MY BLOCK OF ICE

MY BLOCK OF ICE
Siapa wanita itu?



Pagi ini Nadin sedang di sibukkan dengan kegiatan membereskan rumah setelah suaminya berangkat.


Ia sudah banyak belajar mulai dari menyapu, mengepel, mencuci baju, walaupun Rendi sudah mengirimkan orang untuk melakukannya tapi Nadin pikir itu


tidak perlu karena ia kan bosan jika tidak melakukan apapun di rumah.


Saat sedang menjemur pakaiannya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, ia meninggalkan


pakaiannya di atas balkon dan berlari masuk mencari-cari ponselnya, akhirnya ia


menemukan benda pipih itu di bawah bantal.


“Dini!” Nadin segera mengangkat telponnya.


“Hallo Nad!”


“Hallo Din, ada apa?”


“Pertanyaan macam apa itu,memang setiap kali aku telpon harus mengatakan penyebabnya, kau menyebalkan sekali!”


“Bukannya begitu, akhir-akhir ini kau kan sibuk, jarang menghubungiku, jadi kenapa tiba-tiba sekarang menghubungiku?”


“Aku sudah berada dekat apartemenmu, kita jalan-jalan!”


“Sekarang?”


“Nggak, tahun depan. Ya sekarang lah sayang …, dandan yang cantik aku akan menjemputmu!”


Dini mematikan telponnya secara sepihak, Nadin pun dengan cepat menyelesaikan


pekerjaannya. Ia segera mandi dan mengganti bajunya. Tepat saat yang sama Nadin selesai berdandan, bel pintu berbunyi.


Ting tong ting tong


“Iya sebentar!” teriak Nadin sambil berlari menuju ke arah pintu. Saat pintu terbuka


tepat di depan pintu sudah berdiri Dini dengan senyum merekahnya.


“Trarrrrararar …..!”


“Dini!”


Mereka pun berpelukan sangat lama.


“Masuklah …! Aku benar-benar merindukanmu!”


“Wah …, apartemenmu ini sangat bagus, luas banget. Lebih luas dari rumahku tahu …!”


“Mau minum apa?”


“Apa aja!”


Nadin pun meninggalkan sahabatnya itu untuk membuatkan minuman dingin, di luar sangat panas.


Ada sedikit mendung tapi belum juga turun hujan. Dini memperhatikan


apartemen Nadin dan Rendi, ia begitu mengaguminya, Nadin kembali lagi


menghampiri sahabatnya dengan membawa dua gelas minuman dingin.


“Kalian di sini hanya tinggal berdua?” Tanya Dini.


“ya kalau malam hari, kalau siang biasanya akan ada pekerja yang ke sini, untuk


bersih-bersih!”


“Wah suamimu sungguh luar biasa ya …, aku jadi ingin cepat-cepat menikah sepertimu!”


“Jangan memuji suamiku terus., cepat minum minumannya!”


“Baiklah …!” dini pun meminum minumannya.


“Sekarang ayo kita berangkat, kita jalan-jalan!”


“Tapi aku belum meminta ijin pada suamiku!”


“Astaga mintalah ijin sekarang!”


“Baiklah…, aku akan menelponnya sekarang!”


Nadin pun menjauh dari sahabatnya dan menelpon suaminya. Ini masih jam kerja mungkin


akan sedikit lama telponnya tersambung. Hingga beberapa kali barulah telpon


Nadin terhubung.


“Hallo mas …!”


“Maaf bu, ini saya!”


“Ajun?”


“Iya …, bapak sedang sibuk jadi tidak bisa mengangkat telpon!”


“Baiklah…, apa kau bisa menanyakan pada suamiku, apa aku boleh keluar jalan-jalan


dengan sahabatku, Dini?”


“Baik bu, saya akan menanyakannya!”


‘Ya sudah kabari aku jika sudah mendapat jawabannya!”


“Baik, bu!”


Nadin pun menunggu hingga Ajun menghubunginya kembali dan benar saja, tak berapa lama Ajun menghubunginya kembali dan mengatakan jika Rendi mengijinkannya untuk pergi.


