidak sebodoh itu!” rendi mengepalkan tangannya di
balik saku celananya.
“O iya …., tapi kalian dating ke sini!”
Ucapan orang itu benar, rendi sama sekali tidak memikirkan
hal itu sebelumnya. Ia terlalu lengah untuk hal ini. Harapannya saat ini adalah
ayahnya. Ia harus bias memberitahu ayahnya agar mematlkan kontrak kerja dengan
perusahaan yang boneka yang di rancang saingan bisnisnya di Indonesia hingga ia
menyelesaikan urusannya dengan pengembang di korea.
“Tapi aku punya solusi untukmu, sebenarnya ini bukan sebuah
pilihan tapi ini adalah perintah!” pria itu berdiri dan mendekati Rendi.
“Tak semudah itu bermain-main dengan saya!” Rendi dengan
masih gaya tenangnya.
“Ternyata saya tak salah ya berususan dengan anda, Narendra
Rendiansyah. Menantang ….! Sebenarnya saya ada tawaran menarik untuk anda pak
Rendi. Kita bias bekerja sama, aku akan menjafdikan anda CEO di perusahaan saya
dan tinggalkan finityGroup! Bagaimana, apa kau setuju?”
“Anda salah berbicara seperti itu pada saya!” ucap Rendi
dengan tenangnya.
“Sombong sekali anda pak Rendi, anda sekarang sendiri, nyawa
anda berada di tangan saya.” Ucap pria itu sambil mendekat pada Rendi, ia berusaha
memegang pundak Rendi tapi langsung di tepis olehnya, Rendi dengan sigapnya
memutar lengan pria itu hingga Rendi bias mengunci tubuh pria itu membuat anak
buahnya segera mendekat pada mereka hendak menyerang Rendi, tapi segera di stop
oleh pria itu.
“Aku suka yang seperti ini!” ucap pria itu sambil merapikan
jasnya yang berantakan saat Rendi sudah melepaskan kunciannya.
“Aku tidak suka bermain-main seperti ini!” ucap rendi dengan
tegas, mungkin jika hanya berdua sudah berhasil membuat pria itu lari terbiri-birit,
tapi karena sekarang sedang di kelilingi oleh anak buahnya yang memiliki tubuh
kekar-kekas seperti pegulat membuat nyalinya besar,
“Ayolah …, jangan menyusahkan diri sendiri, apa kau tahu
jika sekarang istrimu itu juga ada di sini!”
“Istri?” Tanya Rendi terkejut.
“Iya …, istri cantikmu itu!”
Prok prok prok
Pria itu menepuk tangannya, dan benar saja dari balik pintu
yang berbeda dari pintu masuk Rendi seseorang telah membawa Nadin dengan tangan
di ikta di belakang dan mulut di bungkam oleh kain.
“Ehmmm …, ehmmm …, ehmmm …!” Nadin berusaha untuk melepaskan
Ternyata setelah Rendi meninggalkan Nadin, seseorang
menghampiri Nadin dan membekapnya dengan obat bius membuat Nadin tak sadarkan
diri, mereka memang sengaja memancing Rendi untuk menjauh dari Nadin. Hingga
mereka berhasil membawa Nadi8n, Nadin tersadar sudah berada di tempat itu
dengan tangan terikat dan mulut di bekap.
“Nadin!” Rendi segera mendekati Nadin tapi langkahnya
terhenti oleh orang-orang kekar itu.
“Lepaskan istri saya!”
“Tentu …, aku pasti akan melepaskannya, tapi terima tawaran
saya …, jangan khawatir aku akan tetap memperlalukan istrimu ini dengan baik!”
ucap pria itu sambil memegang dagu Nadin. Nadin dengan cepat mengalihkan
wajahnya, hal itu membuat Rendi semakin geram.
“Apa maumu?” teriak Rendi dengan penuh amarah.
“Seperti yang saya katakana tadi, pulanglah lebih dulu
kalian ke Indonesia, buat alas an apapun kepada sahabatmu itu, dan setelah itu
saya akan memberi intruksi untuk langkah selanjutnya, untuk sementara istri
cantikmu ini akan aku jadikan tawananku yang terhormat.”
“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Tanya Rendi, mungkin
jika ini hanya urusannya dengan dirinya, ia akan memi8lih untuk menyerang, tapi
sekarang menyangkut nyawa Nadin, ia tidak boleh gegabah, ia harus memikirkan
rencana selanjutnya untuk melepaskan Nadin.
“Ha ha ha ….., seorang Rendi ternyata memiliki kelemahan
juga, gadis kecil ini benar-benar hebat ya!” ucap pria itu dengan mengusap pipi
Nadin.
“Aku tidak suka basa-basi, cepat katakana apa maumu!”
perintah Rendi, ia ingin sekali mematahkaqn tangan pria itu karena telah berani
memegang wanitanya, tapi ada pisau yang siap menusuk tubuh Nadin, dan dua pria
kekar sudah memegangi tangannya, membuatnya sulit bergerak.
“Lepaskan dia!” perintah pria itu pada dua pria kekar itu.
Rendi pun di lepaskan.
“Sekarang hubungi Agra, dan katakana padanya jika kalian
pulang duluan karena ada urusan yang harus di kerjakan di Indonesia!”
Rendi pun melakukan seperti apa yang di minta pria itu,
Rendi mengambil ponselnya dan melakukan panggilan pada Agra,
“Hallo …” ucap Rendi setelah tersembung.
“Iya Rend, ada apa?”
“Maaf pak, hari ini saya pulang duluan.”
“Pulang? Maksudnya?”
“Saya dan Nadin kembali ke Indonesia karena ada urusan
penting.”
“Penting apa, hingga kau berani meninggalkanku!”
“Maaf aku nggak bisa mengatakannya!”
Rendi pun memutuskan sambungan telponnya secara sepihak, ia
tidak mau Agra semakin curiga.
“Bagus! Bawa kembali gadis itu!” perintah pria itu pada anak
buahnya, nadin pun kembali di bawa masuk entah kemana di pisahkan kembali
dengan Rendi. Walaupun berusaha melepaskan diri, tapi Nadin tetap tidak bisa,
entah kapan lagi ia bias melihat suaminya.
“Sekarang kembalilah ke Indonesia, kita akan bertemu Lagi di
sana!” ucap pria itu lalu pergi menyusul ke tempat dimana Nadin di bawa, kini
hanya tinggal Rendi saja.
Seperti yang di minta orang itu, rendi pun meninggalkan
tempat itu, ia segera mengurus kepulangannya ke Indonesia, walaupun begitu
gerak geriknya teus di awasi oleh orang-orang suruhan pria itu. Itu sangat
menyulitkannya untuk menghubungi ulang Agra, ia hanya bias memberi kode
sekenanya pada Agra, ia juga tidak mau sampai Agra bertindak gegabah. Agra
memiliki banyak ide, tapi Agra bukan tipe orang yang bias tenang.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
Tri.ani5249
Happy Reading 😘😘😘😘😘