MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Terciduk



Pagi sekali ayah Salman yang mendengar berita jika Nadin masuk ke rumah sakit, sebelum menemui nyonya Ratih di rumah besar.


Ia menyempatkan diri ke rumah sakit untuk menjenguk Nadin.


"Kita ke rumah sakit dulu!" perintah Salman pada sopirnya setelah masuk ke dalam mobil.


"Baik tuan!"


Salman segera mencari kontak seseorang , ia menempelkan aerophone di telinganya.


"Selamat pagi nyonya!"


"Selamat pagi!"


"Maaf nyonya harus mengganggu anda, saya mungkin akan datang terlambat hari ini!" ucap Salman memberitahu.


"Ada apa? Apa ada masalah?"


"Hanya masalah kecil nyonya, jika sudah selesai dengan urusannya, saya janji akan menemui nyonya!"


"Baiklah!"


Sambungan telpon terputus, tapi Salman kemudian menghubungi orang lain lagi.


"Hallo ...!"


"Iya tuan!"


"Apa keadaannya masih terkendali?" tanya Salman.


"Masih tuan!"


"Tetap berjaga di situ sampai saya datang!"


"Baik tuan!"


Sambungan telpon pun terputus. Salman meletakkan kembali aerophone nya di tempatnya.


"Sedikit lebih cepat, ada yang harus saya lakukan!" perintah pria paruh baya itu, walaupun sedikit kerutan di wajahnya menandakan sudah berapa banyak umurnya tapi tetap tidak bisa menghilangkan wibawanya.


"Baik tuan!"


Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mobil Salman sampai juga di depan gedung rumah sakit.


Dengan langkah lebarnya ia berjalan hendak memasuki gedung, tapi lagi-lagi langkahnya terhenti saat melihat orang yang sangat ia kenal sedang berjalan di depannya.


"Pak Roy!" Sapa pak Salman saat lebih dulu melihat ayah Roy. Kebetulan ayah Roy yang juga hendak menjenguk Nadin sambil membawakan sarapan untuk putrinya, mereka tidak sengaja bertemu di depan gedung rumah sakit.


"Pak Salman, lama kita tidak bertemu ya!" Ucap ayah Roy sambil memutar balik menghampiri paman Salman. Mereka pun saling bersalaman.


"Senang bisa bertemu dengan pak Roy di sini, maaf akhir-akhir ini saya sedikit sibuk, banyak pekerjaan di luar kota, bagaimana kabar ibu Nani dan Bu Dewi?"


"Mereka baik pak ...., Apa yang pak Salman lakukan disini? Siapa yang sakit?" Tanya ayah Roy.


"Saya sebenarnya kemarin mendengar jika putri pak Roy masuk rumah sakit, makanya saya kesini ingin menjenguk putri pak Roy!"


"Maksudnya Nadin?" Tanya ayah Roy tak percaya. Ia bingung kenapa pak Salman begitu perhatian pada putrinya. Pak Salman pun mengangguk.


"Terimakasih loh atas perhatian pak Salman dengan keluarga saya, saya benar-benar terkesan!"


"Jangan sungkan ....., Mari masuk!" Ucap pak Salman sambil menepuk pelan bahu ayah Roy.


Mereka pun menyusuri lorong rumah sakit sambil berbincang-bincang, membicarakan banyak hal. Bagai kawan lama yang sudah lama tak bertemu, banyak sekali yang di ceritakan satu sama lain, hingga mereka sampai di ruang perawatan VVIP tempat Nadin di rawat.


"Mari masuk pak Salman. Anak itu pasti masih tidur!" Ucap ayah Roy sambil membukakan pintu.


Mereka pun masuk bersama-sama, mereka begitu terkejut saat melihat sesuatu yang berbeda. Mereka hanya saling berpandang. Ayah Roy yang masih tak percaya dengan ini segera mendekati putrinya. Ia membangunkan putrinya perlahan.


"Nadin .....!" Ucap ayah Roy sambil menepuk-nepuk bahu Nadin, membuat orang yang tertidur di samping Nadin terbangun, begitupun dengan Nadin. Mereka tidur sambil berpelukan.


Rendi yang mendengarkan keributan segera membuka matanya, ia menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya, ia mengerutkan matanya, saat kesadarannya sudah benar-benar kembali.


Ia begitu terkejut saat mendapati ayah Roy berada di sisi lain tempat tidur Nadin, tepat di hadapannya.


Rendi semakin terkejut saat menyadari jika kini posisinya sedang memeluk Nadin, dan tangannya masih tertaut dengan tangan Nadine segera melepasnya dengan cepat dan menjauhkan tubuhnya dari Nadin begitupun dengan Nadin.


Rendi pun segera turun dari tempat tidur. Ia semakin terkejut saat mendapati ayahnya juga ada di sana.


"Pak Roy!"


"Ayah ...!"


Ucap Nadin dan Rendi terkejut.