“Bagaimana, boleh kan?” Tanya Dini tak sabar menunggu keputusan dari Nadin.


“Boleh …!” ucap Nadin dengan begitu senang.


Mereka pun bergegas untuk pergi, Nadin terlebih dulu mengambil tas kecilnya yang


biasa ia bawa kemana-mana. Tak lupa ia juga mengunci pintu terlebih dulu.


Ini untuk pertama kalinya setelah bekerja, Dini mengunjunginya untuk jalan-jalan.


Wanita imut itu sering kali sibuk dengan pekerjaannya.


“Kita kemana nona, aku akan mengantarmu!” ucap Dini dengan bangganya seperti sedang mengawal nonanya.


“Gaya banget sih kamu …, yang punya mobil baru!”


“Ya iyalah …, ini mobil yang ku beli dengan gajiku sendiri!”


“Bagaimana kalau kita ke mall, atau ke kafe, atau ke pantai!”


“Tapi sebelum itu, kita harus ke rumah sakit Citra Medika untuk mengambil hasil lab


ibuku!”


“memang kenapa ibumu?”


“Tidak, hanya biasa, kolesterol tinggi!”


“Baiklah, ayo berangkat!”


Setelah memecah keramaian jalanan ibu kota, mobil berwarna merah itu meluncur menuju ke


rumah sakit Citra medika.


“Mau turun, atau tetap di sini?” Tanya Dini.


“Turun aja, ngapain juga panas-panasan di dalam mobil!”


Nadin pun memutuskan untuk ikut turun, mereka langsung menuju ke ruang hasil lab.


“Hasil lab atas nama ibu Sasmita!”


“Dengan siapanya bu Sasmita?”


“Saya putrinya!”


“Silahkan, tolong tanda tangan di sini!”


Setelah menerima hasil lab ibunya, dini dan Nadin pun berjalan hendak meninggalkan rumah sakit, tapi langkah mereka terhenti saat melihat seseorang yang ia mereka


kenal.


“Bukankah itu suamimu?” Tanya Dini.


“Iya …, itu mas Rendi!”


Nadin hendak menghampiri suaminya, tapi segera di cegah oleh Dini.


“Tunggu dulu, lihat siapa yang bersama dengan suamimu!”


mengetahui siapa wanita itu karena mereka berjalan membelakangi Nadin dan Dini.


Belum sampai Nadin mengetahui siapa wanita itu, mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Mas ...., mas Rendi .....!" teriak Nadin, ia sambil berusaha mengejarnya tapi tetap saja tidak bisa.


“Nad …, kamu tidak pa pa?’ Tanya Dini saat melihat sahabatnya itu terdiam di tempatnya.


“Tidak pa pa …, mungkin itu tadi salah satu karyawannya yang sedang ia bantu! Ayo kita


pergi saja!”


Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran. Bohong jika Nadin tidak kepikiran, kenapa tadi Ajun mengatakan jika Rendi sedang sibuk, apa sibuk mengantar wanita itu.


Nadin tetap diam sepanjang perjalanan, membuat Dini merasa tidak enak hati untuk


bertanya.


Mereka sampai di sebuah kafe, mungkin dengan minum segelas coklat hangat akan sedikit mengurangi kegundahannya. Kemudian ia teringat jika kantor suaminya lebih dekat dengan rumah sakit milik dr. Frans tapi kenapa dia memilih tempat yang lebih


jauh.


“Nad …, kenapa diam saja sih?” Tanya Dini.


“Maafkan aku …, acara jalan-jalan kita jadi terganggu gara-gara aku!”


“Nggak masalah …, tapi jangan terlalu di pikirkan, mungkin suamimu sedang membantunya,


jika kau ingin, aku akan membantumu menyelidikinya, dan aku yakin suamimu tidak


sedang melakukan hal yang salah!”


“Tapi Din …, apa kau lihat perut wanita itu tadi, perutnya besar!”


“Iya …, tapi kan perut besar bukan menjadi sebuah bukti sesuatu!”


“Ya sudahlah …, mudah-mudahan aku hanya salah …, setelah ini kita pulang saja ya,


aku mau istirahat saja di rumah!”