"Apa yang nak Rendi lakukan di sini? Dan itu tadi apa?" Tanya ayah Roy. Nadin yang melihat wajah marah ayahnya segera memegang tangan ayahnya supaya kemarahannya mereda.


"Ayah ....., Ayah jangan marah, Nadin yang sudah menahan pak Rendi di sini!" Ucap Nadin sambil memegangi tangan ayahnya.


"Diam ...., Ayah bukan bertanya padamu tapi pada Rendi! Apa yang nak Rendi lakukan?" Tanya ayah Roy.


"Maafkan saya paman, ini salah saya!" Ucap Rendi sambil menunduk, ia baru dua kali melihat ayah Roy semarah ini sebelumnya, dulu saat Ara dinyatakan hamil sebelum menikah dengan Agra dan sekarang.


Pria paruh baya itu biasanya berperawakan kalem dan santai kini terlihat murka.


Bagaimana tidak, ia melihat putrinya tidur satu ranjang dengan seorang pria yang tidak memiliki hubungan apapun dengan putrinya.


"Saya benar-benar kecewa dengan kalian, maafkan saya pak Salman saya terpaksa harus mengatakan ini!" Ucap ayah Roy.


Ia masih memandang pak Salman, jika bukan putra dari pak Salman ia sudah menghadiahinya beberapa pukulan karena sudah berani tidur satu ranjang dengan putrinya.


Siapa yang bisa menjamin mereka tidak melakukan apa-apa semalam. Pemikiran itu benar-benar membuat hati ayah Roy mendidih.


"Saya benar-benar minta maaf, paman!" Ucap Rendi lagi tampak menyesal. Walaupun tampak menyesal tapi wajah dingin dan tegasnya tak pernah hilang.


"Permintaan maaf tidak akan bisa mengembalikan kesucian seorang gadis!" teriak Ayah Roy yang sedikit tertahan, ia masih memperhatikan tempat. Bukan hal yang tepat membuat keributan di rumah sakit.


Mendengar ada keributan, Dr. Frans yang kebetulan dapat jatah jaga pagi segera menghampiri kamar Nadin.


"Selamat pagi, ada apa ini?" tanya dr. Frans yang baru saja masuk. Semua menoleh padanya.


"Frans!" Rendi menatap sahabatnya itu dengan penuh harap.


"Lo di sini Rend?" tanya dr. Frans. Dan Rendi hanya bisa mengangguk.


"Sebenarnya ada apa paman?" tanya dr. Frans yang juga melihat ada ayah Roy dan paman Salman.


"Biarkan Rendi menyelesaikan masalahnya dengan pak Roy!" ucap paman Salman tegas, berhasil membuat dr. Frans diam. ia hanya bisa bertanya-tanya dalam hati sampai ia benar-benar menemukan jawabannya.


"Tapi kami tidak melakukan apa-apa, paman. Kami bersumpah!" ucap Rendi memulai bicara kembali setelah Dr. Frans diam.


Apa aku sudah melewatkan sesuatu yang sangat besar ....


Dr. Frans merasa terpancing untuk tahu lebih banyak lagi. Ia benar-benar memasang telinganya.


"Siapa yang bisa menjamin ....!" Ucap ayah Roy merasa geram, sedangkan Salman hanya bisa melihat bagaimana putranya akan menyelesaikan madalahnya sendiri. Jika sudah benar-benar tidak terkendali, maka ia akan turun tangan.


Rendi mengusap kasar rambutnya, ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini, ia bingung harus melakukan apa.


Seandainya ia bisa meminta pendapat dari dr. Frans dulu, mungkin pria itu akan sangat membantunya di saat seperti ini, dia punya otak cemerlang.


Rendi memang jenius, tapi bukan dalam hal seperti ini. Kali ini dia benar-benar terlihat bodoh, ia menatap Nadin. Dan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya tanda tak punya solusi.


Aku saja bingung, bagaimana pak Rendi meminta pendapatku, apa kau tak melihat kemarahan ayahku ...., Dia sangat marah ...


Rendi pun hanya mendengus, wajah tenang dan dinginya menghilang bergati dengan wajah bingung. Wajah ini akhir-akhir ini begitu sering muncul.


Apa yang harus aku lakukan, ahhhhh ...., Kenapa juga aku bangun kesiangan, dan tadi aku memeluknya ....., Masalah besar ....


Apa aku harus melakukan apa yang di lakukan Agra dulu, walaupun aku tidak melakukan apa-apa, setidaknya aku harus gentle sebagai seorang laki-laki ....


Dulu Agra juga tidak cinta dengan Ara, tapi sekarang mereka bahagia....


Mereka pun sudah duduk di sofa yang berada di ruangan itu, terkecuali Nadin. Nadin masih berada di tempat tidurnya. Wajah cemasnya menghinggapi, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Mungkin ayahnya akan menjauhkan mereka, atau memintaku untuk pergi dari rumah. Beberapa opsi ia pikirkan.


**BERSAMBUNG


Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Happy Reading 😘😘😘😘😘**