“Baiklah …!”


Setelah selesai, Dini pun segera mengantar kembali sahabatnya itu untuk pulang.


Sepanjang jalan Dini sibuk untuk menasehati sahabatnya itu untuk tidak berpikir


macam-macam dan jika melakukan sesuatu Dini meminta untuk menghubunginya.


“Aku pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik. Jika ada apa-apa tolong hubungi aku,


jangan bertindak gegabah, aku mohon …!”


“Jangan khawatir …, hati-hati di jalan!”


Nadin melambaikan tangannya ke arah Dini, Dini pun segera memutar mobilnya keluar


dari halaman apartemen Nadin.


*****


Pagi ini setelah


menyelesaikan pekerjaannya di kantor, Rendi meninta Ajun untuk menemuinya.


“Apa bapak memanggil saya?”


“Iya! Sekarang jemput Davina dan bawa ke rumah sakit untuk melakukan cek kehamilan! Kita bertemu di rumah sakit!”


“Baik pak!”


Ajun pun melakukan


seperti apa yang di perintahkan Rendi padanya. Rendi masih harus menemui


kliennya setengah jam lagi, jika dia langsu dari kantor tanpa menjemput Davina


dulu, dia kan datang tepat waktu saat pemeriksaan Davina.


Setelah menyelesaikan


pekerjaannya, ia menyerahkan beberapa berkas pada sekertarisnya u7ntuk di


teliti.


“Aku akan pergi, mungkin akan kembali sore nanti, jika ada yang mencariku suruh menghubungiku langsung, terutama istriku!”


“Baik pak!”


Rendi berjalan menyususri gedung kantor yang sudah setengah tahun ini menjadi tempatnya


bekerja. Langkahnya pasti, membuat siapapun yang berpapasan dengannya akan


bergetar dan tak mampu menatap mata tajamnya itu, begitu penuh karisma.


Rendi melakukan panggilan


pada anak buahnya. “Siapkan mobil!”


 Hanya sekali saja intruksi dan mobil langsung terparkir di depan lobi kantor.


“Silahkan pak!” sopir


sudah siap membukakan pintu mobil. Rendi segera masuk ke dalam mobil.


“Rumah sakit Citra


Medika!” ucap Rendi lagi sambil membuka layar datarnya, ia harus mencari


sesuatu di sana.


“Baik pak!” tanpa perintah dua kali sopir itu langsung tanggap dengan perintah tuannya. Memang


sudah menjadi kebiasaan berbicara hanya sepotong-sepotong dan orang-orang di


sekitarnya harus bisa memahaminya.


Mobil Rendi akhirnya sampai juga di depan rumah sakit Citra medika, ia turun dari mobil tapi sebelum


turun ia memberitahu sopir untuk meninggalkannya di sana. Rendi turun dari


mobil, melepas kaca mata hitamnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


Di sana sudah ada Davina dan Ajun yang sedang mengantri.


“Apa masih lama?” Tanya


Rendi saat menghampiri Ajun dan Davina.


“Masih monor 25, hari


ini cukup banyak!” jawab Davina tanpa menatap Rendi.


Rendi juga enggan untuk


duduk di samping Davina, ia memilih untuk duduk di kursi yang berbeda. Stelah


menunggu satu jam akhirnya nama Davina di panggil.


“Biarkan aku ikut masuk!” ucap Rendi, ia ikut bangun bersama Davina.


“Tidak perlu, ini anakku!” tolak Davina.


“Jangan keras kepala, aku harus memastikan bahwa kamu dan bayimu baik-baik saja!”


Davina tahu, Rendi tidak peduli dengan penolakannya, ia pun akhirnya menyerah membiarkan Rendi ikut masuk dengannya mungkin bukan ide yang buruk setidaknya ia tidak harus menjelaskan banyak hal pada Rendi nanti tentang keadaannya.


Dia bukan ingin di


kasihani, tapi dia harus mencari seseorang yang bisa menjaga bayinya nanti dan


menghubungkan bayi itu pada ayahnya. Mungkin egois satu kali lagi tidak


masalah.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘😘😘😘😘